Ceisya hacker jenius dan ahli bela diri mati konyol gara-gara emosi membaca novel dark romance The Alpha’s Obsession. Takdir gila melempar jiwanya bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran cupu bernasib paling sial mati menjadi tumbal sahabatnya sendiri, Belva.
Namun, Ceisya yang sekarang menolak mati! Dengan otak cerdas dan kemampuan, Ceisya membalikkan keadaan. Ia melumpuhkan para pembunuh bayaran di tengah hutan salju, dan mulai membalas permainan licik Belva serta ancaman Bianca satu per satu.
Tetapi, Aksi Cesiya di atas salju memicu insting predator sang Alpha. Fenrir Volkov—Raja Serigala paling kejam, dingin, dan ditakuti di seluruh Kerajaan Valesia mendadak mengklaim Ceisya sebagai tawanan pribadinya, menyeretnya ke dalam kamar sang Raja, dan menguncinya dalam lingkar obsesi yang teramat posesif.
Di tengah intrik berdarah istana dan jeratan sang Raja Serigala, bisakah Ceisya merebut kebebasannya atau ia justru akan menyerahkan dirinya utuh menjadi milik Sang Alpha sepenuhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perayaan Sang Raja dan Bayangan Penculik
Aroma parfum cendana bercampur uap hangat mawar salju merebak di seluruh sudut suite utama Kastil Valesia. Cahaya remang-remang dari puluhan lilin kristal melayang di udara, membiaskan pendar keemasan yang eksotis di atas permadani tebal dan ranjang king-size bertiang empat.
Di atas sofa empuk berlapis kulit, Ceisya terbaring telentang dengan gaun merah darahnya yang sudah setengah terbuka di bagian bahu. Napasnya terengah-engah lembut saat bibir hangat Fenrir Volkov tak henti-hentinya mendaratkan ciuman-ciuman panas di sepanjang garis rahang, leher, hingga tulang selangkanya.
"Fenrir... ngh... pelan-pelan," bisik Ceisya dengan jemari lentiknya yang meremas bahu kokoh Sang Alpha King. "Katanya mau merayakan kemenangan... tapi kok gayanya kayak mau melahapku hidup-hidup sih?"
Fenrir menghentikan pagutannya sejenak. Pria itu mengangkat wajahnya, menatap lekat-lekat ke dalam iris cokelat Ceisya yang basah oleh pendaran gairah. Iris merah menyala milik Sang Raja berkilat oleh kecanduan, rasa kagum, dan keposesifan gila yang sudah tak tertampung lagi di dalam dadanya.
"Kau melumpuhkan Bianca dan membungkam seluruh Dewan Tetua tanpa menumpahkan darahmu sendiri, manis," bisik Fenrir rendah. Suara baritonnya yang serak mengirimkan getaran intim yang membuat sekujur tubuh Ceisya merinding hebat. "Bagaimana bisa aku tidak gila padamu, Ceisya? Kau adalah Ratu paling sempurna yang pernah ada di dunia ini."
Ceisya menyunggingkan senyuman miringnya yang khas. "Iya dong! Ceisya gitu loh... Lagian siapa suruh Nona Sok Anggun itu main-main pakai racun murah? Sekali pukul balik, langsung rata kan klannya?"
Fenrir terkekeh rendah—sebuah tawa tampan dan hangat yang teramat jarang didengar oleh orang lain selain Ceisya. Dengan gerakan cepat nan dominan, Fenrir menyusupkan tangannya di bawah lipatan tubuh Ceisya, mengangkat gadis itu dalam gendongannya lalu membawanya menuju tempat tidur utama.
"Malam ini tidak ada gangguan politik, tidak ada Dewan Tetua, dan tidak ada pria mana pun yang berani menyebut namamu..." bisik Fenrir saat membaringkan Ceisya di atas Kasur berbulu angsa. "Malam ini hanya ada kau dan aku, sayang."
Fenrir melepaskan jubah hitamnya, memamerkan dada bidang berotot sempurna yang terpapar cahaya lilin. Tanpa memberi jeda sedikit pun bagi Ceisya untuk menawar, Sang Alpha King merangkak naik dan melumat bibir gadis itu secara brutal. Ciuman perayaan itu terasa begitu manis, panas, dan dipenuhi klaim mutlak.
Jemari kasar Fenrir menyusuri setiap lekuk tubuh Ceisya, menyingkap gaun merah darah itu sepenuhnya hingga tubuh polos Ceisya terekspos sempurna di bawah kungkungannya. Hukuman manis dan perayaan malam itu pecah menjadi maraton keintiman yang teramat membara. Fenrir melumat, menyesap, dan mendaratkan tanda-tanda kemerahan baru di seluruh permukaan kulit mulus Ceisya—memastikan setiap jengkal tubuh gadis itu terisi penuh oleh aroma dan keberadaannya.
