NovelToon NovelToon
Lily

Lily

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:597
Nilai: 5
Nama Author: Lili Pinarsih

Tuan!, kau masih saja ya setampan dulu, suara itu menyapa dengan senyum lembut .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Pinarsih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Satoshi Katagiri berdiri di balik jendela lantai dua ketika melihat Lily meninggalkan kediaman mereka.

Perempuan itu mengenakan gaun panjang berwarna ungu, membawa tas hitam di bahunya, dan berjalan tanpa menoleh ke belakang. Tidak ada keraguan dalam langkahnya. Bahkan setelah melewati gerbang, Lily sama sekali tidak menunjukkan keinginan untuk kembali.

Satoshi tidak memanggilnya.

Bukan karena ia tidak peduli, melainkan karena sejak awal ia telah memutuskan untuk membiarkan Lily pergi sementara waktu.

Ia ingin mengetahui ke mana perempuan itu akan melangkah setelah mendatangi pengadilan. Dalam pikirannya, hanya ada satu kemungkinan yang terus mengganggunya: Tyson.

Sejak melihat Lily berbicara dengan pria itu, Satoshi merasa ada sesuatu yang tidak dapat dikendalikannya. Ia terbiasa mendapatkan apa pun yang diinginkan, termasuk perhatian orang lain. Namun, kali ini, perempuan yang selama tiga tahun berada di bawah satu atap dengannya justru berusaha menjauh.

Dan pria yang menjadi tujuan Lily mungkin saja seorang pekerja konstruksi biasa.

Pikiran itu membuat rahangnya mengeras.

Satoshi mengambil kunci mobil dari atas meja, lalu meninggalkan kamar. Ia tidak meminta sopir untuk mengantarnya. Ia ingin mengikuti Lily tanpa menarik perhatian siapa pun.

Beberapa saat kemudian, mobil hitam miliknya melaju meninggalkan kediaman Katagiri.

---

Di pengadilan, Satoshi tiba ketika Lily baru saja menyelesaikan pengurusan dokumennya.

Ia memarkir mobil di seberang jalan, lalu memperhatikan perempuan itu dari balik kaca. Lily keluar dari gedung sambil memeriksa telepon genggamnya. Setelah membaca sesuatu di layar, ia mengetik pesan singkat sebelum memasukkan kembali teleponnya ke dalam tas.

Satoshi menyipitkan mata.

Lily tidak menuju tempat parkir yang mengarah ke kawasan tempat Tyson bekerja. Ia justru menghentikan sebuah taksi dan menyebutkan tujuan kepada pengemudinya.

Satoshi segera mengikuti dari kejauhan.

Perjalanan mereka berakhir di bandara.

Untuk beberapa saat, Satoshi hanya duduk diam di balik kemudi. Ia menatap Lily yang turun dari taksi, membayar ongkos, lalu berjalan memasuki gedung keberangkatan.

Perempuan itu tidak membawa koper.

Hanya sebuah tas hitam yang tampak cukup ringan untuk dibawa ke mana-mana.

Satoshi mengerutkan kening. Ia mengira Lily akan pergi menemui Tyson setelah pengajuan perceraian, mungkin untuk meminta perlindungan atau sekadar berpamitan. Namun, perempuan itu bahkan tidak mencoba menghubungi pria tersebut secara langsung.

Ia benar-benar memilih pergi.

Satoshi turun dari mobil dan berdiri di dekat pintu masuk, menjaga jarak agar Lily tidak melihatnya. Ketika perempuan itu berhenti di depan papan informasi penerbangan, ia melihat layar telepon genggamnya kembali menyala.

Lily sedang mengirim pesan kepada seseorang.

Satoshi tidak dapat membaca isinya dari tempatnya berdiri. Namun, ia memperhatikan perubahan kecil pada wajah Lily setelah pesan itu terkirim. Perempuan itu menarik napas, mematikan layar, kemudian berjalan menuju bagian pemeriksaan keberangkatan.

Ia tidak menoleh ke belakang.

Satoshi meremas kunci mobil di tangannya.

“Jadi, kau benar-benar akan pergi sejauh ini?” gumamnya.

Ia ingin mendekat, mengambil telepon Lily, lalu menuntut penjelasan. Namun, langkahnya terhenti ketika mengingat kejadian di rumah beberapa waktu sebelumnya. Lily telah memintanya agar tidak menyentuhnya. Ketakutan yang terlihat di mata perempuan itu ketika ia merobek gaunnya masih membekas dalam ingatannya.

Satoshi menelan ludah.

Untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa mengejar Lily tidak berarti ia berhak menghentikan setiap langkahnya.

Ia hanya berdiri di sana, menyaksikan perempuan itu menghilang di balik pintu pemeriksaan.

Setelah beberapa saat, Satoshi mengeluarkan telepon genggam dan menghubungi salah satu stafnya.

“Cari tahu penerbangan yang dinaiki Lily Valley,” perintahnya singkat. “Aku ingin mengetahui negara tujuannya.”

Ia memutuskan sambungan sebelum staf tersebut sempat bertanya lebih jauh.

Satoshi belum sanggup menerima kenyataan bahwa Lily mungkin tidak akan kembali. Namun, ia juga tidak mengetahui cara membuat perempuan itu bersedia tinggal.

Selama tiga tahun, ia menggunakan kekuasaan untuk memastikan Lily tidak memiliki pilihan selain menuruti keinginannya. Sekarang, ketika Lily akhirnya menemukan jalan keluar, Satoshi baru menyadari bahwa kepatuhan bukanlah hal yang sama dengan kesetiaan.

---

Di tempat lain, Tyson berdiri di samping meja kecil di ruang istirahat para pekerja konstruksi. Jam makan siang telah berlalu beberapa menit, tetapi ia masih memeriksa telepon genggamnya.

Sebuah pesan dari Lily baru saja masuk.

Tyson membukanya dengan cepat.

Tyson, aku ingin memberitahumu bahwa aku sudah mengajukan perceraian hari ini. Setelah ini, aku akan pergi ke Jepang untuk memulai kehidupan baru. Maaf karena tidak sempat berpamitan secara langsung. Terima kasih karena selama ini sudah bersikap baik kepadaku. Aku berharap kau selalu sehat dan bahagia.

Tyson membaca pesan itu sekali.

Kemudian sekali lagi.

Ia menunggu beberapa saat, berharap Lily akan mengirimkan pesan tambahan yang menjelaskan kapan mereka dapat bertemu kembali. Namun, layar teleponnya tetap diam.

“Jepang?” bisiknya.

Tyson menurunkan tangannya perlahan.

Ia sudah mengetahui bahwa Lily ingin meninggalkan kehidupan lamanya. Akan tetapi, ia tidak menyangka perempuan itu akan benar-benar pergi sejauh itu tanpa memberinya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal secara langsung.

Ia teringat senyum Lily ketika datang membawakan makanan. Perempuan itu tidak pernah memperlakukannya seperti seseorang yang lebih rendah hanya karena pekerjaannya. Ia mendengarkan cerita-ceritanya, menanggapi lelucon sederhana, dan mengucapkan terima kasih atas hal-hal kecil yang sering diabaikan orang lain.

Bagi Tyson, pertemuan mereka mungkin singkat, tetapi cukup untuk membuatnya berharap.

Ia ingin mengenal Lily lebih jauh.

Ia ingin menjadi seseorang yang dapat diandalkan perempuan itu ketika menghadapi kesulitan.

Namun, kini Lily telah memilih jalan yang tidak dapat ditempuhnya dengan mudah.

Tyson mengetik balasan.

Apakah kau sudah sampai di bandara?

Pesan itu terkirim, tetapi tidak segera mendapat jawaban.

Ia mencoba menelepon Lily. Panggilan tersebut tidak tersambung, kemungkinan karena perempuan itu sedang menjalani pemeriksaan sebelum keberangkatan.

Tyson menatap layar beberapa saat sebelum akhirnya menyimpan teleponnya.

Seorang rekan kerja yang baru masuk ke ruang istirahat menepuk bahunya.

“Kau kenapa? Sejak tadi wajahmu seperti orang kehilangan sesuatu.”

Tyson menggeleng.

“Tidak apa-apa.”

“Kalau tidak apa-apa, mengapa kau terus melihat telepon?”

Tyson tidak menjawab. Ia hanya mengembuskan napas, lalu berjalan keluar menuju area konstruksi.

Di hadapannya, bangunan yang sedang mereka kerjakan menjulang dengan rangka baja dan dinding yang belum selesai. Debu beterbangan ketika para pekerja kembali mengangkat peralatan. Suara mesin memenuhi udara, tetapi pikiran Tyson masih tertuju pada pesan Lily.

Ia tidak memiliki kekayaan, nama keluarga terkenal, atau kedudukan yang dapat membuat seseorang tunduk kepadanya. Penghasilannya cukup untuk menjalani kehidupan sederhana, sementara masa depannya masih harus diperjuangkan sedikit demi sedikit.

Selama ini, ia menganggap hal tersebut bukan masalah.

