Pernikahan Nadira Alesya batal di depan mata ketika calon suaminya melarikan diri demi menikahi wanita lain. Terluka dan dipenuhi dendam, Nadira tak menyangka justru harus menikah dengan Rayzan Arjunawan, saudara dari pria yang telah meninggalkannya. Bagi Nadira, Rayzan hanyalah penebus dosa atas penghinaan yang ia terima.
Namun, Rayzan menghadapi sikap Nadira dengan kesabaran dan ketulusan. Perlahan, pernikahan yang awalnya dibangun atas dendam berubah menjadi sesuatu yang tak pernah Nadira rencanakan. Laki-laki yang seharusnya menjadi alat balas dendam justru membuat hatinya jatuh cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mardzan J., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Istri Murahan
Rayzan mulai memasuki kamar mereka. Nadira yang tadinya sedang duduk di kursi meja rias kini berdiri dan menghadap lelaki itu. Tatapannya begitu tajam, seolah menyimpan dendam yang begitu besar kepada Rayzan.
Nadira melangkahkan kakinya dengan cepat menghampiri Rayzan. Saat hendak menampar wajah suaminya, tangannya langsung digenggam oleh lelaki itu.
"Lepasin tangan aku!"
Rayzan hanya diam dengan tatapan sendu. Dia tidak berniat melawan karena tahu bagaimana cara menghadapi Nadira.
"Lepas!" perintah Nadira lagi.
Karena tidak ada pergerakan apa pun, Nadira mengangkat tangannya yang lain dan hendak menampar Rayzan. Namun, lelaki itu kembali menggenggam tangannya.
Napas Nadira mulai memburu. "Lepas atau aku akan teriak!"
Tiba-tiba tatapan Rayzan berubah tajam. Dengan satu gerakan, dia mendorong Nadira hingga wanita itu terjatuh di atas ranjang.
Nadira hendak beranjak dari kasur, tetapi Rayzan dengan cepat menahan pergerakannya dengan menggenggam kedua lengannya.
Nadira menggeleng cepat. Untuk pertama kalinya, dia mulai merasa takut melihat sikap Rayzan yang berbeda dari biasanya. Terlebih lagi, tatapan pria itu sama sekali tidak terlihat lembut seperti sebelumnya.
"Rayzan ... Jangan macam-macam sama aku. Aku bisa teriak kalau kamu melakukan hal bodoh."
"Kenapa? Kamu takut?" tanya Rayzan. "Kamu pikir aku akan kapok dengan sikap kamu yang kemarin?"
"Semakin kamu kurang ajar sama aku, aku akan membuat kamu semakin emosi."
"Lepasin aku! Aku mau keluar!" bentak Nadira.
"Nadira ... Jangan kamu pikir aku nggak bisa marah. Kalau sikap kamu terus-terusan seperti ini, kamu akan melihat sisi lain dari diriku."
Nadira mengernyitkan kening karena tidak mengerti dengan ucapan suaminya.
"Kamu nggak lihat bagaimana sikapku di depan orang tua kamu dan bagaimana sikapku ketika hanya berdua dengan kamu?" Lelaki itu tersenyum miring. "Kamu mau balas dendam kepada Daulat melalui aku? Silakan, kalau kamu memang mampu."
"Ternyata kamu sama saja seperti Daulat. Munafik!"
"Jaga ucapan kamu!" tegas Rayzan. "Aku berbeda jauh dengan Daulat. Sikapku sekarang tergantung dari situasi yang kamu berikan."
"Ngh ... Lepas! Tangan aku sakit!"
"Hati-hati bermain denganku, Nadira. Kamu sama sekali nggak tahu seperti apa sifatku sebenarnya. Jangan sampai kamu melewati batas dan menyesal nantinya."
Rayzan kemudian mendekat dan mengecup singkat wajah Nadira sebelum melepaskan pegangannya.
Nadira membulatkan matanya. Sementara itu, Rayzan sudah kembali berdiri dan mengulurkan tangannya untuk membantu wanita itu bangkit.
"Aku nggak sudi menerima bantuan dari kamu!"
Nadira segera beranjak dari atas ranjang. Dia merampas tas kerjanya, lalu melenggang pergi meninggalkan suaminya.
Rayzan terkekeh geli melihat tingkah istrinya dari arah pintu kamar.
"Nadira, Nadira ... Ternyata kamu bisa takut juga dengan tatapanku tadi. Seumur hidup, belum pernah ada yang melihat aku saat sedang benar-benar marah."
"Ternyata aku bisa berakting juga," ucap lelaki itu sambil tersenyum tipis.
Rayzan malah merasa gemas dengan tingkah istrinya. Dia sama sekali tidak marah dengan perlakuan Nadira yang sudah menguncinya di dalam kamar.
[] [] []
"Tadi malam kalian ke mana?" tanya Ozan.
Resya dan Daulat saling menatap ketika lelaki paruh baya itu bertanya demikian. Padahal, mereka sudah berusaha pergi diam-diam agar tidak ketahuan.
"Eummm ... Ini, Ayah. Resya pengin makan buah. Jadi kami keluar," jawab Daulat berbohong.