"Ngh... Fenrir... Ah!" desah Ceisya pasrah, tenggelam total dalam gelombang gairah memabukkan dari Sang Alpha yang seolah tidak pernah kehabisan stamina.
Dua ronde keintiman yang panas terjadi di atas kasur berbulu angsa, dilanjutkan satu ronde yang membara di atas karpet tebal depan perapian, di mana Fenrir menuntut kepatuhan mutlak dari wanita pilihannya. Ceisya yang lemas terengah-engah hanya bisa menyandarkan kepalanya di dada bidang Fenrir, merasakan detak jantung Sang Raja yang bergemuruh kencang seirama dengan detak jantungnya sendiri.
Tepat pukul tiga dini hari, keheningan melingkupi suite utama Kastil Valesia.
Ceisya tertidur lelap di dalam lingkar dekapan kekar Fenrir. Wajah cantiknya tampak begitu damai, dengan selimut sutra tebal yang melapisi tubuh mulusnya hingga sebatas dada. Fenrir masih memeluk pinggang ramping Ceisya dari belakang, napas teraturnya mengembus hangat di tengkuk leher sang gadis.
Namun, di luar dinding batu Kastil Valesia... badai es hitam mendadak merebak tanpa suara.
Sebuah kabut sihir pekat berwarna ungu kehitaman merayap perlahan dari arah benteng luar, menyusup melewati jalur ventilasi perapian dan celah-celah pilar batu. Sihir ini adalah Somnus Nocturna—sihir tidur terlarang kelas tinggi yang dipancarkan menggunakan kekuatan Artefak Bulan Merah milik Belva Vespera.
Kabut beracun itu menetralisir sihir pengunci ruangan secara perlahan tanpa memicu alarm pertahanan utama kastil.
Di dalam kamar, Fenrir yang memiliki kepekaan insting Alpha tingkat puncak mendadak mengerutkan alisnya dalam tidur. Kelopak matanya bergerak-gerak, berusaha keras membendung pengaruh sihir tidur terlarang yang membius aliran darahnya secara mendadak. Namun, karena staminanya yang baru saja tercurah penuh dalam keintiman sepanjang malam bersama Ceisya, kesadaran Sang Raja tertahan dalam kelumpuhan sihir sementara.
Srek...
Di balik kegelapan bayangan jendela balkon, sebuah sosok tinggi melangkah masuk tanpa menimbulkan suara sedikit pun.
Jubah bulu serigala hitamnya berkibar pelan ditiup angin malam. Iris mata berwarna kelabu keemasan milik sosok itu menyala terang di dalam remang-remang kamar—memancarkan rasa penasaran, gairah gelap, dan obsesi yang sudah mencapai titik didih.
Kaelen Blackwood.
Di belakang Kaelen, Belva Vespera berdiri dengan tongkat sihir hitam yang memancarkan pendaran merah redup, menahan agar pertahanan sihir Fenrir tidak terbangun sepenuhnya.
"Cepat, Kaelen!" bisik Belva dengan suara parau beracun. "Sihir Artefak Bulan Merah ini hanya bisa menahan kesadaran Fenrir selama tiga menit! Jika dia terbangun, kita berdua akan dicincang di tempat!"
Kaelen tidak mendengarkan omelan Belva. Sepasang matanya yang tajam terkunci rapat pada Ceisya yang terbaring lempai di dalam dekapan Fenrir. Melihat jejak-jejak kemerahan di leher dan bahu Ceisya akibat klaim Fenrir, rahang Kaelen mengeras ketat oleh rasa cemburu dan iri yang membakar jiwanya.
"Kau benar-benar menandainya secara brutal, Fenrir..." bisik Kaelen rendah, menyunggingkan senyuman liar yang penuh kemenangan. "Tapi malam ini... perhiasan terindahmu ini resmi menjadi milikku."
Kaelen melangkah mendekati tepi ranjang. Dengan gerakan halus namun teramat cepat, Kaelen menyusupkan tangannya ke bawah selimut, mengangkat tubuh lemas Ceisya yang masih terlelap dalam pengaruh sihir tidur. Kaelen menyelimuti tubuh polos Ceisya menggunakan jubah bulu serigala hitamnya sendiri yang hangat dan tebal.
Saat tubuh Ceisya berada di dalam pelukannya, aroma manis tubuh sang gadis merangsang indera penciuman Kaelen, membuat senyuman gila Sang Pemimpin Klan Blackwood kian terkembang.
