"Kita pernah diizinkan bersama, tapi tidak ditakdirkan untuk bersatu"
Pernahkah kalian dibuat bimbang akan dua pilihan? Disaat harus memilih salah satu, tapi kalian menginginkan keduanya. Lalu setelah berhasil memilih satu, kalian juga malah menyesali sesuatu yang tidak dipilih itu.
Itulah aku...
Disini,
Di dalam kisah ini!
Selamat membaca, semoga suka! :)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S,ulfa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
"Jia, kamu beneran lihat tiga anak kecil itu?" tanya Tari, lagi.
Aku merasa jengah, dengan pertanyaan Tari. Sedari tadi Ia terus mempertanyakan hal itu.
"Iya, aku bilang iya. Emang kenapa sih? Ada apa? Dari tadi kamu terus saja mempertanyakan hal itu." ucapku, sedikit kesal dengan Tari.
Aku mulai mengulek semua bahan bumbu rempah untuk membuat seblak. Yuna akhirnya mendapatkan kencur nya dari tetangga sebelahnya, yang kebetulan seorang petani sayuran. Jadi selain dikasih kencur, Yuna juga dikasih beberapa sayuran. Ada sayuran kol kubis, sawi putih, dan selada.
Sementara Sri, dia mulai merendam terlebih dahulu kerupuk mentahnya yang Ia bawa. Kerupuk mentah itu direndam terlebih dahulu di dalam wadah mangkok besar, berisi air dingin. Tujuannya supaya nanti pas di masak, kerupuk mentahnya tidak begitu alot, dan menjadi mudah lunak.
Begitupun Mita dan Yuna, mereka sibuk mengurus sayuran nya. Mereka cuci terlebih dahulu. Kemudian setelah kering, mereka mengiris - iris sayuran nya itu.
Herlin dan Tari, mereka membantuku mengupas dan mengiris bahan bumbu rempah yang akan di ulek.
"Harusnya kan, kalau buat seblak ini sayuran nya ada sawi hijau sama sosin, bukan malah sawi putih ya?" tanya Mita.
"Enggak kok, gak harus selalu sayur sosin. Pake sayur kol kubis sama sawi putih juga enak." ucap Herlin.
"Iya Mit, sayur apa aja yang ada kita masak. Semuanya juga enak kok. Lah wong bukan untuk kita jual. Kita bikin seblak ini kan, untuk kita makan sendiri." ucap Sri, menimpali.
Selesai kami berenam mempersiapkan segala bahan - bahannya. Akhirnya kami mulai memasak seblak ala - ala kami sendiri.
Bau harum mulai tercium, dari aroma khas bumbu - bumbu rempah yang tadi di ulek. Bau aroma yang mendominasi dari bawang putih dan kencur nya yang di goreng.
"Harum banget ya ternyata, seharum namaku." celetuk Sri.
Kami semua memutar bola mata malas.
"Iya memang, namamu seharum bawang putih sama kencur." timpal Herlin.
"Bukan harum dong, tapi lebih tepatnya bau kalau bawang putih. Apalagi kalau mentah." ucapku.
"Iya ya, berarti Sri kamu itu sebenarnya bukan harum tapi bau. Biasanya kan kalau bau bawang - bawangan itu apa coba?"
"KETEK! Hahahahhaha...." ucap kami berbarengan, sembari tertawa menimpali perkataan Mita.
Setelah semua bumbu selesai kami tumis, kini giliran telur yang di masukkan ke dalam wajan. Oseng - oseng sebentar telur nya, dibarengi dengan tumis bumbu yang tadi, sambil mulai dikasih air sedikit demi sedikit. Kemudian, setelah airnya mulai mendidih, kami memasukkan semua bahan - bahan ke dalam wajan tersebut.
Bentar, ini kok jadi tutorial bikin seblak sih.😂
Gak papa ya guys sesuka author aja.😁
Intinya yang penting, semoga kalian bisa happy bacanya.😅😊
"Apa dulu nih yang dimasukkin? Sayur dulu, apa kerupuk dulu?" tanya Yuna.
Pertanyaan Yuna tersebut, sukses menciptakan pro kontra di antara kami berlima.
Aku sama Mita, lebih memilih dan sukanya sayuran dulu yang dimasukkin. Tujuannya biar cepat layu sayurnya. Jadi, tingkat kematangannya sempurna. Keduanya bakalan sama - sama matang berbarengan. Karena kan kerupuk nya juga udah agak lunak tadi direndam dulu, jadi bakalan cepet matang.
