Andrew Quintana menguasai dunia hitam tanpa belas kasihan. Bos kartel yang dijuluki "si iblis" ini punya segalanya—kekuasaan, kekayaan, dan sumpah untuk tidak pernah jatuh cinta pada siapa pun. Sampai suatu malam, di tengah baku tembak berdarah, seorang gadis berambut merah terjatuh dari mobil musuhnya.
Alondra hanyalah gadis desa yang menjual hasil kebun di pasar—sampai ia diculik, dijual, dan nyaris kehilangan nyawa. Kini ia terbangun di sebuah mansion mewah milik pria paling berbahaya yang pernah ia temui, sebagai sandera. Tapi Alondra bukan perempuan yang mudah ditundukkan. Ia melawan, membalas hinaan, dan sama sekali tak gentar pada sang bos mafia—sesuatu yang belum pernah dialami Andrew seumur hidupnya.
Dari pertengkaran sengit menjadi kesepakatan berbahaya, dari kebencian menjadi gairah yang tak bisa mereka bendung. Namun mencintai seorang mafioso berarti masuk ke dunia penuh peluru, pengkhianatan, dan musuh yang mengintai di setiap sudut. Ketika kecemburuan, kebohongan, dan rahasia mengancam menghancurkan segalanya, seberapa jauh keduanya rela bertaruh demi cinta yang tak seharusnya ada?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yingiola Macosay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20. Di Rumah
Aku kehilangan kata-kata saat tahu si bodoh Andrew telah membawa Alondra ke desanya. "Apa maksudnya dia membawanya ke desanya?"
"Iya, Tuan Muda Luis. Tadi pagi begitu beliau pulang, beliau bilang akan mengantarnya ke desa. Nona tidak membawa apa-apa, semuanya masih ada di kamarnya."
"Boleh aku naik?"
"Boleh, Tuan Muda."
Aku langsung naik ke kamar Alondra. Benar saja, semua barangnya masih ada di sana, bahkan buku-bukunya masih tergeletak di atas ranjang bersama laptopnya. Ah, Andrew Quintana, kau akan menyesal telah membawanya, dasar bebal.
Ketika kami tiba di desaku, semuanya tampak sama seperti kalau setahun ini tidak terjadi apa-apa. Aku menunjukkan pada sopir jalan mana yang harus diambil, lalu kupandangi Andrew, tanpa berkata apa-apa, hanya kuberi dia setengah senyuman.
Begitu kami sampai di pintu masuk desa, kubilang pada sopir untuk berhenti, aku akan lanjut jalan kaki.
Aku turun dari mobil. Tak lama Andrew ikut turun. "Kau yakin ingin tinggal di sini?"
"Iya, sudah tidak jauh lagi." Dia bersandar ke mobil dengan kedua tangan di saku. Aku berdiri di hadapannya. "Terima kasih, Tuan Andrew, sudah mengantarku."
"Aku sudah berjanji padamu."
"Terima kasih sudah menyelamatkanku dari orang-orang itu, terima kasih sudah menolongku saat aku sakit dan tidak membiarkanku mati."
Aku tak bisa menahan diri untuk tidak menangis di hadapannya. Saat aku sadar, dia sudah memelukku. "Tenanglah, si Merah, kau tidak perlu berterima kasih padaku. Aku sendiri tidak terlalu baik padamu."
"Itu benar."
Dia mengeluarkan sebuah gelang dari salah satu sakunya. "Aku ingin kau memakai ini, dan jangan pernah kau lepas."
"Untuk apa gelang ini?"
"Anggap saja hadiah."
"Baiklah, aku berjanji tidak akan melepasnya. Kurasa sudah waktunya aku pergi. Selamat tinggal, Tuan Andrew, sampaikan salamku pada Luis." Saat aku hendak berbalik, dia menarik tanganku. "Alondra, katakan satu hal. Apa kau jatuh cinta pada Luis?"
Pertanyaan itu mengejutkanku. "Apaaa?"
"Iya, apa kau mencintai Luis?"
"Kau ini benar-benar gila. Tapi baiklah, aku akan menjawab pertanyaanmu. Tidak, aku tidak jatuh cinta pada Luis. Dia hanya temanku. Selama ini dia sudah seperti saudara bagiku."
Aku ternganga mendengar dia tidak jatuh cinta pada Luis. Itu membuat hatiku sangat lega. "Jadi kau tidak menyukainya?"
"Tentu saja tidak, Tuan Andrew."
