Selama lima tahun, Nadira Suryani rela membiayai keluarga mertuanya. Namun, kesabarannya habis setelah mengetahui putrinya, Naya, selalu diperlakukan berbeda dari cucu laki-laki mereka. Bahkan, ibu mertuanya diam-diam mengambil jatah biaya sekolah Naya untuk diberikan kepada cucunya.
Ditambah suaminya yang selalu lebih mementingkan keluarganya sendiri, Nadira akhirnya memutuskan untuk bercerai. Kali ini, ia tidak akan membiarkan keluarga mertuanya terus memanfaatkannya dan akan membuat mereka merasakan akibat dari semua perbuatan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadinachomilk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 Pulang
Imah terdiam selama beberapa detik. Wajahnya memerah karena menahan amarah. Ia tidak menyangka Nadira akan mengungkit semua hal yang selama ini dianggapnya sebagai sesuatu yang wajar.
Baginya, Nadira adalah menantu yang seharusnya membantu keluarga suaminya tanpa banyak bertanya. Selama perempuan itu masih menjadi istri Arhan, sudah sepantasnya ia ikut bertanggung jawab atas kebutuhan keluarga besar mereka.
Namun, Imah seolah melupakan satu hal. Uang yang selama ini digunakan untuk membantu mereka berasal dari hasil kerja keras Nadira dan tabungan yang dikumpulkannya selama bertahun-tahun.
"Kamu itu menantu di keluarga ini, Nadira! Sudah sewajarnya kamu membantu keluarga suamimu sendiri!" seru Imah, berusaha mempertahankan pendiriannya.
Nadira tersenyum tipis. Ia bahkan tidak lagi merasa terkejut mendengar perkataan tersebut. Selama bertahun-tahun, kalimat semacam itu selalu menjadi senjata Imah setiap kali dirinya berusaha menolak permintaan keluarga suaminya.
"Benar, Bu. Saya memang menantu di keluarga ini. Saya juga istri Arhan dan ibu dari Naya." Nadira berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang lebih tegas.
"Tapi menjadi menantu bukan berarti saya harus menyerahkan seluruh penghasilan dan tabungan saya kepada keluarga Ibu. Apalagi sampai mengorbankan hak anak saya sendiri."
"Kamu bicara seolah-olah kami sudah menghabiskan semua uangmu!" bantah Imah.
"Memangnya tidak?"
Pertanyaan singkat itu membuat Imah terdiam. Nadira tidak memberikan kesempatan kepada ibu mertuanya untuk kembali mengelak.
"Kalau memang tidak, silakan tunjukkan ke mana perginya uang yang selama ini saya berikan. Saya masih menyimpan bukti transfer, catatan pengeluaran, dan pesan-pesan dari Ibu yang meminta uang kepada saya." Nadira menatapnya tanpa berkedip. "Kita bisa menghitung semuanya sekarang kalau Ibu mau."
Wajah Imah seketika berubah. Ia tahu Nadira bukan perempuan yang sembarangan berbicara. Selama bertahun-tahun, menantunya itu memang tidak pernah mempermasalahkan uang yang diberikannya. Akan tetapi, bukan berarti Nadira tidak mengetahui jumlah uang yang sudah dikeluarkannya untuk keluarga tersebut.
Justru karena selama ini Nadira selalu mencatat pengeluaran rumah tangga dengan teliti, perempuan itu mengetahui betul berapa banyak uang yang telah diberikan kepada keluarga suaminya.
"Nadira, cukup!" sela Arhan.
Pria itu akhirnya tidak tahan melihat pertengkaran antara istrinya dan ibunya semakin memanas. Ia melirik beberapa anggota keluarganya yang berdiri di dekat pintu ruang pemeriksaan, lalu kembali menatap Nadira.
"Kita sedang berada di rumah sakit. Jangan membicarakan masalah ini sekarang."
Nadira perlahan memalingkan wajahnya. Untuk beberapa saat, ia hanya menatap suaminya. Ada rasa kecewa yang begitu dalam di matanya, seolah-olah perkataan Arhan barusan kembali membuktikan bahwa pria itu belum memahami apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau bukan sekarang, kapan lagi, Arhan?" tanyanya pelan.
Arhan terdiam.
"Haruskah aku menunggu sampai ibumu mengambil semua yang masih kumiliki? Atau haruskah aku menunggu sampai Naya kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan yang layak hanya karena keluargamu menganggap Arkan lebih pantas mendapatkannya?"
"Aku tidak pernah mengatakan Naya tidak pantas mendapatkan pendidikan yang layak."
"Tapi kamu membiarkan ibumu mengganti formulir pendaftaran sekolah anak kita tanpa meminta persetujuanku!"
Suara Nadira meninggi. Ia segera menarik napas panjang, berusaha mengendalikan emosinya agar tidak membangunkan Naya yang sedang beristirahat. Meskipun putrinya masih sadar dan sesekali membuka mata, Nadira tidak ingin Naya mendengar pertengkaran orang dewasa yang seharusnya tidak perlu terjadi.
"Uang itu sudah kusiapkan sejak lama, Arhan. Aku menabung sedikit demi sedikit supaya Naya bisa masuk ke sekolah yang kuinginkan untuknya. Aku bahkan mengurangi pengeluaranku sendiri demi memastikan uang pendaftarannya cukup."
Nadira menunduk sebentar. Jemarinya meremas ujung bajunya ketika kembali mengingat bagaimana ia mengumpulkan uang tersebut.
