**Kirana Ayu Prawira**, putri keluarga pengusaha ternama Surabaya yang cantik dan berbakat, dijebak oleh kakak tirinya, **Melati**, di satu malam yang mengubah seluruh hidupnya. Ia terbangun dalam keadaan sudah terikat pernikahan dengan **Bagas** — seorang perwira miskin yang selama ini ia pandang sebelah mata — sementara Melati diam-diam merebut tunangannya, **Rangga**, sang "tuan muda" keluarga konglomerat **Adiningrat**.
Belum sempat bangkit dari malu, keluarganya bangkrut dan namanya hancur berkeping-keping. Dan ketika Kirana menyadari dirinya mengandung anak kembar, tak ada lagi jalan pulang. Dengan harga diri yang tersisa, ia mengejar Bagas hingga ke kota kecil tempatnya bertugas, memintanya bertanggung jawab.
Yang tak pernah Kirana duga — pria dingin berpangkat rendah yang ia remehkan itu justru memujanya diam-diam. Dan ia menyimpan satu rahasia yang akan mengguncang dua keluarga: **Bagas adalah anak yang tertukar sejak lahir, pewaris sejati konglomerat Adiningrat yang dibesarkan di sebuah desa.** Sementara Rangga, pria yang diperebutkan Melati, sama sekali bukan darah daging keluarga itu.
Saat kebenaran perlahan terungkap, Bagas bertekad merebut kembali segala yang seharusnya menjadi haknya. Demi istri dan anak-anaknya, ia rela berjuang mati-matian meniti puncak — dari perwira desa menjadi tuan muda yang disegani. Tapi Melati tak pernah sudi mengalah, Rangga menyimpan sisi gelap yang mengerikan, dan seorang pria dari masa lalu Kirana datang membawa dendam...
_Akankah "salah nikah" ini justru menjadi jodoh yang ditakdirkan? Dan ketika sang perwira miskin akhirnya berdiri sebagai tuan muda sejati — siapa yang akan menyesal seumur hidup karena pernah memandangnya rendah?_
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laras Cinta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Ditampar Bukti Sendiri
Pintu dibuka oleh Rangga.
Ia masih mengenakan kemeja yang sama, tetapi pangkat di bahunya sudah tidak ada. Tatapannya jatuh pada map di tangan Bagas.
"Kirana mengirimmu?"
"Tidak. Aku datang setelah membaca catatan kejadiannya dan menerima salinan resmi."
Rangga melirik ke arah pos keamanan, lalu membuka pintu lebih lebar. "Masuk."
"Bicarakan di teras."
"Kamu takut saya menjebakmu di rumah sendiri?"
"Aku tidak mau ada yang mengatakan aku masuk untuk mengambil barang tanpa izin."
Rangga menatapnya sesaat, kemudian keluar dan menutup pintu di belakang punggungnya. Lampu teras memantulkan garis tegang di wajah kedua laki-laki itu.
"Tunjukkan."
Bagas membuka map, tetapi tidak menyerahkannya. "Ini salinan kerja. Aslinya sudah masuk administrasi."
Ia memperlihatkan berita acara penerimaan, gambar kendaraan dari rekaman KUA, lalu foto mobil di halaman wisma. Stiker parkir di kaca belakang dan empat angka pelat yang terlihat sama.
Rangga membaca tanpa menyentuh kertas.
"Sopir itu bekerja untuk rumahmu," kata Bagas.
"Namanya tercatat di perusahaan keluarga."
"Aku melihat dia di rumah ini. Hari ini dia juga mengantar kalian ke wisma."
Rangga mengeluarkan ponsel. "Saya akan meneleponnya."
"Aktifkan pengeras suara. Katakan bahwa pembicaraan dicatat."
Alis Rangga naik. "Kamu mengatur saya?"
"Aku memastikan jawabannya bisa dipertanggungjawabkan. Kalau dia menolak direkam, hentikan."
