NovelToon NovelToon
Terlambat Mencintaiku

Terlambat Mencintaiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: indah yuni rahayu

Zizi menjalani pernikahan tanpa cinta. Suaminya mengabaikan, keluarganya menghina, dan rumah yang seharusnya melindungi justru menjadi tempat paling sunyi.

Ketika kesabarannya habis, Zizi memilih pergi dan mematikan rasa.

Dengan identitas baru dan bantuan seorang teman lama, Zizi kembali sebagai perempuan yang tak tersentuh.

Ia mendekati mantan suaminya—bukan untuk balas rindu, melainkan untuk membalas luka. Kepercayaan dibangun, ambisi dipancing, lalu dihancurkan perlahan.

Saat penyesalan datang dan kebenaran terungkap, semuanya sudah terlambat.
Karena mencintainya baru sekarang
adalah kesalahan yang tak bisa ditebus.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Susan Merasa Kalah

Arman tertawa pelan. “Kalau begitu, bagaimana caranya agar aku tidak terbaca?”

Dara mencondongkan tubuh sedikit. Cukup dekat untuk membuat Arman menahan napas. “Mulai dengan tidak menjadikanku pelarian.”

Hening jatuh di antara mereka.

Untuk pertama kalinya, Arman tidak punya jawaban cepat.

“Ini hanya pertemuan bisnis,” lanjut Dara datar. “Kau mau membicarakan kerja sama, kita bisa. Tapi kalau kamu ingin membawaku ke wilayah yang lebih pribadi… kamu harus tahu, aku tidak pernah bermain di sana tanpa tujuan.”

“Dan apa tujuanmu?” tanya Arman pelan.

Dara tersenyum tipis. Bukan senyum hangat. Senyum seseorang yang tahu lebih banyak dari yang ia tunjukkan.

“Orang-orang yang masuk ke hidupku,” katanya, “biasanya tidak pernah keluar dalam keadaan yang sama.”

Arman merasakan sesuatu bergetar di dadanya—bukan takut, tapi tertantang.

Di luar kaca kafe, Susan masih berdiri. Ia melihat Arman condong ke depan, terlalu dekat dengan perempuan itu. Melihat cara Arman menatap—bukan tatapan seorang kolega, melainkan tatapan seorang lelaki yang sedang kehilangan kendali.Susan menutup matanya sesaat.

Di dalam, Dara mengangkat cangkirnya. “Jadi, Arman,” katanya ringan, “kita bicara tentang kontrak… atau tentang sesuatu yang lebih berbahaya?”

Arman tersenyum. Dan tanpa sadar, ia sudah memilih.

Arman menatap Dara beberapa detik terlalu lama sebelum akhirnya menjawab, “Yang berbahaya biasanya justru lebih jujur.”

Dara mengangguk kecil. “Kalimat yang sering diucapkan orang… tepat sebelum mereka salah langkah.” Ia menyesap minumnya dengan tenang, seolah percakapan barusan tidak punya daya ledak apa pun.

Arman justru merasa dadanya sedikit mengencang. “Kamu selalu bicara seperti itu?” tanyanya. “Seolah semua orang sedang diuji.”

“Bukan diuji,” koreksi Dara. “Dibaca.”

Arman terkekeh pelan. “Dan hasil bacaanmu tentang aku?”

Dara memandangnya lurus. Tidak berkedip. “Kamu bukan datang karena urusan bisnis. Kamu datang karena kamu tidak suka tidak mengerti sesuatu… atau seseorang.”

Arman tidak menyangkal. “Dan aku adalah seseorang yang kamu tidak bisa tempatkan,” lanjut Dara.

“Benar,” sahut Arman jujur.

“Masalahnya,” Dara mencondongkan kepala sedikit, “aku tidak hidup untuk memuaskan rasa ingin tahu orang lain.”

Hening kembali jatuh, kali ini lebih berat.

Arman akhirnya berkata, lebih pelan, lebih serius,

“Kalau aku bilang aku ingin mengenalmu… bukan untuk mengerti, tapi untuk berada di dekatmu?”

Dara tersenyum kecil—dingin, nyaris kejam dalam kelembutannya. “Kalau begitu kamu sedang berbicara pada orang yang salah.”

“Kenapa?”

“Karena orang seperti aku,” ucap Dara, “tidak pernah benar-benar memberi jarak aman bagi siapa pun yang mendekat.”

