Bu Rena adalah guru kelompok bermain (KB) Mentari, sosoknya yang ceria dan supel menjadikannya disukai banyak anak dan teman sejawatnya,
Berkisah tentang segala aktivitas kegiatan mengajarnya, kisah percintaannya, kegiatan dengan masyarakat sekitar dan kesabaran dia dalam menangani banyak anak yang berbeda karakter.
Hingga berakhir dengan kehilangan suami tercintanya yang menjadikan dia kuat harus dalam memulai hari barunya.
Akankah dia bertahan dengan keadaan yang ada? Menikmati kesendirian dan segala kesibukannya? Atau membuka lembaran baru dengan menerima seseorang yang mampu dijadikan sebagai Ayah pengganti untuk anak semata wayangnya Khayrullah Hizam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Widiawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ketakutan Hizam
Hizam yang sedari bangun tidur minta di gendong oleh ibunya, akhirnya bersedia untuk turun, dan duduk menonton kartun kesayangannya, tentunya setelah dibujuk dengan berbagai cara.
Sementara Banu masih tertidur pulas, setelah melakukan aktivitas yang cukup membuat tenaga dan emosinya terkuras.
"Hizam mau mam apa? " Rena mendekati anak laki-lakinya itu.
"Bapa mana? " Hizam mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru rumah. Mencari orang yang begitu tidak ingin dia temui. Begitu takut dia dengan Banu saat mendaratkan bogem kerasnya di pipi Sholeh. Mengacuhkan pertanyaan ibunya.
"Bapak tidur, kenapa? Hizam mau sama bapak?" Jawab Rena.
"No, tida, emoh" Suara reflek dia terdengar parau, hampir menangis.
"Kenapa? " Rena mencoba mendekatinya.
Memang sedari tadi Rena sengaja tidak menanyakan apa yang menyebabkan dia menangis histeris seperti tadi, dia berfikir nanti ada saatnya dia akan bercerita sesuai dengan perasaanya.
"Izam tatut bapa" Jawab bocil itu sambil memainkan ujung baju bawahnya. "Bapa mutul om yang anter masel buat ibu katana dayi pa Rese" (dari pak RT).
"Mukul? bapak mukul siapa?" Rena menyeritkan dahinya.
"Tadi ibu mandi ada om ganteng datang ke sini, Cali ibu, tapi bapa malah mutul, omna di putul kaya gini" Hizam mencontohkan saat Banu memukul Sholeh. "omna pegi bapa nutup pintu keyas-keyas, Izal tatut bapa" Anak gembul itu kembali terisak.
"Ssstttt.. Udah yaa cup.. cup.. cup, udah Hizam tidak boleh nangis, kita mandi aja yuk. Sudah sore nii" Rena menawari anaknya untuk mandi.
"Tapi mao pate air anget ya" Suaranya sudah tak separau tadi.
"Siap, ayok kita ke kamar mandi, nanti kita main air bersama" Rena membimbing anaknya untuk turun dari kursi, mengajaknya untuk memasuki kamar mandi.
"Ibu belon masat? "
"Belum, ibu mandii Hizam dulu, kalo Hizam sudah mandi, nanti ibu tinggal masak deh. Hizam mau si masakin apa? " Rena melepaskan baju anaknya, kemudian memasukannya ke mesin cuci.
"Mao pate telur sama tecap" Jawabnya singkat.. eh tapi boyeh dun ditasyi abon syeditit ya" Imbuhnya dengan tersenyum lebar.
"Oke siap Sultan cilik" Ucap Rena membalas tersenyum.
Rena mengambil teremos berisi air panas, kemudian menuangkannya ke dalam ember.
"Awass ati-ati ibu nanti ena tati Izam, panas itu panas"
Rena hanya melengkungkan kedua sudut bibirnya, bangga dengan anaknya yang baru menginjak usia 3 tahun namun segalanya sudah diketahui olehnya.
Hizam hobi sekali mengumpulkan pasta gigi dan sikat gigi, dari mulai rasa aneka buah, yang banyak warna. Dari mulai warna putih, hijau, oranye, kuning dan dari berbagai macam merk. Hampir setiap Rena berbelanja bulanan, pasta gigi menjadi hal wajib yang Hizam beli. Entahlah mungkin karena gambarnya yang menarik atau rasanya yang enak.
