*𝘿𝙚𝙬𝙖 𝘼𝙡𝙠𝙚𝙢𝙞𝙨 𝙎𝙚𝙢𝙗𝙞𝙡𝙖𝙣 𝘽𝙚𝙣𝙪𝙖 𝙎𝙚𝙖𝙨𝙤𝙣 𝘿𝙪𝙖*
Ini adalah kisah Lin Xuan Sang Dewa Alkemis yang tidak sengaja bertemu dengan musuh terkuatnya Mo Xie, dua orang dari alam bawah yang tanpa sengaja terjerumus ke alam semesta yang jauh lebih tinggi.
Namun, mereka segera menyadari bahwa gelar agung, bahkan kekuasaan yang dianugerahkan oleh para Dewa dan Iblis Kuno bukanlah berkah, melainkan umpan untuk memelihara tubuh mereka hingga matang sebelum akhirnya dijadikan santapan.
Alih-alih terus saling membunuh, dua anomali ini akhirnya mengesampingkan permusuhan mereka untuk sementara.
Sebab sebelum menentukan siapa yang akan mati di tangan siapa, mereka sepakat melakukan satu hal terlebih dahulu...
Membantai para dewa serta iblis munafik dan membuat seluruh Alam Tinggi berlumuran darah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3: Bintang Kuno
Menyerap Qi dari Sembilan Benua bagaikan meminum air dari mata air jernih.
Namun menyerap energi langsung dari Kristal Asal di Alam Primordial terasa seperti menelan bintang yang sedang meledak.
Saat telapak tangan Lin Xuan menyentuh permukaan kristal raksasa itu, energi kuno yang buas seketika menerobos masuk ke dalam tubuhnya.
Ini bukan Qi yang telah ditempa oleh langit dan bumi.
Ini adalah tenaga murni yang mengandung kehendak penciptaan dan kehancuran.
Hanya dalam tiga tarikan napas, kulit lengan kanan Lin Xuan mulai retak. Darah perak keemasan mengalir dari pori-porinya sebelum menguap akibat panas yang tercipta dari benturan energi di dalam tubuhnya.
Rasa sakitnya begitu dahsyat seolah setiap tulang dan dagingnya sedang dihancurkan, lalu ditempa kembali sedikit demi sedikit.
“Energi ini... terlalu liar.”
Lin Xuan menggertakkan gigi, tetapi sorot matanya justru semakin tajam.
Di Sembilan Benua, Tubuh Keabadian Absolut sudah merupakan batas tertinggi yang mampu dicapai tubuh seorang kultivator. Namun setelah tiba di alam ini, Lin Xuan akhirnya menyadari bahwa kekuatan tersebut masih jauh dari cukup.
Tubuhnya memang mampu menahan serangan dari luar, tetapi belum mampu menampung tenaga sebesar ini dari dalam.
Jika ingin menembus tingkat kesempurna, ia harus menghancurkan batas tubuh tingkat kesembilan dan menempa setiap sel menjadi tungku kecil yang mampu menyimpan serta menghasilkan tenaga tanpa henti.
Lin Xuan menekan Dantiannya dan mengerahkan seluruh kekuatan tubuhnya.
Energi dari kristal kembali mengalir deras.
Retakan yang semula hanya memenuhi lengannya menjalar ke dada dan leher. Tubuhnya tampak seperti patung yang bisa hancur kapan saja.
Namun Lin Xuan tetap berdiri.
Ia tidak akan berhenti.
Setelah seratus tahun mencari jalan menuju tingkat kesempurnaan, tidak ada rasa sakit yang mampu membuatnya mundur.
Justru ketika tubuhnya berada di ambang kehancuran, perubahan besar tiba-tiba terjadi.
Langit Alam Primordial bergemuruh.
Kristal yang menjadi sumber tenaga alam ini sedang kehilangan energinya dengan kecepatan yang mengerikan. Awan di atas lembah terbelah, lalu cahaya keemasan turun dari kehampaan.
Dari balik awan muncul sekelompok kereta perang yang ditarik naga-naga bercahaya.
Di atas kereta utama berdiri puluhan Ksatria Emas. Di antara mereka terdapat seorang Jenderal Dewa Kuno yang memancarkan tekanan setara dengan Kaisar Hukum Suci.
“Siapa yang berani merampas Kristal Asal milik Fraksi Suci?!”
Suara sang jenderal mengguncang langit dan bumi.
Tatapannya segera tertuju pada Lin Xuan yang sedang berdiri di hadapan kristal.
“Manusia?” Amarah langsung memenuhi wajahnya. “Berani kau menyerap tenaga suci kami?”
Ia mengangkat pedang.
“Bunuh dia! Jangan biarkan sedikit pun tenaga suci mengalir dalam tubuh makhluk rendahan itu!”
Puluhan Ksatria Emas melompat dari kereta perang.
Tombak-tombak cahaya menembus langit dan melesat menuju Lin Xuan.
Namun Lin Xuan tetap tidak bergerak.
Ia sedang berada pada saat paling genting dalam terobosannya. Sedikit saja konsentrasinya terganggu, energi kristal yang mengamuk di dalam tubuhnya akan meledak dan menghancurkan seluruh tubuhnya.
Tepat ketika tombak pertama hendak menembus kepalanya, bayangan di bawah kaki Lin Xuan tiba-tiba bergolak.
Wussshh!
Kabut hitam dan putih keluar dari dalamnya lalu berubah menjadi sosok Hun Yuan.
Pemuda berpupil ganda itu mengangkat satu jari.
“Hukum Ketiadaan: Dinding Kaca Kehampaan.”
Sebuah dinding hitam muncul di hadapannya.
Puluhan tombak cahaya menghantam dinding tersebut.