Sebelum Rangga menjawab, pintu rumah sebelah terbuka. Seorang perempuan berkerudung abu-abu keluar membawa kantong sampah, lalu berhenti ketika mengenali Bagas.
"Letda Bagas?"
Bagas segera berdiri lebih tegak. "Selamat malam, Bu Diah."
Diah adalah istri Letkol Bramantyo. Ia tidak mendekat, hanya melihat map dan wajah Rangga bergantian.
"Suami saya bilang berkas klarifikasi akan diperiksa besok. Jangan membuat masalah baru malam ini."
"Saya tidak datang atas nama kesatuan, Bu. Tidak membawa senjata dan tidak meminta masuk. Kunjungan saya tercatat di pos."
"Bagus." Diah memandang Rangga. "Kalau perlu saksi bahwa percakapan di teras berlangsung tanpa kekerasan, saya bisa tetap di halaman rumah saya. Saya tidak perlu mendengar isi berkas."
Rangga mengangguk singkat. Ia menekan nomor sopir, menyalakan pengeras suara, dan memberi tahu bahwa jawaban akan dicatat.
Pria di seberang diam cukup lama.
"Saya boleh menolak menjawab, Pak?"
"Boleh. Tapi besok kamu akan diminta memberi keterangan resmi tentang kendaraan kantor yang terekam di KUA."
Terdengar tarikan napas.
"Bu Melati menyuruh saya memotret mereka masuk. Katanya untuk bukti keluarga."
Rangga menatap pintu rumah.
"Kepada siapa fotonya dikirim?"
"Ke nomor yang beliau tulis di kertas. Saya tidak menyimpan namanya. Setelah itu Bu Melati minta foto dari galeri dihapus."
"Apakah kamu yang membuat unggahan?"
"Bukan, Pak. Saya cuma memotret dan mengirim."
"Jangan hapus percakapan atau data lain. Datang ke administrasi besok dengan ponselmu. Kamu boleh meminta pendamping."
Panggilan berakhir.
Tidak ada teriakan. Namun kesunyian setelah pengakuan itu terasa lebih tajam daripada bentakan.
Pintu di belakang Rangga bergerak.
Melati berdiri di sana dengan wajah pucat. Plester di dahinya tampak terlalu putih di bawah lampu.
"Mas, dia bohong. Aku hanya meminta foto karena takut Kirana memutarbalikkan kunjungannya ke KUA."
Bagas mengeluarkan lembar berikutnya. "Foto itu sampai ke nomor penyebar awal dua menit setelah sopirmu pergi."
"Aku tidak tahu apa yang dilakukan nomor itu."
"Nomor tersebut kamu tulis sendiri untuk sopirmu."
"Aku menerima nomor itu dari orang lain."
"Siapa?"
Melati menelan ludah. "Aku tidak ingat."
Rangga mengulurkan tangan. "Ponsel lama dan kertas yang kamu pakai. Bawa ke sini."
"Kamu mau mempermalukanku di depan orang luar?"
"Bagas tidak akan memeriksa ponselmu. Aku juga tidak akan membukanya tanpa persetujuanmu. Perangkat itu akan disegel untuk pemeriksaan resmi jika diminta."
Melati merapatkan kedua tangannya ke tubuh. "Sudah rusak."
"Tadi aku mendengar laci ditutup saat bel berbunyi."
Bagas tidak bergerak. Diah tetap berdiri jauh di halaman sebelah, cukup dekat untuk memastikan tidak ada ancaman, cukup jauh untuk tidak melihat dokumen.
"Melati," kata Rangga lebih pelan, "ambil perangkatnya."
"Mas Rangga..."
"Sekarang."
Melati masuk. Beberapa menit kemudian ia kembali dengan sebuah ponsel lama di dalam kotak plastik. Sudut layarnya retak, tetapi lampu indikator menyala ketika kotak bergeser.
