"minum obat itu cepat!" Elio berkata dingin, sorot matanya tajam, menunjuk benda persegi panjang kecil yang baru saja ia lempar tepat di samping Kaia yang masih berbalut selimut. "Aku tidak ingin memiliki anak dari wanita sepertimu. Dan jika sampai kamu hamil..." Suaranya menurun penuh penekanan. "Aku tidak akan segan-segan menghilangkannya."
Kaia adalah gadis yang baik tapi sayangnya dia kurang kasih sayang dari ayahnya. saat lulus kuliah dia di desak ayahnya harus menjadi pengantin, menggantikan sang kakak yang bernama Kiara yang meninggal dunia akibat kecelakaan. Dengan Elio, seorang dokter kulit, tunangan kakaknya.
Disisi lain, sejak kecil ayahnya yang menyimpan luka selalu menyalakan Kaia sebagai penyebab kematian istrinya.
Lalu bagaimana saat Kaia tiba-tiba mengetahui bahwa dirinya sedang mengandung. Haruskah ia pergi dan menyelamatkan nyawa kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya? Atau justru melenyapkannya?
Ikuti kisah Kaia...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri prisella, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab : 33 kamu bersama Neo
"Jadi selama ini... Kaia memakai nama Asha Calina."
Elio bergumam pelan.Jemarinya mengetuk setir dalam ritme tak beraturan.
Sesekali berhenti, lalu kembali mengetuk ketika pikirannya menemukan potongan baru dari teka-teki yang selama empat tahun terakhir tidak pernah berhasil ia pecahkan.
Matanya terarah pada bangunan Banyu Aruna Resort di hadapannya. Bangunannya berdiri tenang di antara hamparan sawah hijau khas Ubud.
Tidak terlalu besar, tidak mencolok terlihat seperti tempat yang sengaja dibangun untuk menjauh dari hiruk-pikuk dunia.
Dan mungkin... itulah alasan Kaia memilihnya.
Sejak ia menemukan istrinya itu siang tadi, Elio mengikuti pergerakan perempuan itu. Dari kafe lalu ke beberapa tempat yang Kaia datangi.
Hingga akhirnya perempuan itu masuk ke resort tersebut dan selama pemantauan, tidak keluar lagi.
Elio mengembuskan napas panjang. Asha adalah nama tengah Kaia. Sedangkan Calina... Ivanka Calina. Nama mendiang ibu mertuanya.
Tiba-tiba semuanya terasa begitu sederhana. Terlalu sederhana sampai membuatnya merasa bodoh.
"Bodoh..." Elio mengusap wajahnya kasar. "Kenapa aku nggak pernah kepikiran sampai ke sana?"
Selama empat tahun ia mencari, tidak pernah berpikir Kaia mungkin menggunakan bagian dari namanya sendiri.
Asha Calina. Nama yang begitu dekat dengannya tapi luput dari pencariannya. Elio menertawakan dirinya sendiri.
Karena baru menyadari betapa teliti nya keluarga Hadinata menyembunyikan perempuan itu. Kaia bukan sekadar menghilang. Seseorang telah memastikan setiap jejaknya terhapus.
Dua porsi kekalahan baru ia sadari saat ini. Ia kalah dari kecerdikan Kaia dan ia kalah dari keluarga Hadinata.
"Apa lagi yang kamu sembunyikan dariku, Kai?"
Tatapannya mengeras, ada rasa penasaran di sana.
Tetapi di baliknya terselip rindu yang dalam, rasanya ia ingin segera memeluk istrinya itu namun ia mencoba menahan.
Suara ponsel tiba-tiba memecah keheningan di dalam kabin. Elio segera mengangkatnya. "Gimana hasil yang saya minta?"
"Sudah, Tuan." Suara orang kepercayaannya terdengar dari seberang. "Berdasarkan penelusuran, pemilik resmi Banyu Aruna Resort tercatat atas nama Hakim Ginanjar."
Elio terdiam. "Hakim Ginanjar..." Bisiknya mengulang nama itu, nama itu terasa asing, beberapa detik kemudian, ingatannya seperti ditarik kembali ke masa lalu.
Ketika ia berkunjung ke rumah sang mertua bersama Kaia, di ruang kerja Hardja ada seorang pria paruh baya yang sedang berbincang serius dengan Hardja.
