NovelToon NovelToon
Kembalinya Sang Putri Asli "Dendam Sang Alkemis"

Kembalinya Sang Putri Asli "Dendam Sang Alkemis"

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi / Fantasi Wanita
Popularitas:14.3k
Nilai: 5
Nama Author: hofi03

Di balik kemegahan dan keagungan Kerajaan Veldora, tersimpan rahasia busuk yang menjijikkan. Kalyca, sang putri kandung yang sah, dibuang sejak bayi ke sebuah gubuk reot di pinggiran kota dan hidup dalam penderitaan. Sementara itu, gadis licik, Edelyn putri palsu yang merampas takhtanya, menikmati kemewahan istana.

Rasa sakit dan ketidakadilan, membuat jiwa lemah itu membangkitkan jiwa gelap dari seorang alkemis genius, berdarah dingin, yang sudah mati ribuan tahun yang lalu.

Di tengah misi balas dendam dan intrik berdarah di istana, takdir mempertemukannya dengan Grand Duke Erik Klaus, pria bermata tajam yang dijuluki sebagai dewa perang yang terkenal kejam pada musuh, namun menyimpan rahasia kelam.

“Ribuan tahun lalu, aku gagal melindungi mu. Kali ini, biarkan aku merobek dunia ini untuk membawamu pulang...”

~Grand Duke Erik Klaus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MULAI CURIGA

Erik sedari tadi terus curi-curi pandang dan melirik ke arah Kalyca, meskipun tabib misterius itu tampak berdiri tenang, Erik dapat menangkap sorot mata yang begitu tajam dan dingin memandang pintu kamar Edelyn, seolah menyimpan dendam kesumat yang teramat dalam, ada sesuatu dari gerak-gerik tabib itu yang terus memancing rasa penasarannya.

"Siapa tabib ini sebenarnya?" batin Erik, mulai curiga.

"Nikmati saja rasa ketakutan itu di dalam sangkar emasmu, Edelyn," batin Kalyca tajam.

Erik menyipitkan matanya, menatap tajam ke arah gadis bercadar itu, yang entah kenapa sejak kedatangannya tadi, seperti ada sesuatu yang familiar.

"Tabib," panggil Erik dengan suara baritonnya yang berat dan dingin.

Kalyca yang tadinya masih menatap nanar ke arah pintu kamar Edelyn langsung tersadar, dia menoleh perlahan, menyembunyikan debaran jantungnya di balik ekspresi datarnya.

"Ada apa, Yang Mulia Grand Duke?" tanya Kalyca tenang, sengaja membuat suaranya terdengar serak.

"Anda sepertinya tidak terlihat terkejut sama sekali dengan apa yang baru saja terjadi," ucap Erik menyelidik.

"Bahkan bagi seorang tabib kelana, reaksi mu terlalu dingin menghadapi intrik istana sebesar ini," lanjut Erik, menatap tajam mata Kalyca l.

Joel dan Gale yang berada tidak jauh dari sana ikut menoleh, menatap sang tabib dengan tatapan penuh tanya.

Kalyca mendengus pelan, sebuah senyuman tipis terukir di balik cadarnya.

"Hidup di luar istana ini jauh lebih kejam daripada apa yang Anda saksikan di dalam sini, Grand Duke," jawab Kalyca tanpa gentar sedikit pun.

"Di luar sana, pengkhianatan terjadi setiap detik, dan kematian adalah hal yang lumrah. Jadi, melihat seorang putri mahkota yang haus kekuasaan jatuh karena kebodohannya sendiri bukanlah pemandangan baru bagi saya," lanjut Kalyca, tenang tanpa merasa tertekan sedikit pun dengan aura Erik.

Erik terdiam sesaat, alis tebal pria itu semakin menukik tajam, kalimat itu, cara gadis itu berbicara, sama sekali bukan cara seorang tabib rendahan atau rakyat biasa menanggapi seorang bangsawan tinggi, ada ketegasan, kebencian yang tertahan, dan kecerdasan yang terpancar jelas dari setiap kata yang diucapkannya.

