NovelToon NovelToon
Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Mahkota Bunga Dan Bayangan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: AZKA DINARA

Di tengah kemegahan Kekaisaran Langit Permata, di mana kekuasaan berpadu dengan tradisi kuno dan setiap langkah selalu diawasi, lahirlah kisah cinta yang tumbuh perlahan, lembut namun kokoh seperti akar pohon tua yang menjalar dalam tanah.

Liān Huā, putri cerdas dan berjiwa bebas dari keluarga pejabat terpercaya, dipindahkan ke ibu kota bersama keluarganya. Berbeda dari wanita-wanita istana yang berusaha tampil sempurna dan menuruti segala aturan, dia tetap menjaga ketulusan hati dan keberaniannya — sifat yang justru membuatnya menarik perhatian Kaisar Yuán Zhēn, penguasa yang dikenal dingin, tegas, dan tak tergoyahkan oleh siapa pun.

Di mata rakyat dan pejabat, Yuán Zhēn adalah kaisar yang hebat dan jauh. Namun di balik wajah berwibawa itu, tersembunyi hati yang kesepian dan rindu pada kehangatan sejati. Pertemuan pertamanya dengan Liān Huā mengubah segalanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AZKA DINARA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

HALAMAN TERAKHIR YANG DIHAPUS

Fajar baru saja menyingsing ketika Yuán Zhēn memanggil seluruh pengawal ke ruang pemeriksaan istana.

Surat dengan cap merah milik mendiang Kaisar terletak di atas meja. Di sampingnya, separuh gelang giok yang dibawa pemuda dari rumah tua itu memantulkan cahaya matahari.

Yuán Zhēn belum tidur semalaman.

Ada terlalu banyak pertanyaan yang kini saling bertautan. Siapa yang memerintahkan pembuatan gelang itu? Mengapa nama Liān Huā dihapus dari catatan kerajaan? Dan siapa perempuan berkerudung yang diam-diam menyimpan buku rahasia ayahnya?

“Lù Shān,” panggilnya.

Lù Shān segera melangkah maju.

“Temukan semua catatan tentang orang-orang yang bekerja di ruang kelahiran Paviliun Han Mei pada malam itu. Aku ingin mengetahui siapa yang masih hidup, siapa yang menghilang, dan siapa yang namanya sengaja dihapus.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Jangan hanya mencari nama Guān Shí. Cari juga orang yang pernah bekerja bersamanya.”

Lù Shān mengangguk, lalu meninggalkan ruangan.

Yuán Zhēn baru hendak menyimpan gelang giok ketika seorang pengawal datang membawa laporan.

“Yang Mulia, Nyonya Yún Róng meminta izin untuk menghadap. Katanya, ia menemukan sesuatu yang berkaitan dengan buku rahasia mendiang Kaisar.”

Yuán Zhēn mengangkat pandangan.

“Persilakan masuk.”

Tak lama kemudian, Yún Róng tiba dengan sebuah kotak kayu kecil di tangannya. Wajahnya tampak lebih tegang daripada biasanya.

“Aku mendengar tentang gelang yang ditemukan semalam,” katanya setelah memberi hormat. “Jika benda itu benar-benar berasal dari Paviliun Han Mei, maka kita harus segera menemukan buku catatan yang dahulu disimpan oleh Guān Shí.”

“Kau tahu tentang buku itu?” tanya Yuán Zhēn.

“Aku tidak pernah melihatnya secara langsung. Namun, bertahun-tahun lalu, seseorang pernah memberitahuku bahwa Guān Shí membuat salinan dari perjanjian kerajaan. Salinan itu berisi keterangan tentang dua bayi yang lahir pada malam yang sama.”

Yún Róng meletakkan kotak kayu di atas meja.

“Dan menurut pesan yang kuterima, buku tersebut memiliki satu halaman terakhir yang berbeda dari halaman lainnya.”

Yuán Zhēn membuka kotak itu.

Di dalamnya terdapat selembar kain tua dengan tulisan yang hampir pudar.

Nama bukanlah bukti siapa yang berhak memerintah. Darah bukanlah alasan untuk merampas kehidupan seseorang.

Yuán Zhēn membaca kalimat itu dua kali.

“Siapa yang menulisnya?”

Yún Róng menunduk.

“Aku tidak tahu. Tetapi kain ini ditemukan di tempat Guān Shí terakhir kali terlihat.”

“Kalau begitu, mengapa kau baru membawanya sekarang?”

Pertanyaan itu membuat Yún Róng terdiam.

“Ada hal yang belum berani kukatakan, Yang Mulia.”

Yuán Zhēn menatapnya tajam.

“Katakan sekarang.”

Yún Róng mengangkat wajahnya.

“Guān Shí tidak menghilang sendirian. Pada malam ia pergi, seseorang dari keluarga kerajaan menemaninya.”

“Siapa?”

“Aku hanya mengetahui gelarnya.”

Yún Róng menarik napas dalam-dalam.

“Orang itu adalah seorang putri yang namanya tidak lagi tercatat dalam silsilah kerajaan.”