"Aku tidak pernah meminta keluargamu membayar biaya sekolah Naya. Aku tidak pernah meminta ibumu mengeluarkan uang sepeser pun untuk anak kita. Aku hanya ingin menggunakan uangku sendiri untuk masa depan putriku."
Ia kembali mengangkat wajahnya.
"Tapi apa yang dilakukan ibumu? Dia mengambil tabunganku, lalu menggunakan uang itu untuk kepentingan Arkan. Bahkan formulir pendaftaran sekolah Naya juga hendak diganti seolah-olah semua itu tidak ada artinya."
Arhan memejamkan mata sejenak. Setiap kalimat yang diucapkan Nadira terasa seperti tamparan baginya. Ia mengetahui bahwa ibunya sering meminta bantuan keuangan kepada istrinya. Namun, selama ini ia tidak pernah benar-benar memeriksa berapa banyak uang yang sudah dikeluarkan Nadira.
Ia mengira semua itu masih dalam batas wajar. Arhan juga mengetahui bahwa Nadira sedang menyiapkan biaya sekolah Naya. Akan tetapi, ia tidak menyangka ibunya sampai berani menggunakan tabungan tersebut untuk kepentingan Arkan.
"Bu, apa yang dikatakan Nadira benar?" Arhan akhirnya menoleh kepada ibunya.
Imah terkejut mendengar pertanyaan itu. "Apa maksudmu, Arhan?"
"Apakah Ibu benar-benar mengambil tabungan Nadira dan menggunakan uang itu untuk keperluan Arkan?"
Imah mengalihkan pandangannya sesaat sebelum menjawab dengan nada defensif.
"Ibu hanya meminjamnya! Arkan membutuhkan uang untuk mendaftar sekolah. Lagi pula, Naya masih kecil. Dia bisa masuk sekolah lain yang biayanya lebih murah."
Arhan menatap ibunya dengan tidak percaya. "Ibu bilang meminjam? Apakah Nadira tahu dan menyetujuinya?"
Imah tidak langsung menjawab. Keheningan itu sudah cukup membuat Arhan memahami bahwa ibunya tidak mendapatkan persetujuan dari Nadira.
"Ibu sudah keterlaluan," gumamnya.
"Apa?" Imah langsung membelalakkan mata.
Arhan menghela napas berat. "Ibu tidak seharusnya mengambil uang Nadira tanpa izin. Apalagi uang itu memang sudah disiapkan untuk biaya sekolah Naya."
"Arhan!" bentak Imah. "Kamu sekarang berani menyalahkan ibumu sendiri hanya karena perempuan itu?"
Arhan terdiam mendengar ucapan tersebut. Sedangkan Nadira memilih untuk menjauh dan mendekat ke arah putrinya yang mulai membuka matanya. Tatapannya kembali ke arah ibu mertuanya dan keluarga yang lain, serta sang suami.
" Pergi kalian! Saya tidak sudi membiarkan anak saya menatap keluarga sialan seperti kalian!"
.....
Setelah beberapa hari dirumah sakit, Nadira akhirnya kembali ke rumah orang tuanya. Ia benar benar ingin menenangkan dirinya dari masalahnya dengan suami dan keluarga mertuanya. Baru saja ia melangkah masuk ke dalam rumah mewah itu, sang ibu segera berdiri dari duduknya dan berjalan ke arahnya dan Naya.
"Nadira, Naya. Akhirnya kalian pulang juga," ujar sang ibu.
Nadira tersenyum tipis ketika melihat ibunya menghampiri mereka. Selama beberapa hari terakhir, perempuan itu benar-benar merasa kelelahan, baik secara fisik maupun emosional. Ia hanya ingin beristirahat di tempat yang membuatnya merasa aman tanpa harus memikirkan masalah dengan keluarga suaminya.
"Iya, Bu. Maaf baru sempat pulang sekarang," jawab Nadira pelan.
Ibunya segera menggeleng. Ia kemudian berjongkok di hadapan Naya yang berdiri di samping Nadira sambil memegang tangan ibunya.
"Cucu Nenek sudah sembuh? Coba Nenek lihat."
Naya mengangguk kecil. "Sudah, Nek. Tapi kepala Naya masih sedikit sakit."
Wajah wanita paruh baya itu langsung berubah cemas. Ia mengangkat tangan, lalu mengusap rambut cucunya dengan hati-hati, menghindari bagian kepala yang sebelumnya terbentur.
"Ya ampun, Sayang. Masih sakit, ya? Nanti kalau masih sakit, bilang sama Nenek, ya. Biar nenek obat ."
Naya tersenyum tipis,"Iya, Nek."
"Anak pintar."
Wanita itu mengecup kening Naya sebelum kembali berdiri. Tatapannya kemudian beralih kepada putrinya. Begitu melihat wajah Nadira yang terlihat lebih kurus dan lelah daripada sebelumnya, ia menghela napas pelan.
"Kamu sendiri bagaimana, Nak? Sudah makan? Kenapa wajahmu terlihat pucat sekali?"
orng2 ga tau diri ky mreka,emng pnts jd gmbel.....drpd bkin repot orng trs.....🙄🙄🙄
aku udh mmpir....slm knal....
dr awl udh d bkin emosi....ko ada y wnita s'ga waras itu,yg lbh syng cucu laki2 drpdd ccu prmpuan.....mna hsil nyolong pula....kl aku jd nadira,dr lma udh usir mreka biar jd gmbel.....😡😡😡