NovelToon NovelToon
Melarikan Diri dari Sang Mafia

Melarikan Diri dari Sang Mafia

Status: tamat
Genre:Mafia / Hamil di luar nikah / Tamat
Popularitas:2
Nilai: 5
Nama Author: Meche

Di siang hari, Arkana Baswara adalah pengusaha paling terhormat di kota, sosok tampan berkuasa yang diperebutkan setiap wanita. Namun ketika malam turun, ia berubah menjadi Sang Iblis: penguasa dunia hitam yang paling ditakuti, seorang pria yang tak pernah mengizinkan siapa pun menyentuh hatinya.

Salsabila hanyalah gadis penjual bunga miskin dengan satu mimpi sederhana: menjadi dokter dan mengangkat keluarganya dari kesulitan. Sampai satu malam kelam mengubah seluruh hidupnya, dan meninggalkan sebuah rahasia yang harus ia jaga dengan nyawanya.

Bertahun-tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali. Kini sang mafia menemukan apa yang selama ini disembunyikan darinya, dan ia tak akan melepaskannya begitu saja. "Kau dan dia adalah milikku," katanya. Tapi Salsabila punya satu tekad: melarikan diri, sejauh apa pun, berapa kali pun.

Namun bagaimana caranya kabur dari seorang pria yang menguasai seluruh kota? Bagaimana caranya membenci pria yang perlahan meruntuhkan setiap tembok di hatinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Meche, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4 — Amukan Sang Iblis

Arkana Baswara pulang ke apartemennya dengan kepala berdenyut hebat. Ia bangun di kamar hotel dalam keadaan linglung, tapi ada satu hal yang diingatnya dengan jelas: wanita-wanita itu telah membiusnya.

Sebelum keluar dari kamar hotel mewah itu, ia sempat melihat tubuh mungil sang wanita yang penuh lebam. Rambutnya menutupi wajah, jadi Arkana tak sempat melihatnya. Ia pergi dengan ingatan yang samar-samar.

Hari itu ia beristirahat, sebab efek obat telah menguras tubuhnya. Namun satu hal ia yakini: urusan ini tidak akan berhenti begitu saja.

Menjelang malam, Galih tiba di apartemen bosnya membawa semua informasi dari jalanan.

"Tuan, kami sudah menangkap beberapa mata-mata. Apa yang harus kami lakukan pada mereka?" tanya Galih.

"Kubur hidup-hidup semua pengadu itu," jawab Arkana.

"Malam ini ada pertemuan di klub."

"Baik. Aku ingin kau bersiap dengan pasukan. Kita tidak tahu apa yang bisa terjadi."

"Siap, Tuan. Ada lagi?"

"Di mana Rendra?"

"Pak Rendra masih bersama Nona Nadine. Anda tahu sendiri, ia selalu menghilang setiap wanita itu ada di kota."

"Siapa wanita semalam?" tanya Arkana.

"Maaf, Tuan, kalau ia bukan yang tepat. Dia cuma wanita pertama yang saya temukan."

"Yang kedua. Kenapa kau justru membawa ke ranjangku wanita yang telah membiusku itu."

Galih menelan ludah. Bosnya mengingat betul apa yang terjadi.

"Tuan, saya minta maaf."

"Selidiki dari mana asal wanita itu. Aku tak suka meninggalkan urusan setengah jadi."

"Baik, Tuan. Saya meninggalkan sebuah cek untuk wanita itu sebagai ganti rugi."

"Kau murah hati?" tanya Arkana.

"Saya pikirkan masak-masak, lalu saya putuskan memberinya cek kosong."

"Kurasa itu pantas. Bersiaplah, kita ke klub."

Mereka pergi ke klub malam, tempat Arkana biasa menghabiskan malam sembari menguasai seluruh kota dan menyelundupkan barang-barangnya.

Para wanita berkeliaran telanjang sambil melayani segala jenis tamu. Ada pertunjukan pribadi sampai tarian tiang di atas meja. Uang berhamburan di segala penjuru, alkohol jadi tokoh utamanya. Tempat itu punya area judi, dan siapa pun yang curang langsung menerima maut di tempat.

Arkana mengenakan topeng untuk menyembunyikan wajahnya dari dunia luar.

Hanya sedikit wanita di tempat itu yang masih berani menghambur ke pelukannya. Sisanya puas hanya memandang dari kejauhan, sebab mereka tahu apa hukuman bagi yang berani lancang padanya.

Tapi ada satu wanita yang istimewa, kepala dari semua gadis di sana, yang mengurus bisnis melayani para pria. Ia menyebut dirinya Laras. Hanya dia yang punya kehormatan memuaskan Arkana; wanita yang mengenal semua seleranya dan tahu cara menyenangkannya.

"Tuan mau langsung ke ruang penyiksaan atau menemui Laras dulu?" tanya Galih.

"Ruang penyiksaan."

Mereka masuk dengan pengawalan ketat pria-pria bertubuh besar berjas hitam. Tak ada yang berani mengganggu Sang Iblis tanpa membayar dan menerima ganjarannya.