Aku mendekat sambil berkata, "Aku harus pergi." Dia menggenggam tanganku, menjalin jemarinya dengan jemariku. "Kurasa sudah agak terlambat untuk mengatakannya. Aku menyukaimu, Alondra."
Aku menatap lekat matanya. Aku tidak percaya apa yang baru saja kudengar itu benar.
"Jangan menatapku seperti itu, Alondra. Ini sungguhan. Aku menyukaimu dan menyayangimu."
Kini giliran aku yang kehilangan kata-kata. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Si pemurung gila milikku mengatakan bahwa dia menyayangiku, tapi kenapa dia membawaku pulang kalau dia menyayangiku. "Kau waras atau ada beberapa sekrupmu yang lepas?"
"Aku waras, Alondra. Ini sungguhan, aku menyayangimu."
Kupegang pinggangnya, kudekatkan dia padaku. "Selama ini kukira kau menyukai Luis, karena itu aku tidak berkata apa-apa."
"Iya, tapi kau bersama perempuan itu."
"Dia cuma mau uang, dan sudah kuberikan."
Dia begitu dekat denganku sampai aku bisa merasakan napasnya yang liar dan tersengal. Dan jangan tanya soal diriku, jantungku serasa mau melompat keluar dari dada. "Kurasa lebih baik aku pergi."
Aku tak bisa membiarkannya pergi tanpa lebih dulu menciumnya. Saat aku sadar, aku sudah menciumnya, tapi kali ini dia membalasnya dengan cara yang sama.
Kami begitu mendambakannya sampai baru berpisah ketika merasa tak ada lagi udara tersisa.
Aku merasa agak canggung, karena saat itu aku sadar para pengawal sedang memperhatikan kami.
"Ada apa, putriku?"
"Tidak apa-apa, cuma mereka melihat kita."
Setelah ciuman itu, jelas sudah bagiku bahwa dia menyimpan perasaan padaku. "Sekarang kita bagaimana, sayang?"
"Kau pergi ke Las Vegas, dan aku tinggal di sini. Kalau kau sudah membereskan pikiran dan perasaanmu, dan sudah tahu apa yang sebenarnya kau mau, kau bisa datang menjemputku. Aku akan menunggumu."
"Aku tidak perlu memikirkan apa-apa lagi. Aku yakin dengan perasaanku padamu. Aku berjanji, begitu aku menyelesaikan beberapa urusan, aku akan kembali menjemputmu."
"Baiklah, Tuan Andrew, aku akan menunggumu."
Aku menciumnya lagi, tapi kali ini jauh lebih penuh gairah, lalu dia melepaskan diri dariku.
"Selamat tinggal, Andrew."
Kupandangi dia menjauh sampai lenyap dari pandangan. Setelah itu aku naik ke mobilku. Aku lebih tenang, aku tahu dia menyukaiku.
Selama ini aku tak lebih dari lelaki tolol yang, gara-gara ketololanku sendiri, hampir kehilangan perempuan yang sungguh-sungguh kucintai.
Aku mulai berjalan tanpa menoleh ke belakang. Di satu sisi aku ingin cepat sampai di rumah, berkumpul dengan orang-orangku, tapi di sisi lain aku ingin berlari kembali menyusul Andrew ke Las Vegas.
Tapi dia berjanji akan kembali menjemputku. Aku tahu dia akan menepatinya. Aku cuma perlu menunggu sebentar. Setelah berjalan beberapa menit, akhirnya aku sampai di rumah. Yang pertama menyadari kedatanganku adalah adikku, Itzel, yang berlari keluar sambil berteriak-teriak menyambutku.
"Kak, Kak, syukurlah kau baik-baik saja, kau sudah kembali!"
"Iya, adikku." Kebahagiaan yang kurasakan saat itu karena bisa berada di rumah tak ada bandingannya.
Teriakan adikku membuat kedua orang tuaku keluar. Mama langsung memelukku dengan air mata berlinang. "Nak, kami kira kami takkan pernah melihatmu lagi."
Ketika kami masuk ke rumah, pertanyaan-pertanyaan mulai mengalir. "Ke mana saja kau selama ini? Kami mencarimu ke mana-mana."
"Waktu aku diculik, aku dijual dan dibawa ke Kolombia."
"Apa maksudnya kau di Kolombia?!"
"Iya, Papa. Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai ke sana, tapi aku diperlakukan dengan sangat buruk. Katanya aku hampir mati."
"Ya Tuhan, Nak."
"Bagaimana kau bisa lolos dari sana?"
"Lebih tepatnya, bagaimana aku bisa keluar dari sana."