NovelToon NovelToon
THE VAMPIR BRIDE

THE VAMPIR BRIDE

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Misteri / Vampir
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: crowell

hayyyyy hayyyy hayyyyy semuanya jangan lupa follow aku dulu biar enak ahayyyy !!! 👋🤍


Siapa sangka, di kehidupan yang cuma sekali ini, kamu malah harus dipaksa menikah sama seseorang yang bahkan nggak kamu kenal?

Itulah yang terjadi sama Ema.

Awalnya Ema pikir pernikahan ini cuma urusan bisnis antara keluarganya dan keluarga Damian. Setelah menikah, mereka bisa menjalani kehidupan masing-masing seperti biasa.

Tapi ternyata, Ema salah besar.

Semenjak tinggal bersama Damian dan keluarganya, Ema mulai merasa ada yang aneh.

Mereka terlalu banyak menyimpan rahasia.

Dan semakin Ema mencoba mencari tahu, semakin ia sadar kalau keluarga yang sekarang menjadi keluarganya itu... sama sekali bukan keluarga biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon crowell, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

chapter 4

“Arghhh!” teriak Emma saat terbangun dari tidurnya. Matanya langsung menyapu seluruh sudut kamar dengan napas yang masih sedikit memburu.

Kamar itu kosong. Tidak ada siapa pun di sana, termasuk Damian.

Emma mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya teringat bahwa sekarang dirinya sudah memiliki seorang suami. Seorang pria misterius yang bahkan wajahnya belum pernah ia lihat secara langsung karena selalu mengenakan topeng.

“Damian itu vampir,” gumam Emma sambil mengingat kejadian dalam mimpinya.

Ia mengerutkan kening, kemudian menggelengkan kepala pelan.

“Kenapa rasanya nyata banget, sih? Apa aku masih mimpi?” lanjutnya kebingungan.

Emma bangkit dari tempat tidur, lalu berjalan menuju lemari besar yang berada tidak jauh dari sana. Dalam mimpinya, ia melihat banyak sekali kantong darah tersimpan di dalam lemari tersebut. Karena penasaran, ia ingin memastikan apakah semua itu benar-benar ada atau hanya bunga tidurnya saja.

Namun, begitu pintu lemari terbuka, Emma justru mengerutkan kening.

Kosong.

Tidak ada kantong darah seperti yang ia lihat dalam mimpinya. Lemari itu hanya berisi beberapa buku tebal dan tumpukan map yang tersusun rapi.

“Lah, terus darahnya ke mana?” gumam Emma sambil memiringkan kepala. “Jangan-jangan aku memang kebanyakan nonton film vampir.”

“Apa yang kau cari?”

Sebuah suara berat tiba-tiba terdengar dari belakangnya.

“ASTAGAAA!”

Emma sontak berbalik dengan mata membulat sempurna. Jantungnya nyaris melompat ketika mendapati Damian berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Namun, bukan keberadaan pria itu yang membuat Emma terdiam.

Melainkan penampilannya.

Damian hanya mengenakan handuk putih yang terlilit di pinggangnya. Rambutnya masih basah, sementara tetesan air tampak mengalir dari ujung rambut hingga lehernya. Anehnya, topeng hitam yang selalu menutupi wajahnya masih bertengger dengan sempurna.

Itu membuat Emma melongo Tatapannya tanpa sadar turun ke tubuh bagian atas Damian yang terbuka. Perut pria itu terlihat begitu menarik perhatian hingga Emma lupa bahwa dirinya sedang menatap orang lain tanpa izin.

Dalam hati, Emma hanya bisa bergumam, Ya ampun, ini manusia apa roti sobek?

“Ck, dasar betina,” cibir Damian ketika menyadari ke mana arah pandangan istrinya.

Emma langsung tersentak. Dengan wajah yang mulai memanas, ia buru-buru mengalihkan pandangannya ke samping seolah-olah dinding di sebelahnya jauh lebih menarik daripada pria yang baru saja membuatnya kehilangan fokus.

“Siapa juga yang ngelihatin?” elaknya cepat.

Damian mengangkat sebelah alis di balik topengnya.

“Memangnya aku bilang kau sedang melihatku?” balasnya santai. “Apa kau merasa tersindir?”

Emma langsung menoleh dengan tatapan kesal.

“Geer banget, sih! Memangnya siapa yang mau lihat badanmu?”

“Lalu, kenapa wajahmu merah?”

“Panas!”

“Pendingin ruangan menyala.”

