"Maaf nyonya, tapi bayi anda tidak bisa diselamatkan." Kata-kata itu seperti pisau yang menancap tepat di jantung nya membuat dia mati rasa.
Namun, tampaknya kematian memang mengikuti nya. "Mommy, pergilah bersama dengan bayimu. kau tidak pantas jadi mommy ku." Kata-kata itu dari bibir kecil dengan wajah yang polos namun senyuman licik terbit seiring dengan mobil yang meledak.
"Jika aku hidup kembali, aku tidak akan melakukan kesalahan yang sama."
Mata itu terbuka dengan napas yang memburu. Dia melihat keseluruh tubuhnya dan sepasang tangannya yang terbuka.
"Baguslah kau sudah bangun. bersiaplah! Pernikahan mu menghitung jam!"
"Aku? hidup kembali?"
Bagaimana kelanjutannya? Apakah akhirnya akan tetap sama atau berubah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Nilam Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kacau
Entah mengapa, langit yang tadinya begitu cerah nan biru berubah menjadi abu-abu gelap. Angin yang tadinya sepoi-sepoi berubah menjadi kencang dan menerbangkan apapun yang dilewatinya. Sapu tangan Aurora langsung terbang terbawa angin.
"Peluk Daddy Rora!" Ujar Logan pada putrinya, Aurora menurut, dia mencengkram erat leher Daddy nya. Logan berserta pengunjung lainnya langsung berlindung mencari tempat aman.
"Astaga, sepertinya badai dan hujan deras." Salah satu pengunjung angkat suara melihat situasi yang terjadi.
"Daddy...." Panggil Rora dengan wajah takut.
"Tidak apa, Daddy disini." Ujar Logan menenangkan.
"Tapi, mommy Athena...." Rora sengaja memancing, karena inilah waktu yang paling tepat. Wajah Logan yang tadinya sedikit rileks langsung menjadi tegang, dia berjalan mendekati pintu keluar restoran yang dimasuki nya, matanya melirik jalanan yang gelap, bahkan cahaya dari setiap bangunan tidak mampu menembus nya.
"Athena!" Panggil Logan, tapi tentu saja itu tidak ada jawaban. Sosok yang dipanggil tidak ada, hanya suara angin dan dedaunan serta beberapa benda yang terbang melintasi nya.
"Maaf tuan, tolong menyingkir dari pintu. Anginnya bisa masuk." Salah satu karyawan restoran mendekati Logan dan bergegas menutup pintu. Kepala Logan menoleh dengan pandangan turun pada putrinya. Dia merasakan jari mungil Aurora mengenggam erat kemejanya.
"Daddy...."
"Tidak apa, Daddy akan hubungi mommy mu." Ya, Logan langsung mencari ponselnya, tapi tangannya tidak menemukan apapun.
"Dimana ponsel ku? Rora, Rora lihat ponsel Daddy?"
"Tidak Daddy. Terakhir kan di mobil." Jawab putrinya. Logan m3ndesah kecil, menutupi wajahnya. Bagaimana bisa dia teledor begini, entah bagaimana Athena diluar sana. Apakah dia peduli? Entahlah, yang jelas dia tidak ingin disalahkan atas sesuatu yang terjadi pada wanita itu. Hanya itu, ya.... Hanya itu....
"Mommy pasti juga berlindung. Kita akan menemukan nya."
"Ya, kita akan menemukan nya. Rora benar, mommy Athena pasti berlindung menunggu badai berakhir."
Dilaporkan badai tiba-tiba datang dan melestarikan salah satu jalan di bagian barat Albania. Jalanan yang tadinya ramai dengan pengunjung langsung berubah seketika. Berdasarkan dari keterangan kepolisian disana, pengunjung langsung berlindung di dalam restoran maupun hotel dan bangunan yang ada di sana. Untuk saat ini belum ada korban jiwa, tapi sepertinya badai ini akan berlangsung cukup lama. Diharapkan, untuk tidak mendekati area dan tidak keluar untuk sementara hingga badai pergi.
"Astaga, itu kan tempat Logan jalan-jalan dengan Aurora dan Athena. Semoga mereka baik-baik saja." Jelas Miranda menutup mulutnya tak percaya.
"Tante..... Jangan khawatir."
"Leo, hubungi Logan! Tanyakan keadaan nya! Cepat!" Ujar Jennifer tak karuan.
"Tenang Jennifer, kau sudah dengarkan tadi. Tidak ada korban jiwa, badai akan segera berakhir."
"Cucuku! Aurora, dia pasti ketakutan!"
"Ada Logan disana dan Athena."
"Athena? Wanita itu mungkin juga berteriak ketakutan mengalahkan Aurora dan membuat Logan kesulitan. Kita tau bagaimana dia!"
"Kenapa bicara seperti itu Jennifer? Kau langsung saja menjudge menantu mu. Dengan pikiran yang tidak-tidak."
"Aku bicara fakta Daddy. Athena gadis manja."
"Manja, manja bukan berarti tidak bisa berpikir jernih. Lebih baik kau berdoa hal yang baik." Jennifer terpaksa menutup mulutnya.
"Benar Tante, kita harus berdoa. Mereka akan kembali." Sambung Miranda mencoba menenangkan dan menunjukkan kebaikan hatinya.
************
"Daddy! Tunggu!" Aurora berlari mengejar langkah besar Daddy nya. Setelah menunggu dua jam, Logan langsung menuju pos kepolisian terdekat.