Arman menahan napas. “Dan itu membuatmu menarik.”

“Dan itu seharusnya membuatmu mundur.”

Tatapan mereka bertaut.

Di luar kafe, Susan sudah tidak berdiri tegak lagi. Ia duduk di bangku trotoar, menatap melalui kaca dengan mata yang semakin gelap. Cara Arman tersenyum pada perempuan itu… bukan senyum yang pernah ia terima.

Di dalam, Dara berdiri lebih dulu. “Waktuku habis,” katanya datar. “Kalau kamu masih ingin membicarakan kerja sama, kirimkan proposal ke kantor. Kalau tidak...” ia berhenti sejenak, menatap Arman, “...anggap pertemuan ini tidak pernah terjadi.”

Arman ikut berdiri. “Dan kalau aku ingin bertemu lagi?”

Dara mengenakan mantelnya perlahan. “Kalau kamu cukup cerdas,” ucapnya ringan, “kamu akan menemukan cara.” Ia berjalan keluar.

Sementara Arman masih berdiri di dalam kafe, menyadari satu hal yang membuatnya tersenyum kecil, pahit sekaligus bersemangat:

Ia tidak sedang mengejar seorang wanita.

Ia sedang masuk ke dalam permainan seseorang yang jauh lebih berbahaya darinya.

Begitu Dara keluar dari kafe, udara di sekitar Susan terasa berubah.

Bukan karena dingin. Dan Susan, untuk pertama kalinya, merasa benar-benar kalah bahkan sebelum bertarung.

Susan berdiri terlalu cepat, hampir menabrak Dara yang melintas. Dara berhenti, hanya sepersekian detik, cukup untuk memberi ruang pada tatapan yang sudah dipenuhi emosi.

“Kamu… siapa?” tanya Susan. Suaranya terdengar lebih tinggi dari yang ia mau.

Dara menatapnya singkat, menilai. Bukan seperti melihat rival. Lebih seperti melihat… variabel kecil yang tidak ia masukkan dalam perhitungan.

“Kalau kamu harus bertanya,” jawab Dara tenang, “berarti aku bukan seseorang yang penting dalam hidupmu.”

Itu lebih menusuk daripada makian.

Susan mengepal tangan. “Kamu keluar dari kafe bersama Arman.”

“Ya.” sahut Dara singkat.

“Dan?” Susan menggantung ucapannya.

“Dan itu urusan dia,” balas Dara datar. “Bukan punyamu.”

Susan tersentak seketika. “Aku...” Ia tak sampai melanjutkan kalimatnya.

“Kekasih? Istri? Atau hanya seseorang yang berharap?” potong Dara ringan.

Ucapan itu membuat Susan terdiam.

Dara sudah tahu jawabannya bahkan sebelum Susan mengakuinya.

“Kalau kamu ingin menjaga sesuatu yang bukan milikmu,” lanjut Dara pelan, “jangan berdiri di antara dua orang yang bahkan belum memutuskan apa pun.”

Ia melangkah pergi, menyisakan Susan dengan wajah memerah dan dada yang naik turun.

Beberapa detik kemudian Arman keluar dari kafe.

Susan langsung berbalik. “Arman.”

Arman berhenti. “Kenapa kamu di sini?” Nada itu bukan marah. Lebih… terganggu.

Susan menatap pintu yang baru saja dilalui Dara. “Perempuan itu… siapa?”

“Dara,” jawab Arman singkat. “CEO Valencia Group.”

“Dan kenapa kamu menatapnya seperti itu?”

Arman mengerutkan dahi. “Seperti apa?”

“Seperti kamu sedang… menginginkan sesuatu yang tidak kamu miliki,” suara Susan bergetar.

Arman tidak langsung menjawab. Itu jawabannya.

Susan tersenyum pahit. “Kamu bahkan tidak menyangkal.”

“Jangan dramatis,” kata Arman, tapi nadanya kehilangan ketajaman. “Ini urusan profesional.”

Susan tertawa pendek, nyaris putus asa. “Kamu baru saja keluar dari kafe, bukan dari ruang rapat.”

Arman menatap Susan lama.

Dan untuk pertama kalinya, Susan merasa dirinya bukan lagi pusat dunianya—hanya seseorang yang berdiri di pinggir, menyaksikan Arman mulai melangkah ke arah yang tidak bisa ia ikuti.

