Sebuah kisah tentang dua dunia yang berpijak pada bumi yang sama, antara kehidupan moderen dan primitif yang akhirnya akan bersatu karena Cinta dua manusia yang saling bertemu dalam gelombang ketidak sengajaan.
Kisah dengan semua yang bercampur aduk, antara logika, cita-cita, cinta dan perburuan yang seru dan menegangkan, degan bumbu tawa yang tak disengaja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DIFAN2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Lenyap
Sesudah melangkahi pita merah, dunia di sekitar Hera seakan mendadak kehilangan suara angin. Rasa hangat yang tadi menjalar di tubuhnya kini berubah menjadi aliran adrenalin yang deras.
Di depannya, ratusan Dream Flower berpendar begitu terang. Cahaya ungu dengan tepian emas murni dari kelopak bunga-bunga itu menciptakan bayangan yang menari-nari di atas tanah merah.
Aroma manis yang mistis kian pekat menusuk hidung. Bau cendana campur madu hutan itu tidak lagi hanya terhirup, tapi seolah mulai meresap ke dalam pori-pori kulitnya.
Otak ilmuwan Hera bekerja cepat. Dia melepaskan tas ransel kecilnya dengan tergesa-gesa, lalu berlutut di tengah hamparan bunga yang menyala.
"Luar biasa, ini benar-benar laboratorium alam yang paling sempurna," gumam Hera dengan napas yang memburu. Matanya berbinar penuh antusiasme.
Dia mengeluarkan pisau bedah steril dan beberapa kantung aluminium foil dari dalam tasnya. Dengan gerakan tangan yang sangat presisi, dia mulai memotong tangkai Dream Flower pertama. Begitu pisau tipis itu menyentuh batang bunga, setitik cairan kental berwarna ungu terang keluar dari penampang batangnya, memancarkan aroma manis yang membuat kepalanya semakin melayang ringan.
"Satu dua tiga." Hera menghitung dengan suara berbisik. Setiap kali satu bunga berpindah ke dalam kantung sampelnya, hatinya bersorak.
Dia membayangkan wajah ibunya, Soraya. Dia membayangkan sel-sel kanker di otak ibunya yang akan menyusut dan mati setelah disuntikkan formula dari ekstrak bunga ini.
"Profesor Hera! Anda di mana?!"
Samar-samar dari arah belakang, suara teriakan Baskara memecah keheningan. Suaranya terdengar seperti teredam oleh dinding air yang tebal, jauh dan tidak jelas.
Hera menoleh sekilas ke arah datangnya suara, namun tangannya tidak berhenti memetik. Watak keras kepalanya kembali memegang kendali penuh.
"Tanggung. Sebentar lagi, Baskara. Aku butuh sampel yang cukup untuk cadangan ekstra di laboratorium kota. Tiga menit lagi aku akan berbalik."
Dia merangkak lebih maju, terpikat oleh sekumpulan Dream Flower yang berukuran jauh lebih besar di dekat akar sebuah pohon.
Bunga-bunga itu tampak lebih matang, dengan pendaran emas di tepian kelopaknya yang berdenyut lebih kuat. Hera memotong batangnya dengan antusias yang meluap-luap. Tangannya bergerak cekatan, memasukkan bunga demi bunga hingga kantung aluminium di genggamannya hampir penuh.
"Ini sudah lebih dari cukup," ucap Hera akhirnya, mengembuskan napas lega. Dia menyeka keringat dingin yang mulai muncul di dahinya dengan punggung tangan.
Hera memasukkan kembali kantung sampel dan pisau bedahnya ke dalam ransel. Dia menutup ritsleting tas dengan cepat, lalu menyampirkannya kembali ke kedua pundaknya.
Setelah membetulkan posisi jaket gunungnya, Hera berdiri dan menepuk-nepuk lututnya yang kotor oleh tanah basah.
"Baskara! Yudha! Aku sudah selesai! Aku kembali sekarang!" seru Hera dengan kelantangan seorang profesor yang merasa telah memenangkan perdebatan panjang.
Hera membalikkan badannya secepat mungkin, bersiap untuk melangkah mundur melewati garis pita merah dan kembali ke area kamp yang aman. Namun, begitu matanya menatap ke arah depan—atau yang dia yakini sebagai arah belakang tempatnya datang tadi—jantungnya mendadak berhenti berdetak selama satu ketukan.