---

Di Paviliun Han Mei, Liān Huā sedang berbicara dengan ibunya ketika berita itu sampai.

Putri Ning mendengarkan penjelasan Yún Róng tanpa menyela. Namun, semakin lama ia mendengar, semakin jelas kegelisahan terlihat di wajahnya.

“Seorang putri yang namanya dihapus?” ulang Liān Huā. “Apakah mungkin ada orang lain yang mengalami hal yang sama denganku?”

Putri Ning menggenggam tangannya.

“Keluarga kerajaan menyimpan banyak rahasia, Nak. Tidak semua orang yang dihapus dari catatan telah meninggal. Ada yang sengaja disembunyikan untuk melindungi mereka. Ada pula yang dihilangkan agar orang lain dapat mempertahankan kekuasaan.”

“Apakah Ibu mengenal putri itu?”

Putri Ning menggeleng perlahan.

“Aku mengenal semua saudara perempuan ayahmu. Tetapi ada satu nama yang dilarang disebut setelah kematian Kaisar sebelumnya.”

Liān Huā menunggu.

“Putri Yǎn.”

Nama itu terdengar asing, tetapi entah mengapa membuatnya merasa tidak nyaman.

“Siapa dia?”

“Adik perempuan mendiang Kaisar. Ia dikenal sangat dekat dengan para pencatat kerajaan. Setelah sebuah perselisihan besar di istana, namanya tidak pernah lagi muncul dalam catatan resmi.”

Liān Huā terkejut.

“Jadi, dia mungkin masih hidup?”

“Mungkin,” jawab Putri Ning. “Namun, kita tidak boleh menganggapnya sebagai sekutu sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.”

Saat itu, Xiǎo Yàn datang membawa secangkir teh.

“Ampun, Putri. Ada seorang pelayan istana yang menunggu di luar. Ia berkata membawa pesan khusus untuk Anda.”

Liān Huā saling pandang dengan ibunya.

“Siapa namanya?”

“Dia tidak mau menyebutkan nama. Katanya, pesan itu hanya boleh dibaca oleh orang yang mengenakan liontin giok Paviliun Yún.”

Liān Huā langsung berdiri.

“Bawa dia masuk.”

Beberapa saat kemudian, seorang pelayan muda datang membawa amplop putih. Ia membungkuk dalam-dalam, meletakkan amplop itu di meja, lalu segera mundur.

Liān Huā membuka surat tersebut.

Hanya ada satu kalimat di dalamnya.

Jangan percaya kepada orang yang menyebut dirinya Putri Yǎn.

Di bagian bawah surat terdapat gambar kecil berupa bunga teratai dengan satu kelopak yang sengaja dihitamkan.

Wajah Putri Ning seketika berubah.

“Dari mana kau mendapatkan surat ini?” tanyanya kepada pelayan muda itu.

Namun, pelayan tersebut tampak kebingungan.

“Saya hanya diperintahkan menyerahkannya, Yang Mulia. Orang yang memberikannya mengenakan pakaian pengawal istana.”

“Apakah kau melihat wajahnya?”

“Tidak, Yang Mulia.”

Putri Ning menyuruh Xiǎo Yàn membawa pelayan itu keluar dan meminta pengawal memeriksa siapa yang mengirimnya.

Setelah mereka pergi, Liān Huā menatap ibunya.

“Ibu, siapa yang harus kita percayai sekarang?”

Putri Ning tidak segera menjawab.

“Untuk sementara, percayalah pada bukti. Bukan pada gelar, bukan pada lambang, dan bukan pula pada seseorang hanya karena ia mengaku ingin menolong kita.”

Liān Huā memandangi surat itu sekali lagi.

Seseorang telah mengetahui bahwa mereka sedang menyelidiki Putri Yǎn.

Dan orang itu jelas tidak ingin mereka menemukannya.

---

Menjelang siang, Yuán Zhēn menerima kabar dari Lù Shān.

“Aku menemukan satu nama dalam catatan lama, Yang Mulia. Seorang penjaga arsip bernama Fāng Démíng. Ia bertugas bersama Guān Shí pada malam kelahiran dua bayi itu.”

“Di mana dia sekarang?”

“Menurut catatan, ia dipindahkan ke kediaman tua di sebelah barat ibu kota. Namun, perpindahan itu tidak pernah disertai surat perintah resmi.”

Yuán Zhēn berdiri.

“Siapkan kereta. Kita akan pergi sendiri.”

“Yang Mulia, perjalanan ini mungkin berbahaya.”

“Itulah alasan aku tidak ingin terlalu banyak orang mengetahuinya.”

Sebelum berangkat, Yuán Zhēn memutuskan untuk menemui Liān Huā.

Ia menemukan Liān Huā di taman Paviliun Han Mei, sedang memegang surat misterius yang baru diterimanya.

“Aku baru saja menemukan saksi lain,” kata Yuán Zhēn. “Namanya Fāng Démíng. Ia mungkin mengetahui siapa yang mengubah catatan kelahiran.”

Liān Huā menunjukkan surat itu kepadanya.

“Kalau begitu, kita juga harus mencari Putri Yǎn.”

Yuán Zhēn membaca pesan tersebut dengan wajah serius.

