Valentina Sierra punya segalanya: keluarga terpandang, kekasih idaman, dan kursi di Harvard yang menanti. Sampai satu malam mengubah segalanya. Ia terbangun di ranjang asing, pakaian robek, seprai bernoda darah—dan di sisinya berbaring Dorian Cervantes, pria paling ditakuti sekaligus paling dibencinya. Duda dingin berdarah dingin, seorang pengusaha yang menyimpan rahasia jauh lebih gelap dari yang bisa dibayangkan siapa pun.
Dijual oleh keluarganya sendiri atas nama "kehormatan", Valentina dipaksa menikahi sang iblis. Yang tak ia sadari: malam itu bukan kebetulan. Itu sebuah jebakan—dan ia hanyalah satu bidak dalam permainan yang jauh lebih besar, permainan yang berakar pada rahasia kelam tentang jati dirinya yang sebenarnya.
Terperangkap di dunia penuh topeng, senjata, dan pengkhianatan, Valentina harus belajar bertahan. Belajar menembak. Belajar membalas. Dan yang paling berbahaya dari semuanya—belajar bahwa benci dan cinta hanya dipisahkan satu garis tipis.
Dari kebencian menjadi hasrat, dari korban menjadi pemburu. Ketika seluruh kebenaran akhirnya terkuak, siapa yang akan berlutut, dan siapa yang akan menarik pelatuknya lebih dulu?
Sebuah kisah romansa gelap tentang pernikahan paksa, dendam yang membara, dan cinta yang tumbuh di tempat paling mustahil. Untuk pembaca dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SilvinaTracy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: MENOLONG
DORIAN CERVANTES
Para saksi perkelahian kedua wanita itu menceritakan detailnya padaku, dan aku menyesal tak tiba tepat waktu. Adakah yang lebih menarik daripada menyaksikan dua wanita berkelahi? Menurutku tidak ada. Tapi setelah melihat keadaan "mantan"-ku saat pergi, aku paham bahwa itu jauh lebih seru daripada yang bisa mereka ceritakan padaku.
Aku menuju kamar yang kami tempati bersama dan melihatnya bersantai di ranjang seolah tak ada apa-apa, mendengarkan musik dengan tenang sambil menyeruput minuman panas dan memakan cokelat. Cara yang bagus untuk berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Sebelum sempat bicara, aku menerima telepon dan harus mengangkatnya secara pribadi karena menyangkut kiriman barang baru, sesuatu yang terlalu rahasia dan tak boleh diketahui Valentina.
Ketika kembali ke kamar, dingin yang kurasakan membuat gigiku bergemeletuk. Hari memang sudah dingin, dan pendingin ruangan disetel pada suhu yang bisa membuat siapa saja jatuh sakit. Tapi Valentina tampak sama sekali tidak kedinginan, malah sebaliknya.
"Kamu sudah gila atau memang berniat sakit?" Kurebut remot alat itu dan langsung kumatikan, lalu kubuka pintu agar udara hangat masuk ke kamar.
"Aku kepanasan, Dorian." Aku menatapnya. Wajahnya merah, selimutnya tersingkap, dan tubuhnya berkeringat.
"Di dalam sini dinginnya membeku." Aku menatapnya dengan serius.
📨 AKU BUTUH KAMU DATANG SEGERA, KURASA VALENTINA DIBERI OBAT BIUS, CEPATLAH — kutulis pesan itu untuk Orlando agar dia memeriksanya.
Kulihat pupil matanya membesar dan napasnya makin memburu tiap menit, sementara dengan kedua tangannya dia mengipasi diri, berusaha mendinginkan tubuh.
"Dari mana kamu dapat cokelat itu?" tanyaku, sebab di sini biasanya tak ada permen, apalagi jenis semacam itu.
"Dibawa... teman plastikmu... itu." Jalang. Pasti ada obat di dalamnya, dan aku berharap itu bukan sesuatu yang serius.
Orlando tiba dalam waktu kurang dari sepuluh menit. Keringat mengalir di dahi Valentina yang tampak megap-megap mencari udara.
Pemeriksaan medis temanku itu membuatnya melepaskan beberapa lenguhan dan mengucapkan banyak hal yang takkan pernah dia ucapkan dalam keadaan sadar. Dia ingin melepas pakaiannya dan menerkamku, lalu ingin agar Orlando yang menyentuhnya, sehingga aku terpaksa mengikat kedua tangannya ke kepala ranjang sebelum dia melakukan sesuatu yang bisa dia sesali.
Orlando menyuntikkan penawar untuk menetralkan obat perangsang itu, sesuatu yang seharusnya bekerja seketika. Tapi setelah lima menit tak tampak hasilnya, sebab dia masih benar-benar tak sadarkan diri.
"Jantungnya terus berdetak makin cepat. Yang kuberikan tidak bekerja." Dia menatapku cemas.
"Pasti ada sesuatu yang bisa kamu lakukan sekarang," pintaku dengan serius sambil berusaha menahan kaki Valentina agar tetap diam, karena dia menarikku dengan kedua kakinya.
"Kamu bantu dia mengeluarkannya dari tubuhnya, atau dia bisa kolaps dalam waktu singkat." Dia memintaku berhubungan intim dengannya.
"Pasti ada hal lain yang bisa kulakukan untuknya, tapi bukan itu."
"Kamu lakukan, atau kamu biarkan orang lain yang melakukannya, atau kamu jadi duda. Perlu kubantu aku yang melakukannya?" Dia menatapku, dan aku menggeleng.
"Pergi dari sini, aku yang urus."
Kupandangi Valentina di sana, lalu kulepas pakaianku. Semuanya terekam, karena setelah malam yang menyatukan kami itu, aku memasang kamera. Aku pun tak memercayainya. Saat dia sadar nanti, dia bisa memverifikasi bahwa apa pun yang terjadi di antara kami memang hanya untuk menolong dan menyelamatkannya.
Dia menatapku dan menggigit bibirnya sambil menggeliat berusaha melepaskan diri. Kusentuh kakinya, dan dia membukanya, meminta agar tanganku naik lebih tinggi sampai ke tempat yang mutlak butuh sentuhan.
Kalau dengan tangan aku bisa menenangkannya, itu lebih baik. Tapi kalau tidak bisa begitu, aku harus melakukan jauh lebih banyak.
Matanya terpaku padaku sementara dia mencari lebih banyak sentuhan dari jari-jariku yang berusaha menyentuhnya langsung. Dia tampak begitu memesona dalam keadaan yang begitu lepas kendali, dan terikat begitu membuatnya makin menggairahkan.
Melihat betapa dia tampak menikmati gesekan-gesekan itu mulai memengaruhi diriku sendiri. Aku sudah tak lagi merasakan dinginnya kamar. Mustahil tak terangsang dalam situasi seperti ini.
Kusingkap pakaian dalamnya dan kumasukkan tanganku ke sana, menyentuh basahnya yang meluncur di jari-jariku. Lnguan keras darinya tak butuh waktu lama untuk terdengar, begitu pula orgsme pertamanya, tapi keadaan terngs*ngnya terus meningkat.
Dari yang tadinya hanya menyentuhnya, aku beralih memasukkan jari-jariku, membuatnya merasakan lebih banyak lagi dan kembali klimaks hampir seketika. Aku tak tahu obat apa yang diberikan jalang itu padanya, tapi kadarnya terlalu banyak, karena begitu dia selesai, dia butuh lebih dan mendapatkannya nyaris seketika.
Kulepaskan ikatannya dan kurobek pakaiannya. Tak ada waktu untuk disia-siakan.