Kisah dua insan yang saling mencintai, namun terhalang oleh restu orang tua. Seorang pemuda nan soleh jatuh cinta kepada seorang gadis yang biasa saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Diana Santi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Happy birthday Puri
6 bulan kemudian ...
Setelah melewati proses latihan silat yang panjang dan melelahkan. Akhirnya, Riri berhasil menguasai banyak jurus yang telah di ajarkan oleh Sanjaya.
Meskipun, Sanjaya terkesan tak ingin memperlihatkan jati dirinya kepada Riri hingga detik ini.
Hal itu, tidak menjadi masalah baginya. Walau setiap kali mereka latihan, Sanjaya selalu memakai maskernya.
Terkadang, memang dia sempat ingin tahu apa alasan di balik itu semua. Tetapi, dia selalu mengurungkan niatnya untuk bertanya pada Sanjaya. Agar, Sanjaya tetap mau mengajari nya silat.
Hari ini, Riri ingin pulang lebih awal karena ada sesuatu hal yang ingin ia lakukan.
"Maaf, Guru! Bolehkah saya minta izin untuk pulang lebih awal hari ini?! Soalnya, ada yang ingin saya lakukan." ujarnya pada Sanjaya.
Mulanya, Sanjaya hanya diam. Selang beberapa detik kemudian dia berkata, "Baiklah, untuk hari ini latihannya cukup sampai disini. Kamu boleh pulang sekarang!" kata Sanjaya, menuruti keinginannya Riri.
Betapa senangnya ia, ketika ia mendengar itu dari Sanjaya.
"Terima kasih, Guru!" ucapnya.
Dia langsung bergegas pergi tanpa ba-bi-bu-bebo lagi. Dia mengemas barang-barangnya, lalu memakai tas ranselnya dan pergi dari tempat itu.
Saat itu, Riri dan Sanjaya berlatih di alam terbuka. Sesuai dengan perkataan Sanjaya dulu. Bahwa, ia akan selalu latihan di alam terbuka dan berpindah-pindah tempat.
Sanjaya hanya bisa tersenyum sendiri di dalam maskernya. Tanpa Riri bisa melihat itu, dia semakin tersenyum lebar. Kala melihat tingkah laku Riri yang terkadang ke kanak-kanakan itu.
Sebelum pergi, Riri sempat memberi salam pada Sanjaya dengan membungkuk. Lalu, Sanjaya pun juga membalas dengan hal serupa.
Dia senang melihat Riri sebahagia itu. Walau, bahagianya Riri tanpa adanya ia. Sampai kapan pun, dia tidak ingin membongkar jati dirinya pada Riri.
Dia takut, apabila dia nyatakan dia akan kehilangan Riri lagi seperti dulu. Oleh karena itulah, dia mengambil langkah sulit ini. Menurutnya, ini la yang terbaik bagi mereka.
***
Persiapan demi persiapan, telah dilakukan oleh teman-teman nya. Ketika ia baru datang, Olive langsung menghampirinya.
"Hai, Ri! Kenapa kamu baru datang?" kata Olive.
"Maaf, ya Live! Tadi, aku baru selesai latihan. Jadi, baru di bolehin pulang, deh." ujarnya pada Olive.
"Oh, gitu! Ya, udah. Kalau gitu, sekarang kamu kerjain bagian yang paling sulit, ya?!" katanya seolah memohon pada Riri.
"Bagian apa memangnya?" tanya Riri penasaran.
"Kamu harus bisa bawa Vito datang kesini dan buat dia menyatakan cinta pada Puri! Bisa, 'kan, Ri?!" ujar Olive dengan sorotan mata seolah mengancam padanya.
"Tapi, Live aku ...." Olive langsung mematahkan kata-kata Riri.
"Udah! Nggak usah tapi-tapian, sekarang kamu harus ke rumah Vito, ya! INGAT, harus berhasil, ya!" kata Olive sambil menekankan kata ingat pada Riri.
Lalu, Olive berlalu pergi begitu saja. Tanpa membantu Riri sama sekali untuk memikirkan bagaimana caranya membuat Vito setuju akan hal itu semua.
