Aurora kira pertemuannya dengan Bima cuma kebetulan. Tapi semakin dekat, semakin dia sadar cowok itu menyembunyikan banyak hal — dia tahu hal-hal yang belum pernah diceritakan siapa pun, dan selalu bicara soal "38.000 langkah" yang belum selesai.
Saat Bima akhirnya berjanji akan datang menemuinya, justru kabar kecelakaan yang datang. Bima pergi, meninggalkan sebuah kotak misterius. Dari sana Aurora mulai menelusuri jejak Bima, dan menyadari bahwa pertemuan mereka sama sekali bukan kebetulan. Bima sudah berjalan jauh, melewati banyak hal berat, cuma untuk sampai ke hatinya.
Walau tak bisa bertemu lagi, cinta Bima sudah sampai tujuan di hati Aurora, selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanto Hl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 — Janji di Bawah Langit Sore
Keesokan harinya aku bangun lebih awal dari biasanya. Mataku terbuka saat cahaya matahari baru saja menyelinap masuk lewat celah tirai jendela. Rasanya aneh banget, biasanya aku butuh waktu lama buat bisa membuka mata di pagi hari. Tapi hari ini pikiranku langsung teringat pada satu hal saja. Bima. Apakah dia benar-benar akan datang sore nanti? Atau kata-katanya kemarin cuma ucapan sopan santun yang diucapkan begitu saja saat berpisah?
Aku bangkit dari tempat tidur sambil menggelengkan kepala pelan. Kenapa aku jadi begini? Baru saja sekali bertemu dan aku sudah menaruh harapan yang seharusnya belum tumbuh begitu cepat. Aku merapikan selimut lalu berjalan menuju kamar mandi sambil mencoba menenangkan diri. Nikmati saja hari ini sehari-hari seperti biasa. Kalau dia datang maka itu hal yang menyenangkan, kalau tidak datang juga tidak apa-apa. Hidupku tetap berjalan seperti sedia kala. Begitu yang aku katakan di dalam hati, tapi entah kenapa rasanya kata-kata itu terasa kurang meyakinkan sama sekali.
Siang berlalu lebih lambat dari biasanya. Saat kuliah aku tidak terlalu fokus pada apa yang sedang dijelaskan dosen di depan kelas. Mataku menatap papan tulis tapi pikiranku melayang jauh ke arah bangku kayu tua di taman itu. Aku terus bertanya-tanya pada diriku sendiri apakah aku sudah benar-benar siap menghadapi hal yang tidak diketahui. Bima itu penuh misteri. Dia tahu namaku, dia tahu tempatku berada, tapi dia menutup rapat siapa dirinya sebenarnya dan dari mana asalnya. Logikaku berteriak kalau aku harus berhati-hati. Dunia ini luas dan orang asing tidak selalu membawa niat baik. Tapi hatiku berkata hal yang berbeda. Setiap kali aku mengingat matanya dan cara dia menatapku kemarin, rasa takut itu seolah menguap begitu saja digantikan oleh rasa percaya yang sulit dijelaskan alasannya.
Saat jam terakhir perkuliahan selesai aku berjalan keluar gedung dengan langkah yang sedikit lebih cepat dari biasanya. Matahari masih tinggi di langit padahal rasanya waktu berjalan sangat lambat hari ini. Aku memutuskan untuk berjalan kaki sebentar sebelum menuju ke taman. Langkah kakiku terasa ringan meskipun pikiranku sedang berperang dengan diriku sendiri. Aku berhenti sejenak di sebuah kedai kecil di pinggir jalan untuk membeli minuman dingin. Sambil menunggu pesanan aku melihat bayanganku di kaca jendela kedai itu. Ada senyum tipis yang tersungging di bibirku yang bahkan aku sendiri tidak sadari sejak kapan mulai terbentuk. Aku menghela napas panjang lalu tersenyum pada diriku sendiri. Tidak ada salahnya memberi kesempatan pada sesuatu yang mungkin indah.
Perjalanan menuju taman terasa lebih pendek dari biasanya. Saat aku tiba di sana jam menunjukkan pukul empat sore. Tepat waktu. Aku melihat ke sekeliling. Bangku kayu itu masih kosong sama seperti kemarin. Pohon-pohon di sekitarnya berdiri tenang seolah menunggu seperti diriku. Angin sore berhembus lembut membawa aroma tanah dan bunga liar yang tumbuh di pinggiran taman. Aku duduk di ujung bangku yang sama persis dengan kemarin. Buku yang kubawa hari ini terbuka di pangkuanku tapi mataku terus melirik ke arah jalan masuk taman setiap kali ada suara langkah kaki yang mendekat.
