Kisah cinta antara Dafa Artanegara dan Risma Anggraini, mereka di pertemukan dalam sebuah kecelakaan, karena rasa bersalah, Dafa menikahi Risma yang hanya seorang yang biasa saja.
Dari pernikahan yang di dasari rasa bersalah itulah,Dafa akhirnya benar-benar jatuh cinta dengan sosok Risma yang sederhana dan baik hati, tapi bagaimana jika Risma tahu siapa Dafa yang sesungguhnya, Apa lagi Dafa yang mempunyai sisi gelap dan tidak di ketahui oleh Risma.
Yuk mari silahkan di baca jika ingin tahu kisah cinta mereka yang penuh dengan emosi dan air mata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahayu Avilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Fitting baju
Hubungan Dafa dan Risma semakin hari semakin membaik. Apalagi setelah perjodohan Dafa dan Luna yang benar-benar sudah di batalkan oleh kedua belah keluarga besar. Meskipun perjodohan di batalkan, namun kedua keluarga masih menjalin hubungan baik.
Bahkan kini Risma sering berkunjung ke rumah mertuanya untuk membunuh kesepiannya di apartemen. Ya, walaupun di sana ada beberapa pelayan, tetapi tetap saja membuat Risma kesepian jika Dafa sudah berangkat ke kantor.
Ratih dan Abimanyu berencana akan menggelar pesta yang sangat meriah untuk merayakan pernikahan Dafa dan Risma yang tertunda mereka lakukan. Dan rencana itu akan di lakukan tepat di hari unniversary pertama pernikahan mereka.
Berita tentang akan di adakannya pesta meriah di hari ulang tahun pernikahan Dafa dan Risma menjadi topik perbincangan hangat di kalangan pembisnis ataupun infotaiment. Bahkan kolega-kolega Dafa di luar negeri juga ikut membicarakan soal itu.
"Sweety, Mommy menyuruh kita untuk fitting baju," kata Dafa yang sedang mengerjakan pekerjaannya di ruang kerja di sebelah kamar.
"Kapan?" tanya Risma yang duduk di ruangan yang sama sambil membaca buku di sofa.
"Besok pagi," kata Dafa yang masih fokus pada laptopnya.
"Memang Mas tidak berangkat ke kantor besok?" tanya Risma kembali.
"Supaya besok bisa nemenin kamu fitting baju, makanya aku kerjain sekarang dokumen-dokumen ini," kata Dafa lebih lanjut
"Ooo, ya ya. Mas, aku tidur dulu ya," kata Risma berpamitan kepada Dafa. Dafa langsung menghentikan aktifitasnya dan melihat ke arah Risma.
"Memangnga sudah mengantuk?" tanya Dafa.
"Iya," jawab Risma singkat.
"Yasudah tidur lah. Aku masih mau menyelesaikan pekerjaanku ini," ujar Dafa kembali meneruskan pekerjaannya.
"Oke," jawab Risma kembali.
Risma pun beranjak pergi ke kamarnya untuk tidur karena memang sudah mulai mengantuk. Sedangkan Dafa tentu saja masih bertarung dengan laptopnya. Karena memang begitu banyak pekerjaan menumpuk yang ada di atas mejanya.
Pagi hari itu Dafa yang sudah terbangun, meluangkan waktunya untuk jogging di areal taman di depan apartemennya. Sedangkan Risma masih sibuk menyiapkan sarapan di dapur,
"Non, tumben Non pagi-pagi sudah ada di dapur? Kan biasanya bibi yang menyiapkan sarapan," tanya Bi Inah.
"Sesekali tidak apa-apa dong, Bi," sahut Risma.
"Bibi kan jadi tidak enak sama Non," kata Bi Inah.
"Udah, Bibi mengerjakan yang lainnya saja. Biar Risma yang membuatkan sarapan," ucap Risma kembali.
"Baik Non. Kalau gitu bibi permisi dulu ya non," jawab Bi Inah.
"Iya Bi," kata Risma.
Bi Inah pun pergi mengerjakan tugasnya yang lain. Sedangkan pelayan yang lainnya sedang sibuk bersih-bersih.
Dafa melihat Risma yang sedang sibuk di dapur itu kemudian menghampirinya. Aroma masakan tercium sangat harum, entah apa yang di masak oleh istri kesayangannya tersebut.
Di lihatnya Risma sedang masak sayur dan beberapa lauk lainnya. Tangan Risma tampak sangat cekatan di dapur tersebut. Setelah mencium pipi Risma, Dafa pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Sarapan sudah siap di meja makan dan Risma bergegas ke kamar untuk membersihkan diri. Di lihatnya Dafa sudah rapi dengan baju santainya.
"Sweety, aku tunggu di depan ya," kata Dafa setelah melihatnya.
"Iyaa," teriak Risma dari dalam kamar mandi.
Dafa duduk di sofa ruang tamu sambil membaca koran pagi seperti biasa, suara televisi terdengar samar-samar d telinganya.