"Saya ingin melapor!" Ujar Logan.
"Mengenai apa Tuan?"
"Istriku hilang, dia tidak kembali setelah badai."
"Maksudnya? Kalian terpisah?"
"Ya, kami terpisah saat dia membeli minuman dan aku menunggu di kedai es krim bersama putriku."
"Sudah menghubungi?"
"Ponselku ketinggalan di mobil, sepertinya...."
'Kenapa Daddy langsung lapor, kan belum waktunya! Ishh!"
"Daddy, lebih baik kita lihat di kedai yang mommy datangi dulu."
"Begini tuan, kami akan meminta salah satu rekan kami ke kedai yang dimaksud. Dan mungkin sebaiknya Tuan menghubungi nya lebih dulu. Supaya jelas, kami akan menemani dan membantu."
"Terimakasih! Mobil ku diparkiran!" Logan mengajak polisi dan menuliskan nama tempat yang didatangi oleh istrinya. Aurora yang tidak didengarkan menahan kesal dan mengikuti langkah sang Daddy.
"Ini mobil ku, aku akan......"
"Logan?"
"Athena!" Logan berlari kecil menghampiri Athena di dekat mobil.
"Istri nya?"
"Iya, ini istriku. Athena, aku mencari mu. Aku pikir kau...."
"Tuan, anda tampak khawatir. Tenangkan diri anda, karena sudah selesai. Saya permisi, tidak ingin memeluk mommy mu princess kecil?" Aurora tersenyum dan tak lama berlari memeluk tubuh Athena. "Mommy!"
"Maaf sudah merepotkan."
"Tidak nyonya. Itu tugas kami. Permisi."
"Kau pasti menghubungi ku, ponselku ketinggalan dan..... Kau....." Logan terpaku melihat ponselnya yang tidak dihubungi satu panggilan pun oleh Athena. "Kau, tidak menghubungi ku?" Tanya Logan.
"Tidak." Jawab Athena.
"Kenapa?"
"Kenapa? Aku mencari mu dan berpikir kau entah bagaimana di tengah badai!"
"Ya mommy. Aku dan Daddy mencari mommy."
"Ok, dan aku sudah disini. Lagipula, aku tau dimana mobil mu. Jadi, tidak perlu aku hubungi."
"Kenapa mommy tidak hubungi Daddy?" Athena menoleh pada Aurora, anak itu menatap dirinya.
"Karena, ponsel Daddy mu ketinggalan. Jadi, untuk apa dihubungi? Tidak membantu, hmmm." Athena melihat perubahan pupil mata Aurora.
"Kenapa kau tidak menunggu di supermarket?"
"Karena, aku tau kau dan Aurora tidak akan kesana terlebih dahulu. Lagipula, sepertinya kau dan Aurora pergi ke tempat lain dan baru sadar aku tidak ada."
"Athena, aku tidak berpikir untuk melupakan mu. Aku mengajak Aurora untuk menikmati makanan yang diinginkannya."
"Iya, tidak masalah. Sudahlah, sekarang bagaimana?"
"Kau sudah makan?"
"Sudah, aku menunggu badai di salah satu restoran mie yang hangat."
"Mommy makan sendiri?"
"Tidak, ada pengunjung lainnya. Lagipula, mommy tidak bisa berjalan kalau lapar kan? Nanti kita tidak bertemu." Athena mengusap pelan rambut Aurora seraya menikmati ekspresinya.
"Tapi Aurora mau kita makan bersama."
"Tidak masalah! Ayo! Lagipula perut mommy lapar lagi setelah menunggu badai. Putriku ini benar-benar pengertian. Ayo sayang, kita mau makan dimana?"
'Kenapa jadi begini?' Rora mematung melihat semuanya jadi kacau.
"Rora lapar, ayo kita makan."
"Iya Daddy, ayo!"
"Putriku yang manis...." Athena mengecup kening Aurora dengan senyuman lebar.
"Tetaplah jadi putri yang manis. Hmmm, karena mommy tidak suka dengan putri yang nakal." Entah mengapa kata-kata itu membuat Aurora resah dan langsung berpindah ke Daddy nya.
"Aurora tidak nakal."
"Aku tau, dia manis..... Sangat manis....."
"Kalau begitu, ayo kita pergi." Ajak Logan.
Logan kembali melajukan mobil dan meninggalkan tempat itu. Aurora duduk dibelakang menatap ibu tirinya dengan perasaan dongkol. "Daddy, boleh Aurora pinjam ponsel? Pasti Nenek, kakek dan semuanya khawatir melihat berita."
"Daddy sudah kirim pesan sayang. Dan mengabari semuanya."
"Kalau begitu Aurora pinjam ponsel untuk main game." Anak itu terus menagih, Athena tau maksudnya.
"Jangan sayang, nanti Aurora pusing. Sebentar lagi kita sampai."
"Bagaimana kalau di ponsel mommy saja? Memang Aurora ingin main game apa?"
"Tidak jadi, Rora lihat jalan saja. Nanti pusing, benar kata Daddy."
"Baiklah." Athena kembali menyimpan ponselnya. "Aurora kita memang anak yang patuh."
"Aku mengajari nya untuk tidak bermain game di mobil."
"Aku hanya mengetes nya." balas Athena sembari melirik Aurora di belakang.
'Ingin menghubungi aunty mu itu? Coba saja!'
Bersambung.....
Jangan lupa like komen dan favorit serta hadiahnya ya terimakasih banyak 🥰 🙏 🙏