Ketika keluar dari ruangan, Hardja sempat memperkenalkannya. "Ini Hakim. Orang kepercayaan Kakek."
Elio memejamkan mata sebentar. Tangan yang memegang ponsel perlahan mengerat. Sekarang semuanya masuk akal.
Hakim bukan orang asing, dia adalah tangan kanan Hardja.Orang yang telah bekerja bersama keluarga Hadinata selama puluhan tahun.
"Jadi begitu..." Elio tertawa getir, ia menatap kembali resort di depannya. "Almarhum Kakek yang menyiapkan semuanya."
Keluarga Hadinata ternyata sudah menyiapkan tempat aman untuk Kaia jauh sebelum ia benar-benar membutuhkannya.
Resort itu kemungkinan hanya memakai nama Hakim.Sementara pemilik sebenarnya... adalah Kaia.
Semua sudah dipikirkan dan dipersiapkan.
Dan lagi-lagi, Elio terlambat mengetahuinya. Ia menundukkan kepala. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya.
Senyum seseorang yang akhirnya menemukan jalan keluar setelah tersesat terlalu lama. "Tapi kali ini... Saya nggak akan kalah lagi, Pa."
Jika Fadlan bisa menyembunyikan Kaia selama empat tahun... maka kali ini Elio akan mencari tahu sendiri, tanpa memberi tahu siapa pun.
Perutnya tiba-tiba terasa kosong. Baru saat itu Elio menyadari ia belum makan sejak siang. Sandwich yang dipesannya di kafe bahkan hampir tidak disentuh.
Namun sekarang rasa lapar itu tidak penting. Ia kembali mengangkat ponselnya. "Kalau begitu, pesankan saya kamar di Banyu Aruna Resort."
Ada jeda di seberang. "Maaf, Tuan. Kami sudah mengecek. Kamar di sana full booked sampai satu minggu ke depan."
Elio melirik bangunan resort itu. "Seminggu?"
"Benar, Tuan."
Ia mengembuskan napas. Sebenarnya asistennya di klinik sudah memesan sebuah resort lain untuknya.
Namun sekarang semuanya berubah. Ia ingin berada sedekat mungkin dengan Kaia. Bukan untuk langsung menemuinya.
Ia ingin tahu kehidupan perempuan itu terlebih dahulu. "Pesankan aku kamar untuk minggu depan."
"Tapi, Tuan "
"Jangan pakai nama saya." Potong Elio, suaranya tenang.
"Baik, Tuan."
Panggilan berakhir. Elio meletakkan ponselnya di atas paha. Matanya kembali menatap resort. Tanpa terasa beberapa jam ia lalui hanya untuk mengamati Kaia.
Jam di dasboard menunjukkan pukul tujuh malam. Langit Ubud perlahan berubah gelap. Lampu-lampu resort mulai menyala satu per satu. Namun tidak ada tanda-tanda Kaia keluar.
Elio menyandarkan kepalanya pada jok. "Jadi kamu juga tinggal di sini..."
Sebuah keyakinan tumbuh di dalam dirinya. Elio merasa akhirnya memiliki tempat untuk memulai pencarian dari awal.
Namun ada hal lain yang tidak ia tahu, bahwa perempuan yang sejak tadi ia tunggu... sudah tidak berada di resort itu.
Sejak pukul empat sore, Kaia telah meninggalkan Banyu Aruna Resort. Sebuah mobil berbeda menjemputnya melalui pintu belakang.
Tidak menggunakan driver resort atau mobil yang biasa ia gunakan. Tidak ada satu pun orang yang mengetahui ke mana mobil itu pergi.
Itu semua atas keputusan Fadlan. Ayahnya tidak ingin satu pun jejak Kaia mengarah ke rumah di Sidemen.
Sebab jika suatu hari Elio berhasil menemukan Banyu Aruna Resort... ia hanya akan menemukan tempat kerja Kaia.
Bukan rumah di Sidemen dan yang terpenting adalah kedua cucunya.
_______
Neo menyeret koper hitamnya melewati terminal kedatangan Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai siang itu.
Hiruk-pikuk bandara terasa begitu kentara. Suara pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara, wisatawan dari berbagai negara berlalu-lalang dengan wajah antusias.
Sebagian besar datang untuk menikmati keindahan Pulau Dewata. Namun Neo datang untuk seseorang.
