Seorang pengembara, lulusan pelatihan bela diri di distrik paling selatan, diutus gurunya berkelana untuk mencari tahu identitas sebuah ancaman misterius. Ia bukan pahlawan terpilih, hanya seorang petarung tangguh yang percaya diri pada kemampuannya. namun Keyakinan itu hancur, pada suatu hari, ketika sebuah entitas yang membenci manusia muncul dan menyerangnya. Ia melawan sekuat tenaga, namun kalah telak. Entitas itu lalu menyerap kedelapan kristal dan membawanya kabur ke langit, untuk dipersembahkan kepada tuannya, sang boss entitas, sementara si pengembara tergeletak pingsan.
Ketika ia sadar, dunia sudah berubah. Tanpa kristal penyeimbang, kawanan makhluk kroco keluar dari persembunyian, mendirikan kemah di mana-mana, dan menjarah harta serta persediaan makanan manusia. Mampukah seorang pengembara mengembalikan kedelapan kristal tersebut ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AryaAulani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 LEMBAH EMBUN
Lima hari berlalu seperti lima lembar halaman yang dibalik terlalu cepat.
Kami berjalan dari fajar sampai senja, dan hampir setiap hari ada kemah kroco di pinggir jalan. Kemah pertama kami hancurkan dalam sepuluh menit, dan Iyan menyombong sepanjang sore. Kemah kedua lebih besar, dan aku harus belajar menahan angin supaya tak ikut menerbangkan tenda yang masih berisi karung gandum. Di kemah ketiga, Iyan salah menyalurkan petir ke tiang kayu dan membuat api unggun meledak seperti kembang api, sampai Vivi menjerit dari balik batu.
Di kemah keempat dan kelima, kami sudah bergerak seperti satu tubuh. Aku membuka jalan dengan angin, Iyan menyusul dengan petir, dan kroco-kroco itu tumbang sebelum sempat mengangkat kapak. Aku mulai paham kenapa Cecilia selalu bicara tentang tim. Kekuatan seorang diri bisa menumbangkan satu musuh. Kekuatan yang saling menyambung bisa membersihkan lembah.
Setiap malam, aku mengasah pedangku di depan api unggun dan mencoba merasakan angin yang mengalir di dalamnya. Setiap pagi, ia terasa sedikit lebih jinak, sedikit lebih mau mendengar.
Di pagi hari kelima, kabut menyambut kami.
Kabut itu tipis dan putih, menggantung rendah di atas padang rumput. Embun menempel di setiap helai daun, berkilau seperti taburan kaca ketika disentuh cahaya fajar. Lalu tanah menurun perlahan, dan di bawah kami terbentang sebuah lembah luas yang diselimuti kabut lembut.
"Wah....lembah embun," bisik Vivi dari bahuku. "Cantik sekali ya tempatnya..."
Ia tidak melebih-lebihkan. Lembah itu seperti lukisan yang belum kering. Sungai kecil mengalir di tengahnya, dan di kedua sisinya berdiri dua kota yang tampak berbeda sama sekali.
"Itu yang kiri..." kata Iyan sambil menunjuk. "kalo tidak salah Distrik Latoona."
Sisi kiri sungai dipenuhi bangunan batu abu-abu dengan lentera kuning di setiap sudut, atapnya rapat dan jalan-jalannya lurus seperti dirancang dengan penggaris. Asap tipis naik dari beberapa cerobong. Terdengar samar bunyi palu di tempa dan teriakan pedagang.
"Terus yang kanan?"
"Kalo tidak salah Distrik Reflower," jawab Vivi cepat.
"Aku pernah mendengar dari kerabatku di Artheria. Katanya seluruh distriknya ditutupi bunga."
Aku menyipit. Sisi kanan sungai tampak seperti hamparan warna: merah muda, ungu, kuning, dan putih, bercampur menutupi atap-atap rumah, dinding, bahkan jembatan. Tak ada satu pun bangunan yang tidak berhias bunga.
Di bawah sana, sebuah jembatan batu melengkung menghubungkan keduanya.
Kami menuruni lereng dan berhenti di ujung jembatan. Kabut tipis menggulung di sekeliling kaki kami.
"Jadi," kata Iyan, menurunkan buntalannya. "Dua distrik ini, tersimpan satu batu akik dan satu pilar?"