“Ya, terus? Emangnya aku nggak boleh panas?”

Damian terkekeh kecil mendengar jawaban asal-asalan istrinya. Ia kemudian berjalan mendekat sambil menyeka rambutnya yang masih basah menggunakan handuk kecil.

“Apa yang kau cari di lemari itu?” tanyanya sekali lagi.

Emma seketika teringat tujuan awalnya. Ia menggeleng cepat, berusaha memasang wajah setenang mungkin meskipun pipinya masih terasa hangat.

aku tidak sedang mencari apa-apa. Aku cuma mau memastikan sesuatu,” jawab Emma terbata-bata.

“Memastikan apa?”

“Nggak penting!”

“Kalau tidak penting, kenapa kau sampai membongkar lemari milikku?”

“Aku tidak membongkarnya! Aku cuma membuka sedikit,” bantahnya sambil menunjuk pintu lemari yang masih terbuka.

Damian melirik lemari itu, lalu kembali menatap Emma.

“Begitu?”

“Iya!”

“Kalau begitu, katakan kepadaku apa yang sebenarnya kau cari.”

Nada suara Damian terdengar tenang, tetapi tatapannya seolah tidak akan membiarkan Emma pergi sebelum mendapatkan jawaban.

Pria itu melangkah semakin dekat Emma spontan mundur satu langkah Damian kembali maju Emma mundur lagi Begitu terus sampai punggungnya menyentuh dinding. Ia baru menyadari posisinya ketika tidak ada lagi ruang untuk melangkah mundur.

“Mu-mundur!” seru Emma sambil mengangkat kedua tangannya di depan dada. “Apa yang mau kau lakukan?”

Damian berhenti tepat di hadapannya. Pria itu sedikit menundukkan kepala agar bisa menatap Emma dari jarak dekat.

“Apa yang akan kulakukan?” ulang Damian dengan nada mengejek. “Kau yang belum menjawab pertanyaanku, sekarang malah menyuruhku mundur?”

Emma menelan ludah Sialnya, meskipun berusaha keras menghindari tatapan Damian, matanya justru sempat melirik perut pria itu sekali lagi.

*Ya Tuhan, kenapa harus sebagus itu, sih? Fokus, Emma! Fokus*!

“Kenapa diam?” tanya Damian, menyadari istrinya mendadak kehilangan kata-kata.

Emma buru-buru mengangkat wajah.

“A-aku mau tanya sesuatu.”

“Tanya saja.”

Emma menarik napas, lalu menatap topeng hitam yang menutupi wajah suaminya.

“Kau vampir, kan?”

Untuk beberapa detik, suasana kamar mendadak hening Damian tidak langsung menjawab. Ia justru memiringkan kepala, seolah sedang mencoba memahami dari mana istrinya mendapatkan pertanyaan aneh tersebut.

Kemudian, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum miring Perlahan, Damian mengulurkan tangan dan mengangkat dagu Emma dengan ujung jarinya agar perempuan itu menatap lurus ke arahnya.

“Kau sedang bermimpi atau memang masih belum bangun dari tidurmu?” tanyanya dengan nada meremehkan.

Emma mengerutkan kening.

“Maksudmu apa?”

“Mana mungkin aku vampir, dasar wanita bodoh,” jawab Damian enteng. “Apa kau pikir semua pria misterius yang memakai topeng adalah vampir?”

Emma mengerucutkan bibir.

“Ya, siapa tahu! Lagian, kau itu sangat mencurigakan !”

“Mencurigakan bagaimana?”

“Pokoknya mencurigakan!”

Damian mengembuskan napas pendek, seolah sedang menghadapi anak kecil yang terlalu banyak bertanya.

“Dan lagi,” lanjutnya dengan nada penuh percaya diri, “mana mungkin seorang vampir bisa setampan diriku?”

Emma langsung melongo.

Hah?

Belum sempat ia menyela, Damian kembali melanjutkan kalimatnya dengan santai.

“Apalagi memiliki tubuh sesempurna ini sampai membuat istri kontak ku sendiri tidak bisa mengalihkan pandangan.”

Emma menatapnya tidak percaya.

“ASTAGA! KAU NARSIS SEKALI

Damian justru terkekeh kecil melihat reaksi istrinya Jarak mereka yang begitu dekat membuat Emma bisa mencium aroma mint yang segar dari napas pria itu. Untuk sesaat, ia kembali terdiam, tetapi kali ini bukan karena sedang memikirkan kemungkinan bahwa suaminya adalah vampir.

