Rania tak sadarkan diri di tabrak pengendara motor, setelah mengejar penjambret yang membawa HP kesayangannya. Saat membuka mata, ia justru terbangun dalam tubuh Putri Wening Sasikirana dari Kerajaan Wanunggalih.
Belum sempat memahami keadaan, sebuah sistem memberinya misi: menikahi Pangeran Mukti Samudera, yang ternyata adalah sepupu Wening.
Rania menolak.
Ketika ia kebingungan karena tidak punya uang, sistem memberinya tantangan berjualan. Jika produknya viral, poinnya akan dikembalikan.
Di tengah usahanya mencari uang, Rania bertemu Raden Ji Aryasatya, pangeran dari kerajaan tetangga yang dikenal sebagai villain.
Sistem ingin Rania mengikuti takdir.
Rania justru memilih menolaknya.
Kalau harus memilih, kenapa tidak menikahi villain saja?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AraLum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13— Orang dalam
Bab 13— Orang dalam
Mereka bertiga kembali ke Wanunggalih sebelum fajar, dengan kesepakatan diam-diam untuk tidak membicarakan hasil pertemuan di Arkapura kepada siapa pun di istana sampai mereka tahu siapa yang bisa dipercaya.
Rania nyaris tidak tidur sepanjang sisa malam, pikirannya dipenuhi wajah-wajah yang mungkin saja adalah "orang dalam" yang membantu Nyonya Ratih kabur. Bibi Marni si kepala pelayan. Dayang senior. Bahkan tabib kerajaan yang selama ini terlihat begitu peduli.
Pagi harinya, ia duduk di kamarnya bersama Sari, keduanya berbisik-bisik menyusun daftar kecurigaan di atas selembar kertas.
"Sistem," bisik Rania, "bisa bantu analisis siapa yang absen atau bertindak aneh semalam?"
[Menganalisis. Data terbatas karena Host tidak berada di istana selama periode kejadian.]
"Coba usahain."
[Ditemukan: satu prajurit penjaga gerbang belakang istana melaporkan sakit mendadak dan tidak bertugas semalam. Nama: Prajurit Wirya.]
Rania mengerutkan kening. "Prajurit biasa? Bukan pejabat tinggi?"
[Jubah resmi istana yang dilaporkan penjaga pelabuhan bisa saja dicuri atau dipinjam, tidak selalu menunjukkan identitas pemilik sebenarnya.]
Rania menghela napas. "Berarti bisa siapa aja yang punya akses ke gudang pakaian kerajaan."
Sari yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat bicara. "Putri, kalau boleh saya usul... kenapa kita tidak coba lihat catatan siapa saja yang keluar-masuk istana semalam? Penjaga gerbang biasanya mencatat di buku besar."
Rania menatap Sari dengan mata berbinar. "Sari, kamu jenius."
Sari tersipu, meski masih terlihat gugup. "Saya cuma... mikir logis aja, Putri."
Mereka berdua bergegas menuju pos penjaga gerbang depan istana, tempat biasanya buku catatan keluar-masuk disimpan. Penjaga yang bertugas pagi itu seorang pria muda dengan kumis tipis terlihat gugup begitu melihat kedatangan Putri secara langsung.
"P-Putri Wening? Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya mau lihat catatan keluar-masuk istana semalam," kata Rania, mencoba terdengar berwibawa meski dalam hati masih campur aduk.
Penjaga itu ragu sejenak. "Itu... catatan rahasia, Putri. Biasanya hanya untuk kepentingan keamanan."
"Saya Putri kerajaan. Keamanan istana juga kepentingan saya."
Penjaga itu akhirnya menyerah, membuka lemari kecil di pos jaga dan mengeluarkan buku besar bersampul kulit. Rania membolak-balik halamannya cepat, mencari tanggal semalam.
Matanya berhenti pada satu baris catatan.
*Keluar, tengah malam, gerbang belakang: satu orang, tidak dicatat nama—atas perintah langsung.*
"Atas perintah langsung?" Rania mengangkat kepala. "Perintah siapa?"
Penjaga itu semakin gugup, matanya melirik ke kanan-kiri seolah takut didengar orang lain. "Saya... tidak tahu persis, Putri. Catatan itu dibuat oleh penjaga shift malam, bukan saya."
"Siapa penjaga shift malam itu?"
"Prajurit Wirya, Putri."
Rania dan Sari saling pandang. Nama yang sama dari analisis sistem.
"Di mana saya bisa menemukan Prajurit Wirya sekarang?"
Penjaga itu menggeleng cepat. "Dia tidak masuk kerja hari ini, Putri. Katanya sakit."
Rania merasakan firasat semakin buruk. "Alamat rumahnya?"
***
Rumah Prajurit Wirya ternyata hanya sebuah gubuk kecil di pinggiran kota, tidak jauh dari gerbang istana. Namun ketika Rania, Sari, dan dua pengawal yang dipinjamkan Mukti tiba di sana, pintu rumah itu terbuka lebar kosong.