"Anda bicara seolah-olah sudah sangat mengenal watak Edelyn," desis Erik, mencoba memancing.

"Katakan, siapa sebenarnya yang mengajarimu cara meracik penawar racun kutukan darah itu? Buku-buku tentang kutukan itu sudah musnah selama puluhan tahun lalu," tanya Erik, semakin yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh tabib misterius itu.

Kalyca sedikit mendongak, menatap langsung ke dalam mata tajam sang Dewa Perang, entah hanya perasaan nya atau apa, Kalyca merasa sangat dekat dengan tatapan itu.

"Sadar Cassandra, tidak mungkin itu dia," batin Kalyca, menggeleng kan kepala nya.

Kalyca buru-buru, kembali mengembalikan kesadaran nya dan mengontrol mimik wajah nya, dia tahu dia harus berhati-hati, namun rasa bencinya pada Edelyn terkadang membuat emosinya hampir meluap, bagiamana selama ini Edelyn memperlakukan pemilik tubuh ini dengan sangat buruk dan keji.

"Ilmu tidak akan pernah benar-benar mati hanya karena buku-bukunya dibakar, Yang Mulia," jawab Kalyca dingin.

"Terkadang, sejarah yang terkubur justru bangkit kembali untuk menagih apa yang seharusnya dibayar lunas," lanjut Kalyca, dengan sorot mata yang begitu dingin.

Mendengar jawaban itu, Gale berbisik pelan kepada Joel di sampingnya.

"Panglima, aku merasa tabib itu benar-benar aneh, bahkan dia adalah orang pertama yang berani menatap mata Grand Duke langsung, dengan tatapan seberani itu," ucap Gale, pelan.

"Kamu benar, Gale, bahkan di hadapan Grand Duke Erik, dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut," jawab Joel mengangguk pelan, matanya juga menyipit menatap Kalyca.

Di waktu yang sama, di dalam gubuk reot yang terletak di tengah keheningan hutan terlarang, suasana malam terasa begitu dingin dan menyesakkan.

Seorang anita paruh baya berambut panjang kusut, yang tidak lain adalah Charlotte, ibu kandung Edelyn sekaligus penyihir hitam yang menguasai kutukan kuno, tengah duduk bersila di atas lantai tanah yang dingin.

Charlotte sedang memejamkan mata, merapalkan mantra penghubung untuk memantau aliran sihir hitam yang ada di tubuh Raja Veldora.

"Ukh...!"

Charlotte langsung tersentak hebat, kedua matanya yang sayu terbuka lebar, saat merasakan hantaman yang luar biasa di dalam dadanya.

Aliran energi hitam yang terhubung langsung dengan tubuh Raja Veldora tiba-tiba terputus secara paksa, membalikkan energi kutukan itu kembali ke arahnya.

Uhuk

Uhuk

Uhuk

Charlotte terhuyung ke depan, mencengkeram dadanya sendiri yang terasa terbakar panas, dia terbatuk-batuk, memuntahkan darah hitam.

"T-tidak mungkin...!" ucap Charlotte dengan napas tersengal-sengal, tubuhnya gemetar, sementara tangannya mengusap sisa darah hitam di dagunya.

Charlotte bisa merasakan dengan jelas bagaimana sihir hitam yang dia ciptakan dengan susah payah selama bertahun-tahun dihancurkan begitu saja oleh seseorang dalam hitungan detik, ikatan sihirnya hancur berkeping-keping, meninggalkan rasa sakit yang luar biasa di organ dalamnya.

"Sihirku, kutukan darah itu, berhasil dipulihkan?!" desis Charlotte penuh amarah, matanya membelalak lebar dengan urat-urat kemerahan yang menonjol di pelipisnya.

Kegagalan besar ini tidak hanya melukai fisiknya, tetapi juga menghancurkan rencana besar yang telah dia dan Edelyn susun selama belasan tahun.