Kriing... kriiinggg.... krriiing...
Ponsel Dafa berbunyi, nama Ryo Mahesa tertera di layar ponsel itu.
"Hallo, ada apa Yo?" tanya Dafa setelah mengangkat panggilan dari Ryo.
"Daf, wanita ular itu sudah di Jakarta sekarang," kata Ryo memberikan informasi kepada Dafa
"APA! Terus apa kalian sudah menangkapnya?" tanya Dafa.
"Aku dan anak buahku sedang mencari keberadaan dia sekarang. Karena menurut info dari Adam, wanita ular itu melakukan penerbangan ke Indonesia kemarin," jawab Ryo.
"Terus kenapa kalian tidak langsung menghabisi dia?" tanya Dafa dengan ketusnya.
"Wanita itu benar-benar licin, Daf. Kami kehilangan jejaknya," jawab Ryo sambil menyesal.
"Aku tidak mau tahu, Yo. Tugasmu sekarang temukan wanita itu dan habisi dia!" perintah Dafa dengan penuh emosi.
"Baik, aku mengerti," jawab Ryo singkat.
Wajah Safa tampak begitu merah menahan emosi, Dafa sudah tidak sabar ingin segera menemukan Agnes dan membuat perhitungan dengannya.
"Mas kenapa?" tanya Risma mengagetkan Dafa
"Oh, tidak apa-apa. Yuk sarapan, setelah itu kita pergi untuk fitting baju," ajak Dafa mepada istrinya itu
"Ayuk." Risma mengangguk menyetujui ajakan Dafa.
Setelah sarapan selesai, Dafa dan Risma pergi ke sebuah butik ternama di Jakarta, mereka akan melakukan fitting baju di sana.
Dafa yang duduk di sofa sambil menunggu Risma itu tampak tidak tenang. Dafa sangat gelisah dan cemas setelah mendapat kabar dari Ryo tadi. Pikirannya melayang jauh entah kemana. Dafa takut akan terjadi hal-hal yang tidak di inginkannya.
Dafa mengambil ponselnya dan menelpon Ryo.
"Yo, kirimkan beberapa bodyguard dan siagakan di sekitar apartementku. Aku takut dia akan mencelakai Risma." Dafa memberikan perintah kepada Ryo.
"Sebelum kamu menelpon, aku sudah melakukannya, jadi tenangkan dirimu. Jangan sampai Risma menaruh curiga," kata Ryo menenangkan Dafa
"Oke, terima kasih, Yo," jawab Dafa dengan lega, "Soal Papi dan Mommy, bagaimana?" tanya Dafa kembali.
"Aku juga sudah menaruh beberapa orang untuk berjaga di sekitar rumah Om dan Tante secara diam-diam. Kamu tahulah seperti apa Papimu itu. Dia juga mempunyai anak buah bayangan seperti kamu," jawab Ryo.
"Aku harap kamu cepat menemukan wanita itu, Yo," kata Dafa kembali
"Tenangkan dirimu, Sobat. Aku pasti akan menemukan wanita itu secepatnya," kata Ryo meyakinkan Dafa.
Dafa pun mematikan panggilannya, dia terpesona melihat Risma dengan gaun putih di depannya itu, sangat-sangat cantik menurutnya.
Dan tak lama Dafa juga mencoba baju tuxedo warna putih senada dengan gaun putih Risma. Dafa terlihat sangat tampan dengan tuxedo putih itu. Benar-benar pahatan Tuhan yang sangat-sangat sempurna pasangan tersebut. Sehingga tampak kekaguman dari para penjaga butik.
Setelah acara fitting baju selesai mereka berdua menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, melihat-lihat seisi Kota Jakarta. Dan memang selama Risma di Jakarta jarang sekali bisa mendapat moment seperti ini.
"Sweety, untuk sementara kamu jangan sering-sering keluar sendiri. Nanti akan ada orang yang akan mengawal kamu kalau kamu ingin menghabiskan waktu di luar apartement," kata Dafa terlihat khawatir.
"Memang kenapa Mas? Kok Mas tiba-tiba memperlakukan aku seakan-akan aku tahanan sih," kata Risma sedikit curiga.
"Hahaha, aku tidak mau di saat pesta anniversary kita nanti, istriku akan kabur," jawab Dafa menenangkan istrinya
"Tuh kan, Mas mulai lagi," kata Risma.
"Itu karena aku sangat takut kehilangan kamu, Sweety," kata Dafa mencium punggung tangan Risma yang sedari tadi di genggamnya.
Mereka pun sampai di sebuah taman bermain seperti permintaan Risma tadi yang mengajaknya untuk ke taman bermain.
Tanpa sepengetahuan mereka, ternyata ada orang yang selalu mengikuti mereka setelah mereka keluar dari butik tadi.
Bersambung
kebetulan baru baca di hari senin, langsung kasih vote 👍🏻🤭