NovelToon NovelToon
Sistem Sultan Tanpa Batas

Sistem Sultan Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Action / Bullying dan Balas Dendam / Crazy Rich/Konglomerat / Sistem / Cintapertama
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Eido

Dion Arvion, siswa kelas tiga SMA yang kurus dan pendek, menjalani hari-harinya sebagai korban penindasan.

Diperas, dihina, dan dipaksa menyerahkan uangnya oleh teman-teman sekelas, Dion hidup dalam ketakutan dan keputusasaan tanpa jalan keluar.

Hingga suatu hari, saat hatinya hampir hancur, sebuah suara terdengar di dalam benaknya, sebuah layar hologram muncul di hadapannya.

[Sistem Sultan Tanpa Batas berhasil diaktifkan]

Sejak saat itu, hidup Dion berubah drastis. Dengan bantuan sistem misterius, ia tidak hanya menjadi semakin kuat, tetapi juga berubah menjadi crazy rich dalam waktu singkat.

Uang, kekuatan, dan pengaruh, semuanya berada dalam genggamannya. Kini, Dion bukan lagi korban.

Dengan senyum dingin dan kekuatan sistem di sisinya, ia bersiap membalas semua penghinaan, menghancurkan para penindas, dan menginjak dunia yang pernah merendahkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eido, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6: PERTARUNGAN BALAS DENDAM

Jam menunjukkan 12.00 siang.

Di negara Konoha masa kini, sistem pendidikan SMA telah lama berubah. Tak ada lagi kelas tetap yang mengikat. Semua berjalan dengan course-based system, fleksibel, berbasis mata pelajaran.

Siswa bebas memilih kelas sesuai minat, bakat, dan rencana masa depan mereka. Ruang-ruang kelas menjadi tempat persilangan berbagai latar belakang, ambisi, dan ego.

Bel pergantian jam baru saja berbunyi. Waktu belajar pagi usai, digantikan jam istirahat.

Di dalam salah satu kelas, suasana tak lagi kaku. Beberapa siswa berdiri, sebagian duduk santai sambil bercakap. Di bangku dekat jendela, tempat Dion duduk, suasana justru lebih ramai dari biasanya.

Beberapa siswi mengelilinginya, tertawa kecil, mengajukan pertanyaan ringan, tentang pelajaran, tentang pilihan mata pelajaran, bahkan hal-hal sepele yang dulu tak pernah diarahkan kepadanya.

“Dion, kamu ambil kelas Statistik lanjutan juga?”

“Kok hari ini kelihatan beda, sih?”

“Kamu pindah tempat duduk, ya?”

Dion menjawab satu per satu, agak canggung. Senyumnya tipis, jawabannya singkat. Ia sendiri merasa aneh, aneh karena sebelumnya, tak satu pun dari mereka pernah mengajaknya bicara lebih dulu. Dulu, bangkunya adalah wilayah sunyi. Sekarang, justru penuh suara.

Di belakang mereka, beberapa murid laki-laki memperhatikan dengan tatapan tak ramah. Ada rasa iri yang tak disembunyikan. Bagi mereka, Dion tetap Dion yang sama, mantan murid kutu buku, pendiam, tak menonjol. Perubahan penampilan itu terasa seperti pelanggaran tak tertulis.

Lalu.

Sreeet!

Pintu kelas terbuka dengan keras.

Suara gesekannya memotong suasana seperti pisau. Tawa terhenti. Percakapan membeku. Semua kepala menoleh ke arah yang sama, sosok besar itu masuk.

Seragam biru sekolah menempel ketat di tubuhnya yang tinggi menjulang. Satu tangannya memegang tas di punggung, tangan lain refleks menyentuh perutnya yang buncit namun padat. Langkahnya berat, setiap hentakan kakinya membuat lantai seakan ikut bergetar.

Darma Wijaya.

Tinggi 185 sentimeter, berat 110 kilogram. Tubuhnya besar, kasar, dan penuh tekanan. Ia adalah siswa pindahan dari kota sebelah, dipindahkan bukan karena nilai, melainkan karena kebiasaannya menghajar orang lain. Meski otaknya terbilang cerdas, ukuran dan kekuatannya membuat siapa pun enggan membantahnya.

