NovelToon NovelToon
Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Anak Jenius Yang Melumpuhkan Raja Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Anak Genius / Mafia
Popularitas:368
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Handini

Luo Chen tidak punya air mata untuk ditangisi saat ibunya meninggal; ia hanya punya ingatan sempurna yang merekam setiap detail wajah pembunuhnya. Berbekal satu foto tua, ia menyusup ke sarang Shen Mo, penguasa mafia paling ditakuti di Yucheng. Alih-alih dibunuh sebagai penyusup, kecerdasan brilian Chen justru memukau sang raja mafia. Bersama-sama, mereka membentuk aliansi maut melawan sindikat pengkhianat yang haus darah. Tanpa kekuatan fisik, Chen menjadi otak di balik setiap langkah balas dendam, membuktikan bahwa musuh paling berbahaya di dunia bukan lah orang yang memegang senjata, melainkan anak kecil yang tahu seluruh rahasia gelapmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 18: SHEN MO DATANG

Suara derit pintu besi yang bergesekan dengan lantai semen kasar itu memecah keheningan malam, menciptakan gema tajam yang menusuk telinga. Aroma lembap, karat, dan debu pekat langsung menyerbu indra penciuman begitu pintu ruang interogasi bawah tanah di gudang pelabuhan utara itu terbuka lebar.

Di bawah sorot lampu gantung tunggal yang berayun pelan, Chen duduk tegak di atas kursi kayu tua. Wajahnya pucat akibat kurang tidur, tetapi sepasang matanya menyala tajam, memantulkan ketenangan yang sama sekali tidak layak dimiliki oleh seorang anak seusianya. Tangannya yang terikat di belakang kursi sama sekali tidak melemahkan auranya; justru, pikirannya sedang bekerja lebih cepat daripada putaran mesin jet.

Di hadapannya, Vane berdiri dengan senyum miring yang menyungging sinis di sudut bibirnya. Tokoh senior dalam faksi konservatif mafia itu melangkah mendekat, meninggalkan suara pantulan sepatu bot yang berat di atas lantai kosong. Vane membawa sebuah map manila cokelat tebal, meletakkannya tepat di atas meja kayu usang dengan bunyi gedebuk yang tertahan.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Vane menarik kursi di seberang Chen, lalu duduk seraya melipat kedua tangannya di dada. Tatapan matanya menyelidik, mencoba mencari celah kerentanan pada diri anak laki-laki yang telah membuat seluruh struktur organisasi bawah tanah Yucheng berada di ujung tanduk.

"Kau punya keberanian yang luar biasa, anak muda," suara Vane memecah udara, terdengar rendah namun penuh tekanan psikologis yang dirancang untuk meremukkan mental lawan. "Bertahan di tempat ini selama dua belas jam tanpa air dan makanan, lalu menolak untuk memohon ampun? Ayahmu dulu juga keras kepala, dan lihat bagaimana akhirnya ia berakhir di pelabuhan dingin itu."

Chen tidak langsung menjawab. Ia mengangkat dagunya sedikit, menatap lurus ke dalam mata Vane tanpa sedikit pun rasa gentar. Dalam ingatannya yang fotografis, Chen memutar ulang setiap detail dokumen penggelapan dana yang telah ia bongkar di The Crown Tower beberapa malam lalu.

Setiap angka, setiap tanda tangan palsu, dan setiap kode transfer bank mengalir deras di kepalanya seperti barisan kode komputer yang siap dieksekusi. Chen tahu betul bahwa Vane sedang memancing reaksi emosional, sebuah trik murahan untuk membuatnya kehilangan kendali atas informasi krusial yang dicari oleh faksi pengkhianat.

"Ayahku mati karena orang-orang sepertimu yang menjual harga diri demi sisa-sisa koin kotor," ucap Chen dingin, suaranya tenang namun mengandung racun yang cukup membuat rahang Vane mengeras seketika. "Dan kau... kau mengira penculikan ini akan menghentikan segalanya? Jaringan Shen Mo sudah bergerak sejak sepuluh jam lalu. Waktumu tinggal menghitung menit, Vane."