Senyum tipis terpasang di bibirnya. Hari ini ia akan memberikan kejutan untuk Kaia, Ocean, dan Sea.
Ia tidak memberi kabar lebih dahulu bahwa akan datang ke Bali. Setelah dua hari berada di Jakarta untuk menemui kedua orang tuanya, Neo langsung mengambil penerbangan menuju Bali.
Sudah cukup lama ia tidak bertemu Kaia secara langsung. Empat tahun terakhir membuat hubungan mereka semakin dekat.
Kaia bukan hanya sahabatnya. Ia juga partner bisnis yang selama ini bekerja bersamanya, orang yang hampir setiap hari berkomunikasi dengannya meskipun terpisah ribuan kilometer.
Dan tanpa pernah ia sadari sebelumnya... mungkin ia mulai merindukan perempuan itu lebih dari yang seharusnya.
Begitu keluar dari terminal, Neo langsung masuk ke mobil yang sudah dipesannya. "Pak, ke Banyu Aruna Resort di Ubud, ya. Tapi mampir dulu ke toko bunga."
Sang driver mengangguk. "Baik, Pak."
Mobil pun meninggalkan bandara. Panas matahari Bali menyambutnya ketika mobil berhenti di depan sebuah toko bunga.
Neo turun dan masuk ke dalam. Matanya langsung mencari satu jenis bunga kesukaan Kaia.
Bunga Daisy. Bunga dengan kelopak putih dan bagian tengah berwarna kuning itu merupakan bunga kesukaan Kaia. Ia mengetahuinya sejak Kaia tinggal di Slovenia.
"Mbak, tolong rangkaikan bunga daisy yang cantik, ya."
"Baik, Pak."
Neo menunggu sembari melihat ponselnya. Tidak ada pesan dari Kaia. Senyumnya semakin lebar, membayangkan kejutan yang akan ia berikan.
Beberapa menit kemudian, rangkaian bunga itu selesai. Neo menerimanya dengan hati-hati.
"Terima kasih."Lalu ia kembali ke mobil.
"Langsung ke Ubud, Pak."
Lebih dari satu jam kemudian, Neo akhirnya tiba di Banyu Aruna Resort. Namun ia tidak langsung menemui Kaia.
Setelah bertanya kepada salah seorang staf, ia mengetahui perempuan itu sedang berada di ruang kerjanya.
Neo mengangguk. "Jangan bilang sama Bu Asha, saya sudah datang ya."
Staf tersebut tersenyum. "Baik, Pak."
Neo kemudian menuju restoran. Ia meminta pelayan menyiapkan makan siang untuk dua orang.
Beberapa menu favorit Kaia sudah ia pesan. Di tengah meja, sebuah cake kecil juga sudah disiapkan. Semakin membuat hari ulang tahun sahabatnya terasa sedikit lebih istimewa.
Setelah semuanya siap, Neo membawa rangkaian bunga daisy dan berjalan menuju ruangan Kaia.
Tok.
Tok.
Tok.
"Masuk." Suara lembut itu terdengar dari dalam.
Senyum kecil muncul di wajah Neo. Ia membuka pintu perlahan. Kaia yang sedang menatap layar laptop langsung mengangkat wajah.
Beberapa detik perempuan itu hanya diam. Lalu matanya melebar penuh keterkejutan. "Neo?"
Neo terkekeh melihat reaksi itu. "Kejutan!"
Kaia berdiri dari kursinya."Kamu..." Tawanya pecah kecil karena tidak percaya. "Aku benar-benar nggak tahu kamu datang ke Bali."
"Emang sengaja."
Kaia menatap bunga di tangan Neo. "Daisy?"
Neo mengulurkan bunga itu kepadanya. Kaia langsung menerimanya. Jemarinya menyentuh kelopak putih itu dengan hati-hati.
Senyumnya melembut. "Kamu masih ingat?"
Neo mengangkat bahu."Memangnya kenapa kalau aku ingat?"
"Entahlah." Kaia menggeleng kecil. Ada rasa hangat yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
Selama bertahun-tahun hidupnya dipenuhi ketakutan. Menyembunyikan identitas.
Menyembunyikan anak-anaknya.Berhati-hati terhadap setiap jejak yang mungkin mengarah kepada dirinya. Kadang ia lupa bagaimana rasanya diperhatikan. Bukan karena rasa kasihan atau kewajiban. Neo hanya mengingatnya.
