WARNING!!! AREA 18+
follow Ig 👉 dindin_812
Malik Mahardika seorang asisten berumur dua puluh enam tahun. Mendapat tugas dari majikannya untuk menemui seorang Hacker. Namun, siapa sangka Malik malah jatuh cinta pada Hacker yang baru saja berumur lima belas tahun bernama Susan Linch.
Kata orang, cinta tidak memandang umur, waktu dan tempat. Begitulah yang dialami oleh pemuda itu.
"Ma, kamu tahu 'kan aku umur berapa? Bagaimana bisa kamu suka dengan gadis kecil seperti 'ku?" Susan hanya ingin tahu alasan sebenarnya.
"Memangnya kita harus memandang umur seseorang untuk suka dan menyayangi. Bagiku asal kamu menerima, maka tidak perduli kamu umur berapa. Bahkan jika disuruh nunggu kamu dewasa pun aku bersedia," jawab Malik yang benar-benar terdengar gila, sepertinya pemuda ini sudah terkena virus cinta akut yang tidak bisa diobati.
"Kalau begitu, aku beri kamu kesempatan. Jika kamu bisa menungguku lima tahun lagi, aku akan bersedia jadi kekasihmu," ucap Susan kemudian, ia mengedarkan pandangan ke arah lain karena malu menatap Malik.
penasaran? baca selengkapnya di sini saja.
Picture from pinterest editing by din din
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon din din, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Tamu
Susan terlihat mengerutu, ia mengirimkan pesan pada Malik dari siang hingga malam tapi pemuda itu belum juga membalas pesannya. Ia mencoba melakukan panggilan video tapi tidak tersambung.
"Jangan bilang kamu lagi kencan sama gadis lain, karena pastinya aku akan meneror gadis itu juga dirimu, jika itu benar!!"
Susan mendengus kasar, terakhir kali melakukan panggilan video dengan pemuda itu adalah kemarin malam. Karena di tempat Malik pagi. Setelahnya, Susan tidak menghubungi pemuda itu lagi paginya hingga siang itu baru ia mengirimkan pesan.
Gadis itu terus menatap layar benda pipih miliknya, berharap jika Malik segera membalas pesannya, tapi nihil. Satu jam menatap tapi tidak ada hasil.
"Dasar, mama!!" gerutunya.
Susan memilih memejamkan matanya dari pada menunggu pesan balasan dari Malik karena dirinya terlampau kesal.
-
-
-
Pagi menjelang, sulur surya mulai merambat masuk lewat celah-celah yang bisa ditembus. Susan yang semalaman sebenarnya tidak bisa tidur, pagi ini pun ia akhirnya malas untuk bangun.
Meski cahaya Matahari sudah menyapa dan memanggil dirinya untuk bangun, tetap saja Susan enggan bangkit dari tempat tidurnya. Ia merasa malas terlebih masih kesal karena belum mendapatkan balasan pesan dari Malik.
"Aku akan mencincangmu!!" umpatnya lagi ketika melihat tidak ada pesan yang masuk di layr ponselnya.
Susan mengucek matanya, ia lantas mengangsurkan kaki kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi.
Susan melihat bayangan dirinya dari pantulan cermin, ia sedang menggosok gigi dengan perasaan kesal. Seakan sedang melampiaskan amarahnya dengan menggosok sedikit kasar.
Selesai membersihkan diri, Susan pergi ke dapur untuk membuat sarapan. Sayangnya ia lupa jika ternyata stok bahan makanannya habis dan hanya menyisahkan roti dan segelas susu.
Mau bagaimana lagi, tetap saja ia harus sarapan karena sarapan itu penting untuk memulai aktifitas pagi. Gadis itu memakan apa yang tersedia hingga akhirnya berencana pergi keluar untuk berbelanja karena kuliahnya baru akan dimulai minggu depan.
KRING!! KRING!!
Suara telpon kabel yang terdapat di dalam apartemennya berbunyi, Susan yang sedang bersiap untuk pergi pun menjawab panggilan itu terlebih dahulu.
"Halo."
"Paman? Baiklah, saya akan segera turun," ucap gadis itu yang kemudian menaruh kembali gagang telpon.
"Paman siapa? Aneh-aneh saja!" gumam gadis itu.
Bagian resepsionis mengatakan jika Susan mendapatkan tamu, serta menyebutkan itu adalah pamannya. Gadis itu mengingat-ingat, yang ia panggil paman hanyalah Jimmy dan Garry, apa mungkin kalau salah satu dari mereka datang berkunjung.
Tidak mau ambil pusing, Susan memilih langsung turun menggunakan lift untuk mengetahui siapa yang mencarinya.
Lift yang di naiki Susan sudah sampai di lobby, ia langsung keluar dan menuju resepsionis untuk tahu siapa yang mencarinya. Gadis itu lantas berjalan menuju tempat tunggu karena tamu yang mencari dirinya ada di tempat tunggu bagian depan sebelah kanan Lobby.
Mulut Susan menganga tidak percaya dengan apa yang dilihat, ia melihat seorang pria sedang duduk dengan menyilangkan kaki dan sedang membolak-balikan koran.
Gadis itu sedikit berlari kecil menghampiri, lantas meneriaki sebuah nama, "Mama!"
Malik yang kala itu menawarkan diri untuk mengecek perusahaan Aashita yang ada di kota itu pun menyempatkan untuk menemui Susan. Meski awalnya Ravin melarang, tapi akhirnya mengizinkan karena pemuda itu mengatakan jika ingin menjenguk Susan sekalian, kini di sinilah dirinya sekarang.
Malik yang melihat Susan menghampirinya pun langsung bangun, ia tidak menyangka jika gadis itu akan terlihat sangat bersemangat ketika melihat dirinya.
"Dasar kamu!" Susan memukuli lengan Malik bertubi-tubi begitu sampai di hadapannya.
"San! Sakit!" pekik Malik mencoba menahan pukulan Susan yang membabi buta.
"Kenapa tidak memberi kabar, hah? Pesanku juga tidak kamu baca, dasar!! Aku pikir kamu lagi jalan-jalan sama gadis lain!" Susan masih melampiaskan amarahnya yang sudah menumpuk sejak semalam tadi.
"Maaf, kemarin aku naik pesawat, bagaimana bisa membaca pesanmu. Aku baru sampai tadi malam dan langsung istirahat di hotel. Siang ini saja aku harus mengecek keadaan perusahaan, tapi karena tahu kamu pasti akan khawatir jika aku tidak memberi kabar, makanya aku ke sini dulu," ulasnya panjang lebar.
"Hump! Siapa yang khawatir!" elaknya yang kemudian bersidekap masih kesal.
Malik mengulas senyum, lantas menarik tangan gadis itu.
"Iya, nggak ada yang khawatir. Aku yang khawatir dan rindu," ucapnya yang membuat wajah Susan merona.
Gadis itu menatap Malik, tidak menyangka saja jika bisa bertemu dengannya.
"Jangan marah, setelah mengurus urusan perusahaan. Ayo jalan-jalan, untuk merayakan resminya kamu jadi mahasiswi di Harvard," rayu Malik.
Susan menarik kedua sudut bibirnya ke atas, menciptakan sebuah lengkungan kecil di wajahnya. Akhirnya Susan mengiyakan ajakan Malik, ia ikut ke perusahaan milik bos kekasihnya itu sebelum mereka lanjutkan dengan jalan-jalan.