"Mmm..." Ceisya bergumam pelan dalam tidurnya, ketenangannya terganggu oleh aroma kayu cemara liar milik Kaelen yang sangat berbeda dari aroma cendana milik Fenrir. Namun sihir tidur membuat kelopak matanya terlalu berat untuk terbuka.
GRRRRRR!
Mendadak, geraman purba yang teramat mengerikan bergema dari atas ranjang!
Meskipun tubuhnya terlumpuhkan oleh sihir Somnus Nocturna, naluri kepemilikan mutlak di dalam jiwa Fenrir meledak hebat saat merasakan tubuh wanitanya diangkat oleh pria lain! Iris mata merah Fenrir menyala terang bagaikan kawah lahar yang hendak meletus!
Tangan besar Fenrir melesat dalam kelumpuhannya, mencengkeram ujung jubah Kaelen dengan cakar serigala yang memanjang!
"K-Kaelen..." suara bariton Fenrir bergetar parau dari tenggorokannya, memancarkan aura membunuh yang sanggup meremukkan jiwa. "K-Kau... tidak akan pernah... membawa wanitaku..."
"Fenrir terbangun! Cepat lari!" jerit Belva panik, menghentakkan tongkat sihirnya ke lantai hingga ledakan asap sihir hitam merebak memenuhi seluruh kamar!
BOOOM!
Kaelen mendecak sengit, menggunakan pedangnya untuk memotong ujung jubah yang dicengkeram Fenrir, lalu melompat mundur menembus jendela balkon bersama Ceisya di dalam dekapannya!
"Sampai jumpa di Benteng Blackwood, Fenrir!" gelak Kaelen tertawa liar di tengah badai salju malam, melesat pergi bersama pasukan bayangannya menembus kegelapan malam Valesia.
CRACK! BANTING!
Sihir tidur terlarang itu akhirnya hancur total oleh ledakan aura murka dari dalam tubuh Fenrir!
Fenrir Volkov melompat bangun dari ranjangnya. Iris mata merahnya menyala liar penuh kegilaan murni saat melihat tempat tidur di sisinya telah kosong. Jubah bulu serigala milik Kaelen yang terpotong masih tergenggam erat di tangannya.
"CEISYAAA!"
Aum kekecewaan, murka, dan amarah luar biasa dari Sang Alpha King mengangkasa, menggetarkan seluruh Kastil Valesia dan meruntuhkan batu-batu pualam di sepanjang koridor!
Di tengah badai salju abadi yang menerjang Pegunungan Valesia...
Kaelen Blackwood melesat menunggangi serigala raksasa melintasi lautan salju, memeluk erat tubuh Ceisya yang terbungkus jubah tebal di dalam dekapannya.
Saat angin dingin menyapu wajahnya, sihir tidur pada tubuh Ceisya perlahan-lahan memudar. Iris cokelat Ceisya terbuka sedikit, menyesuaikan pandangannya dengan kegelapan malam yang bergerak cepat di sekelilingnya.
Ceisya mengerjap pelan, merasakan dada bidang asing yang mendekapnya dan aroma kayu cemara liar yang bukan milik Fenrir.
"Sudah bangun, iblis cantik?" suara bariton Kaelen terdengar menembus deru angin, senyuman liar terkembang di bibirnya saat menatap Ceisya yang berada di pangkuannya. "Selamat datang di perjalanan menuju istanaku... Tempat di mana kau akan terbebas dari Fenrir dan menjadi milikku sepenuhnya."
Ceisya terbelalak lebar saat menyadari situasi gila ini, batinnya seketika menjerit histeris dengan celetukan savage-nya.
Buset dah! Baru aja selesai marathon ronde sama serigala posesif... ini kenapa sekarang aku malah diculik sama serigala gila dari klan musuh?! Mana tubuhku masih lemas banget lagi! Sialan kamu Kaelen, minta dipatahin lehernya ya?!
saran sedikit Bisa gak kalo gaya Bahasanya Ceisya dirubah lebih Elegan tnpa bawa' istilah kehidupan yg lalu, lebih swag lebih tajem, lebih pintar dn berani ngelawan terutama kalo sama Fenrir jgn terlalu nurutlahh biar fenrir yang ngejar tapi Ceisya kyak gak peduli gitu ada hargadirinya
dan tokohnya tangguh gak menye menye
Seru banget apalagi nnti kalo sudah masuk konflik ditunggu kakak kelanjutanya rajin update yaa
Alurnya Tipe aku bangett
Jangan buat mudah untuk fenrir mendapatkan Ceisya yaa kak buat fenrir gedebak gedebuk dulu sampek kecintaan sama Ceisya 😄😄
aku suka Alurnya🥰🥰🥰
karya baru sepertinya Seru
lanjut thor😊