Sepuluh menit berlalu. Dua puluh menit. Tiga puluh menit. Tidak ada siapa-siapa yang terlihat. Jantungku yang tadinya berdebar penuh harapan perlahan mulai terasa berat. Aku mencoba meyakinkan diriku mungkin dia terhalang sesuatu atau mungkin dia lupa. Hujan kemarin mungkin membuatnya sakit atau ada urusan mendadak yang tidak bisa dia tinggalkan. Semua alasan itu kususun rapi di kepalaku tapi tetap saja ada rasa kecewa yang mulai merayap pelan di dadaku. Aku menutup bukuku dan menatap ke arah jalan yang biasa dilewati orang-orang pulang kerja. Langit mulai berubah warna menjadi keemasan di ufuk barat. Mungkin dia memang tidak akan datang. Maka aku bisa pulang sekarang dan melupakan semuanya seperti pertemuan itu tidak pernah terjadi.
Tepat saat aku berdiri untuk beranjak pergi aku mendengar suara langkah kaki yang akrab. Langkah yang tenang dan pasti sama seperti kemarin. Aku berhenti bergerak dan menoleh perlahan. Di ujung jalan setapak itu terlihat sosok Bima sedang berjalan terburu-buru ke arahku. Napasnya sedikit terengah, rambutnya agak berantakan dan keringat menetes pelan di pelipisnya. Wajahnya terlihat lega begitu melihatku masih berdiri di sana. Dia memperlambat langkahnya saat semakin mendekat lalu berhenti tepat di depan sambil tersenyum minta maaf.
"Maaf ya aku telat. Ternyata ada hal yang harus kuselesaikan dulu dan aku sempat takut kamu sudah pulang," katanya sambil menarik napas panjang. Matanya menatapku dengan tatapan yang tulus seolah ketakutan terbesarnya adalah kehilangan kesempatan ini.
Aku kembali duduk di bangku itu sambil tersenyum lega yang tak bisa kusembunyikan. "Aku baru saja mau pulang kok. Kalau kamu telat lima menit lagi mungkin aku sudah tidak ada di sini."
Bima tertawa pelan lalu duduk di sebelahku. Dia meletakkan kedua tangannya di pangkuan dan menatap ke depan ke arah pepohonan yang mulai disinari cahaya matahari sore. "Kalau begitu aku akan mencarimu sampai ketemu. Aku janji tidak akan menyerah begitu saja sebelum menemukanmu."
Ucapannya terdengar sederhana tapi maknanya terasa begitu dalam sampai membuatku terdiam sejenak. Aku menatap profil samping wajahnya dan bertanya dengan suara yang sedikit bergetar. "Kenapa Bima? Kenapa sepertinya kehadiranku itu begitu penting buat kamu? Kita baru saja bertemu sekali sebelumnya. Rasanya aneh mendengar kata-kata seperti itu dari seseorang yang bahkan belum aku kenal namanya kemarin."
Bima diam cukup lama sebelum akhirnya berbicara dengan nada yang lebih rendah dan lembut. "Kadang waktu tidak diukur dari berapa lama kita mengenal seseorang Aurora. Ada pertemuan yang terjadi hanya sekali dalam hidup tapi dampaknya terasa sampai sisa usia kita. Percayalah kalau aku tidak bermaksud membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya berusaha jujur pada apa yang aku rasakan. Dan jujur saja rasanya seperti aku sudah menunggu momen ini sejak sangat lama sekali."
Kata-katanya membuat suasana di antara kita menjadi hening sejenak. Tidak ada yang berkata apa-apa tapi keheningan kali ini tidak terasa kosong. Justru terasa penuh dengan hal-hal yang sedang berusaha disusun kata-katanya. Bima mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya. Sebuah kotak kecil berwarna cokelat tua yang terlihat sederhana namun terawat dengan baik. Dia memutarnya pelan di antara jari-jarinya lalu menoleh padaku.
"Aku tidak memberikannya sekarang. Hanya ingin kamu tahu kalau suatu hari nanti kotak ini akan jadi milikmu. Di dalamnya ada jawaban dari semua pertanyaan yang kamu miliki tentang diriku. Tapi aku butuh waktu. Tolong beri aku waktu cukup supaya aku bisa menceritakannya tanpa membuatmu pergi menjauh dariku," ucapnya dengan mata yang memohon dengan sangat.