“Siapa pun yang mengirim surat ini ingin membuat kita takut kepadanya.”

“Atau memperingatkan kita karena ada bahaya yang belum kita ketahui.”

Yuán Zhēn mengembalikan surat itu.

“Kau benar. Kita akan menyelidikinya, tetapi kita tidak akan bertindak terburu-buru.”

Liān Huā menatapnya.

“Yuán Zhēn, jika suatu hari kebenaran tentang kelahiran kita ternyata mengubah semua yang kita ketahui, apakah kau akan tetap mempercayai bukti?”

Yuán Zhēn terdiam sejenak.

“Aku adalah Kaisar karena aku menerima tanggung jawab untuk memimpin kerajaan. Aku tidak ingin mempertahankan takhta dengan mengorbankan kebenaran.”

Ia menatap Liān Huā dengan sungguh-sungguh.

“Jika ada kesalahan yang dilakukan atas namaku, aku harus mengetahuinya. Bahkan jika jawabannya tidak menyenangkan.”

Untuk pertama kalinya hari itu, Liān Huā merasa sedikit tenang.

Mereka belum menemukan seluruh kebenaran. Namun, setidaknya mereka sepakat bahwa kebenaran tidak boleh dikubur demi mempertahankan kekuasaan.

---

Sore harinya, di sebuah kediaman tua di sebelah barat ibu kota, seorang lelaki berambut putih duduk sendirian di depan rak buku.

Namanya Fāng Démíng.

Ketika mendengar ketukan di pintu, ia segera menyembunyikan sebuah buku tipis ke dalam laci meja.

“Siapa?”

“Utusan istana,” jawab seseorang dari luar.

Fāng Démíng tidak bergerak.

“Aku tidak menerima tamu.”

Suara di luar kembali terdengar.

“Kami datang membawa pesan dari Kaisar.”

Lelaki tua itu memejamkan mata. Ia tahu bahwa hari yang selama puluhan tahun ditakutinya akhirnya tiba.

Ia membuka pintu sedikit.

Namun, orang yang berdiri di hadapannya bukanlah pengawal kerajaan.

Seorang perempuan mengenakan jubah berwarna gelap berdiri di ambang pintu. Wajahnya tertutup kerudung tipis. Pada jarinya terpasang cincin berlambang kerajaan.

Fāng Démíng langsung berlutut.

“Yang Mulia…”

Perempuan itu masuk tanpa menunggu undangan.

“Apakah kau masih menyimpan salinan perjanjian tersebut?”

Fāng Démíng tidak menjawab.

Perempuan itu melirik ke arah meja.

“Aku tidak datang untuk mengulang kesalahan masa lalu. Aku datang untuk memastikan bahwa kerajaan tidak runtuh karena kebenaran yang disampaikan pada waktu yang salah.”

“Namun, jika kebenaran terus disembunyikan, kesalahan itu akan terus berlanjut.”

Perempuan itu berhenti melangkah.

“Kau masih sama seperti dahulu, Fāng Démíng. Selalu mengira bahwa kejujuran dapat menyelesaikan segala sesuatu.”

“Dan Anda masih mengira bahwa kebohongan dapat melindungi semua orang.”

Untuk sesaat, tidak ada suara di antara mereka.

Kemudian perempuan itu mengangkat kerudungnya.

Fāng Démíng menunduk semakin dalam. Wajahnya tampak pucat ketika mengenali sosok yang selama ini dianggap hanya tinggal nama dalam sejarah kerajaan.

Perempuan itu adalah Putri Yǎn.

Adik perempuan mendiang Kaisar.

“Berikan buku itu,” katanya.

Fāng Démíng menggeleng.

“Tidak sebelum saya mengetahui apa yang terjadi pada dua anak itu.”

Putri Yǎn menatapnya lama.

“Kalau begitu, kau harus mengetahui satu hal terlebih dahulu.”

Ia mendekat dan berbisik, membuat lelaki tua itu membeku di tempat.

“Buku yang sedang dicari Yuán Zhēn bukanlah satu-satunya salinan perjanjian kerajaan.”

Putri Yǎn tersenyum tipis.

“Dan salinan yang asli masih berada di tangan orang yang paling dipercaya oleh Kaisar.”

Di luar kediaman, suara roda kereta mulai terdengar mendekat.

Yuán Zhēn dan Lù Shān akhirnya tiba.

Namun, sebelum mereka sempat mengetuk pintu, Putri Yǎn menghilang melalui lorong belakang, meninggalkan sebuah benda di atas meja.

Sebuah gelang giok utuh.

Pada permukaannya terukir dua nama yang selama puluhan tahun dipisahkan oleh rahasia kerajaan.

Yuán Zhēn dan Liān Huā.

Dan di balik kedua nama itu, terdapat satu kalimat yang belum pernah dibaca siapa pun:

Anak yang dipilih untuk menerima takhta bukanlah anak yang pertama kali diberi nama.

1
🙈
Semangat nulisnya kak🤭. Yuk mampir di novel akuuhhh🤭
AZKA DINARA: iya terimakasih saling support ya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!