Rangga memandang cahaya kecil itu. "Kamu bilang rusak."
"Kadang menyala, kadang tidak."
"Dan kamu baru memindahkannya ke laci?"
Melati tidak menjawab.
Rangga mengambil kantong bukti baru dari lemari dekat pintu. Ia menuliskan waktu dan lokasi, memasukkan kotak plastik tanpa membuka ponsel, lalu meminta Melati menandatangani segel sebagai penyerahan sukarela untuk disimpan sampai ada permintaan resmi.
"Aku tidak mau tanda tangan."
"Kalau begitu perangkat tetap di tanganmu, dan malam ini aku membuat catatan tertulis bahwa kamu menolak menjaga barang yang terkait pengaduan. Saya tidak akan merampasnya. Pilih."
Mata Melati berkilat marah. "Kamu lebih percaya orang luar daripada istrimu."
"Saya percaya catatan yang bisa diperiksa."
Kata ganti formal itu jatuh seperti pintu yang dikunci.
Melati merebut pena. Ujungnya menekan kertas sampai hampir sobek.
"Aku memang menyuruh sopir mengambil foto," katanya. "Aku juga memberikan nomor itu. Tapi aku tidak menulis unggahan tentang paksaan rujuk."
"Siapa yang menulis?" tanya Rangga.
"Aku tidak tahu namanya."
Jawaban itu berbeda tipis, tetapi semua orang di teras mendengarnya.
Rangga melipat kedua tangan. "Berarti kamu tahu orangnya melalui sesuatu."
Melati memejamkan mata sesaat. "Ada akun tanpa foto. Dulu akun itu menghubungiku setelah masalah perusahaan Papa muncul. Dia bilang punya akses ke orang-orang yang bisa menyebarkan informasi."
"Kamu memberikan foto KUA kepadanya?"
"Aku memberikan nomor tujuan kepada sopir. Aku cuma meminta agar orang itu mencari tahu apa yang Kirana lakukan."
"Dengan foto yang diambil diam-diam."
"Aku takut dia memaksa masuk ke keluarga kita lagi."
"Kirana datang ke KUA untuk mengurus hubungannya dengan Bagas, bukan dengan saya."
Melati menoleh tajam kepada Bagas. "Dia sengaja membuat semuanya terlihat begitu. Dia tahu Mas Rangga akan mendengar."
Bagas tidak terpancing. "Foto dari orangmu dipakai sebagai bahan unggahan palsu. Apa pun alasanmu, tindakanmu menyediakan alatnya."
"Aku tidak menyuruh akun itu berbohong."
"Kalau begitu simpan seluruh percakapanmu dengannya. Itu bisa membantu membuktikan batas peranmu sekaligus menemukan penulisnya."
Untuk kedua kali, Melati tidak menjawab perintah sederhana untuk menjaga bukti.
Rangga mengusap pelipis. "Tuliskan nama akun, alamat profil, semua nomor yang pernah dipakai, dan bagaimana kamu mengenalnya."
"Aku sudah menghapus beberapa percakapan."
"Kapan?"
"Aku tidak ingat."
"Sebelum atau setelah datang ke wisma?"
"Mas, berhenti menginterogasiku!"
Suara itu memecah ketenangan kompleks. Tirai di rumah seberang bergerak, lalu kembali tertutup. Diah tidak menoleh ke arah tetangga. Ia hanya berkata dari halamannya, "Kalau percakapan ini dilanjutkan, sebaiknya buat catatan dan hentikan sebelum berubah menjadi pertengkaran. Saya hanya akan bersaksi tentang keamanan malam ini, bukan isi tuduhan."
Rangga menarik napas panjang. Ia membuka aplikasi catatan, menyebutkan waktu, tempat, orang yang hadir, lalu membaca ulang kalimatnya agar Melati dapat membantah jika ada yang salah.