Padahal Rena sudah berkali-kali mewanti-wanti anaknya itu untuk berhenti memakai pasta gigi yang mempunyai banyak rasa itu. Bukan tanpa alasan, saat Hizam di periksa giginya, sang dokter mengatakan bahwa pasta gigi tersebut ternyata dapat merusak email gigi. Gigi akan mudah gupiis. Tapi namanya juga anak-anak kan, semakin dilarang semakin tertantang.
"Bau ap bu? " Hizam yang sedang disabuni oleh Rena menutup hidungnya.
"Bau apa? bau sabun." Rena menjawab dengan tengan.
"Sabun? "
"Iya sayang, ini sabun baru, yang kemarin sudah habis."
"Izam nda syuka wangina" menutup hidung dengan satu tangannya
Mamang Hizam sensitif sekali dengan bau-bauan. Kebetulan sabun mandinya mengandung minyak telon jadi baunya agak menyengat.
"Ya, besok kita ganti sabun ya, pakai sabun yang Hizam suka, tapi menunggu sabun ini habis, okeii? " Rena memberi penawaran.
"Okeiiy, nanti pate badu spedelmen ya bu"
Rena masih terus menyiram kepala Hizam dengan gayung yang berada di tangan kanannya.
"Iya nanti kita cari baju spiderman nya ya" Rena menjawab.
Saat mereka berdua tengah berjalan menuju kamar Hizam, Banu keluar dari kamar dengan muka bantal dan rambut yang acak kadul.
Mendekati Rena yang tengah menggendong Hizam dan mendaratkan kecupan di pipi kiri istrinya,
"Bau acem, coba yang ini" Mendekatkan bibirnya ke pipi Hizam, dan reflek di tolak dengan Hizam menjauhkan kepalanya, membuang muka menghindari kecupan Banu.
"Wah, kenapa tidak mau di sayang Bapak niih?" Dengan rasa tak bersalahnya Banu masih saja menggoda Hizam.
"Ashar dulu gih sekalian mandi. Ada yang mau ibu tanyakan" Rena beranjak pergi membawa anaknya menuju ke kamar untuk memakaikan baju.
Sesampainya di kamar Hizam, Rena mencoba untuk mendekati anaknya.
"Waahh ini baju sapiderman yang Hizam ingin pakai" Rena menunjukan baju berwarna merah terang itu kepada Hizam, berharap bocah gembul itu ceria kembali.
Dan benar saja, Hizam langsung sumringah.
"Waah spidelmana sepelti ini bu" Mengacunglan tiga jarinya mengikuti yang ada di gambar.
"Hizam hebat ya" Katanya sambil mengoleskan minyak kayuputih ke seluruh badan anaknya.
"Hizam masih takut sama bapak? " Tanyanya pelan.
Dan yang ditanya hanya menganggukan kepala dan merubah ekspresi wajahnya.
"Bapak tadi tidak sengaja memukul om yang datang, ibu sudah bilang sama bapak. kalau om itu baik, dan bapak juga mau meminta maaf, jadi Hizam sudah tidak boleh takut lagi ya? " Bujuknya.
Hening
"Nanti kita bilang sama-sama ya ke bapak kalau Hizam tidak mau bapak seperti itu lagi ya?." imbuhnya.
Sementara Hizam masih terdiam, kejadian tadi selalu berputar-putar dan enggan menghilang di dalam memori nya.
"Yuk pakai celana dulu, nanti spiderman nya pergi kalau adek kelamaan" Rena mengalihkan perhatian Hizam. Dan hanya di balas oleh anggukan dan senyuman kecilnya.
Rasanya harus bicara empat mata dengan Bapak nih.
Benar-benar kelewatan.
*********
Maaf terlambat update dikarenakan proses Review yang lama😔😔
Terimakasih sudah sabar menenti🤗
seharusnya cerita2 gini nih yg banyak peminatnya bukan hanya tentang CEO aja
aku suka menceritakan kehidupan dan kesederhanaan hidup ,natural ceritanya
makasih y thor
sehat selalu
semangat dan semoga selalu sukses
😍😘🤗
ehhh,,,atau jangan2 emang kisah nyata yaaa
jempol banyak2 dech pokoknya
pinginnya ada bonchap 😁😁😁😁😁😁
terima kasih thor....sukses selalu...
kapan malam pertamanya udah hamil aja😅😅😅nunggin part MP nyaa,,malah udah end,,makasiih tor