NovelToon NovelToon
Mengubah Nasib Dan Berbalik Mencintai Mu

Mengubah Nasib Dan Berbalik Mencintai Mu

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Romansa Fantasi
Popularitas:634
Nilai: 5
Nama Author: senja liana

Luna meninggal tepat di usianya yang masih tergolong muda, percintaan juga kehidupan yang tak pernah memihaknya membuatnya jatuh terperangkap semakin dalam pada dusta.

Tidak ada yang berjalan baik dalam kehidupannya, namun sebuah keajaiban membuatnya memiliki satu kesempatan untuk mengulang segala hal dan merubahnya menjadi lebih baik.

"Aku.... aku masih hidup?" ucap Luna dengan raut wajah yang tak percaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja liana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 12

Apartment Sagara

Di sebuah dapur yang terdapat di lingkungan sebuah Apartment mewah yang terdapat di Ibu kota, terlihat Luna tengah sibuk menyiapkan sebuah hidangan khusus untuk Sagara dan tentu saja dirinya.

Raut wajah bahagia terlihat jelas terukir indah di wajah Luna, membuat Sagara terbius akan keindahan yang mungkin saja bisa memudar kapan pun itu, selagi Arkan masih menjadi bayang-bayang gelap di antara keduanya.

Sagara tersenyum tipis kemudian melangkahkan kakinya perlahan mendekat ke arah dimana Luna berada saat ini.

"Apa kamu yakin tidak ingin ku bantu? Aku bisa melakukan sesuatu yang mungkin saja lebih baik darimu..." ucap Sagara memberikan penawaran yang lantas di balas senyuman oleh Luna.

"No no aku bisa, mengapa kamu sagat meremehkan kemampuan memasak ku Saga? Tenang saja dan duduk dengan anteng, sepuluh menit lagi semuanya sudah siap." ucap Luna dengan nada yang santai.

"Apa kamu serius? Aku bisa..." ucap Sagara namun kembali di potong oleh Luna.

"Sudahlah percaya saja padaku, oke? Sana duduk dan tunggu sebentar lagi." ucap Luna kembali sambil mendorong sedikit tubuh Sagara agar pergi menjauh.

"Oh oke oke...aku duduk, kabari aku jika butuh sesuatu." ucap Sagara pada akhirnya hanya bisa pasrah ketika mendapat jawaban tersebut.

.

.

.

Sepuluh menit kemudian

Sebuah hidangan klasik ala Italia benar-benar tersaji di meja makan, membuat siapa saja tergugah ketika melihat hidangan cantik yang begitu menggugah selera.

Sagara menatap beberapa kali ke arah spaghetti aglio olio buatan Luna, seakan tak percaya jika Luna benar-benar yang telah memasaknya. Maklum saja, Luna yang selama ini Sagara kenal adalah seorang nona muda yang manja dan hanya berkutat dengan barang-barang branded saja, membuat Sagara tak percaya jika Luna benar-benar bisa memasaknya.

"Apakah ini bisa dimakan Lun? Ini tidak hanya cantik luarnya saja bukan? Tapi rasanya juga aman kan?" ucap Sagara dengan tatapan penuh tanya.

"Aman, coba saja...aku yakin kamu pasti bakal ketagihan." ucap Luna dengan percaya diri.

"Bukan masalah ketagihan... Yang jadi problem disini, aku baru minggu kemaren mencicipi masakan mu dan berakhir di rumah sakit, jika kali ini ujung-ujungnya sama maka aku akan bersiap dan meminum obat terlebih dahulu, barang kali..." ucap Sagara namun langsung terpotong, begitu satu suapan spaghetti masuk ke mulutnya dan mau tidak mau membuatnya mulai mengunyah dan mencicipi rasanya.

"Bagaimana? Enak bukan?" ucap Luna dengan percaya diri.

"Wow luar biasa, rasanya benar-benar enak dan seperti masakan koki-koki resto yang pernah kita datangi." ucap Sagara dengan mata berbinar dan langsung membuatnya lagi dan lagi memakannya dengan rakus.

"Dasar lebay, memang enak sih tapi gak segitunya juga kali..." ucap Luna sambil tertawa kecil.

"Tapi ya Lun, ngomong-ngomong soal memasak, bagaimana bisa seseorang langsung ahli hanya dengan jarak satu minggu. Masakan mu minggu lalu benar-benar membuat ku diare, tapi yang kali ini berbeda, bagaimana bisa?" ucap Sagara dengan raut wajah penuh tanda tanya.

"..."

