Sudah direvisi lebih bagus, silakan dibaca dari awal. Terima kasih!
Tidak kenal, tapi menikah. Nadin menyetujui surat perjanjian karena ditolong oleh tuan muda, saat hendak dijual dengan temannya sendiri. Nadin tidak menyia-yiakan kesempatan, dia berusaha membuat Argan jatuh cinta padanya. Akankah dia berhasil mencapai tujuannya, disaat banyak rintangan yang menghalangi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhiy Navya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dera Menolong Nadin
Argan merasa cemas secara mendadak, dia menjadi tidak konsentrasi dengan kerjaan kantornya.
"Asisten Heru!" Panggil Argan.
"Iya tuan muda." Jawabnya.
"Segera kau hubungi asisten Dera, tanyakan bagaimana kondisi istriku sekarang." Titah Argan.
"Baik tuan muda." Heru dengan segera merogoh saku celananya.
Heru menelepon Dera berkali-kali, namun tidak ada jawaban. Argan sudah tidak sabar menantikan kabar, ingin tahu bahwa kondisi Nadin baik-baik saja.
"Tuan, asisten Dera tidak dapat dihubungi. Biasanya dia belum tidur, karena ini masih pukul 20.00 malam." Ujar Heru.
"Ayo segera pulang. Aku merasa ada yang janggal." Argan mematikan laptopnya. Dia segera beranjak dari duduknya.
Heru mengikuti Argan yang sudah keluar duluan. Mereka segera memencet tombol lift kantor, dan masuk ke dalamnya.
'Kenapa sih kau asisten Dera, berani-beraninya tidak mengaktifkan ponselmu. Awas kalau kau tidak bekerja dengan baik, akan aku pastikan kau mendapat hukuman.' Batin Argan.
Argan menendang-nendangkan kakinya pada dinding lift, dia sudah tidak sabar untuk sampai ke rumah. Tak berselang lama, pintu lift akhirnya terbuka, Argan segera berlari. Heru mengikuti tuan mudanya yang sudah seperti lomba lari maraton.
Sementara itu, para pengawal dan pelayan yang dikumpulkan oleh Hadi di lapangan sudah kembali ke rumah istana.
'Cih, pasti menantu tidak berkualitas sudah terbujur kaku. Aku sengaja mengalihkan perhatian mereka semua.' Batin Hadi.
Dia berjalan dengan santai memasuki rumah. Dia merasa tidak bersalah, dan tersenyum penuh kemenangan. Saat sampai ke ruang keluarga, tiba-tiba langkahnya terhenti. Dia terkejut, mendapati Nadin yang baik-baik saja. Nadin sedang tersenyum bersama Sahara sambil bermain boneka barbie.
'Kurang ajar kau Niken, berani-beraninya tidak melaksanakan tugasmu dengan baik' Batin Hadi. Dia yang mengintip dibalik tembok pembatas, sudah naik pitam saja.
Segera dia pergi mencari Niken, sambil berteriak-teriak menggunakan mic. Akhirnya si Niken muncul juga dengan santainya.
"Ada apa tuan?" Tanya Niken.
"Kenapa kau bisa gagal untuk mencelakai Nadin? Aku sudah bersusah payah menyuruh para pelayan dan pengawal, untuk berkumpul di lapangan. Aku ingin mengalihkan perhatian mereka."
"Hah yang benar saja tuan besar, aku tadi sudah menjalankan tugasku dengan baik. Atau jangan-jangan nona muda ditolong oleh asisten siaga." Jawab Niken, sambil menundukkan kepalanya.
Hadi segera melangkahkan kakinya, dia hendak mencari keberadaan asisten Dera. Setelah cukup lama menelusuri lorong yang panjang, akhirnya dia menemukan Dera berdiri di depan kamar Argan.
"Hei asisten, aku peringatkan kau untuk jangan ikut campur pada urusanku dan menantuku." Ujar Hadi.
"Maksud tuan, aku harus membiarkan engkau membunuh istri tuan muda?" Dera tersenyum kecut.
"Diamlah, atau akan aku pecat kau. Tugasmu di sini hanya sebagai asisten, tidak ada peranan penting yang lain." Hardik Hadi.
"Aku asisten tuan muda, bukan asisten pribadimu. Berhentilah memerintah diriku, untuk menuruti apa yang kau mau." Dera menyeringai.
Dengan perasaan penuh amarah, Hadi berniat untuk memberikan bogeman pada wajah Dera. Sebuah kepalan tangan hendak dia layangkan, namun sebuah tangan dengan kuat menangkisnya. Hadi menoleh dan mendapati Heru, melakukan tangkisan itu padanya.
"Lepaskan asisten sialan, tugasmu di sini hanya untuk membantu anakku. Tidak pantas kau bertindak kurang ajar padaku." Celetuk Hadi.