"Kenapa, sih? Giliran yang susah aja, aku yang di suruh kerjain. Tapi, kalau yang mudah nggak mau libatkan aku sama sekali. Ini benar-benar nggak adil. Gimana caranya, coba? Masa', tiba-tiba datang ke rumah Vito, terus suruh dia buat nembak Puri, sih! Hehhh ... nyebelin! Baru juga nyampe, udah di suruh pergi lagi. Dasar, si Olive keterlaluan!" keluh Riri sepanjang jalan menuju rumah Vito.
Saat itu, Riri memakai sepeda menuju rumah Vito. Kebetulan, rumah Vito juga tidak terlalu jauh dari rumah Puri.
Di ketuk nya pintu rumah Vito ketika ia telah sampai di depan rumah Vito.
Tok ..., tok ..., tok ....
"Vito ...!" teriaknya, sembari terus mengetuk pintu rumah Vito.
Akhirnya, ada juga yang membukakan pintu rumah itu.
"Assalamualaikum!" Riri mengucap salam pada seorang perempuan, kelihatannya itu adalah ART di rumah Vito.
"Waalaikumsalam, ada apa dan cari siapa, ya Mbaknya?" ujar ART itu pada Riri.
"Begini, Mbok saya mau menemui Vito. Vito nya ada, Mbok?" tanya Riri pada si Mbok itu.
"Oh, Den Vito ada di dalam sedang berenang, Non. Mari, silakan masuk! Ayo, saya antar!" ujar Mbok itu lagi pada Riri.
Riri lalu masuk mengikuti Mbok itu untuk menemui Vito yang saat ini ada di kolam renang.
Dari kejauhan, dilihatnya Vito masih asyik berenang. Bahkan, Vito belum menyadari akan kehadirannya.
"Nah, itu Den Vito nya!" tunjuk si Mbok ke arah Vito.
"Sebentar, ya! Saya akan panggilkan Den Vito nya!" ujarnya lagi, tetapi Riri melarangnya.
"Jangan, Mbok! Biar saya saja, terima kasih sudah mengantarkan saya!" ucap Riri pada si Mbok itu.
"Ya, sama-sama Non! Kalau gitu, Mbok tinggal dulu, mau buatin minum buat Non dan Aden!" ujarnya lalu pergi meninggalkan Riri.
Ketika Vito baru keluar dari kolam, betapa terkejutnya ia melihat Riri tengah duduk tepat di pinggir kolam.
"Ya, ampun! Sejak kapan kamu ada di situ, Ri? Kenapa aku nggak lihat kamu ada disitu tadi?" kata Vito terkejut melihat wujud Riri ada di dekatnya saat ini.
"Baru, kok!" sambung Riri.
"Kalau gitu, aku pakai baju dulu, ya!" ujar Vito lagi.
"Oke!" balas Riri.
Sambil menunggu, si Mbok pun datang dengan membawa serta minum dan kue untuk Riri.
"Silakan di minum, Non! Di cicipi juga kuenya!" titah si Mbok pada Riri.
"Wah, terima kasih banyak Mbok!" ucapnya.
"Kalau gitu, Mbok lanjut beres-beres, ya Non!" pamitnya pada Riri.
"Silakan, Mbok!" balas Riri.
Riri tak henti-hentinya mengagumi rumah Vito.
"Wah, Vito dan Puri emang cocok banget! Mereka sama-sama punya rumah yang bagus dan indah seperti ini. Mereka beruntung banget, sih! Aku senang punya teman seperti mereka. Udah cantik, ganteng baik pula! Benar-benar, paket komplit!" puji nya pada ke dua sahabatnya itu.
Ketika Riri berkata begitu, ternyata Vito sudah datang. Dia tepat berada di belakang Riri sekarang.
"Siapa yang kamu maksud barusan, Ri?!" ucapnya mengagetkan Riri.
"Hah, ya ampun! Vito kamu ngagetin, deh."
"Jadi, kemana kamu selama seminggu ini? Maksudku, kamu aneh." ujar Vito yang membuat Riri bengong sekaligus bingung.
"Aneh? Kenapa aku aneh?" tanyanya pada Vito.
"Ya, aneh aja. Seminggu latihan, seminggu kemudian hilang. Hilang kemana kamu?" lanjut Vito lagi.
