Bimo, seorang pemuda kaya yang enggan dijodohkan, menyusun rencana konyol dengan meminta sahabatnya semasa SMA, Arga, seorang anak panti asuhan bertubuh tegap yang akrab dipanggil Dewa, untuk menyamar menjadi dirinya. Tugas Dewa sederhana: bersikap norak dan menyebalkan di depan Nadia Nugroho, CEO wanita dingin pemimpin imperium bisnis Nugroho Group, agar kencan perjodohan itu batal total.
Namun, rencana konyol itu berantakan. Nadia yang tak mudah terkecoh justru melayangkan ancaman pembalasan yang sanggup membangkrutkan perusahaan keluarga Bimo seketika. Terdesak, Dewa terpaksa menandatangani Surat Kesepakatan Pernikahan Kontrak atas nama Bimo.
Di tengah situasi yang kian kacau dan pernikahan resmi yang dihitung hari, Dewa berusaha menyambung hidup dengan melamar kerja sebagai petugas keamanan. Tanpa ia sadari, hari pertama tugasnya sebagai Satpam justru menempatkannya di lobby utama Menara Utama Nugroho Group, gedung megah milik keluarga sang CEO dingi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29. Takdir yang Tersembunyi
Sesampainya di kediaman megah keluarga Nugroho, Pak Ade dengan sigap membantu Kakek Nugroho berjalan menuju kamar utama di lantai dua. Tak butuh waktu lama, dokter pribadi keluarga, Dr. Handoko, tiba dengan membawa peralatan medis lengkap untuk memeriksa kondisi kesehatan sang pengusaha senior tersebut.
Setengah jam berlalu dalam keheningan. Dr. Handoko perlahan melepas stetoskopnya, lalu mencatat beberapa grafik perkembangan pada lembaran medis di tangannya.
"Bagaimana kondisi saya, Handoko?" tanya Kakek Nugroho dengan suara agak lemah, bersandar pada beberapa bantal tebal.
Dr. Handoko mendesah lega seraya tersenyum tipis. "Bapak benar-benar beruntung, Pak Nugroho. Tekanan darah dan irama jantung Bapak sudah kembali stabil. Tapi jujur, waktu Pak Ade telepon tadi, saya sempat sangat khawatir."
"Tapi tadi dada saya sempat rasanya mau pecah, Handoko," gumam Kakek Nugroho mengingat rasa sakit beberapa jam lalu di panti asuhan.
"Itu respons akibat penyempitan pembuluh darah mendadak, Pak," jelas Dr. Handoko serius. Ia kemudian menatap Kakek Nugroho dengan penuh rasa penasaran. "Pak Ade cerita kalau tadi ada seorang anak muda di panti yang ngelakuin pertolongan pertama sama titik penekanan di dada Bapak. Apa itu betul?"
Kakek Nugroho mengangguk pelan. "Iya. Anak muda itu memijat pergelangan tangan dan dada saya, terus memandu napas saya sampai rasa sesaknya hilang."
Dr. Handoko menggelengkan kepala, terkesan. "Tindakan anak muda itu sangat tepat dan presisi, Pak. Secara medis, penanganan darurat yang dia lakukan berhasil mencegah terjadinya serangan jantung koroner akut. Kalau anak muda itu telat sedikit saja bertindak, atau salah penanganan, kondisinya bisa sangat berbahaya. Dia betul-betul menyelamatkan nyawa Bapak."
Mendengar penjelasan sang dokter pribadi, simpati dan rasa kagum di hati Kakek Nugroho terhadap pemuda bernama Dewa itu makin membumbung tinggi. Beliau tersenyum tipis dengan pandangan menerawang.
"Anak itu memang luar biasa, Handoko," bisik Kakek Nugroho tulus. "Sudah tampan, berbudi luhur, santun, punya kemampuan hebat, dan sama sekali tidak mengharapkan imbalan apa pun."
"Jarang sekali ada anak muda zaman sekarang yang seperti itu, Pak. Sayang sekali Bapak tidak sempat dapat kontak atau alamat lengkapnya," sahut Dr. Handoko seraya merapikan obat-obatan di meja samping ranjang.
"Iya... itu yang bikin saya terus kepikiran," balas Kakek Nugroho penuh penyesalan.
Beberapa hari kemudian, kondisi Kakek Nugroho sudah jauh membaik dan beliau sudah bisa beraktivitas ringan di ruang kerja pribadinya. Di suatu sore yang hangat, pintu ruang kerja berukir itu diketok pelan. Nadia melangkah masuk membawa secangkir teh herbal hangat untuk kakek tercintanya.
"Kakek, ini tehnya. Dokter Handoko bilang Kakek harus rajin minum teh herbal ini biar tidurnya nyenyak," ujar Nadia lembut sembari meletakkan cangkir porselen di atas meja kerja.
Kakek Nugroho menatap cucu tunggalnya yang berparas cantik dan berpenampilan anggun itu. Beliau mengulas senyum hangat. "Terima kasih ya, Nadia. Kamu selalu perhatian sama Kakek."
"Masa sama kakek sendiri gak perhatian?" balas Nadia tersenyum manis. Ia mengambil posisi duduk di kursi depan meja kerja sang kakek. "Gimana perasaan Kakek hari ini? Masih terasa sesak atau pusing?"
"Sudah jauh lebih baik, Nak," jawab Kakek Nugroho. Beliau menyeruput teh hangat itu sedikit, lalu menatap Nadia dengan pandangan dalam. "Nadia... Kakek mau bicara serius sebentar soal rencana pernikahanmu."