"Ternyata tuan besarku ini seorang pengecut, berani bermain tangan pada perempuan." Ucap Heru.
Mata Heru dan mata Hadi beradu, saling menatap dengan tajam. Mereka seperti orang yang ingin bertarung saja.
Tiba-tiba Argan muncul bersama Nadin, dan juga Sahara. Mereka turun dari mobil, lalu segera menghampiri mereka.
"Kenapa papa dan asisten Heru berkelahi?" Tanya Argan. Dia merasa curiga, karena Heru bukan orang yang hobi memukul tanpa sebab.
"Maaf tuan muda, tadi tuan besar hendak memukul asisten Dera." Jawab Heru.
Mereka menghentikan pertengkaran sengit itu. Dua asisten akan selalu berusaha siaga, melakukan yang terbaik untuk tuan muda.
"Yang dikatakan asisten Heru benar adanya tuan muda." Sahut Dera. Dia berusaha membela Heru.
"Kenapa papa mau memukul asisten Dera? Dia memangnya salah apa?" Argan mengintrogasi.
'Argan tidak boleh tahu perbuatanku. Bisa-bisa aku diusir olehnya. Apa yang harus aku katakan padanya?' Batin Hadi. Dia bertanya pada dirinya sendiri.
"Papa jawab." Argan berbicara dengan suara meninggi.
"Astaghfirullah'aladzim, pelankan suaramu di depan orangtuamu sayang." Sahut Nadin. Dia mengusap lembut punggung Argan.
'Kalau tidak karena istriku yang shalihah ini, aku pasti sudah mengintrogasinya terus. Kamu tidak tahu saja, dia pernah mencelakaimu hingga harus dirawat di rumah sakit.' Batin Argan.
"Argan, papa tadi ingin memukul asisten Dera karena dia tidak benar dalam bekerja." Alibi Hadi, dengan omong kosongnya.
"Memangnya asisten Dera telah melakukan apa?" Tanyanya dengan tatapan dingin.
"Dia tadi hampir saja memecahkan gucci di rumah ini. Dan Vahisa berada tidak jauh darinya, aku takut dia terluka." Jawab Hadi berbohong.
Dera tersenyum kecut. "Ah, pernyataannya jujur sekali tuan muda. Mungkin aku terlalu dalam melakukan kesalahan. Sudahlah, tidak perlu diperpanjang tuan muda." Dera sengaja mempersingkat semuanya.
"Baiklah." Jawab Argan.
Argan dapat melihat, bahwa yang benar dalam hal ini adalah Dera. Dia hanya malas basa-basi dalam perdebatan itu.
Argan segera menggandeng tangan Nadin, namun dia juga melirik Heru dan Dera. Mereka masuk ke dalam kamar bersama Argan dan Nadin.
"Asisten Dera, apa yang sebenarnya terjadi. Kenapa ponselmu tadi tidak aktif?" Tanya Argan.
Dera menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Dera menolong Nadin, ternyata dia sudah ada di dalam kolam renang sebelum Nadin tercebur. Dia memberikan alat pembantu oksigen di dalam air. Dera memasangkannya kepada Nadin.
"Rasanya aku ingin mengusir papa. Aku bisa saja tinggal di rumah lain bersama Nadin. Tapi rumah ini adalah kenangan!" Argan tiba-tiba bersedih.
"Sayang, kamu kenapa tiba-tiba bersedih?" Tanya Nadin.
"Aku tidak apa-apa." Jawab Argan.
Dera dan Heru tahu perasaan tuan muda, tanpa dijelaskan. Mereka sudah lama bekerja di sana.
"Kami keluar dulu iya tuan." Ucap Dera berpamitan sambil melirik Heru.
"Terimakasih iya Dera, kamu sudah melakukan tugas dengan baik."
Dera mengangguk, dia segera keluar dari kamar Argan dan Nadin.
"Sayang, kamu jangan mengusir papa iya. Dia adalah orangtuamu." Bujuk Nadin.
"Aku tidak akan melakukannya. Aku akan melihat sebatas mana dia berani berbuat nekat. Tapi kamu tenang saja, aku akan terus menjadi perantara dalam melindungimu, semampu yang aku bisa." Mencubit lembut kedua pipi Nadin, dengan tersenyum tulus.
'Apa aku mimpi, dia tersenyum kepadaku sudah kesekian kali. Kenapa dia yang dingin bisa bersikap hangat. Oh Tuhan, jangan biarkan aku terbawa perasaan.' Batin Nadin. Tanpa terasa dia tersenyum, memandang wajah Argan yang tampan.
maaf krn sukak dg ceritax,semiga makin sukses..💪💪💪
yg jahat tp nanti bucin
walau crt sama tp beda nama doang
tp aku suka crt ceo
mbek mbek mbek 😂😂😂