“Dia menikahiku untuk menyelamatkan kerajaannya. Aku menikahinya untuk menyelamatkan keluargaku. Namun, tak satu pun dari kami menyadari bahwa cinta akan menjadi pengkhianatan paling berbahaya.”
• Dante Alessandro Vieri (32 tahun): Bos mafia Italia yang tampan, gagah, bermata biru safir, dingin, penuh perhitungan, dan tidak pernah memaafkan pengkhianatan. Di balik kekuasaannya, ia menyimpan luka lama yang membuatnya tidak percaya pada cinta.
• Bianca Elena Laurent (24 tahun): Gadis cantik keturunan Spanyol dan Timur Tengah, bermata cokelat keemasan, berambut hitam panjang, cerdas, berani, serta memiliki harga diri yang tidak mudah dihancurkan. Ia tidak pernah membayangkan akan menjadi istri rahasia seorang mafia.
• Luciano Vieri: Adik tiri Dante yang menginginkan takhta keluarga.
• Isabella Moretti: Perempuan dari masa lalu Dante yang menyimpan rahasia tentang kematian ibunya.
• Adrian Laurent: Kakak Bianca yang menghilang setelah membawa sebuah dokumen berbahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jefika Isabell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 — Pria yang Seharusnya Sudah Mati
Suara tangisan Bianca memenuhi rumah tua di tepi Danau Como.
Rafael terbaring tak bergerak di lantai. Darah mengalir dari dadanya, sementara Sofia berlutut di samping tubuh pria itu dengan wajah pucat.
“Apa yang sudah mereka lakukan?” isaknya.
Bianca menggenggam tangan Rafael.
“Ayah... bangunlah. Kumohon, jangan tinggalkan aku.”
Untuk pertama kalinya, ia benar-benar memanggil Rafael dengan sebutan ayah tanpa keraguan.
Namun pria itu tidak lagi menjawab.
Dante berdiri beberapa langkah dari mereka. Pistol masih berada di tangannya. Matanya mengawasi pintu masuk, memastikan tidak ada penyerang lain yang bersembunyi.
“Marco!”
Marco segera menghampiri.
“Ya, Don!”
“Amankan rumah ini. Bawa dokter sekarang. Aku ingin seluruh penyerang ditemukan, hidup ataupun mati.”
Marco mengangguk dan segera memberikan perintah kepada anak buahnya.
Dante kemudian berlutut di samping Bianca.
“Sayang, kita harus pergi dari sini.”
Bianca menggeleng sambil menangis.
“Aku tidak bisa meninggalkannya.”
Dante mengusap rambutnya.
“Aku tahu. Tetapi tempat ini sudah tidak aman.”
Sofia memandang putrinya.
“Pergilah, Bianca. Ibu akan mengurus Rafael.”
Bianca memeluk Sofia sebentar, lalu membiarkan Dante membantunya berdiri.
Sebelum meninggalkan ruangan, Bianca kembali menoleh kepada Rafael.
“Aku belum sempat mengatakan bahwa aku memaafkanmu.”
Air matanya jatuh lagi.
### 1. Musuh yang Bersembunyi
Di dalam mobil, Dante duduk di samping Bianca.
Perempuan itu masih terlihat terguncang. Sesekali ia mengusap air matanya, tetapi bayangan Rafael yang terbaring bersimbah darah terus menghantuinya.
Dante menggenggam tangannya.
“Kita akan mencari tahu siapa yang melakukan ini.”
Bianca menoleh.
“Kau percaya ucapan Rafael?”
“Bahwa ayahku masih hidup?”
Bianca mengangguk.
Dante menatap jalanan di depannya.
“Aku tidak tahu harus percaya apa lagi. Tetapi ada sesuatu yang memang tidak pernah masuk akal tentang kematian Alessandro dan Vittorio.”
“Apa maksudmu?”
Dante terdiam sejenak.
“Lima tahun lalu, sebuah mobil ditemukan terbakar di jalan pegunungan. Keluarga kami diberi tahu bahwa Vittorio meninggal dalam kecelakaan itu. Namun tidak pernah ada pemeriksaan jenazah secara langsung.”
Bianca membelalakkan mata.
“Jadi selama ini kau tidak pernah melihat jasad ayahmu?”
“Tidak. Aku sedang berada di luar negeri saat pemakaman berlangsung.”
“Lalu siapa yang mengambil alih keluarga Vieri?”
Dante menatap Bianca.
“Luciano.”
Bianca terdiam.
“Luciano adalah orang yang selama ini mengendalikan semuanya?”
Dante mengangguk.
“Dia mengatakan bahwa dirinya hanya menjalankan amanat keluarga. Tetapi jika Rafael benar, berarti Luciano telah membantu seseorang yang seharusnya sudah mati.”
### 2. Rekaman dari Masa Lalu
Sesampainya di Villa Vieri, Dante langsung menuju ruang kerja.
Marco telah menyiapkan beberapa dokumen lama dan rekaman kamera keamanan dari rumah Sofia.
