Dari desa yang sederhana tumbuh cinta yang tak pernah disangka...
Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Vallery gadis cantik yang lahir dan dibesarkan di kota dengan berbagai macam vasilitas mewah kemudian dipaksa untuk tinggal didesa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk dan kemudahan fasilitas umum yang biasa ia dapatkan setelah diusir oleh nenenk tirinya dari rumah begitu kedua orang tuanya meninggal dunia. Tanpa disang,ka keputusan cepat yang dimabilnya untuk tinggal di Desa Maju Bersama, kampung halaman sang papa untuk tinggal bersama neneknya mengubah seluruh kehidupan Vallery termasuk kisah cintanya yang terejrat kepada seorang kepala desa yang berstatus duda perjaka di kampung neneknya itu yang terus mengejarnya secara ugal-ugalan hingga membuat hati Vallery pun menjadi luluh...
Kisah cinta romantis namun ada sedikit unsur komedi mewarnai kisah cinta keduanya membuat cerita kali ini bisa terbilang sangat ringan karena jauh dari intrik panjang dan berat.
HAPPY READING.....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julieta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BICARA EMPAT MATA
Sambil menunggu pesanan datang, Vallery pun mempergunakan waktu tersebut untuk membahas masalah yang memang ingin dibicarakannya dengan Dirga.
“Mas, bisa tidak mulai besok mas jangan ngirim makanan lagi karena jujur saja, ini sedikit menjadi beban buatku”, ucap Vallery membuka percakapan.
“Aku tahu niat mas baik, tapi perhatian berlebihan yang mas tunjukkan, membuat aku sedikit tidak nyaman”.
“Jika ini aku secara pribadi, aku akan bodoh amat dengan kata orang. Tapi hal ini bukan hanya menyangkut mengenai aku secara pribadi, tapi ada hati nenek yang harus aku jaga”
“Jika sekali dua kali ada omongan yang nggak enak mungkin nenek masih bisa tahan, tapi jika setiap hari, setiap kali bertemu orang masalah ini terus dibahas, menurut mas bagaimana perasaan nenek Gendhis?”.
Vallery menghentikan perkataannya karena pesanan mereka sudah datang.
Begitu pelayan yang mengantar makanan pergi, Vallery pun melanjutkan ucapannya.
“Jujur saja, untuk saat ini, aku masih belum ingin menjalin hubungan dengan siapapun. Aku masih ingin fokus pada diriku sendiri. Menata semuanya dan juga fokus kepada karierku. Jika mas memang ingin mengejar ku, aku tak akan melarang. Tapi tolong, ubah caranya. Mas kan kepala desa disini, seharusnya mas lebih tahu bagaimana karakter warga desa yang mas pimpin, jadi saya harap mas bisa bersikap lebih bijak lagi”.
Semua ucapan Vallery seakan menjadi tamparan keras bagi Dirga. Ia yang baru pertama kali merasakan jatuh cinta, sedikit buta sehingga tak mampu melihat semuanya dengan jelas karena fokusnya hanya pada Vallery seorang.
Kini, diingatkan secara langsung seperti ini, membuat Dirga merasa malu tapi ia juga merasa bersyukur setidaknya Vallery masih mau mengkritiknya secara langsung sehingga ia bisa membenahi apa yang salah pada dirinya. Dan yang paling penting, pernyataan Vallery yang membiarkan ia mengejarnya dengan cara yang lebih santun, membuatnya merasa bahagia.
“Maaf, jika perhatianku yang berlebihan ini membuatmu terbebani dan juga membuat nenek Gendhis merasa tidak nyaman. Aku juga mengucapkan terimakasih padamu karena kamu sudah mau mengingatkanku, jika apa yang aku lakukan ini salah”, Dirga berkata dengan nada penuh penyesalan, membuat Vallery yang semula mengira Dirga akan keras kepala seperti sebelumnya merasa sedikit lega.
“Namanya manusia pasti tak pernah luput dari namanya kesalahan. Aku senang mas mau menerima kritik yang aku berikan dan mencoba membenahi diri lagi agar bisa lebih baik”.
Jawaban Vallery membuat senyum Dirga merekah. Ia tak salah menambatkan hatinya pada gadis cantik ini.
Jika ini orang lain, mereka mungkin tak akan berani berbicara seperti ini kepadanya dan akan terus memanfaatkan kebaikannya demi keuntungan pribadi mereka.
Vallery yang merasa jika pembicaraan kali ini sudah memiliki titik temu pun, bisa makan dengan tenang.
Setelah mencuci tangannya di wastafel yang ada didekat gazebo, Vallery segera menyantap ikan bakar yang tadi di pesannya dengan lahap, tanpa ada sedikitpun kesan jaim seperti yang ditunjukkan oleh gadis lain ketika tengah makan dengan orang lain diluar.
Bukan hanya menghabiskan satu porsi ikan bakar dengan ukuran dua telapak orang dewasa, Vallery juga menyantap satu mangkok es teler jumbo dan juga segelas besar es dawet.
Belum lagi, potongan buah dipiring yang memang diberikan sebagai pencuci mulut gratis yang merupakan fasilitas dari restoran tersebut, semuanya dihabiskan oleh Vallery seorang diri, membuat Dirga sedikit terperangah.
“Aku sama sekali tak menyangka jika porsi makanmu sebesar ini?”, ucap Dirga sedikit terkejut.
Vallery yang sudah terbiasa mendengar ucapan seperti itu hanya menjawab dengan santai, “Kenapa, setelah melihat besarnya porsi makanku kamu menjadi ilfeel?”.