Sementara di seberang jalan, Dara masuk ke mobil Danu.

“Kamu baru saja menghancurkan seseorang,” kata Danu santai sambil menyalakan mesin.

Dara menatap ke depan, wajahnya tenang. “Tidak,” katanya pelan. “Dia menghancurkan dirinya sendiri dengan berharap pada lelaki yang salah.”

Mobil melaju. Dan di belakang mereka, dua orang tertinggal—masing-masing baru sadar bahwa sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar cinta… sudah mulai bergerak.

Danu tidak membawa Dara ke tempat mewah.

Bukan bar. Bukan restoran mahal.

Ia justru memutar setir ke arah pinggiran kota.

Ke tempat yang nyaris terlupakan oleh ritme gedung tinggi dan drama manusia.

Sebuah taman kecil di tepi danau buatan, dengan bangku kayu yang sudah sedikit usang.

Mobil berhenti.

“Turun,” kata Danu ringan. “Aku tidak mau kamu memikirkan Arman di dalam mobil ber-AC.”

Dara menghela napas kecil, tapi menurut.

Udara siang menyentuh wajahnya. Ada bau rumput basah dan air.

Tenang.

Mereka duduk di bangku menghadap danau. Air memantulkan cahaya seperti serpihan kaca.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Danu.

“Secara profesional? Ya.”

“Secara pribadi?”

Dara terdiam. “Dia menatapku seperti aku sesuatu yang baru,” ucap Dara akhirnya. “Padahal aku adalah seseorang yang pernah ia hancurkan.”

Danu menoleh. “Dan itu membuatmu…?”

“Marah,” jawab Dara jujur.

“Bukan karena dia tertarik. Tapi karena dia tidak tahu siapa yang sedang ia inginkan.”

Danu tersenyum tipis. “Itu yang paling menyakitkan bagi laki-laki seperti Arman. Mereka jatuh cinta pada versi yang sudah tidak bisa mereka kendalikan.”

Angin menggerakkan rambut Dara. “Aku tidak ingin membalas dendam,” katanya pelan. “Aku hanya ingin dia… melihat.”

“Dan dia akan,” sahut Danu. “Tapi bukan karena kamu memaksa. Karena kamu berdiri terlalu tinggi untuk diabaikan.”

Dara memejamkan mata sebentar.

Hening mereka bukan canggung.

Hening yang menenangkan.

“Terima kasih,” ucap Dara lirih.

“Untuk?”

“Untuk tidak membiarkanku pulang dengan hati yang berisik.”

Danu tersenyum. “Aku hanya memastikan CEO Valencia Group tidak membuat keputusan emosional karena satu pria yang terlambat menyadari apa yang pernah ia miliki.”

Dara tertawa kecil.

Dan untuk pertama kalinya hari itu, dadanya terasa lebih ringan.

1
Kam1la
terimakasih....😍
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo hadir kak🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🌹hadiah bwt kaka🤗
Kam1la: terimakasih....😍😍
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
👋
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo kak maaf bru mampir lagi🤗
Kam1la: ok Kak, semoga terhibur
total 1 replies
Ma Em
Arman dan Bu Anggun kaget setelah tau Zizi atau Dara menjadi orang sukses wanita yg selalu diacuhkan dan selalu dihina dan diremehkan sekarang jadi wanita yg sangat berkelas tdk tersentuh , menyesalkan Arman dan Bu Anggun karena sdh membuang berlian .
Kam1la: iya kak.... menyesal banget!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Semangat terus kak🤗
Kam1la: ok Kak.. pasti !
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo aku mampir lagi kak 🤗
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
halo👋
Kam1la: halo, juga Kak !!
total 1 replies
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir lagi kak🤗
Miu Miu 🍄🐰
ayo Zizi bikinlah si congcorang itu menyesal
Miu Miu 🍄🐰
lanjut kak Thor makin seru😍
Kam1la: mampir juga Kak, di karya author yang lain, ayah anakku CEO amnesia
total 2 replies
Ma Em
Mampir Thor cerita awal saja sdh membuat hati panas , semoga Zizi bisa sukses dan balas perbuatan Arman dan keluarganya hingga menyesal seumur hdp nya 💪💪👍👍😘😍
Kam1la: terima kasih Kak, mampir juga donk di karya author Ayah Anakku CEO AMNESIA, semoga terhibur....
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!