"Kita tidak tahu pasti di distrik mana batunya," kataku. "Peta ini hanya menandai lembahnya aja."
"kita juga belum melihat adanya tanda-tanda entitas."
Itu yang membuatku gelisah sejak tadi. Tak ada kemah kroco di dekat lembah, tak ada asap hitam, tak ada jeritan. Tenang. Terlalu tenang, seperti di Artheria sebelum Froz muncul.
"Hhmmm....Kalau kita bersama, kita bisa memakan waktu dua kali lipat," ujar Iyan. "Bagaimana kalau kita berpencar? Kamu ke Reflower, sementara aku ke Latoona. Kita cari batu akik dan pilar itu, lalu bertemu di jembatan ini saat matahari terbenam."
Awalnya aku ragu. Pengalaman di lembah batu hitam masih membekas. Tapi Iyan benar, dan aku tak bisa terus-menerus menempelkan diri padanya.
"Ok aku setuju," kataku akhirnya. "Tapi kalau ada tanda bahaya, jangan lupa kirim isyarat ya."
"Isyarat apa?"
Aku berpikir sebentar. "Hhm.....bagaimana kalo petir ke langit?"
"Lalu kamu?"
"Aku angin ke atas."
Iyan setuju lalu berjalan ke kiri, melambai tanpa menoleh. Aku menyeberangi jembatan dan menuju kanan, dengan Vivi di bahuku dan sebuah firasat samar yang belum kutahu namanya.
Distrik Reflower menyambutku dengan aroma yang membuatku berhenti di gerbang.
Wangi bunga. Manis, segar, dan pekat sampai terasa di ujung lidah. Gerbangnya sendiri dibuat dari lengkung kayu yang dililit mawar merah muda, kelopaknya masih basah oleh embun. Di balik gerbang, jalan-jalan berlapis batu bulat kecil dikelilingi bedeng bunga warna-warni, dan di setiap jendela tergantung pot-pot gantung berisi lili dan melati. Kelopak-kelopak berguguran dari atap, jatuh pelan seperti salju berwarna.
"Wah....rasa rasanya aku mau tinggal di sini aja Ah," bisik Vivi untuk kedua kalinya hari itu.
"Kita kan sedang bertugas."
"Tapi aku bisa bertugas dengan nyaman."
Aku tak menjawab. Mataku terlalu sibuk menatap. Selama sepuluh tahun di selatan, satu-satunya bunga yang kukenal adalah tanaman liar di pinggir halaman latihan. Aku tak tahu dunia bisa seindah ini.
Penduduknya pun ramah. Seorang penjual madu melambai padaku, dua nenek yang sedang merangkai bunga tersenyum, dan seekor kucing belang tertidur di atas jambangan raksasa. Rasanya mustahil ada ancaman di tempat seperti ini.
Aku baru melangkah beberapa puluh langkah ketika jubahku ditarik dari belakang.
Aku refleks menoleh dengan tangan menyambar gagang pedang. Tapi tak ada musuh. Di belakangku berdiri tiga anak perempuan berusia kira-kira lima sampai tujuh tahun, rambut mereka dikepang, pipi mereka kemerahan, dan masing-masing menggenggam seikat bunga liar.
"Kakak!" seru yang paling kecil, menarik lagi ujung jubahku. "Kakak!"
Aku menurunkan tangan dari pedang dan berjongkok. "Ya, ada apa?"
"Kakak asalnya dari mana?" tanya yang berambut dikepang dua, mata besarnya penuh rasa ingin tahu. "Soalnya aku belum pernah lihat Kakak!"
"Oh Aku dari kota Sendira."
"Sendira!" ketiganya serentak memekik.
"Itu yang temboknya dari besi, kan?" sahut yang kedua.
"Betul."
"Besinya besar? Seberapa besar?"
"Setinggi lima rumah?."
"Wah!" Mereka berbisik-bisik. "Kakak membawa pedang?"
"Iya."
"Boleh aku pegang?"
"Jangan," kataku cepat. "Tajam."
"kak Itu peri, ya?" tunjuk si kecil ke arah Vivi. Vivi langsung membusungkan dada. "Boleh kenalan?"
"Namaku Vivi," ucapnya angkuh sambil terbang berputar. "Peri lembah, penjaga pasukan Ranger, dan pemandu perjalanan nomor satu."