"Keparat, siapa yang berani mencampuri urusanku di istana?!" geram Charlotte penuh kebencian.

Darah hitam yang masih menetes dari dagunya dibiarkan begitu saja, Charlotte bangkit dengan sempoyongan.

"Sialan..." geram Charlotte, matanya berkilat penuh amarah, menatap pantulan bayangannya sendiri di dalam cermin.

"Apakah tabib istana mendadak menemukan penawar legendaris? Tidak, tidak mungkin, ramuan itu mustahil diracik tanpa pengetahuan alkimia tingkat tinggi," batin Charlotte, dengan jantung berdebar kencang.

Dua teringat kembali pada Edelyn, putrinya yang sampai saat ini belum ada kabar.

"Edelyn, apa yang terjadi dengan anak bodoh itu, jangan sampai dia membocorkan semua nya," batin Charlotte, mengepalkan tangannya kuat.

"Aku tidak boleh tinggal diam dan menunggu kehancuran," desis Charlotte tajam, menyeka sisa darah hitam di bibirnya dengan punggung tangan yang gemetar.

Charlotte melangkah gontai ke sudut gubuk, membuka sebuah peti kayu tua berukir simbol-simbol kuno yang terkunci rapat, di dalam peti itu, tersimpan sisa serbuk kutukan berwarna kelam dan beberapa gulungan perkamen tua berisi ramuan terlarang.

Wanita paruh baya itu mengambil sebuah botol kecil berisi cairan pekat berwarna merah darah, lalu menggenggamnya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih, tatapan matanya berubah menjadi sangat dingin dan kejam.

"Jika sihir jarak jauh itu gagal, maka aku sendiri yang akan memastikan pria tua itu dan siapa pun yang mencoba ikut campur menemui ajalnya," bisik Charlotte penuh dendam.

"Dan akan aku pastikan, sampai hari kematian mereka nanti, mereka tidak akan pernah mengetahui bahwa putri kandung mereka bukan yang ada di istana itu," batin Charlotte, tersenyum miring, penuh percaya diri.

Charlotte tidak tahu saja, bahwa bayi yang dulu dia tukar dan buang, kini sudah menjadi seorang gadis cerdas dan cantik, yang siap merebut kembali milik nya yang telah dirampas.

1
Dessy Rinda
tggin up niihh kak thor😁🙏
Nawi
kenapa cuma 1 up nya thor nanggung
Tiara Bella
thor kurang....
kaylla salsabella
semoga gagal kabur nya
Nawi
cemungut thor lanjut 💪
TT: Jejaktinta14: terimakasih sayangggg 🫶🏻
total 1 replies
kaylla salsabella
sabar bentar lagi... ratu kamu tahu siapa kalyca
Anisa Tanjung
👍👍gas tor
kaylla salsabella
dia bukan lawan mu Joel
kaylla salsabella
seru..... lanjut
Heni Setiyaningsih
tetap sehat dan semangattt
makaci crazy up nya 😍👍
kaylla salsabella
semangat kalyca dan erik
kaylla salsabella
lanjut
Tiara Bella
kompaknya kalyca sm Erik....
Maria Lina
😍😍
Heni Setiyaningsih
/Heart/
Kusii Yaati
oalahhh pantes orang emak kandungnya edelyn ternyata seorang penyihir hitam pantes anaknya kayak Dajjal,...
Kusii Yaati
bukannya sadar akan kesalahannya semakin menjadi brutal iya.lagian aneh ibunya lembut ayahnya juga lembut hatinya nah anaknya kayak Mak Lampir suka teriak", kasar, sombong dan angkuh. di tes DNA aja biar tahu itu anaknya atau anak demit
Tiara Bella
wow makasih thor up nya banyak puas bngt bacanya.....
TT: Jejaktinta14: kembali kasih sayangggg
total 1 replies
kaylla salsabella
cari mati aja kamu carollita
kaylla salsabella
ratu alice terlalu lembek
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!