Sedangkan Herlin, Tari, dan Sri memilih kerupuk dulu yang dimasukkin. Karena katanya, mereka lebih suka sayurannya masak setengah matang. Jadi, sayurannya masih agak kriuk - kriuk renyah pas di makan. Enggak lembut, layu, lembek, katanya.
"Udah ah Yun mending kerupuk dulu yang di masak, baru abis itu sayur. Kata dokter juga, sayur itu gak boleh di masak terlalu matang. Bahaya buat kesehatan." ucap Sri.
"Huuuhhh, ngada - ngada lu. Mana ada dokter yang bilang begitu. Adanya juga kata dokter mah, kalau masak apa - apa tuh harus bener - bener mateng. Biar bakteri - bakteri yang ada di dalam makanan tersebut pada mati. Begitu yang bener!" ucap Mita, menimpali perkataan Sri
Sri tidak mau kalah, dia mulai kembali membuka suaranya, untuk menyatakan argument nya kembali.
"Eh gue bener lo Mit, gak ngadi - ngadi. Gue dulu pernah denger, ada dokter yang bilang begitu. Beneran lo guys, sayuran itu gak boleh di masak terlalu matang. Udah buruan Yun, masukin kerupuk nya dulu!" ucap Sri.
"Eh apaan, bentar Yun. Jangan gampang percaya sama ucapan ni anak. Mending masukin sayurannya dulu sekarang. Biar kedua bahan matangnya sempurna." ucap Mita, kembali menimpali perkataan Sri.
Di antara kami berlima yang terlibat pro kontra, hanya kedua orang itulah yang terlihat begitu sengit mempertahankan argument nya.
"Eh Mit, lu searching dulu coba dah di google. Terus tanyain perkara sayuran bagusnya di masak gimana. Mateng apa setengah mateng. Baru tau rasa lu, kalau ternyata yang muncul di google artikel tentang sayuran bagusnya di masak setengah mateng." ucap Sri, lagi.
"Dih ogah, ngapain. Perkara gini doang musti searching - searching ke google segala. Nih gini aja, kalau misal lu pengennnya sayurannya masih kriuk - kriuk. Udah lu pisahin aja sebagian sayurannya di wadah lain. Gak usah di masak, biar makan mentah aja tuh sekalian sama seblaknya." ucap Mita, dengan nada tinggi.
Melihat perdebatan mereka, Yuna sepertinya mulai merasa jengkel. Dia memasukkan semua bahan - bahan seblak ke dalam wajan secara bersamaan.
"Nih, biar gak pada ribut, aku masukin semua bahannya barengan ya. Sekalian aku tambahin mie instant juga nih." ucap Yuna, sembari memasukkan seluruh bahan ke dalam wajan.
Yuna mulai mengoseng dan mengaduk - aduk semua bahan seblak yang ada di wajan. Dimulai dari sayuran, kerupuk mentah yang tadi sudah direndam, potongan sosis dan bakso kecil, dan tidak lupa dia juga menambahkan mie instant.
Namun sepertinya Yuna terlihat sedikit emosi, dapat terbaca dari caranya mengaduk - ngaduk seblak itu dengan cara cepat dan kasar.
Melihat hal itu, kami semua jadi merasa tidak enak. Sepertinya mereka juga dapat menyadari perubahan dari sikap Yuna sekarang.
Menyadari bahwa Yuna sedang merasakan kekesalan. Kami berlima pun mulai beringsut sedikit demi sedikit mundur dari arah dapur, menuju ke ruang tamu.
Terlihat Herlin berdecak sebal, ke arah Mita dan Sri.
"Ck, gara - gara kalian berdua sih, Yuna jadi marah kan sekarang." ucap Herlin.
Aku hanya bisa menggeleng - gelengkan kepala, melihat tingkah mereka. Pikirku, kenapa membuat seblak bisa seribet ini kalau sama teman - teman. Haha, ada - ada saja memang.
Kembali aku duduk kan diriku di atas kursi ruang tamu. Sembari menunggu Yuna selesai memasak seblak.
Aku teringat sesuatu.
"Tar, emangnya kamu tahu apa tentang tempat itu dan ketiga anak kecil yang bermain disana?" tanyaku, kepada Tari.
Aku teringat bahwa tadi semenjak aku menceritakan apa yang aku lihat di tempat yang indah itu, Tari seperti terkejut mendengar pernyataan ku itu. Seperti ada sesuatu yang Tari ketahui, tetapi berusaha Ia sembunyikan.
...✎﹏𝔻𝕊...
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
.......
Thanks udah mau mampir😊
Sorry for typo and absurd🙏
Menerima kritik dan saran☺️
Jangan lupa like, vote, and comment🙃
semngat ya semoga sukses buat nerbitin novel karangan sendiri 😊good lock