"Oh, itu. Sebenarnya, aku nggak hilang. Selama seminggu, aku latihan karate. Seminggu kemudian, aku latihan silat." tukasnya pada Vito.
Vito yang mendengar penuturan dari Riri, merasa sangat kagum pada Riri.
"Wah, hebat kamu! Bisa tetap fokus untuk keduanya. Sensai Zain, sering banget nyariin kamu. Dia pikir kamu mungkin sibuk kerja."
"Ah, masa sih?" tutur Riri tak percaya.
"Iya, ngapain juga aku bohong," kata Vito lagi.
"Udahlah jangan bahas itu lagi! Jadi, kedatanganku kesini untuk minta kamu datang ke ultah nya Puri. Kamu bisa, 'kan?!" ungkap Riri to the poin pada Vito.
Vito hanya tersenyum saja mendengar Riri berkata seperti itu.
"Sama satu lagi, kita ingin melihat kalian bersama lagi seperti dulu. Apa kamu mau?" tanya Riri ragu.
"Maaf, sebelumnya, Ri! Saat ini, aku ingin fokus untuk meraih cita-citaku! Membuat orang tua ku bangga padaku! Kurasa, kamu sudah tahu jawabannya, 'kan?!" terang Vito pada Riri.
"Ya, kamu benar! Aku nggak akan paksa kamu! Setidaknya, aku sudah berusaha untuk menyatukan kalian lagi! Walau pun nggak berhasil. Benar, 'kan?!" ujar Riri sambil tersenyum.
"Em, benar!" kata Vito menimpali.
Riri terpaksa pergi tanpa membawa serta Vito bersamanya.
"Ya, udah! Kalau gitu aku pamit, ya?!" pamit Riri pada Vito.
"Ya, hati-hati di jalan!" kata Vito pada Riri.
"Ya, tentu! Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam!" balas Vito.
***
Di tengah jalan, ponsel Riri berbunyi lalu dia pun segera mengangkatnya.
"Hah, Olive lagi!" keluhnya ketika melihat layar ponselnya yang tertera nama Olive.
"Assalamualaikum!" jawabnya.
"Waalaikumsalam, gimana, Ri? Kamu berhasil, 'kan?!" ujarnya ingin memastikan.
"Duh, Live ntar aja ngebahas itu! Aku lagi di jalan, nih ...!" katanya pada Olive.
"Ya, udah deh! Hati-hati, ya!"
"Ya!" telpon pun terputus.
"Dasar si Olive, bukannya pakai salam. Malah main tutup aja, tuh anak!" gerutunya pada sikap Olive yang tidak sopan padanya.
***
Mungkin Ryu lebih condong ke sifat ibunya
Sosoknya masih misterius, semoga dia juga orang baik
Hey kaum adam! Awas aja ya kalau kalian berani bikin Puri patah hati maka kalian akan dihajar olehnya
Gibran kamu mau tahu siapa yang ada dihati Riri? Sini aku bisikin namanya itu Ryu
Riko,Riri takut teman-teman sekolahnya digondol maling jadi dia agak ragu untuk ikut pergi sama kamu😂
Meski begitu tetap aja hati Rico hancur berkeping-keping
Tapi syukurlah, Riri ada tempat tinggal.
Daesuke kamu harus move on dan cobalah membuka hatimu kembali untuk wanita lain
Itu benar banget Gibran, kamu itu membuat Riri jadi gak fokus belajar tahu tapi Riri tak mau mengakuinya
Terus nanti Ryu gimana? Apa dia bukan jodohnya Riri?
Gibran sama Roni lucu banget sih kalian😂
Cowok kayak kamu termasuk langkah Ryu
Riri ibumu nyembunyiin kunci dipot kalau aku sih nyembunyiin kunci rumah dibawah keset yang ada didepan pintu
Jadi Riri menolak tawaran orang itu dong kalau dia mau pulang keIndonesia? Kalau Karina gimana?
Puri aku yakin Riri juga merasakan hal yang sama kaya kamu. jadi bersabarlah kalian pasti dipertemukan lagi sama Authornya ya😁
Ya ampun itu namanya ikatan batin ya Ryu, gak lihat orangnya tapi kamu bisa merasakan kehadirannya
The best deh Ryu, suka sama karakternya