"Dia kabur juga," gumam Rania, memeriksa ruangan yang berantakan seperti ditinggalkan dengan tergesa.
Di atas meja kecil, tergeletak beberapa keping uang perak jumlah yang terlalu banyak untuk gaji seorang prajurit biasa.
"Sistem, ini bisa dianalisis?"
[Menganalisis pola uang.]
[Kesimpulan: kemungkinan besar pembayaran atas jasa tertentu, dilakukan dalam waktu dekat.]
"Bayaran buat bantu Ratih kabur," Rania menggenggam salah satu keping uang itu erat. "Tapi siapa yang bayar dia?"
Salah satu pengawal yang sejak tadi memeriksa sudut lain rumah tiba-tiba memanggil. "Putri, ada ini."
Ia menyerahkan secarik kertas kecil yang terselip di balik bantal kasur. Rania membukanya cepat.
Tulisan singkat, tanpa tanda tangan:
*Lakukan seperti yang direncanakan. Setelah selesai, langsung pergi jauh. Jangan kembali sampai kuhubungi.*
Rania menatap tulisan tangan itu lama, mencoba mencocokkan dengan tulisan siapa pun yang pernah ia lihat.
"Sari, ini tulisan siapa? Kamu kenal?"
Sari mengambil kertas itu, matanya menyipit memeriksa detail huruf-hurufnya.
"Saya... tidak yakin, Putri. Tapi " Sari terdiam sejenak, wajahnya berubah ragu.
"Tapi apa?"
"Gaya tulisannya mirip dengan catatan yang biasa saya lihat di ruang kerja Pangeran Mukti."
Rania merasakan dunia di sekitarnya seolah berhenti berputar sejenak.
"...Apa?"
"Saya cuma bilang mirip, Putri," Sari buru-buru menambahkan, terlihat takut sendiri dengan implikasi ucapannya. "Banyak orang punya gaya tulisan serupa. Saya nggak yakin seratus persen."
Rania menatap kertas itu lagi, pikirannya berkecamuk. Mukti bersamanya semalam, sepanjang perjalanan ke Cilangkap dan Arkapura. Tidak mungkin dia yang menulis perintah ini dan membayar Prajurit Wirya secara bersamaan.
Kecuali dia menyiapkannya lebih dulu, sebelum mengajak Rania pergi.
Rania menggeleng cepat, menepis pikiran itu. Terlalu banyak asumsi, terlalu sedikit bukti pasti. Sari sendiri bilang tidak yakin.
Tapi entah kenapa, benih kecurigaan itu sudah tertanam, dan tidak bisa ia cabut semudah itu.
"Jangan bilang siapa-siapa soal ini," kata Rania pelan, melipat kertas itu dan menyimpannya rapat-rapat. "Termasuk ke Pangeran Mukti sendiri."
Sari mengangguk cepat, wajahnya masih pucat.
Dalam perjalanan kembali ke istana, Rania menunggangi kuda sendirian kali ini, sengaja menjaga jarak dari rombongan pengawal Mukti yang menjemput di tengah jalan.
Mukti menyambutnya dengan wajah lega. "Kau baik-baik saja? Aku dengar kau pergi tanpa bilang-bilang pagi ini."
"Aku baik," jawab Rania singkat, mencoba bersikap senormal mungkin meski hatinya masih berdebar aneh.
"Ketemu sesuatu?"
Rania menatapnya sejenak wajah yang selama ini terlihat tulus, khawatir, bahkan rela ikut menyelinap ke Cilangkap dan Arkapura demi membantunya.
"Nggak ada yang penting," jawabnya akhirnya, memilih berbohong untuk pertama kalinya secara sengaja kepada Mukti.
Mukti mengangguk, tidak curiga sama sekali, lalu mengarahkan kudanya berjalan beriringan dengan Rania menuju gerbang istana.
Namun di dalam hati Rania, pertanyaan itu terus berputar, semakin keras setiap kali ia mencuri pandang ke arah pria di sampingnya.
Kalau benar tulisan itu miliknya... berapa banyak lagi yang selama ini ia sembunyikan di balik topeng kekhawatiran yang terlihat begitu meyakinkan?
Sementara itu, jauh di lautan, kapal kecil yang membawa Nyonya Ratih terus melaju menjauhi Wanunggalih, menembus kabut pagi yang tebal.
Di geladak kapal, Nyonya Ratih berdiri sendirian, menatap garis pantai yang semakin mengecil di kejauhan.
Ia mengeluarkan sepucuk surat lain dari balik jubahnya surat yang berbeda dari yang ia tinggalkan di kamarnya. Surat ini utuh, belum pernah dibuka.
Ia menatap nama yang tertulis di sampulnya lama sekali, sebelum akhirnya membakarnya perlahan dengan lilin kecil yang ia bawa, membiarkan abunya beterbangan ditiup angin laut.
"Maafkan aku," gumamnya pelan, entah pada siapa. "Tapi kali ini, biar dia yang menanggung akibatnya sendiri."