Mendengar ucapan itu, Vane mendengus keras. Ia berdiri secara mendadak, menepis meja kayu di depannya hingga bergeser mengeluarkan suara decitan nyaring. Vane membungkuk, mendekatkan wajahnya ke wajah Chen, melampiaskan amarah yang mulai membakar batas kesabarannya.

"Anak bodoh! Kau pikir Shen Mo akan mengorbankan seluruh kerajaannya hanya demi menyelamatkan seorang bocah ingusan sepertimu? Jaringan bawah tanah sedang kacau balau! Shen Mo sendiri sedang berjuang menyelamatkan nyawanya dari jebakan di distrik barat!"

Namun, alih-alih menunjukkan rasa takut atau keraguan, sudut bibir Chen justru terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat misterius. Reaksi itu membuat Vane tertegun sejenak, merasakan ada sesuatu yang janggal dan tersembunyi di balik ketenangan luar biasa sang anak jenius.

Chen tahu persis apa yang sedang dipersiapkan oleh Shen Mo. Selama tujuh tahun terakhir, bahkan sebelum malam berdarah itu merenggut nyawa ibu Chen, bayangan pelindung itu telah bekerja secara sistematis di balik layar.

"Kau salah hitung, Vane," bisik Chen pelan. Senyumnya semakin lebar. "Shen Mo tidak perlu mengorbankan kerajaannya. Karena kerajaannya... ada di sini."

Sebelum Vane sempat melayangkan tangannya untuk memberikan pelajaran fisik, suara alarm darurat berderit memekakkan telinga dari arah koridor luar gudang. Lampu-lampu sorot di langit-langit berkedip merah secara bergantian, menandakan sistem keamanan utama telah diretas total dari luar.

Wung! Wung! Wung!

Vane terbelalak kaget, segera menegakkan tubuhnya dan meraba pistol di balik jasnya. Pintu besi ruang interogasi tiba-tiba bergetar hebat akibat hantaman keras dari luar, seolah ada kekuatan besar yang sedang mendobrak paksa penghalang tersebut.

"Apa yang kau lakukan?!" bentak Vane panik kepada anak buahnya yang berjaga di luar, namun tidak ada jawaban selain suara benturan logam dan tembakan teredam yang bersahut-sahutan.

Dor! Dor! Dor!

Dari balik pintu, terdengar jeritan anak buah Vane yang tumbang satu per satu.

Chen menundukkan kepalanya sejenak, lalu dengan gerakan tangan yang sangat cepat—hasil dari latihan bertahan hidup rahasia yang ia pelajari dari sela-sela waktu analisis datanya—ia memanfaatkan kelengahan Vane yang panik.

Menggunakan sudut besi kursi yang sedikit longgar dan tajam, Chen menggesekkan tali pengikat di pergelangan tangannya hingga seratnya terkelupas. Dalam hitungan detik, ikatan itu terlepas.

Ia melompat dari kursi, menyambar map manila di atas meja, dan langsung meluncurkan tendangan menyamping tepat ke arah rahang Vane sebelum pria tua itu sempat menarik pelatuk senjatanya.

Bugh!

Vane tersungkur jatuh ke lantai dengan darah segar mengalir di sudut bibirnya, matanya membelalak tak percaya melihat Chen berdiri bebas di hadapannya.

Brak!

Pintu besi di hadapan mereka akhirnya jebol, terkelupas dari engselnya dengan kepulan asap tipis yang mengepul di lorong gelap.

Di ambang pintu yang hancur itu, sosok tinggi berbalut mantel hitam panjang berdiri tegak dengan tatapan membunuh yang dingin. Jasnya berkibar terkena angin malam. Di tangan kanannya, pistol masih mengepul.

Wajahnya berlumuran bayangan, namun matanya—mata hitam itu—hanya menatap satu orang di dalam ruangan.

Chen.

Shen Mo telah tiba.

Dan neraka bagi Vane baru saja dimulai.

1
T🥀007
lanjuttt minn.. semangattt
Aisyah Suyuti
good
Aksara Handini: makasih kak 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!