"Wooow!"
Pertanyaan datang bertubi-tubi seperti hujan. Kenapa rambutku acak-acakan? Berapa umurku? Apakah aku pernah melawan monster? Apakah aku punya adik? Aku menjawab sebisaku sambil menahan tawa, dan setiap jawaban disambut dengan sorak kecil.
Anak yang paling kecil, dengan kepang dua dan pita kuning, mengangkat kedua tangannya padaku.
"Kakak, aku mau digendong boleh?"
"Kissy, jangan!" tegur temannya. "Dia bukan kakakmu!"
"Tapi aku mau digendong!"
Aku tak tega menolak. Kuangkat ia dengan satu lengan, ringan seperti seikat bunga. Ia menjerit senang dan melingkarkan tangannya di leherku.
"Ok siap? Ayo.....Berputar! Berputar!"
"Pegangan yang kuat!."
Aku berputar pelan, lalu lebih cepat. Rok kecilnya berkibar, dan tanpa sadar angin kecil di telapak tanganku ikut menari. Kelopak-kelopak bunga dari bedeng terangkat, melayang naik dalam pusaran lembut mengelilingi kami, merah muda, putih, dan kuning berputar seperti hujan terbalik.
"Wooooaaah!" Anak-anak itu bertepuk tangan. Kissy tertawa melengking di telingaku, tawa paling jernih yang pernah kudengar sejak langit retak.
Aku tertawa juga, lepas, tanpa beban, dan untuk sesaat aku lupa semua nama entitas dan peta di balik jubahku.
"KISSY!"
Sebuah suara memanggil dari kejauhan, jernih dan cukup tegas untuk menghentikan pusaranku.
Aku berhenti berputar. Kelopak bunga berjatuhan perlahan di sekeliling kami. Di ujung jalan, di bawah lengkung mawar, berdiri seorang gadis.
Usianya mungkin seumur denganku. Rambut hitamnya panjang, sebagian diikat ke belakang dengan pita merah tua, dan beberapa helai tertiup angin menutupi pipinya. Ia mengenakan kimono pendek berwarna putih gading dengan sabuk biru tua, dan di pinggangnya terselip sebilah katana bersarung hitam mengilap. Kulitnya pucat, matanya cokelat tajam, dan ketika matanya menatapku, ada sesuatu yang membuat napasku macet sebentar.
"Kakak!" Kissy meronta dari gendonganku dan meluncur turun. Ia berlari memeluk kaki gadis itu. "Aku digendong Kakak itu! Kami berputar!"
"Ya, aku lihat kok." Gadis itu membungkuk dan mengusap kepala Kissy. Lalu ia menegakkan badan dan berjalan menghampiriku. Gerakannya ringan, nyaris tanpa suara, bahkan di atas batu kerikil.
"Maaf ya..kalau adikku merepotkan," katanya. Suaranya lembut, tapi tegas di ujungnya. "Terima kasih sudah menjaganya."
"Ah...Tidak merepotkan sama sekali kok," jawabku. Suaraku terdengar seperti orang lain. "Mereka... Sepertinya terlihat bersenang senang"
"Oh ya, salam kenal, namaku Ara. Aku seorang Ranger Reflower. Role ku assassin."
Aku menatap lencana delapan sudut di dadanya. Di bawahnya, seperti milikku, ada lambang pangkat. Bukan pemula. Bukan master. Aku tak yakin.
"Aku dibesarkan di sini," lanjutnya, "sama Pilar Insting yang bertugas menjaga lembah ini."
Pilar Insting. Dadaku berdesir. Cerita Iyan melintas di benakku: orang dengan naluri tempur paling tajam di korps, pembaca gerak musuh, pembunuh lima ratus tujuh puluh kroco dan satu entitas. Apakah Ara muridnya? Dan apakah itu berarti...
Haris.
Aku menelan ludah. "Salam kenal juga namaku Arka," ucapku. "Aku seorang pengembara dari selatan. Dan... ranger juga. Pemula."
"Pemula?" Alisnya naik. "Tapi kamu punya kekuatan elemen. Angin tadi bukan angin biasa."
Aku terkejut ia menyadarinya. "Kamu tau darimana?"
