Raras hanya ingin pernikahannya berjalan tenang. Ia menutupi nama besar keluarganya, meninggalkan kemewahan di Yogyakarta, lalu memilih hidup sederhana bersama Danang, pedagang yang sedang naik daun.
Hingga suatu malam, Raras melihat pesan mesra di ponsel suaminya. Danang berselingkuh.
Yang lebih menyakitkan, keluarga Danang merendahkannya. Mereka menganggap Raras perempuan tanpa masa depan. Bagi mereka, Danang pantas mendapatkan wanita yang lebih cantik, lebih bergengsi, dan lebih menguntungkan.
Raras tidak menangis. Ia hanya berkemas, lalu pulang ke Yogyakarta.
Di balik pintu dalem keluarganya, kehidupan yang selama ini disembunyikan akhirnya terbuka. Ternyata tanah, sawah, kebun, gudang, hingga jaringan dagang milik keluarga Raras selama ini diam-diam menopang kesuksesan bisnis Danang dari belakang.
Raras tidak menghancurkan mantan suaminya. Ia hanya berhenti menopang. Satu per satu bisnis Danang runtuh. Ketika penyesalan itu datang terlambat, Danang sudah kehilangan segalanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20 — Orang-Orang yang Dulu Membantunya (Revisi)
“Mbak Raras, tangane isih dibalut? Lara tenan (tangannya masih dibalut? sakit sekali), ya?” Bu Warsih meraih tangan kanan Raras dengan jemari keriput yang berbau gula kelapa, lalu membalik telapaknya ke bawah lampu gudang.
“Sudah tidak, Bu. Hanya perih kalau kena air.” Raras tersenyum. Selasa, pukul empat empat puluh, dan udara Wates masih dingin menusuk sampai ke tulang. Di meja kantor Pak Wiryo, tiga cangkir teh panas mengepul di antara tumpukan nota. “Terima kasih sudah datang sepagi ini, Bu, Pak.”
“Ing mriki mawon, Mbak (di sini saja),” kata Pak Wiryo sambil menggeser kursi. “Duduk dulu. Mbak datang lebih awal daripada mereka.”
“Saya tidak mau Mas Danang melihat saya menunggu, Pak.”
“Kenapa?”
“Karena saya tidak akan bicara.” Raras menegakkan punggung. “Saya hanya akan duduk di pojok. Bapak-Bapak dan Ibu bicara sendiri.”
“Mbak tidak menyesal?” tanya Pak Wiryo dari balik cangkirnya. “Setelah ini, Mas Danang akan tahu semuanya.”
“Saya sudah menyesal sejak Selasa lalu, Pak. Tapi bukan karena ini.”
“Lalu karena apa?”
“Karena saya baru berani setelah semuanya terlambat.” Raras tersenyum miring. “Saya tidak menyesal membiarkan mereka tahu. Saya hanya menyesal karena terlalu lama membiarkan Mas Danang tidak tahu.”
“Mbak yakin?” tanya Pak Sastro. Bajunya masih basah embun, dan jemarinya memutar topi di pangkuan. “Pertanyaannya nanti mungkin berat.”
“Saya yakin, Pak. Jawab saja apa adanya. Jangan menjelekkan dia, jangan membela dia, dan jangan menambah-nambahi cerita.”
“Saya sudah capek jadi saksi yang tidak pernah ditanya,” gumam Bu Warsih. Ia meniup tehnya. “Tiga tahun saya lihat Mas Danang datang dengan wajah senang, Mbak. Dia tidak tahu siapa yang selama ini membantunya.”
“Bu Warsih.”
“Nggih, nggih. Saya diam.” Ia tersenyum, lalu menepuk punggung tangan Raras. “Tapi tehnya ojo nganti adhem (jangan sampai dingin), Mbak.”
Suara mesin sedan terdengar dari pelataran. Pak Wiryo berdiri sambil menepuk kedua lututnya. “Sampun, Mbak. Silakan pindah ke pojok.”
Raras berjalan ke bangku kayu di sudut ruangan, di belakang lemari arsip tua, lalu duduk dengan tangan terlipat di pangkuan. Pintu kantor terbuka. Danang masuk membawa tas kerja di tangan kiri. Dasinya miring, dan matanya langsung menemukan Raras di sudut. Ia berhenti sejenak. Raras mengangguk satu kali, lalu menunduk.
“Pak Wiryo, Pak Sastro, Bu Warsih.” Danang menarik napas. “Terima kasih sudah mau menemui saya sepagi ini.”
“Mangga lungguh, Mas (silakan duduk, Mas).”
