Cinta yang tulus terkadang harus rela melepaskan, meski hati tak pernah benar- benar siap.
Tiga tahun menjalani pernikahan, Elma akhirnya menyadari jika Maxime tidak pernah tulus mencintainya. Perjodohan dua keluarga itu nyatanya harus hancur karena bedanya prinsip, kerasnya ego dan kesalahpahaman yang dipendam.
Akankah Elma sanggup bertahan atau justru memilih melepaskan pria tersebut. Lantas bagaimana dengan Maxime! Akankah pria itu menyadari perasaannya.
#cintabutuhperjuangan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chayahuda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBAIKAN YANG DIMAFAATKAN
Maxime dan Elma sedang makan siang bersama, keduanya janjian bertemu di restoran. Makan siang itu berlangsung jauh lebih menyenangkan dari yang Elma bayangkan. Ia dan Maxime duduk berhadapan di sebuah restoran yang tidak terlalu jauh dari kantornya. Percakapan mereka mengalir santai, sesekali diselingi candaan kecil yang membuat Elma tertawa. Maxime bahkan sempat mengomentari kebiasaan Elma yang terlalu serius ketika membicarakan pekerjaan.
"Kurasa kau perlu belajar menikmati makan siang tanpa membicarakan pekerjaan."
Elma mengangkat alis. "Kau mengatakan itu kepada seseorang yang bekerja di firma hukum?"
"Aku sedang berbicara dengan istriku, bukan pengacara Laurent."
Elma terkekeh. "Sayangnya, keduanya adalah orang yang sama."
Maxime hanya menggeleng sambil tersenyum.
Setelah makan siang, mereka kembali ke kantor masing-masing. Maxime lebih dahulu mengantarkan Elma ke gedung kantornya sebelum melanjutkan perjalanan. Namun, suasana hati Elma yang semula baik perlahan berubah ketika sebuah pesan masuk ke ponselnya.
Evelyn : Elma, aku sedang ada masalah. Kartuku tidak bisa digunakan di pusat perbelanjaan. Bisa datang sekarang?
Elma memejamkan mata sejenak, kemudian mengetik balasan singkat.
Elma: Hubungi bank atau gunakan metode pembayaran lain.
Namun, Evelyn kembali mengirim pesan.
Evelyn: Aku tidak bisa meninggalkan barang- barang ini. Tolonglah ini penting.
Elma menghela napas panjang. Setelah beberapa detik mempertimbangkan, ia akhirnya meminta izin kepada atasannya dan berangkat menuju pusat perbelanjaan. Begitu tiba, ia menemukan Evelyn duduk santai di sebuah sofa butik mewah. Beberapa kantong belanja tersusun rapi di sampingnya.
"Kau membuatku meninggalkan pekerjaan hanya untuk masalah kartu kredit?" tanya Elma tanpa basa-basi.
Evelyn memasang wajah tidak bersalah.
"Aku sudah bilang ini penting."
Elma melirik barang-barang di atas meja. Sebuah tas kecil, aksesori, dan beberapa produk kecantikan. "Ini yang membuatmu panik?"
"Jangan melihatnya dari bentuknya saja." Evelyn segera menyela. "Tas itu edisi terbatas. Aksesori yang satu lagi bahkan hanya tersedia beberapa buah. Semuanya penting untuk menunjang karierku."
Elma menatapnya datar. "Kariermu tidak akan runtuh hanya karena kau gagal membeli tas."
Evelyn mendengus. "Tas itu edisi terbatas. Aku sudah menunggunya selama berbulan-bulan. Kau tahu betapa pentingnya penampilan dalam industri hiburan. Aku harus menjaga citra profesional."
Elma menggeleng pelan. "Menjaga citra profesional tidak sama dengan membeli semua barang mahal yang menarik perhatianmu."
"Jangan mengajariku tentang pekerjaanku."
"Dan jangan mengajariku bagaimana menggunakan uangku."
Evelyn terdiam sesaat, ia tidak menyangka Elma akan membalas setajam itu.
"Elma!" Evelyn memelas.
"Baiklah. Berapa semuanya?"
Evelyn menyebutkan nominalnya secara hati- hati. Elma terdiam sesaat, jumlahnya jauh lebih besar daripada yang ia perkirakan untuk barang-barang sekecil itu.
"Kau serius?"
"Aku tidak mungkin bercanda. Aku hanya membutuhkan bantuanmu. Kupikir sebagai keluarga, kau seharusnya bisa sedikit lebih pengertian."
Dengan enggan, Elma mengeluarkan kartu kreditnya dan menyelesaikan pembayaran.
"Aku sudah membantumu. Lihat sekelilingmu. Semua barang itu sudah kubayar."
"Tapi kau melakukannya dengan wajah seolah-olah aku sedang memaksamu."
"Karena memang itulah yang sedang kau lakukan!" Suara Elma meninggi.
Beberapa orang di sekitar mereka sempat menoleh, tetapi ia tidak lagi peduli.
"Sudah selesai bukan, sekarang aku harus kembali kekantor".
Namun, bukannya berterima kasih, Evelyn justru mengerutkan kening. "Seharusnya kau memberikan kartu kreditmu sejak awal. Kita tidak perlu membuang waktu seperti ini."
Elma menoleh perlahan. "Maaf? Kamu bilang apa tadi?"
"Kalau kau memberiku kartu kredit seperti yang kuminta sebelumnya, kejadian ini tidak akan terjadi."