Di kelas mana pun Darma berada, selalu ada aturan tak tertulis. Jangan cari masalah dengannya.

Matanya menyapu ruangan, mencari sesuatu. Atau seseorang, tatapannya berhenti, tepat ke arah Dion.

Udara di sekitar bangku itu langsung berubah, para siswi yang tadi berdempetan di dekat Dion pucat. Tanpa perlu diberi aba-aba, mereka mundur satu per satu, menjauh dengan wajah tegang. Tak ada yang berani berdiri di antara Dion dan Darma.

“Hey, bocah,” suara Darma rendah, dingin, dan berat, “kemari. Ikut aku.”

Nada itu bukan ajakan. Itu perintah.

Dion menatapnya dari kursi, tanpa tergesa. Wajahnya tenang, matanya jernih. Lalu ia berdiri. Gerakannya tegas.

Bagi Dion, momen ini terasa aneh, dan tepat. Terlalu tepat. Darma adalah salah satu nama yang terukir jelas dalam ingatannya. Salah satu bayangan besar yang membuat hidupnya menderita.

Kelas itu sunyi.

Siswa-siswi yang menyaksikan hanya bisa menahan napas. Mereka tahu siapa Darma. Mereka juga tahu Dion, atau setidaknya, Dion yang dulu.

Kini, siswa pindahan yang terkenal brutal berdiri berhadapan dengan Dion yang telah berubah. Tampan, tenang, dan entah kenapa… berbeda.

Ketegangan menggantung di udara, rapat dan berat. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun semua orang merasakannya, istirahat siang ini tak akan berlalu dengan biasa saja.

.....

Lapangan basket indoor itu terbentang luas, lantainya mengilap memantulkan cahaya lampu putih yang menggantung tinggi di langit-langit. Udara di dalam ruangan terasa berat, bukan karena panas, melainkan oleh ketegangan yang mengendap dan tak terucap.

Di tengah lapangan, dua sosok berdiri saling berhadapan.

Dion dan Darma.

Perbedaan fisik mereka mencolok. Dion berdiri tegak dengan tubuh yang kini proporsional dan padat, sementara Darma menjulang besar seperti tembok berjalan, tinggi, lebar, dan menekan hanya dengan keberadaannya.

Jarak di antara mereka sampai beberapa meter, namun tekanan yang lahir dari tatapan itu seolah memenuhi seluruh ruangan.

Di sisi lapangan, bangku-bangku penonton dipenuhi siswa-siswi. Kelas Dion, kelas Darma, bahkan beberapa wajah asing dari kelas lain ikut menyelinap masuk, berpura-pura menonton basket sambil mencuri pandang ke tengah lapangan.

Murid-murid perempuan duduk tegang. Sebagian menggenggam celana mereka erat-erat, sebagian lain menatap Dion dengan raut cemas. Wajah Dion, yang kini bersih dan tegas, membuat mereka tak ingin melihatnya terluka.

Sebaliknya, murid-murid laki-laki terlihat bersemangat. Ada sorot antusias, ada pula iri yang tersembunyi. Bagi mereka, ini tontonan langka, jagoan kelas melawan murid pendiam yang tiba-tiba berubah.

Di salah satu sisi lapangan, Kevin duduk santai dengan tangan disilangkan. Wajahnya tenang, namun matanya tajam, tak melewatkan satu detail pun.

Di tengah lapangan, Darma memecah keheningan.

“Bocah,” katanya dengan nada meremehkan, suara beratnya menggema ringan di ruangan luas itu, “kau nggak lupa setoran, kan?”

Dion menatap Darma tanpa menjawab. Dari jarak sedekat ini, tubuh Darma terasa semakin tidak masuk akal.

'Bagaimana bisa siswa kelas tiga punya badan sebesar ini…' pikir Dion dalam hati.

Rata-rata anak sekarang tingginya sekitar seratus delapan puluh dengan berat delapan puluh lima kilo. Orang ini jelas kasus spesial.