“Saya berdiri saja, Pak.” Danang meletakkan tas di meja. “Saya ingin bertanya langsung. Selama tiga tahun, saya membeli di sini dengan tenggang pembayaran empat puluh lima hari. Siapa yang memberi saya kemudahan itu?”
“Saya yang mengaturnya, Mas,” jawab Pak Wiryo. “Tapi bukan atas nama saya.”
“Atas nama siapa?”
“Atas nama Mbak Raras.” Pak Wiryo menunjuk ke arah pojok tanpa menoleh. “Waktu Mas pertama datang, Mas belum punya riwayat pembelian. Mbak Raras yang meminta kami memberi kepercayaan kepada Mas. Katanya, ‘Bapak-Bapak, catat atas nama saya.’”
Danang tidak bergerak. Raras merasakan dadanya mengeras, tetapi ia tetap menunduk.
“Atas nama dia?”
“Nggih, Mas.”
“Kalau saya terlambat membayar, bagaimana?”
“Dua kali, Mas.” Pak Sastro berdeham. “Bulan Maret dan Agustus tahun lalu. Kekurangannya dibayarkan lewat Pak Hadi, tanpa menyebut nama Mas.”
“Berapa jumlahnya?”
“Saya tidak menghitung, Mas.”
“Pak Sastro, saya perlu tahu angkanya.”
“Empat puluh dua juta untuk Maret, enam puluh satu juta untuk Agustus.” Pak Sastro menunduk. “Maaf, Mas. Saya hafal karena baru saya catat lagi tadi malam.”
Ruangan itu hening. Hanya mesin pendingin ruangan di jendela yang terus berdengung. Di luar, terdengar suara karung dijatuhkan ke gerobak.
“Seratus tiga juta.” Danang mengulang angka itu tanpa ekspresi. “Dan selama ini tidak ada yang memberi tahu saya.”
“Mbak Raras melarang kami membicarakannya, Mas.”
“Kenapa Bapak menuruti permintaan itu?”
“Karena Mbak Raras yang meminta, dan Mas tidak pernah bertanya.”
“Bu Warsih juga ingin bicara,” kata Pak Sastro.
“Saya cuma mau cerita sedikit, Mas.” Bu Warsih menarik napas. “Setiap Lebaran, Mbak Raras mengirim bolu kukus ke rumah saya. Beliau juga selalu bertanya apakah cucu saya sudah mulai sekolah.”
“Saya tidak tahu, Bu.”
“Ya memang tidak tahu, Mas. Yang menerima bolu itu saya, bukan Mas.” Bu Warsih tertawa pendek. “Mbak Raras memang begitu. Kalau mau membantu, ya membantu saja. Tidak perlu diumumkan.”
“Saya wedi, Mas (saya takut),” lanjutnya. Suaranya tenang, tetapi tangannya meremas ujung kain. “Saya takut kalau cerita, Mas Danang malah mengira Mbak Raras sengaja membuat Mas malu.”
“Saya tidak berpikir begitu, Bu.”
“Saiki wis ngerti, Mas (sekarang sudah tahu, Mas)?”
“Sekarang saya tahu.” Danang menunduk, bahunya merosot. “Sekarang saya tahu siapa yang selama ini membantu saya.”
“Mas, boleh saya bertanya?” Pak Wiryo menatap Danang. “Selama ini, pernah ada yang menjelek-jelekkan Mas di pasar atau di gudang?”
“Mboten wonten, Mas,” jawab Pak Wiryo cepat. “Itu aturan keempat Mbak Raras. Tidak boleh ada yang menjelek-jelekkan Mas.”
“Sampai sekarang pun tidak ada?”
“Tidak ada, Mas. Kami hanya menceritakan apa yang benar-benar terjadi.”
Danang mengusap wajah dengan telapak tangan. Raras mendengar napasnya bergetar. “Saya tidak pantas menerima semua bantuan itu.”
“Bukan soal pantas atau tidak, Mas,” kata Pak Sastro. “Mbak Raras yang meminta kami membantu, jadi kami melakukannya.”
“Boleh saya minta salinan nota-notanya, Pak?”
“Mangga, Mas. Pak Hadi sudah menyiapkan salinannya.” Pak Wiryo menyodorkan map cokelat tipis. “Silakan dibaca di rumah. Tanggal dan tanda tangannya lengkap. Semua tercatat atas dhawuh yang sama.”
“Atas dhawuh Mbak Raras.”
“Betul, Mas.”