Raut wajah Nadia sedikit berubah datar, namun ia tetap berusaha tersenyum sopan. "Soal perjodohan dengan Bimo Wira Perkasa ya, Kek?"
"Iya," Kakek Nugroho mengangguk pelan. "Kakek tahu, Bimo itu anak dari relasi bisnis kita. Secara silsilah dan latar belakang keluarga Wira Perkasa Group, dia memang pasangan yang pas untukmu di mata publik dan dewan direksi."
"Lalu kenapa, Kek? Ada masalah dengan Wira Perkasa Group?" tanya Nadia cepat, matanya memicing penuh ketelitian khas seorang CEO.
Kakek Nugroho menggelengkan kepala. "Bukan masalah perusahaan, Nadia. Kakek cuma bicara soal kepribadian. Sejujurnya... Kakek punya kandidat pria lain yang jauh lebih baik dari Bimo."
Nadia mengerutkan keningnya, sedikit terkejut. "Kandidat lain? Siapa, Kek? Bukannya dari awal Kakek cuma menyetujui Bimo?"
"Sebenarnya, beberapa hari lalu Kakek bertemu dengan seorang pemuda yang sangat luar biasa," Kakek Nugroho memulai ceritanya dengan mata berbinar-binar. "Dia pemuda yang menyelamatkan nyawa Kakek saat Kakek kena serangan jantung di panti asuhan."
"Pria yang diceritakan Pak Ade kemarin?" potong Nadia penasaran.
"Betul, Nadia. Dia anak yang sangat jujur, berani, punya karakter yang kuat, dan hatinya sangat mulia," puji Kakek Nugroho tanpa ragu. "Namanya Dewa. Waktu Kakek lihat cara dia bicara dan bersikap, Kakek langsung merasa... pria seperti inilah yang pantas mendampingi cucu Kakek. Pria yang bisa melindungi kamu dengan tulus, bukan cuma karena mengincar harta atau posisi Nugroho Group."
Nadia tertawa kecil, menganggap ucapan kakeknya sebagai bentuk emosional sesaat karena merasa terutang budi. "Kakek ada-ada saja. Kita bahkan gak tahu asal-usul keluarga pria bernama Dewa itu dari mana, 'kan? Masa Kakek mau menjodohkan Nadia sama orang asing yang baru Kakek temui sekali?"
"Asal-usul bisa dicari, Nadia. Tapi karakter dan kebaikan hati yang murni itu langka," tegas Kakek Nugroho pelan. "Kakek bisa melihat aura ketegasan dan kejujuran di matanya. Dia beda jauh sama anak-anak muda kaya zaman sekarang yang manja."
"Tapi Nadia udah setuju buat ketemu Bimo, Kek," jawab Nadia tenang dan rasional. "Bimo kan pria pertama yang Kakek rekomendasikan secara resmi ke keluarga kita. Nadia mau turuti keinginan Kakek demi kelangsungan bisnis dan investasi Nugroho Group di perusahaan keluarganya."
Kakek Nugroho mendesah pelan, menatap cucunya dengan tatapan pasrah dan penuh kasih sayang. Beliau sadar, Nadia adalah wanita yang sangat rasional dan berdedikasi tinggi pada perusahaan.
"Kalau itu memang keputusanmu, Kakek tidak bisa memaksa, Nadia," ujar Kakek Nugroho mengalah. "Lagipula... Kakek juga kehilangan kontak dengan Dewa. Dia anak yang sangat rendah hati, sampai-sampai tidak mau memberi nomor telepon atau alamatnya pada Kakek."
Nadia tersenyum tipis, merasa pilihannya untuk fokus pada Bimo sudah paling benar demi ketenangan sang kakek. "Tuh kan, Kakek aja gak punya kontaknya. Jadi ya sudah, Kakek gak usah mikirin pria bernama Dewa itu lagi. Biar Nadia yang urus rencana pertemuan perjodohan sama Bimo di Kafe Merah nanti."
"Baiklah, Nak," kata Kakek Nugroho mengangguk pelan, meski ada sedikit guratan kekecewaan di raut wajah rentanya. "Kakek cuma mau kamu bahagia. Kakek cuma ingin memastikan kamu mendapatkan pendamping hidup yang benar-benar bisa menjaga kamu kalau Kakek sudah tidak ada nanti."
Nadia berdiri, melangkah mendekat dan memeluk pundak Kakek Nugroho dengan hangat. "Kakek jangan bicara begitu. Kakek pasti sehat terus. Nadia janji akan jalankan perjodohan ini dengan baik demi Kakek."
"Terima kasih ya, cucu Kakek yang cantik," bisik Kakek Nugroho mengelus lembut tangan Nadia.
Dalam hatinya, Kakek Nugroho hanya bisa berdoa dan melepaskan keinginannya untuk menjadikan Dewa sebagai cucu menantunya. Sang kakek pasrah dan menerima pilihan Nadia untuk menikah dengan Bimo, tanpa pernah menyangka sedikit pun bahwa takdir sedang memainkan skenario yang sangat unik.
Beliau tidak tahu bahwa pria bernama Dewa yang dipujinya setinggi langit itu adalah Arga Dewa Putra, orang yang sama yang pada akhirnya akan dipaksa menyamar menjadi "Bimo", menandatangani kesepakatan nikah kontrak dengan Nadia, dan bahkan bekerja menjaga lobi Menara Utama Nugroho Group setiap harinya. Kilas balik kenangan itu perlahan pudar saat Kakek Nugroho di ranjang rumah sakitnya kembali membuka mata, menunggu hari di mana cucunya akan membawa calon suaminya datang menghadap.