Luna terdiam sejenak mendapati pertanyaan tersebut. Pasalnya bukan tentang kemampuan memasaknya yang instan. Beberapa tahun bersama dengan Arkan dan menjalin rumah tangga, membuatnya terus memperbaiki diri dan mencari cara bagaimana menjadi yang terbaik hanya untuk menyenangkan Arkan.

Hanya saja sebuah perumpamaan yang mengatakan "Jika kita ingin meluluhkan hati seseorang harus dari perutnya terlebih dahulu" nyatanya perumpamaan ini tak berlaku baginya. Semakin Luna mahir dalam melakukan pekerjaan rumah, membuatnya semakin diperlakukan seperti pembantu oleh Arkan. Itulah sebabnya kini ia begitu mahir memasak dan tentu saja mengurus beberapa pekerjaan rumah tangga lainnya.

"Lun...halo...apakah kamu mendengar ku?" ucap Sagara begitu melihat Luna malah melamun begitu mendengar pertanyaan darinya.

"Oh ya... Kenapa tadi? Maaf aku sedikit tidak fokus..." ucap Luna kemudian yang langsung tersadar dari lamunannya.

"Sudah lupakan saja, kita lanjut makan..." ucap Sagara pada akhirnya yang langsung di balas anggukan kepala oleh Luna saat itu.

***

Sementara itu di kamar kos-kosan milik Rachel, raut wajah kesal terlihat jelas di wajah Arkan saat itu. Kesenangan sesaat yang ditawarkan oleh Luna masalah alkohol itu, benar-benar membuat Arkan kesal karenanya.

Rachel yang tahu jika Arkan tengah kesal akan masalah ini, perlahan mulai mendekat dan duduk di sampingnya.

"Aku minta maaf, lain kali aku akan memastikan kembali." ucap Rachel dengan nada lirih yang penuh penyesalan.

"Memastikan apa? Memastikan kebodohan mu? Ayolah...ini benar-benar menyebalkan." gerutu Arkan dengan nada yang menghina.

"Aku benar-benar tidak tahu jika Luna akan menghilang begitu saja, biasanya kan Luna tidak pergi sebelum kita pergi, makanya aku tidak pernah menyangka jika hal ini bisa terjadi." ucap Rachel berusa membela diri.

"Lalu bagaimana dengan sahamnya? Jangan bilang yang ini juga gagal?" tanya Arkan kembali dengan tatapan yang tajam.

Hanya saja Rachel yang mendengar pertanyaan tersebut hanya bisa menggeleng pelan, membuat amarah Arkan semakin terasa memuncak karenanya.

"Aku sudah berusaha bertanya, namun Luna terus saja berdalih dan menjawab pertanyaan ku dengan yang lainnya. Tentu saja aku tidak bisa berbuat apa-apa, kamu tentu tahu citra ku di hadapan Luna adalah sahabat yang penuh suportif dan juga pengertian, bagaimana bisa aku melawannya?" ucap Rachel sambil menghela napas pelan.

"Sialannnnnn bagaimana semuanya bisa berantakan seperti ini? Akhhh benar-benar menyebalkan..." ucap Arkan sambil membuang mukanya dengan kesal.

****

Kediaman rumah Tua keluarga Razan, lebih tepatnya kediaman Kakek Sagara.

Razan terlihat menatap dengan serius setiap foto wanita muda yang berada di tangannya, sementara di hadapannya berdiri paman dan bibi Sagara tengah menunggu titah yang mungkin saja akan keluar dari mulut Pria berumur tersebut.

"Bagaimana menurut mu dengan yang ini? Aku yakin Sagara akan cocok dengannya." ucap Razan dengan raut wajah yang berseri.

"Aku tahu maksud Ayah, hanya saja semua orang tahu jika Sagara dan putri keluarga Amera tengah dekat saat ini. Apakah hal ini tidak semakin membuat Sagara memberontak dan enggan membantu kita?" ucap Lucas dengan raut wajah yang bertanya.

Razan nampak terdiam sejenak, apa yang dikatakan oleh Lucas ada benarnya. Apalagi setelah Aditama memutuskan untuk mengikuti Sagara dan membangun bisnisnya sendiri. Hal tersebut membuat hubungan keduanya semakin renggang dan juga memburuk.

"Sudah lama sekali Aditama dan putranya tak pernah datang ke rumah tua mengunjungi ku, aku yakin Aditama akan setuju dengan hal ini." ucap Razan dengan nada penuh percaya diri akan keputusannya.

"Apa Ayah yakin? Jika ini sampai gagal perusahan kita akan jadi taruhannya." ucap Lucas dengan perasaan yang bimbang.

"Apapun yang terjadi, semuanya harus berjalan sesuai kehendak ku!" ucap Razan kemudian dengan raut wajah yang tegas.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!