Sahabat ku bernama Fitriani Septian adalah seorang yang asik kita bersahabat dari kecil bermain bersama bersekolah bersama.
sampai setelah aku kelas 6 SD dan sahabat ku kelas 5 ada siswa baru di kelas 5
sahabatku mereka saling berkenalan dengan siswa baru bernama megiani satu hari itu mereka sudah sangat akrab.
dan hari demi hari sahabat ku yang pernah bersamaku kini dengan murid baru itu. kita jarang bertemu walau rumah kita saling dekat bahkan jika bertemu kita sudah asing tidak seperti dahulu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Priska Heriska, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kehormatan seorang bapak
Menjelang petang, terdengar suara derit pintu depan terbuka. Itu bapak.
Bapak berjalan pelan dengan langkah yang tampak begitu letih. Wajahnya yang legam terbakar matahari menyiratkan kelelahan yang luar biasa. Hari ini tidak ada panggilan borongan.
Bapak duduk di kursi teras, menyeka keringat di dahinya dengan handuk kecil yang sudah lusuh. Ibu segera datang membawakan segelas air putih hangat. Saat bapak merogoh saku celananya, beliau mengeluarkan beberapa lembar uang kertas yang sudah lecek dan beberapa uang receh.
"Hanya segini yang bapak dapat hari ini," bisik bapak suaranya parau dan bergetar, menyiratkan permohonan maaf karena tidak bisa membawa pulang uang lebih banyak.
Uang itu diletakkan di telapak tangan ibu. Jumlahnya bahkan mungkin tidak cukup untuk membeli beberapa bahan kebutuhan lainnya.
Melihat pemandangan itu dari balik tirai pembatas ruangan, pertahananku benar-benar runtuh. Air mata yang sejak siang ku tahan kini mengalir deras tanpa suara. Hatiku sesak melihat ketulusan dan rasa bersalah yang terpancar dari wajah bapak.
Beliau tidak membawa pulang materi yang banyak, tapi beliau membawa pulang kehormatan seorang ayah yang menolak untuk menyerah pada keadaan. Detik itu juga, reruntuhan uang lecek di tangan ibu menjadi pemandangan paling emosional yang pernah ku saksikan, sekaligus menjadi beban bakar yang membakar habis rasa malas di dalam diriku untuk berjuang mengubah nasib kami.
... Malam itu, di kamar berukuran tiga kali tiga meter yang menjadi saksi bisu segala keluh kesah kami, suasana mendadak sunyi. Ibu perlahan merapikan lembaran-lembaran uang lecek itu.
Aku dan kakak duduk bersila di samping ibu. Kami berdua terpaku, menatap jemari ibu yang bergetar namun penuh kehati-hatian. Air mata yang sempat menggenang di pelupuk mata ibu tidak dibiarkan jatuh. Beliau mencoba mengukir senyum paling tegar yang pernah kami lihat.
"Bapakmu," suara ibu mencegah keheningan, serak namun serat akan kebanggaan, "adalah laki-laki yang paling kaya yang pernah ibu kenal. Bukan karena uangnya, tapi karena harga dirinya yang tidak bisa dibeli oleh kemiskinan."
Kakak menunduk, meremas ujung bajunya sendiri. aku tahu, di dalam kepala kakak, badai tekad yang sama sedang bergemuruh. Bahan bakar yang baru saja disulut oleh perjuangan bapak telah membakar habis sisa-sisa rasa malas yang sempat mampir di pikiran kami.
kami tidak boleh kalah. Kami harus menjadi jalan bagi bapak dan ibu untuk beristirahat di masa tuanya nanti.
"Sudah", kata ibu tiba-tiba sambil menepuk pundak kami berdua bergantian. "jangan ditekuk begitu mukanya. Bapak kalian sudah berjuang, sekarang tugas kalian menyambutnya dengan bahagia. Yuk kita makan malam."
Kami bertiga keluar dari kamar menuju ruang tengah yang merangkap sebagai ruang makan. Di atas meja kayu yang kaki-kakinya sudah agak goyang, menu makan malam seadanya telah tersaji.
Hanya ada nasi hangat, semangkuk kecil sayur bening bayam sisa tadi siang, dan tempe goreng yang sengaja di bagi dua agar cukup untuk kami berempat. Tidak ada daging, tidak ada kemewahan. kami makan dalam diam yang khidmat. Setiap suapan nasi putih dan potongan kecil tempe berasa berkali-kali lipat lebih nikmat. Karena kamu tahu, setiap bulir nasi yang masuk kedalam Mulut kami malam ini terbayar tunai dengan tetesan keringat dan kehormatan seorang ayah yang menolak untuk menyerah.