Jeritan terdengar di mana-mana, tapi semua orang tak peduli pada apa yang terjadi. Gadis itu menangis dan meronta.

"Tolong saya, siapa pun, panggil polisi. Saya punya banyak uang, saya bisa bayar berapa pun," jerit model itu.

"Berapa yang akan kaubayar supaya kulepaskan?" tanya Arkana.

Ia masih memakai topeng, dan wanita itu hanya bisa memohon ampun.

"Berapa pun yang Anda minta, tapi tolong saya."

"Aku tak butuh uang. Kau punya sesuatu yang lain untuk ditawarkan?"

"Minta apa saja yang Anda mau, tapi tolong saya."

"Kau lebih pilih memberiku apa? Satu jarimu atau kubuat tanda di wajahmu?"

Wanita itu memucat mendengar kata-katanya.

"Jangan, tolong jangan. Saya bukan orang jahat, saya tak pernah berbuat buruk pada siapa pun."

"Bukan begitu kata klienku. Kuberi kau satu nasihat: jangan bertindak tanpa berpikir. Sebab hari ini kau akan membayar mahal karena berani menghina seorang pria. Kau yang memilih, atau aku yang menentukan?"

"Jangan, tolong jangan."

Wanita itu terikat ke dinding, kaki dan tangannya, berjuang sekuat tenaga untuk lepas dari sana. Arkana geram dan terhina karena telah dibius. Ingatan terakhirnya saat keluar dari kamar itu adalah tubuh sang wanita yang tertelungkup, penuh lebam oleh tangannya sendiri yang mencengkeramnya dan oleh mulutnya yang menciumnya. Amarah kembali membara dalam dirinya, dan ia ingin si pelaku membayar.

Arkana meraih sebilah pisau lipat dan mendekat perlahan ke korbannya, membuat wanita itu tercekam ngeri.

"Mari kulihat di mana tempat terbaiknya. Bagian mana yang paling cocok? Di wajah? Bisa kaututup dengan riasan atau bedah plastik. Ah, lebih baik kubiarkan tubuh indahmu tetap utuh untuk terus menghasilkan, jadi kuambil satu jarimu saja."

Sembari melakukan pekerjaan terbaiknya dan melampiaskan amarah, Sang Iblis memuaskan seluruh dirinya.

Begitu model itu merasakan dinginnya besi tajam, darahnya seolah membeku, dan sebelum ia sempat bereaksi, satu jarinya sudah lenyap dan tubuhnya pingsan.

"Tuan, saya harus apakan wanita ini?" tanya Galih.

"Suruh dokter menjahit lukanya lalu bawa ke sebuah kamar. Dia mau malam yang menyenangkan denganku, sekarang ia akan mendapatkannya bersama para klienku sampai mereka bosan."

"Mengerti, Tuan."

"Suruh bereskan kekotoran ini, dan aku tak mau diganggu."

Di atas sofa besar, Arkana bersandar sembari menikmati wiski dua sloki. Ingatannya melayang ke malam itu. Aroma wanita itu masih membekas dalam kenangannya, aroma mawar dan kemurnian. Ia tahu telah merenggut hal paling berharga yang dimiliki wanita itu, tapi meski ia sadar bahwa wanita itu masih perawan, hasratnya justru bertambah mengetahui bahwa dirinyalah pria pertama gadis itu, dan wanita secantik itu telah memikatnya.

Laras masuk ke ruangan dengan gaun terbaiknya yang serba terbuka, tak menyisakan apa pun untuk dibayangkan.

"Halo, tampan. Kulihat kau begitu kesal hari ini sampai membiarkan wanita itu seperti tadi. Aku tak tahu apa yang membuatmu segeram ini, tapi satu hal yang kuyakin, kau akan melampiaskan semua itu padaku di ranjang. Dan tak ada di dunia ini yang lebih membangkitkan gairahku selain melihatmu ganas," ujar Laras.

Laras berdiri di belakang sofa besar itu sembari memijat bahu Arkana lembut. Ia lalu berputar dan mulai melepas pakaian pria tampan itu.

Satu per satu, kain-kain itu berjatuhan, hingga tersisa seorang pria telanjang yang megah dan sempurna.

Melihat tubuh Arkana, Laras begitu murka hingga tak ragu menyemburkan protesnya.

"Kau tidur dengan jalang mana? Lihat, apa yang dilakukannya padamu, penuh cakaran dan gigitan. Padahal aku saja tak pernah kaubiarkan menyentuh bibirmu atau meremas tubuhmu."

Amarah Laras memuncak, sampai-sampai ia mencoba menampar Arkana. Tangannya menggantung di udara, tertahan oleh seorang pengawal.

"Lepaskan, bajingan," bentak Laras.

"Bawa wanita ini keluar dari sini. Kalau ia menolak, buang dia ke jalan," ucap Arkana.

Laras tercengang oleh perlakuan itu. Arkana tak pernah menolaknya. Itu berarti wanita lain tadi penting baginya.

Arkana telah mengancam membuangnya ke jalanan. Klub ini satu-satunya rumah Laras, dan ia tak akan membiarkan siapa pun merampasnya, apalagi oleh seorang pendatang baru.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!