Aku menatap kotak itu lalu menatap matanya. Rasa penasaran di dalam diriku luar biasa besar. Ada keinginan kuat untuk merebut kotak itu dari tangannya dan mengetahui semuanya saat ini juga. Tapi aku melihat betapa beratnya hal ini baginya. Seperti ada beban yang sedang dia pikul sendirian dan dia butuh keberanian yang lebih besar untuk membukanya.
"Baik Bima. Aku tunggu. Tapi tolong jangan buat aku menunggu terlalu lama. Karena semakin aku mengenalimu semakin aku takut kalau aku akan terluka saat akhirnya tahu kebenarannya," jawabku dengan jujur.
Bima tersenyum lembut dan menyimpan kembali kotak itu ke dalam sakunya dengan hati-hati seolah itu adalah harta paling berharga di dunia. "Terima kasih Aurora. Kamu tidak tahu betapa besarnya arti kepercayaanmu ini buatku. Aku akan berusaha pantas mendapatkan kepercayaan itu."
Sore itu kita menghabiskan waktu dengan bercerita tentang hal-hal kecil yang tidak terlalu menyentuh rahasia besar di antara kita. Dia bercerita tentang tempat-tempat yang pernah dia kunjungi. Dia bercerita tentang pemandangan matahari terbit dari puncak bukit, tentang suara ombak yang menabrak karang di pantai jauh di pinggir kota, tentang jalanan sempit yang penuh cerita di sudut-sudut kota yang jarang orang lewati. Setiap cerita yang dia sampaikan terasa begitu hidup dan penuh warna. Matanya berbinar saat bercerita seolah dia sedang melihat tempat-tempat itu kembali di hadapannya.
Aku juga bercerita. Tentang kegemaranku membaca buku dan bagaimana aku sering merasa masuk ke dalam dunia cerita itu sepenuhnya. Tentang keinginanku untuk menulis cerita sendiri suatu hari nanti meskipun aku belum tahu harus mulai dari mana. Tentang ketakutanku menghadapi masa depan yang terasa kabur dan tidak pasti. Bima mendengarkan dengan sungguh-sungguh. Dia tidak menyela dan tidak terburu-buru memberi nasihat. Dia hanya mendengarkan dan sesekali mengangguk seolah setiap kata yang kukatakan itu penting baginya.
Saat matahari hampir benar-benar terbenam dia berdiri dan menatapku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ada kehangatan tapi juga ada kesedihan yang samar di sana. "Aku harus pulang sekarang. Besok aku akan datang lagi kalau kamu tidak keberatan. Dan aku janji besok aku akan berusaha tidak terlambat lagi."
"Iya Bima. Hati-hati di jalan ya," kataku sambil tersenyum tulus.
Dia berjalan pergi seperti kemarin, namun kali ini dia berhenti sesaat sebelum menghilang di balik pepohonan dan menoleh ke arahku sekali lagi sebelum melanjutkan langkahnya. Aku berdiri di sana sampai sosoknya benar-benar hilang dari pandanganku. Hatiku terasa campur aduk. Sebelah diriku merasa senang karena dia datang dan menepati janjinya. Sebelah diriku merasa cemas karena aku tahu semakin dekat aku dengannya semakin besar kemungkinan aku akan terluka saat kebenaran itu terungkap nanti. Namun di saat yang sama aku sadar aku tidak ingin berhenti sekarang. Sesuatu di dalam diriku menarikku terus mendekat padanya meskipun aku tahu jalan di depan mungkin tidak semulus yang kubayangkan.
Perjalanan pulang terasa berbeda dari biasanya. Langkah kakiku terasa lebih mantap dan pikiranku tidak lagi terasa kosong. Ada seseorang yang menungguku di sana dan aku juga menunggunya. Sebuah pertemuan sederhana yang entah bagaimana caranya mulai mengubah arah duniaku perlahan-lahan tanpa aku sadari sepenuhnya. Dan di dalam hatiku aku berjanji pada diriku sendiri bahwa apa pun yang akan terjadi nanti aku akan menghadapinya dengan berani. Karena mungkin saja rasa yang sedang tumbuh ini layak untuk diperjuangkan meskipun harganya mahal.