Namun jawaban itu membuat keluarganya berpikiran buruk pada mereka berdua.
"Pengin makan buah?" Merry menaikkan sebelah alisnya. "Kamu ngidam?"
"Eh! Nggak, Umi. Mana mungkin aku ngidam. Kami saja baru menikah."
"Ya, siapa tahu kalian sudah melakukan sesuatu sebelum menikah. Apalagi tiba-tiba saja Daulat membatalkan pernikahan."
"Yakin kalian cuma beli buah?" tanya Ozan, memastikan.
"Iya, Ayah," jawab Daulat berbohong. "Lagian, kenapa Ayah tiba-tiba nanya begitu?"
"Nggak apa-apa. Ayah cuma heran. Kalian keluar rumah, tapi mengendap-endap seperti pencuri."
"Supaya Ayah dan Umi nggak bangun. Kan sudah tengah malam juga." Daulat masih mencoba meyakinkan kedua orangtuanya agar mereka tidak menaruh curiga pada sepasang suami istri itu.
"Kalian keluar tengah malam cuma mau beli buah. Kamu nggak bohongin kami lagi, kan?" tanya Merry. "Atau jangan-jangan istri kamu ini memang sedang hamil."
Sekilas Daulat mengusap wajah mendengar tuduhan dari sang ibu.
"Astaghfirullah, Umi. Aku bersumpah, Umi. Aku sama Resya nggak pernah melakukan hal buruk sebelum menikah."
"Iya, Umi ... Kami menikah memang secara dadakan, tapi sedikitpun kami nggak melakulan zina sebelum akad tiba," sambung Resya.
"Hmmm ... Baguslah! Tapi kalau itu sampai terjadi, kamu benar-benar sudah mencoreng nama baik keluarga kita," ucap Indah.
[] [] []
Siang hari tiba. Nadira masih sibuk membereskan berkas-berkas di atas meja. Dia begitu fokus dengan pekerjaannya hingga tidak menyadari seseorang telah memasuki ruangannya.
"Ekhem..."
Nadira mengernyitkan kening ketika mendengar suara seorang pria. Saat menoleh, dia mendapati seorang lelaki tampan dengan tubuh tinggi dan tegap sudah berdiri menatapnya.
"Rayzan! Kamu tahu dari mana aku bekerja di sini?"
"Kamu istriku. Ke mana pun kamu pergi, aku pasti akan tahu."
Nadira sangat kesal mendengar perkataan lelaki itu. Rasanya label sebagai istri sama sekali tidak cocok untuk dirinya. Apalagi harus bersuamikan saudara dari mantan kekasihnya.
"Pergi kamu dari sini. Aku nggak mau orang-orang tahu kalau—"
"Diam. Semua orang di kantor kamu sudah tahu kalau aku adalah suami sahmu."
Rayzan kemudian berjalan mendekati meja kerja Nadira.
"Aku ke sini karena urusan pekerjaan. Aku baru tahu ternyata kamu adalah sekretaris Pak Revin. Aku dan bos kamu sedang melakukan kerja sama. Dia meminta aku menemui sekretarisnya yang cantik ini."
Rayzan mencolek hidung istrinya.
"Jaga ucapanmu. Jangan kamu pikir aku akan terbuai dengan ucapan seperti itu. Dan satu lagi, Pak Revin adalah pacarku," ucap Nadira berbohong.
"Oke..."
Rayzan mendekati wanita itu, kemudian berdiri di belakangnya.
"Coba ceritakan ... Semurah apa dirimu sampai Daulat meninggalkan kamu?"
"Kamu jangan sembarangan, ya. Aku wanita baik-baik."
"Oh, ya? Tadi kamu bilang punya hubungan dengan Pak Revin. Sedangkan statusmu adalah istriku."
Nadira hendak membalikkan tubuhnya, tetapi Rayzan menahan pergerakannya dari belakang.
"Jangan kurang ajar kamu, Rayzan. Lepasin aku!"
"Sayang ... Jangan berbohong kepada orang yang sudah sering dibohongi. Itu nggak akan mempan," bisik Rayzan di telinga Nadira.
"Aku bilang lepas!"
"Kita makan siang bareng, ya."
"Aku nggak mau!" tolak Nadira mentah-mentah.
"Baiklah ... Jangan sampai aku membuat kamu semakin takut."
Deg!
Dengan cepat Nadira berbalik hingga kini mereka berdiri saling berhadapan. Tatapan keduanya bertemu.
"Ra-Rayzan ... Aku mohon, jangan macam-macam sama aku."
"Kalau kamu ketakutan seperti ini, kamu sangat manis sekali."
"Jangan sentuh aku."
Nadira memalingkan wajah ketika Rayzan semakin mendekat.
"Mau makan siang atau aku tetap di sini menemani kamu bekerja?"
"Oke ... Kita makan siang."
Rayzan tersenyum puas.
"Cantik banget istriku ini. Aku beruntung bisa menikah dengan kamu."
"Tapi aku nggak. Aku benci kamu dan keluarga kamu."