"Jangan terharu dulu." Neo menunjuk pintu. "Masih ada kejutan lain."
Kaia mengerutkan dahi. "Apaan?"
"Ikut saja." Neo meraih tangan Kaia membawanya ke restoran. Begitu sampai, langkah Kaia langsung terhenti.
Satu meja telah dipenuhi makanan kesukaannya. Di tengahnya terdapat sebuah cake kecil dengan satu lilin yang belum dinyalakan.
Kaia menutup mulutnya."Neo..."
Pria itu menarik kursi untuknya. "Duduk."
Kaia menurut. Matanya masih menyapu seluruh meja. "Kamu yang menyiapkan semuanya?"
Neo duduk di hadapannya."Happy birthday, Kaia." Ia tersenyum manis. "Maaf ya telat seminggu."
Kaia tertawa kecil. "Ini terlalu berlebihan."
"Menurutku biasa saja." Neo menyalakan lilin kecil di atas cake. Api mungil itu menari pelan. Ia kemudian mendorong cake tersebut ke arah Kaia. "Ayo. Tiup dulu."
Kaia tersenyum hangat."Semoga kebahagiaan selalu menyertaimu." Kalimat sederhana itu membuat senyum Kaia perlahan meredup.
Bukan karena sedih tapi karena kata-kata itu menyentuh sesuatu yang selama ini ia simpan jauh di dalam hatinya.
Kebahagiaan. Itulah yang selama empat tahun terakhir ia perjuangkan. Bukan kemewahan ataupun kehidupan sempurna. Hanya hidup tenang bersama kedua anaknya.
Kaia memejamkan mata. Tangannya terlipat di bawah meja. Dalam hati ia mulai berdoa.
Ya Allah... Jaga anak-anakku. Jaga Nenek. Dan jangan biarkan masa lalu menemukan kami lagi.
Ia membuka mata.Kemudian meniup lilin itu.
Neo tersenyum. "Selamat ulang tahun, Kai."
Kaia membalasnya dengan senyum hangat. "Terima kasih, Neo."
Namun... Tidak ada yang tahu, tidak jauh dari meja mereka, seseorang sedang berdiri dalam diam.
Tatapannya terpaku pada perempuan yang selama empat tahun terakhir hanya bisa ia lihat melalui foto.
Dadanya terasa sesak.Melihat Neo, sahabat sekaligus sepupunya, yang duduk tepat di hadapan Kaia.
Orang yang ia kenal selama bertahun-tahun. Orang yang kini terlihat begitu dekat dengan istrinya.
Elio tidak bergerak. Matanya turun pada rangkaian bunga daisy di samping Kaia, lalu pada cake.
Pada senyum perempuan itu. Senyum yang sudah begitu lama tidak pernah ia lihat. Dadanya bergemuruh.
Neo tahu Kaia ada di sini? Pertanyaan itu muncul begitu saja. Kalau Neo tahu... berarti selama ini mereka sering berkomunikasi.
Rahang Elio mengeras. Ia menatap Kaia yang sedang tertawa kecil mendengar sesuatu yang dikatakan Neo.
Seketika sebuah kenyataan yang jauh lebih menyakitkan menghantamnya. Sebagai suami Kaia yang masih sah... ia bahkan tidak tahu kapan ulang tahun istrinya. Tidak tahu bunga kesukaannya. Tidak tahu apa makanan favoritnya sekarang.
Sementara Neo... tahu semuanya. Elio menarik napas perlahan. Namun semakin ia mencoba menenangkan diri, semakin dadanya terasa sesak.
Miris juga getir, rasa kehilangan yang selama ini ia rasakan berubah menjadi cemburu yang jauh lebih tajam.
Tatapannya tidak beranjak dari Kaia. "Jadi selama ini..." Suara Elio nyaris tak terdengar.
"...kamu bersama Neo?"
***********
* Bersambung *
* Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar*
*Vote, like dan tambahkan favorit/subscribe yaa All juga hadiahnya 💝*
*Terimakasih 🙏 *
*Salam manis dari AUTHOR ☺️*
*ig@putri_miceela.*
kenapa pula Elio masih memikirkan Kaia? kan selama ini kamu ga pernah menganggap kehadiran Kaia, kamu masih menyalahkan Kaia atas kematian Kiara