Dirga terkekeh pelan melihat sikap acuh Vallery. “Tidak. Aku justru merasa senang mentraktir orang yang doyan makan sepertimu”.
Vallery yang mendengar jawaban aneh itu hanya bisa memutar bola matanya dengan malas.
Begitu semua makanan diatas meja telah habis, keduanya pun segera pulang karena malam nanti Vallery dan anak-anak karang taruna masih harus lembur menyiapkan kostum yang akan digunakan oleh warga esok malam dan juga mengadakan gladi bersih untuk menyambut kedatangan para dewan juri dimana dikabarkan jika salah satu jurinya adalah pak Bupati Mursid sehingga persiapan yang dilakukan harus benar-benar matang.
Baru saja Dirga mengantar Vallery pulang, ketika ia sampai dirumah, melihat sebuah mobil milik kedua orang tuanya, iapun merasakan firasat yang tak enak.
“Ada apa abah dan umi tiba-tiba datang kemari tanpa pemberitahuan?”, batin Dirga sedikit cemas.
Setelah memasukkan motornya kedalam garasi dan mengunci pintu pagar rumahnya, Dirga pun segera masuk kedalam rumah dengan langkah lebar.
“Assalamualaikum, Aba, umi, tumben main kesini tanpa ngasih kabar”, Dirga berkata sambil mencium punggung tangan kedua orang tuanya dengan takzim.
“Kami kesini ingin merayakan Agustusan dikampung sekaligus ingin kenal sama calon mbak iparku”, celetuk Fitri,adik Dirga yang tiba-tiba nonggol sambil menaik turunkan alisnya dengan tatapan menggoda.
Dirga yang ditatap oleh ketiga anggota keluarganya hanya bisa menghela nafas pelan.
“Bukannya aku ingin merahasiakan, hanya saja, perasaanku saja belum diterima jadi bagaimana bisa aku memperkenalkan gadis ini kepada kalian”, jawab Dirga dengan wajah murung.
Fitri yang mendengar jika perasaan sang kakak belum dibalas merasa terkejut.
“Wah, ini sungguh langkah. Ternyata ada juga gadis yang tak tertarik dengan ketampanan mas ku ini. Cukup menarik”, ucap Fitri dengan gaya sok cool sambil menatap Dirga penuh minat.
“Nama calon mbak iparku itu siapa mas? punya fotonya ?”, tanya Fitri penuh selidik.
Bukan hanya Fitri saja yang penasaran akan sosok gadis yang bisa meruntuhkan tembok pertahanan hati Dirga, bahkan kedua orang tuanya juga menatapnya penuh harap, membuat Dirga sedikit kikuk dan pada akhirnya menyerah dan menunjukkan foto Vallery yang tadi diambilnya secara diam-diam ketika Vallery tengah ber selfie ria di restoran tadi.
Begitu foto Vallery di tunjukkan, ketiganya pun langsung menatap layar ponsel Dirga dengan kedua mata berbinar cerah.
“Ya Allah, uayune calon mbak iparku ini ”, guman Fitri dengan tatapan penuh kekaguman.
Sementara umi Sholicha,ibu Dirga hanya bisa mengelus dadanya lega, “MasyaAllah, ayune cah iki. Wajahnya kalem dan sorot matanya teduh, sangat cocok sama kamu, mas”.
Abah Munir, ayah Dirga yang biasanya cuek, melihat foto Vallery iapun ikut berkomentar “Menantu idaman…”.
Respon positif yang diberikan oleh kedua orang tuanya dan adiknya membuat hati Dirga merasa lega. Sekarang tinggal meyakinkan Vallery jika ia memang layak untuk menjadi pendamping gadis cantik itu.
“Habis Ashar aku harus sowan (berkunjung) ke rumah nenek Gendhis untuk meminta maaf atas sikapku yang sedikit ceroboh ini”, guman Dirga dalam hati.
Begitu mendengar suara adzan ashar dari masjid yang tak jauh dari rumahnya, Dirga pun pamit untuk mandi dan segera menjalankan kewajiban sebagai seorang muslim untuk melaksanakan sholat ashar sebelum ia pergi kerumah nenek Gendhis, menjalankan niatnya untuk meminta maaf sekaligus meminta ijin untuk mendekati Vallery.
Sebagai pria dewasa yang bertanggung jawab, seharusnya hal inilah yang Dirga lakukan terlebih dahulu, meminta ijin kepada nenek Gendhis untuk mendekati Vallery sebelum ia melancarkan PDKT, bukan malah sebaliknya. Dan begitu Dirga mengingat apa yang telah ia lakukan beberapa hari terakhir, ia merasa sangat malu.
Jika nenek Gendhis marah dan kecewa terhadapnya itu merupakan hal yang wajar karena disini ialah yang salah langkah terlebih dahulu.
Begitu Dirga masuk kedalam kamar, umi Sholicha dan juga Fitri pun segera mengeluarkan beberapa bungkus kue yang akan mereka bawa nanti dalam acara gladi bersih yang akan dilaksanakan di balai desa demi misi berkenalan dengan Vallery dan mengenal lebih dekat gadis itu agar bisa membuka jalan bagi Dirga untuk mewujudkan niat baiknya dengan menjadikan cucu perempuan nenek Gendhis itu menjadi bagian dari keluarga besar mereka.
TENG TENG TEEEEEEEEEENNNNGGGGG☕️
SELAMAT PAGI SEMUAAAAAA