Namun tidak terdengar ledakan. Cahaya itu lenyap begitu saja, seolah tidak pernah ada.
Para Ksatria Emas tertegun.
Hun Yuan melayang di depan Lin Xuan sambil menatap mereka dengan senyum tipis.
“Tuanku sedang menikmati hidangannya.” Senyumnya menghilang. “Jangan berisik.”
Jenderal Dewa Kuno menggenggam pedangnya semakin erat. “Makhluk apa kau sebenarnya?”
Hun Yuan merentangkan kedua tangannya. “Aku?”
Pupil emas-putih di matanya menyala, sementara pupil hitam di dalamnya berputar seperti jurang tanpa dasar.
“Aku adalah kehancuran yang telah memperoleh wujud.”
Api Matahari Langit dan Api Primordial Kekosongan muncul bersamaan di belakang tubuhnya.
“Seni Api Primordial: Hujan Matahari Hitam.”
Ribuan bola api hitam muncul di langit.
Setiap bola dikelilingi tepi putih yang menyilaukan, menciptakan pemandangan seperti ribuan matahari gelap yang menggantung di atas medan perang.
Wussshh!
Ribuan matahari hitam melesat turun.
Ketika menyentuh zirah para Ksatria Emas, zirah itu tidak meleleh.
Ia langsung menua, retak, Lalu berubah menjadi debu.
Para ksatria bahkan tidak sempat mengeluarkan jeritan sebelum tubuh dan jiwa mereka ditelan kegelapan.
Jenderal Dewa Kuno meraung. “Jangan remehkan Ras Dewa Kuno!”
Ia mengerahkan seluruh kekuatannya dan membentuk perisai cahaya raksasa di hadapan pasukannya.
Hun Yuan hendak melancarkan serangan berikutnya ketika...
Dug!
Sebuah suara berat terdengar dari dasar kawah.
Dug!
Suara itu seperti detak jantung raksasa yang baru saja terbangun.
Seluruh lembah bergetar.
Tekanan langit dan bumi tiba-tiba berubah.
Tanah vulkanik amblas puluhan meter, sementara ruang di sekitar kawah mulai melengkung seolah ditekan oleh kekuatan tak kasatmata.
Hun Yuan menghentikan gerakannya. Senyum perlahan muncul di wajahnya.
“Terobosan telah selesai.”
Kristal raksasa yang sebelumnya sebesar bukit kini telah kehilangan seluruh cahayanya dan berubah menjadi batu kelabu.
Sesaat kemudian, batu itu hancur menjadi debu.
Seluruh energi di dalamnya telah diserap Lin Xuan. Retakan yang memenuhi tubuhnya mulai menghilang.
Kulitnya kembali utuh dan bersih seperti semula.
Namun perubahan terbesar tidak terlihat dari luar.
Di dalam tubuh Lin Xuan, setiap sel, setiap tulang, setiap tetes darah, dan setiap bagian dari tubuhnya telah berubah menjadi tungku kecil yang terus menghasilkan tenaga.
Lin Xuan perlahan membuka mata.
Di dalam irisnya berputar bayangan galaksi. Tungku Daging Kesepuluh.
Reaktor Bintang Kuno.
Ia akhirnya menembus batas tersebut.
Tubuhnya bukan lagi sekadar benteng yang tidak dapat dihancurkan.
Kini tubuh itu telah menjadi sumber tenaga yang terus menghasilkan kekuatan sekaligus pusat gaya tarik yang mampu menekan ruang.
Lin Xuan mengangkat kepalanya. Tatapannya jatuh pada Jenderal Dewa Kuno.
Tanpa mengangkat tangan, ia melepaskan tekanan tubuhnya.
Kraaak!
Ruang di atas lembah seketika melipat.
Tekanan dahsyat turun dari langit.
Perisai cahaya yang dibanggakan sang jenderal retak lalu pecah. Naga-naga bercahaya yang menarik kereta perang menjerit ketika tubuh mereka ditekan hingga meledak menjadi kabut darah.
“A-Apa ini...?”
Jenderal Dewa Kuno mengerahkan seluruh kekuatannya untuk bertahan. Namun tulang-tulang dewanya mulai berderak.
Tubuhnya perlahan ditekan ke tanah. Kedua lututnya akhirnya menyentuh bumi.
Krak!
Tulang-tulang kakinya hancur.
Lin Xuan berjalan mendekat. Setiap langkahnya membuat tanah di bawah kaki melengkung.
“Kalian terlalu percaya pada hukum cahaya.” Ia berhenti di hadapan sang jenderal. “Namun kalian melupakan satu hal.”
Lin Xuan menunduk dan menatapnya dengan tenang. “Semakin besar tekanan, semakin kuat gaya tariknya.”
Wajah Jenderal Dewa Kuno dipenuhi ketakutan.
Lin Xuan mengangkat kakinya.
“Kepadatan tubuhku sekarang... sudah jauh melampaui apa yang mampu kalian bayangkan.”
Satu injakan turun. Kepala Jenderal Dewa Kuno hancur menjadi debu.
Medan perang kembali sunyi.
Lin Xuan perlahan menarik kembali tekanannya. Ia mengangkat kepala dan menatap langit Alam Primordial.
Terobosan ini baru permulaan.
Di dalam tubuhnya, ribuan tungku kecil terus menyala. Masing-masing menghasilkan tenaga yang kemudian berkumpul menjadi arus kekuatan tanpa akhir.
Untuk pertama kalinya, Lin Xuan benar-benar merasakan perubahan itu.
Tubuhnya tidak lagi sekadar wadah bagi kekuatan. Tubuhnya sendiri telah menjadi sumber kekuatan.
Dan ketika sumber itu terus berkembang, bahkan langit dan bumi pun suatu hari akan dipaksa tunduk pada tekanannya.