Melati tidak membantah pengakuan tentang foto dan akun anonim. Ia hanya meminta ditambahkan bahwa dirinya tidak menulis keterangan unggahan.
Rangga menambahkannya.
"Lalu mengapa foto harus dihapus?"
"Karena aku panik."
"Kamu selalu panik setelah jejak ditemukan."
Melati mengangkat wajah, terluka dan marah sekaligus. "Semua ini dimulai karena Kirana datang merebut hidupku."
"Tidak," potong Rangga. "Ini dimulai ketika kamu memakai namanya."
Wajah Melati seperti ditampar, meski tak ada tangan yang terangkat.
Bagas membalik lembar terakhir. Di sana ada kepala surel pengaduan lama dan salinan data kontak yang menunjukkan empat digit nomor pemulihan cocok dengan nomor lama Melati.
"Untuk surat lama, kami belum menyebutmu pengirim," katanya. "Tapi akses, nomor, cara penulisan, dan pola pengiriman mengarah ke lingkaran yang sama. Jangan sentuh arsip lain."
"Kamu mengancamku?"
"Aku menyampaikan apa yang akan dicatat jika bukti hilang."
Rangga menutup segel kantong dengan tanda tangan sendiri dan Melati. "Besok saya bawa ini ke pihak yang berwenang menerima. Malam ini kotaknya disimpan di lemari berkunci, dan kunci tetap terlihat oleh kita berdua."
Melati memandang suaminya seolah baru mengenali orang di depannya.
"Lalu apa yang kamu inginkan?" Rangga bertanya kepada Bagas.
"Bukan bantuan agar aku mendapat tempat dalam seleksi. Aku ingin catatan palsu dicabut dari pertimbangan, lalu kemampuanku dinilai dengan aturan yang sama seperti calon lain."
"Saya akan memberi pernyataan tentang sopir dan kendaraan."
"Kirana juga harus mendapat koreksi tertulis untuk nama yang kamu akui sudah dipakai."
"Dan biaya yang dapat dibuktikan," kata Rangga. "Perjalanan, administrasi, atau pekerjaan yang benar-benar hilang akibat penggunaan namanya. Saya akan mengikuti berita acara dengan pihak netral seperti yang dia minta."
Bagas menatapnya. "Tidak ada pembayaran yang dikaitkan dengan pencabutan keterangan."
"Saya mengerti."
"Soal Ratna, jangan mencari alamatnya sendiri. Kirim pilihan rumah melalui Bu Marni atau koperasi. Kirana dan ibunya yang menentukan."
"Saya akan menghubungi pengurus Girimulyo hanya untuk daftar rumah kosong dan keadaan wilayah. Tidak ada nama penghuni yang diberikan sebelum persetujuan."
Melati mendengus. "Kalian bicara seolah aku penculik."
"Kamu baru mengakui memerintahkan orang memotret adikmu diam-diam," ujar Rangga. "Kecurigaan mereka tidak muncul dari udara."
Rangga menoleh kepada Melati. "Besok pagi."
"Kalau aku menolak?"
"Kita tidak akan lagi membicarakan ini sebagai salah paham keluarga. Saya akan mendukung pemeriksaan resmi sepenuhnya, termasuk terhadap seluruh arsip rumah ini."
Melati terdiam.
Bagas memasukkan kembali salinannya. "Ada satu hal lagi."
Rangga menatapnya.
"Aku tidak butuh jalan belakang dari keluarga Adiningrat. Tapi kalau ada orang di rumahmu yang memakai pengaruh untuk menutup jejak atau menekan penilaianku, aku akan mencatat namanya juga."
Mata Rangga menjadi gelap. "Kamu mengira saya akan melakukan itu?"
"Aku belum menyimpulkan apa pun tentangmu."
Bagas berhenti di anak tangga teras.
"Aku hanya belajar dari istrimu bahwa nama baik paling mudah rusak saat orang memilih diam."