Lengan Darma lebih panjang. Jangkauannya lebih luas. Jika mereka bertarung biasa, satu kesalahan saja cukup membuat tulangnya retak.

Dion menarik napas pelan. ‘Sistem,’ ucapnya di dalam hati, ‘beli seribu poin atribut.’

Suara notifikasi lembut berbunyi di benaknya.

[Untuk membeli satu Poin Atribut, dibutuhkan 10 rupiah.]

Tulisan hologram tipis melayang di hadapannya, hanya bisa ia lihat sendiri.

'Sepuluh rupiah…Tidak masalah. Beli sekarang.’

[Anda telah membeli 1.000 Poin Atribut.]

[10.000 rupiah telah dikurangi.]

Tanpa ragu, Dion melanjutkan.

Ia membuka batasan yang selama ini menahan tubuhnya.

[Batas Atribut telah ditingkatkan menjadi 200, 300 Poin Atribut telah dikurangi.]

Saat itu juga, Dion merasakan sesuatu terlepas di dalam tubuhnya, seperti rantai yang selama ini mengikat tulang dan ototnya, kini patah satu per satu. Sensasinya tak menyakitkan, justru membebaskan.

‘Sistem,’ lanjutnya tenang, ‘tingkatkan seluruh atributku sampai batas akhir.’

[200 Poin Atribut telah digunakan.]

[Seluruh Atribut meningkat ke batas maksimal.]

Detik berikutnya.

Sebuah gelombang energi tak kasatmata menyapu tubuh Dion.

Tulang-tulangnya terasa lebih padat, seperti baja yang dipadatkan ulang. Otot-ototnya mengencang, bukan membesar berlebihan, melainkan terstruktur sempurna. Energi mengalir deras di setiap sendi, setiap tarikan napas terasa penuh dan segar.

Aura samar seolah berhamburan keluar dari tubuhnya, meski tak satu pun dari penonton mampu melihatnya.

Sebelumnya, Dion tak sepenuhnya yakin. Tubuh Darma yang dipenuhi lemak keras itu menyimpan tenaga luar biasa. Tinggi badan dan panjang lengan memberinya keuntungan alami. Dion tak ingin lagi tubuhnya hancur seperti dulu.

Kali ini, ia harus menang.

“Kenapa kau diam saja, bocah?” suara Darma kembali terdengar, makin tak sabar, “apa kau mau menyerahkan uangmu sekarang?”

Bisik-bisik langsung merebak di bangku penonton.

“Dion kenapa diam?” bisik seorang siswi dengan cemas.

“Jangan-jangan dia takut…”

“Aku juga merasa begitu…”

Nada khawatir jelas terdengar. Beberapa bahkan menutup mulut, seolah takut melihat apa yang akan terjadi.

Di sisi lain, murid-murid laki-laki berbisik dengan nada berlawanan.

“Wah, habis ini mukanya pasti rusak.”

“Sayang ya, baru ganteng langsung dihajar Darma.”

Di sisi bangku penonton lain, Kevin tetap diam. Matanya tak lepas dari Dion.

“Aku pernah berpapasan dengan Darma,” gumamnya pelan, “aku bisa merasakan… orang itu benar-benar kuat. Jadi ini siswa pindahan itu…”

Di tengah lapangan, kesabaran Darma akhirnya habis. Urat-urat di pelipisnya menonjol. Rahangnya mengeras.

“BANGSAT!” teriaknya, suaranya menggema, “kenapa kau diam saja?!”

Dion akhirnya mengangkat kepala sedikit, menatap Darma lurus-lurus. Suaranya datar, tenang, terlalu tenang.

“Kau banyak omong sekali, Darma,” katanya ringan, “sepertinya para penindas memang hobi ngebacot.”

Kata-kata itu seperti korek api yang disulut tepat di atas bensin.

Wajah Darma memerah seketika. Matanya melotot tajam, napasnya memburu. Amarah membanjiri setiap garis wajahnya, seolah ia ingin menerkam Dion dan mengoyaknya sampai ke tulang.

Di lapangan basket itu, semua orang bisa merasakannya. Pertarungan tak lagi bisa dihindari.

1
iky__
I keep reading
iky__
up trus thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!