Elma menahan napas, berusaha menjaga kesabarannya. "Evelyn, kartu kredit itu bukan sesuatu yang bisa kau gunakan sesukamu. Aku sudah membantumu membayar belanjaan ini. Setidaknya, hargai itu."
Evelyn menyilangkan tangan. "Aku tidak meminta sesuatu yang berlebihan. Kau tahu aku sedang membangun karier. Aku membutuhkan dukungan."
"Dukungan bukan berarti memberimu kebebasan menggunakan uangku."
Perdebatan mereka berlangsung cukup lama. Evelyn terus mengulang alasan yang sama, sementara Elma berusaha menjelaskan batasan yang seharusnya tidak perlu diperdebatkan. Namun, Evelyn tidak juga menyerah.
"Jadi, kau tetap tidak mau memberikannya?"
Elma menatap perempuan itu lekat-lekat. Ia tahu perdebatan ini tidak akan selesai jika Evelyn terus memaksakan kehendaknya.
"Aku datang ke sini dan rela meninggalkan pekerjaanku. Aku membayar belanjaanmu yang jumlahnya bahkan tidak masuk akal. Namun, satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah menyalahkanku karena aku tidak memberikan kartuku padamu".
"Kalau sejak awal kamy memberikan kartu kreditmu, semua ini tidak akan terjadi."
Elma menatapnya tajam. "Berhenti mengatakan itu. Aku tidak berkewajiban memberikan kartu kreditku kepadamu."
"Tapi kau mampu!"
"Memiliki uang bukan berarti aku harus membiarkan orang lain menggunakannya sesuka hati."
"Aku bukan orang asing, Elma."
"Justru karena kamu bukan orang asing, seharusnya kamu tahu batasan."
Evelyn mengembuskan napas kasar.
"Kau selalu seperti ini. Semuanya harus diperhitungkan, semuanya harus dibicarakan. Apa kau tidak pernah berpikir bahwa terkadang orang membutuhkan bantuan tanpa harus merasa sedang berutang budi?"
Elma tertawa pendek, tanpa sedikit pun rasa geli.
"Kau ingin bantuan tanpa batas, tanpa pertanyaan, dan tanpa tanggung jawab. Itu bukan bantuan, Evelyn. Itu namanya memanfaatkan orang lain."
Wajah Evelyn berubah. "Jadi, sekarang kau menganggapku memanfaatkanmu?"
"Kenyataannya memang begitu."
"Baiklah, anggaplah itu benar. Kalau begitu, berikan saja kartu kreditmu. Aku tidak ingin terus-menerus berdebat setiap kali harus membeli sesuatu."
Elma menggeleng. "Tidak."
Jawaban itu membuat Evelyn terdiam. Evelyn mengalihkan pandangan, kemudian kembali menatap Elma dengan ekspresi kecewa yang dibuat-buat.
"Aku tidak menyangka kau akan memperlakukanku seperti ini. Setelah semua yang terjadi, kupikir kau setidaknya bisa mempercayaiku."
Elma memejamkan mata sejenak. Ia sudah terlalu lelah menghadapi perdebatan yang terus berputar di tempat. "Evelyn, kepercayaan tidak dibangun dengan memaksa seseorang."
"Aku tidak memaksamu."
"Kamu dengan masalah kartu kredit lalu membuatku membayar belanjaanmu, kemudian menyalahkanku karena tidak memberikan kartu pribadi. Kalau itu bukan memaksa, lalu apa namanya?"
Evelyn tidak menjawab.
Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya Elma menyerah, ia tidak akan pernah menang berdebat dengan Evelyn. Akhirnya, dengan ekspresi kesal, Elma membuka tasnya dan mengeluarkan sebuah kartu kredit miliknya kepada Evelyn.
"Ini kartu yang bisa kamu gunakan. Tetapi dengarkan aku baik-baik."
Evelyn segera mengambilnya tanpa rasa ragu.
"Jangan menggunakannya untuk transaksi di luar kesepakatan. Setiap pengeluaran harus jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Aku juga akan memeriksa seluruh transaksinya."
Evelyn memasukkan kartu itu ke dalam dompetnya. "Kau tidak perlu mengawasiku seperti anak kecil."
"Kalau kamu tidak ingin diawasi, jangan memberiku alasan untuk melakukannya."
"Egois sekali."
Elma menatapnya dingin. "Dan kamu terlalu terbiasa mendapatkan apa yang kamu inginkan sampai lupa bahwa orang lain juga punya batas kesabaran."
Tanpa menunggu jawaban, Elma mengambil tasnya dan meninggalkan Evelyn. Sementara itu, Evelyn hanya memandang kepergian adiknya tanpa kata. Ia lalu memandangi kartu kredit di tangannya dengan senyum puas. Baginya, pertikaian panjang tadi bukanlah masalah besar. Yang terpenting, ia akhirnya mendapatkan apa yang diinginkannya. Kekesalan masih terlihat jelas di wajahnya, tetapi jemarinya justru sibuk memeriksa kartu kredit yang baru saja berhasil ia dapatkan.
Sementara itu, Elma kembali ke kantor dengan perasaan campur aduk seolah ada sesuatu yang masih menganjal dihatinya. Elma tahu ia baru saja mengalah untuk kesekian kalinya demi Evelyn. Dan Elma juga sadar jika ia baru saja menyerahkan sesuatu yang sejak awal tidak ingin ia berikan. Entah mengapa, ia memiliki firasat bahwa urusan dengan Evelyn belum akan berakhir sampai di sana.
☆
"
"
"