Namun, setelah mengenal Lily, ia mulai memahami betapa terbatasnya pilihan seseorang ketika berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan jauh lebih besar.

Tyson mengepalkan tangannya.

“Aku tidak bisa meminta Lily menungguku,” katanya pelan. “Aku bahkan belum menjadi seseorang yang mampu memberikan kehidupan yang pantas untuknya.”

Ia mengangkat wajah, memandang bangunan tinggi di kejauhan.

Ada kekecewaan yang tidak dapat disembunyikannya. Ia ingin mengantar Lily, ingin memastikan perempuan itu tiba dengan selamat, dan ingin mengatakan secara langsung bahwa kehadirannya telah berarti bagi dirinya.

Tetapi ia tidak akan menjadikan perasaan itu sebagai alasan untuk menghalangi keputusan Lily.

Jika Lily memilih pergi, ia akan menghormatinya.

Meski demikian, Tyson tidak ingin menjadi pria yang hanya mampu menyaksikan dari kejauhan ketika seseorang yang disayanginya menghadapi dunia sendirian.

Ia akan mengubah hidupnya.

Bukan dengan mengandalkan keberuntungan, melainkan dengan bekerja lebih keras, mempelajari hal-hal baru, dan membangun sesuatu yang benar-benar menjadi miliknya. Ia akan menerima pekerjaan yang lebih menantang, menabung, serta berusaha mendapatkan kesempatan untuk memimpin proyek-proyek besar suatu hari nanti.

Perjalanan itu mungkin panjang. Ia bahkan belum mengetahui seberapa jauh dirinya dapat melangkah.

Namun, ia tidak ingin terus berada di tempat yang sama.

“Suatu hari nanti,” ucap Tyson, suaranya terdengar tegas di tengah kebisingan lokasi konstruksi, “aku akan mencapai puncak dunia dengan usahaku sendiri.”

Ia berhenti sejenak, kemudian menatap telepon genggam yang kembali dimasukkannya ke saku.

“Bukan supaya Lily berutang apa pun kepadaku. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang pantas berdiri di hadapannya tanpa merasa kecil.”

Tyson kembali bekerja.

Hari itu, ia tidak mendapatkan perpisahan yang diharapkannya. Ia juga tidak memperoleh janji bahwa mereka akan bertemu lagi. Yang tersisa hanyalah pesan singkat dan nama seorang perempuan yang telah membuka pandangannya terhadap kehidupan.

Namun, dari kekecewaan itu, sebuah tekad mulai tumbuh.

Jika suatu hari Lily kembali menoleh ke arahnya, Tyson ingin perempuan itu melihat seseorang yang telah membangun kehidupannya sendiri—bukan pria yang terus menunggu di tempat yang sama.

---

Sementara itu, di dalam pesawat yang bersiap meninggalkan landasan, Lily duduk di dekat jendela dengan tas hitam berada di pangkuannya.

Ia telah mengirim pesan kepada Tyson. Setelah itu, ia mematikan telepon genggam sesuai instruksi awak kabin dan menyandarkan punggungnya pada kursi.

Di luar jendela, kendaraan bandara bergerak menjauh dari pesawat.

Lily belum mengetahui apa yang akan menunggunya di Jepang. Ia harus menyesuaikan diri dengan lingkungan baru, mengurus kebutuhan sehari-hari, dan menghadapi proses perceraian yang masih panjang.

Namun, ia telah membuat persiapan untuk menghadapi semua itu.

Pesawat mulai bergerak.

Lily memandang landasan yang perlahan bergeser dari pandangannya. Ia tidak tahu bahwa Satoshi sempat mengikutinya hingga bandara. Ia juga tidak mengetahui bahwa seorang pria bernama Tyson baru saja berjanji kepada dirinya sendiri untuk mengubah masa depan.

Dua pria itu kini memiliki alasan masing-masing untuk memandang ke arah yang sama.

Satoshi ingin mengetahui apakah Lily masih dapat kembali kepadanya.

Tyson ingin menjadi seseorang yang kelak dapat berdiri sejajar dengannya.

Namun, Lily tidak sedang menunggu salah satu dari mereka.

Ia sedang menuju kehidupan yang ingin dibangunnya sendiri.

1
⌓̈⃝𓆩ImAntifragile𓆪દᵕ̈૩
aku mampir, semangat upnya. tulisannya seruuu😍
mampir juga yuk kak ke new sc akuu😁
Lili Pinarsih: mkasih ya 🥰 aku jugaa udah mampir kok dicerita kamu😊
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!