Dua pohon raksasa yang menjadi tiang pembatas itu tidak ada di sana.
Hera mengerjapkan matanya berulang kali, mengira pandangannya kabur karena efek aroma mistis bunga yang pekat.
Dia menggosok lensa matanya dengan kasar, lalu menatap lurus ke depan lagi. Nihil. Dua batang pohon masif sewarna arang yang tadi mengapit jalan masuknya telah lenyap tak berbekas.
Dan yang paling mengerikan, kain pita merah tebal yang baru saja dia langkah beberapa menit lalu sama sekali tidak terlihat di mana pun.
Di depannya kini hanya membentang kegelapan yang sangat pekat, seperti tembok hitam pekat yang padat.
Kabut Alas Purba di sekelilingnya bergerak memutar dengan cepat, naik dari permukaan tanah dan menelan sisa-sisa jejak langkah kaki sepatu botnya.
Kepanikan awal langsung menghantam dada Hera seperti godam besar. Rasa hangat dan euforia yang sejak tadi menemaninya menguap dalam sekejap, digantikan oleh rasa dingin yang luar biasa mencekik.
"Tidak, tidak, ini tidak logis," bisik Hera, suaranya mulai bergetar. Dia mundur satu langkah, namun kakinya justru menginjak semak berduri yang asing.
"Aku baru berjalan tidak lebih dari lima meter dari garis pembatas. Pohon sebesar itu tidak mungkin berpindah tempat dalam waktu lima menit!"
Hera memutar tubuhnya ke kanan, lalu ke kiri, mencoba mencari sudut pandang yang familier. Namun, ke mana pun dia memandang, topografi hutan di sekitarnya telah berubah total.
Pohon-pohon di sekelilingnya kini memiliki bentuk ranting yang meliuk-liuk aneh, tampak seperti jemari kurus raksasa yang siap mencengkeramnya dari atas langit.
"Baskara! Yudha! Kevin!" teriak Hera dengan suara yang naik satu oktav. Kali ini, tidak ada lagi nada tegas seorang profesor. Yang ada hanya suara seorang wanita yang sedang didera ketakutan luar biasa.
"Kalian di mana?! Aku di sini! Tolong jawab aku!"
Hutan itu tidak memberikan jawaban. Keheningan yang tercipta terasa sangat tidak wajar, seolah-olah seluruh suara di dunia modern telah diputus secara paksa.
Bahkan gema suaranya sendiri tidak terdengar memantul, melainkan langsung lenyap ditelan kegelapan di sekelilingnya.
Hera meraba saku jaketnya dengan tangan yang bergetar hebat. Dia mengeluarkan senter taktis kecil miliknya. Dengan jempol yang gemetar, dia menekan tombol daya. Klik.
Lampu senter itu menyala, mengeluarkan berkas cahaya putih yang kuat. Namun, keanehan kembali terjadi.
Cahaya senter itu hanya mampu menembus udara sejauh satu meter di depannya, sebelum ujung cahayanya mendadak terpotong oleh kegelapan, seakan-akan kegelapan di tempat itu adalah benda padat yang tidak bisa ditembus oleh partikel cahaya buatan manusia.
"Apa yang terjadi dengan ruang di sini?" gumam Hera, napasnya memburu dan pendek-pendek. Keringat dingin kini benar-benar membasahi seluruh punggungnya di balik jaket gunung.
"Medan magnet, fluktuasi medan magnet yang dibilang Kevin tadi!"
Hera teringat peringatan Kevin tentang distorsi energi lingkungan.
Otak ilmiahnya mencoba mencari penjelasan rasional, Mungkin aku terperangkap di dalam kantung udara dengan tingkat kelembapan ekstrem yang membiaskan cahaya dan suara secara tidak normal. Namun, jauh di dalam lubuk hatinya, watak keras kepala yang selama ini membanggakan logika sainsnya mulai goyah.
Dia melihat ke bawah, ke arah kakinya. Karpet Dream Flower yang tadi menyala benderang kini perlahan-lahan mulai meredup, kelopaknya menutup satu demi satu seiring berjalannya waktu melewati tengah malam, dan membuat Hera semakin bertambah panik saat ini.
Dan sekali lagi, dengan wajah serius Hera memusatkan penglihatannya, barangkali sesaat tadi jalan pulangnya tertutup kabut, tapi nyatanya masih sama, jalan kembali seperti lenyap begitu saja.