"Tadi aku lihat kelopak bunga itu menari lebih dari seharusnya." Ia tersenyum kecil. "lalu role-mu apa?"
"Aku seorang Fighter." Aku menepuk gagang pedangku.
"aku sedang bertugas mencari lima batu akik untuk mengumpulkan delapan kristal."
Ekspresi Ara berubah seketika.
Matanya melebar. Senyum tipisnya lenyap, digantikan keterkejutan murni. Katana di pinggangnya bergeser sedikit karena ia refleks menegakkan tubuh.
"Lima batu akik?" ulangnya pelan, hampir berbisik. "Kamu... ditugaskan untuk itu?"
"Iya, Oleh Kak Cecilia. Pilar dari Sendira." Aku merogoh jubahku sedikit, memperlihatkan ujung peta tua dan kantung kulit tempat batu merah itu tersimpan. "Satu sudah kami dapatkan di Artheria, bersama satu kristal. Aku datang untuk mencari yang keduanya."
Ara terdiam lama. Kissy menengadah, bingung menatap kakaknya. Dari balik rambutku, Vivi mengintip dan berkata tanpa suara: dia kaget banget.
"Tak kusangka," gumam Ara akhirnya. "Aku tahu soal batu akik. Tapi aku pikir hanya sedikit orang saja yang tahu, dan tak seorang pun ditugaskan mengumpulkannya. Sudah bertahun-tahun kami hanya menjaganya." Ia menatapku dengan sorot baru, bukan lagi sorot seorang ranger yang menilai orang asing, melainkan seseorang yang tiba-tiba melihat harapan.
Ara menarik napas panjang. Ia menunduk, mengelus rambut Kissy, lalu menatap dua temannya yang masih berdiri melongo. "Kissy, tolong kembali ke rumah. Bilang Ibu Rumi aku akan pulang agak malam."
"Tapi Kakak...."
"Tidak ada tapi."
Ketiga anak itu cemberut, tapi menurut. Kissy melambai padaku dengan kedua tangan sampai ia hilang di tikungan jalan, kepangnya melompat-lompat. Aku membalas lambaiannya dengan senyum yang tak bisa kutahan.
Ara menunggu sampai mereka menjauh, lalu menoleh. "Ayo ikut aku."
"Ke mana?"
"Ke jinfa."
Aku mengerjap. "Apa itu?"
"Itu sebuah rumah singgah sekaligus tempat latihan para ranger di lembah ini," jelasnya sambil mulai berjalan, dan aku mengikutinya. "Di sana kamu bisa istirahat, makan, dan berbicara dengan tenang. Tempat berlatih kekuatan dan kemahiran juga ada. Kalau kamu benar-benar sedang mengumpulkan batu akik, kamu harus tahu apa yang ada di lembah ini, dan apa yang mungkin sedang mengintai."
Aku menyejajarkan langkahku dengannya. Kelopak-kelopak bunga masih berjatuhan pelan di antara kami, jatuh di bahunya, di rambutku, di atas batu jalan.
"Lalu soal pilar Insting," kataku hati-hati, "dia ada di jinfa itu?"
Ara menoleh sekilas, matanya menyimpan sesuatu yang tak kupahami. "Iya Kamu nanti akan bertemu dengannya."
"kamu tau namanya?"
Ara berbalik ke arah arka sambil meletakkan jari telunjuknya di bibir arka.
"Sssttt...Rahasia....," potongnya halus. "Kamu akan tahu sendiri nanti"
Vivi berbisik di telingaku, "Hei, kamu merasa dia misterius tidak?"
"Biasa saja, Ah." bisikku balik.
Kami berjalan melewati lorong-lorong bunga yang makin sepi. Di kejauhan, di ujung distrik, kulihat sebuah bangunan kayu panjang beratap melengkung dengan halaman luas berpasir putih. Beberapa orang sedang berlatih di sana, ayunan pedang mereka memantulkan sinar matahari pagi.
Aku menarik napas dalam. Wangi bunga bercampur dengan debu latihan, dan entah kenapa rasanya mirip aroma halaman latihan di selatan yang dulu kutinggalkan.
Aku belum tahu apakah Ara adalah kawan atau kunci menuju Haris. Yang kutahu hanya satu: di lembah yang tenang ini, sesuatu menunggu, dan aku sudah tidak sendirian menghadapinya.