Melainkan karena Damian benar-benar berada terlalu dekat dengannya.

Namun, tentu saja, Emma tidak akan membiarkan pria itu menang begitu saja.

“Ck! Dasar pria narsis!” gerutunya sambil menepis tangan Damian dari dagunya. “Singkirkan tanganmu dari wajahku sebelum kuceraikan kau!”

Damian terdiam sesaat.

Lalu, ia malah tertawa pelan seolah ancaman Emma barusan adalah lelucon paling lucu yang pernah didengarnya.

“Oh, jadi kau mau bercerai?” tanyanya sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

Emma mengangkat dagunya dengan penuh percaya diri.

“Iya! Kenapa? Takut?”

“Takut?” Damian mengulang perkataan itu, kemudian menggeleng pelan. “Sayangnya, aku tidak takut sama sekali, "Damian kembali terkekeh sebelum akhirnya mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Emma.

“Kalau memang ingin bercerai, silakan saja,” katanya santai. “Tapi, ada satu hal yang harus kau ingat.”

Emma menyipitkan mata penuh curiga.

“Apa lagi?”

“Bayar dulu uang satu miliar kepadaku.”

Mata Emma langsung membulat.

“APA?! SATU MILIAR?!”

Damian mengangguk tanpa merasa bersalah sedikit pun.

“Benar.”

“KAU GILA, YA?! DARI MANA AKU HARUS MENCARI UANG SEBANYAK ITU?!”

“Itu bukan urusanku.”

Emma menatap suaminya seolah ingin memastikan apakah pria di hadapannya benar-benar waras.

“Dasar gila kau gil—”

Emma mendadak membekap mulutnya sendiri.

Mata mereka bertemu,Damian perlahan memiringkan kepala.

“Apa katamu tadi?”

Emma tertawa kaku.

“Va-vampir? Aku bilang vampir di film itu mahal! Maksudku, biaya produksinya pasti mahal!”

Damian terdiam beberapa saat sebelum terkekeh pelan.

“Benarkah?”

“I-iya!”

“Kalau begitu, mulai sekarang berhentilah menonton film aneh sebelum tidur.”

Damian berbalik dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Emma yang masih berdiri mematung di depan lemari.

Namun, sebelum pintu kamar mandi tertutup sepenuhnya, pria itu kembali melontarkan kalimat yang sukses membuat Emma ingin menjambak rambutnya sendiri.

“Oh, satu lagi, Emma.”

“Apa lagi, hah?!” sahut Emma kesal.

“Kalau kau masih ingin melihat tubuhku, setidaknya jangan melakukannya sambil melotot seperti orang kelaparan.”

Pintu kamar mandi tertutup.

Hening.

Emma membeku selama beberapa detik sebelum akhirnya menjerit kesal.

“DAMIANNN! DASAR PRIA MENYEBALKAN!”

Dari balik pintu kamar mandi, terdengar tawa rendah yang semakin membuat Emma naik pitam.

“Dan jangan lupa, utangmu satu miliar kalau mau bercerai!”

“AKU BENCI KAU!”

“Tidak terdengar seperti itu tadi.”

Emma meraih bantal terdekat dan melemparkannya ke arah pintu kamar mandi Sayangnya, bantal itu hanya jatuh begitu saja ke lantai Sementara itu, dari balik pintu, Damian masih tertawa kecil Pernikahan ini baru berjalan sebentar, tetapi Emma sudah merasa rambutnya akan memutih lebih cepat karena ulah suaminya sendiri.

tok tok tok

"nyonya boleh saya masuk ?"tanya seseorang

"sebentar!! "teriak Emma " ternyata benar aku hanya bermimpi kalo di pikir pikir mana mungkin ada vampir di dunia moderen ini " gumamnya sambil membuka pintu

1
@Bella45
lanjut thor sayang jangan lupa istirahat 😍
chelsea~♡
suka dan naksir banget sama carita nya jelas banget 😘🤗
Fiar
puas banget baca nya up nya bir atu bab tapi banyak suka

eh thor update gih utusan istrahat nanti di akhirat 😍🤭
miooo😻
cerita KK ngak pernah mengecewakan yah Mangat KK makasih udah mau buat cerita lagi 🥰🥰💪
KEISHA 72_
suka banget sama karya nya kakak semangat KK ❤️❤️💪🤭
Alethea
wahhh cerita nya Karen 💪❤️
Marsya 🌼
ngakak bet hahahaha 🤣
Chloe
Diamian lupa kah sama perjanjiannya sama ayah nya ?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!