“Don, kami menemukan sesuatu.”
Marco memutar sebuah rekaman.
Gambar memperlihatkan salah satu penyerang sedang berbicara melalui telepon sebelum memasuki rumah.
Suaranya terdengar jelas.
“Target sudah ditemukan. Tuan Vittorio memerintahkan agar perempuan itu dibawa hidup-hidup.”
Dante mengepalkan tangan.
“Perbesar wajahnya.”
Marco memperbesar gambar.
Bianca yang berdiri di belakang Dante tiba-tiba menutup mulutnya.
“Aku mengenalnya.”
Dante menoleh.
“Siapa?”
“Dia salah satu pengawal yang pernah bekerja di rumah Alessandro. Aku pernah melihatnya dalam foto lama.”
Marco segera mencatat nama pria itu.
“Namanya Stefano Moretti, Don. Dia pernah menjadi orang kepercayaan Luciano.”
Dante menatap layar.
“Cari keberadaannya. Aku ingin dia ditemukan malam ini.”
“Baik.”
Namun Bianca masih memperhatikan rekaman tersebut.
Ada sesuatu yang membuatnya gelisah.
“Dante, putar bagian terakhir.”
Marco mengulang rekaman.
Kali ini terdengar suara lain dari sambungan telepon.
Suara seorang pria tua.
“Jangan sampai Bianca terluka. Dia harus tetap hidup sampai dokumen itu ditemukan.”
Bianca merinding.
Ia mengenali suara tersebut.
Suara itu pernah menyapanya setiap pagi ketika ia masih kecil.
Suara yang dahulu memanggilnya dengan sebutan cucu kesayangan.
“Vittorio...” bisiknya.
Dante memandangnya.
“Kau mengenali suaranya?”
Bianca mengangguk dengan mata berkaca-kaca.
“Itu suara kakekku.”
### 3. Rahasia Sofia
Sementara itu, Sofia duduk sendirian di rumah sakit setelah Rafael dibawa ke ruang operasi.
Tangannya masih berlumuran darah.
Seorang dokter keluar dari ruangan.
“Kondisinya kritis. Kami sedang berusaha menyelamatkan nyawanya.”
Sofia mengangguk lemah.
Ketika dokter pergi, ponselnya berdering.
Nomor tak dikenal.
Ia mengangkatnya dengan ragu.
“Siapa?”
Sebuah suara pria terdengar dari seberang.
“Sudah lama sekali, Sofia.”
Sofia langsung berdiri.
“Vittorio?”
Pria itu tertawa kecil.
“Kau masih mengingat suaraku.”
“Apa yang kau inginkan?”
“Aku ingin cucuku pulang.”
“Bianca bukan milikmu!”
“Dia darah dagingku. Kau tidak memiliki hak untuk menjauhkannya dariku.”
Sofia menggenggam ponsel erat.
“Kau sudah menghancurkan hidup Alessandro. Kau juga mengambil Elena dariku. Apa belum cukup?”
Hening sesaat.
Kemudian Vittorio menjawab dingin.
“Elena mati karena dia mengkhianati keluarga. Dan Rafael mendapatkan apa yang pantas diterimanya.”
Sofia menahan tangis.
“Kalau kau berani menyentuh Bianca, aku akan membuka seluruh rahasiamu.”
“Silakan. Tetapi ingat satu hal, Sofia. Ada rahasia yang bahkan putrimu sendiri tidak akan sanggup menerimanya.”
Sambungan terputus.
Sofia menatap layar ponsel.
Ia tahu waktunya semakin sempit.
### 4. Istri yang Menjadi Target
Di Villa Vieri, Bianca sedang berada di kamar ketika Dante masuk.
Pria itu membawa secangkir teh hangat.
“Minumlah sedikit.”
Bianca menerima cangkir tersebut.
“Terima kasih.”
Dante duduk di sampingnya.
“Kau harus beristirahat.”
“Aku tidak bisa tidur.”
Dante menggenggam tangannya.
“Aku akan menjaga pintu kamar ini sepanjang malam jika perlu.”
Bianca tersenyum tipis.
“Aku tidak ingin kau terus mengorbankan dirimu untukku.”
Dante mengangkat dagunya perlahan.
“Kau bukan pengorbanan bagiku. Kau adalah alasan mengapa aku masih ingin pulang setiap malam.”
Bianca menatapnya.
Untuk beberapa saat, ia melupakan semua masalah yang sedang mereka hadapi.
Namun kemudian ia teringat sesuatu.
“Dante, ada satu hal yang belum kutanyakan.”
“Apa?”
“Jika benar Vittorio adalah kakekku, mengapa dia ingin menculikku?”
Dante terdiam.
“Marco sedang menyelidikinya.”
“Menurutmu apa yang dia inginkan?”
Dante mengusap punggung tangannya.
“Mungkin dokumen warisan keluarga Laurent.”
Bianca menggeleng.
“Tidak. Aku merasa ada sesuatu yang lebih besar.”
Tiba-tiba terdengar ketukan keras di pintu.