“Terima kasih.” Danang menerima map itu dengan kedua tangan, hati-hati sekali. “Pak Sastro, bagaimana cara saya membayar utang itu?”
“Itu harus dibicarakan dengan Mbak Raras, Mas.”
“Saya tahu.” Danang melirik ke pojok ruangan. “Saya hanya ingin tahu berapa yang harus saya bayar supaya tidak merugikan siapa pun lagi.”
“Mas sudah sarapan?” sela Bu Warsih tiba-tiba.
“Bu?”
“Mas Danang, sudah makan belum?” Ia membuka tas anyamannya dan mengeluarkan bungkusan daun pisang. “Ini nasi jagung. Masih hangat.”
“Saya tidak perlu, Bu.”
“Wis ora usah mbantah (sudah, tidak usah membantah). Terima saja.”
Danang menerima bungkusan itu dengan kedua tangan. Matanya basah sebelum ia sempat berkedip. “Matur nuwun, Bu.”
“Makan dulu sebelum bicara di rumah, Mas,” kata Pak Sastro. “Kalau lapar, orang gampang terpancing emosi.”
“Saya makan di mobil, Pak.”
“Betul, ya?”
“Betul, Pak. Saya makan.”
Raras menggigit bagian dalam pipinya. Matanya panas, tetapi ia menahan semua yang ingin dikatakannya. Janji Danang untuk makan terasa lebih berat daripada karung gabah yang ia pikul waktu kecil.
“Saya mau membayar,” kata Danang tiba-tiba. “Bukan untuk menebus kesalahan saya kepada Bapak-Bapak. Saya akan membayar kiriman bulan ini secara tunai, sesuai aturan yang berlaku sekarang. Lalu saya akan mencicil seratus tiga juta itu kepada Mbak Raras, bukan kepada kalian.”
“Itu urusan Mas dengan Mbak Raras.”
“Saya tahu.” Danang menegakkan badan. “Tapi saya ingin Bapak-Bapak tahu bahwa saya tidak akan lari dari tanggung jawab.”
“Inggih, Mas.”
“Dan ada satu hal lagi.” Danang mengeluarkan selembar kertas dari tasnya. “Ini daftar sepuluh pemasok yang saya ingat. Delapan di antaranya dari Yogya. Saya tidak tahu apakah mereka akan menjawab pertanyaan saya seperti Bapak-Bapak. Tapi saya akan menemui mereka satu per satu. Saya tidak akan meminta keringanan. Saya hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Pak Wiryo mengambil kertas itu, membacanya, lalu menyerahkannya kepada Pak Sastro. “Mas, boleh saya memberi saran?”
“Silakan, Pak.”
“Mas itu pintar. Sejak pertama datang, saya sudah melihat Mas punya kemampuan untuk maju.” Pak Wiryo meremas topinya. “Tapi kemampuan saja tidak cukup. Mas juga harus tahu siapa yang selama ini membantu Mas sampai bisa berdiri di posisi sekarang.”
“Saya mengerti, Pak.”
“Mudah-mudahan Mas tetap ingat setelah pulang dari sini.”
Danang menoleh ke pojok ruangan. Raras mengangkat wajah, dan tatapan mereka bertemu di antara lemari arsip dan kepulan uap teh. Ia tidak berkata apa-apa. Ia hanya menggeleng kecil, memberi tanda bahwa ia tidak akan menjawab pertanyaan yang belum diucapkan.
“Aku tahu kamu tidak akan bicara,” kata Danang lirih. “Aku cuma mau bilang, aku sedang membaca semuanya.”
Raras menelan ludah. Bibirnya bergetar, tetapi ia tetap diam.
Ponsel Danang bergetar di saku jasnya. Sekali, dua kali, tiga kali. Ia mengeluarkannya, membaca layar, lalu menekan tombol hijau. Suara Surya langsung terdengar dari pengeras suara sebelum Danang sempat menempelkan ponsel ke telinga.
“Danang! Bapak baru saja menelepon Hartono. Jam tujuh kamu harus sudah di rumah. Jelaskan semuanya di depan keluarga. Jangan bawa apa pun kalau kamu tidak bisa mempertanggungjawabkannya!”
Danang membeku dengan ponsel di tangan. Ruangan itu terlalu sunyi untuk menutupi suara Surya yang baru saja terdengar oleh semua orang. Ia menoleh ke pojok. Raras berdiri dari bangkunya dengan kedua tangan terlipat di depan perut. Ia tidak berkata apa-apa, hanya mengangguk satu kali.
“Baik, Pak,” jawab Danang akhirnya. “Saya pulang sekarang.”
lanjuut
🙏💪