Malam itu terasa begitu panjang, namun sekaligus sangat menyenangkan. Suara kunyahan kami yang pelan bersahut-sahutan dengan suara jangkrik di luar dinding rumah. Ibu menatap kami satu persatu dengan binar mata yang berkaca-kaca, seolah ingin memastikan bahwa anak-anaknya agar tidak lapar. Dibalik dalamnya, ada doa yang terus mengalir tanpa putus. Setelah piring-piring bersih tanpa sisa, kami menutup malam dengan segelas air putih hangat. Rasa syukur malam itu terasa begitu padat, mengisi hati kami yang sempat cemas, lalu kami terlelap dalam kebersamaan di dalam rumah yang sederhana.
Kelegaan setelah makan malam itu tidak langsung beranjak ke tempat tidur. Di sudut ruang tengah yang beralaskan tikar, sebuah baskom besar penuh berisi krupuk yang sudah di goreng ibu sebelumnya. Di sampingnya, tumpukan plastik bening berukuran kecil dan potongan ikat tali kecil telah disiapkan.
Malam makin larut, bapak dengan cekatan mulai mengambil segenggam krupuk, memasukkannya ke dalam plastik dengan ritme yang teratur. Memastikan setiap bungkusan krupuk bubur ayam memiliki porsi yang pas dan sama rata untuk dijual besok pagi. Sambil bekerja, bapak sesekali melontarkan candaan kecil yang membuat kami tertahan agar tidak tertawa terlalu keras, takut mengganggu tetangga sebelah.
Suara gesekan plastik krupuk dengan bisikan doa lirih ibu yang berharap agar dagangan bubur ayam besok laris manis. Rasa lelah kami digantikan kehangatan kebersamaan yang membuat ruang tengah rumah sederhana kami terasa begitu luas dan penuh harapan.
Keesokan harinya, hari Sabtu yang cerah
suasana rumah terasa berbeda karena kakak yang sudah SMA menikmati libur sekolahnya, sedangkan aku yang masih SMP harus tetap bersiap untuk berangkat. ketika aku terbangun bapak sudah pergi berjualan sejak pagi buta, membawa harapan baru di atas pundaknya, menolak kalah oleh rasa lelah yang belum tuntas dari hari kemarin.
Di dapur, ibu dan kakak sedang sibuk bersama. Kakak membantu ibu merapikan sisa-sisa bahan jualan bapak yang tertinggal, sementara ibu dengan telaten. aku berjalan menuju dapur lalu bersarapan meski hanya sisa potongan tempe kemarin dan teh hangat yang telah ibu buat.
Aku duduk di bangku kayu dekat meja makan, menikmati setiap kunyahan tempe goreng sisa semalam. Meski sederhana , teh hangat racikan ibu selalu punya cara tersendiri untuk membuat kehangatan yang menjalar hingga ke hati.
Ibu menoleh ke arahku, menyeka keringat di dahinya dengan ujung daster, lalu melempar senyuman hangat yang seolah menghapus seluruh baban di rumah ini.
"Habiskan tempenya, ibu sengaja sisakan buat kamu," kata ibu lembut, suaranya tenang seperti air mengalir.
Aku mengangguk, lalu mengangguk teh hangat ku sampai tandas "Bapak tadi berangkat jam berapa Bu?" tanyaku pelan.
"Bapak berangkat jam lima, sudah pergi cepat untuk keliling ke pasaran" jawab ibu.
kakak yang sedang mengikat kantong plastik mengangguk sambil tersenyum kecil.
Ibu berjalan mendekatiku, lalu tersenyum pelan melihat aku dan kakak.
"Bapakmu berpesan, belajar yang rajin, biar nasibmu enggak perlu memanggul berat seberat pundak bapak setiap subuh, setiap berkerja. Kalian berdua yang rajin."
Aku mengangguk patuh terhadap pesan bapak maupun ibu. Kata-kata ibu berdegup pelan dihatiku. Di atas meja yang sederhana ini, aku tahu bahwa setiap peluh bapak dan ibu adalah kunci utama bagi impian-impianku yang sedang tumbuh.
Selesai bersarapan aku merapikan tas ransel usang. "Aku berangkat sekolah ya, bu," ucapku pelan.
Kakak berdiri di ambang pintu sambil memegang cangkir berisi teh hangatnya. Ia tersenyum tipis, matanya menyiratkan dukungan penuh meskipun ia harus tinggal di rumah hari ini karena SMA libur.
"Hati-hati di jalan. Belajar yang benar" pesan kakak mengingatkan.
"Iya, jaga rumah ya," jawabku.
Aku melangkah keluar halaman rumah. Udara pagi terasa sejuk menyentuh kulit. Bayangan bapak yang memanggul beban berat setiap subuh, ibu yang tak pernah letih dalam pekerjaan. Terbayang kembali di mataku. Langka kakiku terasa lebih mantap dari biasanya. pesan ibu menjadi tenaga baru yang mendorongku untuk terus berjalan menelusuri jalan menuju sekolah.
pokoknya harus Sampek ending