“Don!”
Dante segera berdiri.
“Ada apa?”
Marco masuk dengan wajah tegang.
“Kami menemukan keberadaan Luciano.”
“Di mana?”
“Di sebuah vila pribadi di Milan. Tetapi ada satu masalah.”
Dante mengerutkan kening.
“Apa?”
“Dia tidak sendirian. Vittorio berada di sana.”
Dante langsung mengambil pistolnya.
Bianca ikut berdiri.
“Aku ikut.”
“Tidak, Bianca.”
“Aku ingin melihat pria yang menghancurkan keluarga kita.”
“Ini terlalu berbahaya.”
Bianca menatapnya tegas.
“Aku tidak akan terus bersembunyi sementara orang lain menentukan nasibku.”
Dante akhirnya mengangguk.
“Baik. Tetapi kau harus selalu berada di dekatku.”
### 5. Pertemuan dengan Orang Mati
Vila di Milan itu dijaga ketat.
Dante dan anak buahnya memasuki bangunan melalui pintu belakang. Bianca berada di dalam mobil pengamanan bersama dua pengawal.
Namun saat mereka tiba di ruang utama, Luciano sudah menunggu.
“Selamat datang, sepupuku.”
Dante mengangkat pistol.
“Di mana Vittorio?”
Luciano tersenyum.
“Kau selalu terburu-buru.”
Dari balik pintu, seorang pria tua berjalan keluar menggunakan tongkat.
Rambutnya memutih. Wajahnya dipenuhi kerutan.
Namun mata itu tidak mungkin salah dikenali.
Dante membeku.
“Ayah?”
Vittorio tersenyum tipis.
“Akhirnya kita bertemu lagi, Dante.”
Dante mengarahkan pistol tepat ke dadanya.
“Kau membiarkan kami percaya bahwa kau sudah mati.”
“Itu satu-satunya cara untuk mengendalikan keluarga tanpa gangguan.”
“Kau membunuh Alessandro?”
Senyum Vittorio menghilang.
“Alessandro terlalu lemah. Dia ingin meninggalkan dunia yang telah dibangun keluarga kami.”
Dante mengepalkan rahang.
“Dan Elena?”
“Perempuan itu terlalu banyak mengetahui rahasia.”
Dante hampir menarik pelatuk.
Namun sebuah suara perempuan terdengar dari belakang.
“Jangan tembak dia!”
Bianca berdiri di ambang pintu.
Dante langsung menoleh.
“Bianca! Kenapa kau keluar dari mobil?”
Bianca tidak menjawab. Tatapannya tertuju kepada Vittorio.
Pria tua itu tersenyum ketika melihatnya.
“Cucu kesayanganku.”
Bianca menggeleng.
“Jangan panggil aku seperti itu.”
Vittorio tertawa.
“Kau tidak tahu betapa berharganya dirimu.”
“Aku tidak membutuhkan apa pun darimu!”
Vittorio melangkah mendekat.
“Kau membutuhkan kebenaran.”
Bianca terdiam.
Vittorio kemudian mengeluarkan sebuah foto dari sakunya.
Foto seorang bayi perempuan yang sedang digendong oleh seorang pria.
Pria itu bukan Rafael.
Bukan Alessandro.
Melainkan Dante.
Bianca menatap foto itu dengan kebingungan.
“Apa maksudnya?”
Vittorio tersenyum penuh kemenangan.
“Dante mengenalmu jauh sebelum kalian menikah. Dia pernah membawamu pergi ketika kau masih bayi.”
Dante menggeleng.
“Jangan dengarkan dia, Bianca.”
Namun Vittorio melanjutkan.
“Dan ada satu hal lagi yang harus kau ketahui. Pernikahan kalian bukan sekadar kesepakatan keluarga.”
Ia menatap Dante.
“Ceritakan kepada istrimu siapa yang sebenarnya membunuh Elena.”
Dante terdiam.
Bianca perlahan menoleh kepada suaminya.
“Dante?”
Sebelum Dante sempat menjawab, suara tembakan mengguncang ruangan.
Semua orang berlindung.
Ketika Dante kembali berdiri, Vittorio sudah menghilang.
Di lantai hanya tertinggal foto lama dan sebuah amplop.
Bianca mengambil amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat surat dengan tulisan tangan Elena.
Ia membukanya dengan tangan gemetar.
Kalimat pertama membuat seluruh tubuhnya membeku.
Bianca, jika suatu hari kau membaca surat ini, berarti Dante sudah mengetahui rahasia yang selama ini kusimpan. Anak yang kau cintai adalah alasan mengapa aku harus mengorbankan hidupku.
Bianca menatap Dante dengan air mata mengalir.
“Apa yang sebenarnya kau sembunyikan dariku?”
Dante tidak mampu menjawab.
Dan untuk pertama kalinya, Bianca merasa bahwa pria yang selama ini menjadi tempatnya berlindung mungkin menyimpan dosa yang jauh lebih besar daripada semua musuh mereka.
jangan lupa mampirr🤭