Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.
Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.
Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ibu Melati Mengamuk di Ruang Sidang
Matahari siang mulai terasa menyengat di atas Gang Melati. Suasana yang tadinya penuh dengan makian dan isak tangis kini perlahan mereda, menyisakan keheningan yang menyesakkan di dalam kontrakan yang sudah tak berpenghuni itu. Debu halus menari-nari di bawah sinar matahari yang menembus celah jendela, menyorot lantai semen yang kini benar-benar kosong. Bagas terduduk di sudut ruangan, punggungnya bersandar pada tembok retak yang catnya sudah mengelupas. Tangannya yang kasar mencengkeram lututnya sendiri dengan erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Ibu Melati masih duduk bersimpuh tak jauh dari tempat Bagas berada. Tatapan wanita paruh baya itu kosong, menatap pojok ruangan tempat lemari pakaiannya yang penuh dengan koleksi baju bermerek baru saja diangkut paksa oleh petugas. Sisa aroma parfum mahal yang tertinggal di udara kini terasa seperti sebuah ejekan bagi kondisi mereka yang sangat mengenaskan. Tidak ada lagi perabot, tidak ada lagi pernak-pernik yang selama ini Ibu Melati pamerkan kepada tetangga-tetangganya.
"Bagas, apakah benar-benar tidak ada sisa uang di rekeningmu?" tanya Ibu Melati dengan suara yang nyaris tak terdengar.
Bagas tidak segera menjawab. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menghindari tatapan mata ibunya. Ia merasa setiap detak jantungnya adalah sebuah beban yang tak tertahankan.
"Semuanya sudah diblokir, Bu," jawab Bagas dengan nada datar dan dingin. "Kartu kredit, saldo tabungan, bahkan akses ke aplikasi dompet digital pun sudah ditutup secara permanen oleh pengacara itu."
Siska yang tadinya sibuk memeriksa ponselnya yang retak tiba-tiba melempar benda itu ke lantai dengan kasar. Ia merasa sangat frustrasi karena bahkan untuk menyalakan ponselnya pun kini menjadi sulit.
"Kita benar-benar harus tidur di lantai ini malam ini?" teriak Siska dengan nada cemas yang melengking. "Kak, cepat lakukan sesuatu! Hubungi teman-teman kantormu yang dulu. Pasti ada satu atau dua orang yang mau meminjamkan uang."
Bagas tertawa sinis mendengar permintaan adiknya. Suara tawa itu terdengar serak dan penuh dengan kepahitan.
"Teman-temanku?" tanya Bagas sambil mendongak menatap Siska dengan tatapan meremehkan. "Mereka semua sudah menjauh sejak kabar pemecatanku tersebar luas. Mereka tidak ingin dikaitkan dengan orang yang tidak punya masa depan lagi."
Ibu Melati mulai terisak lagi, kali ini suaranya lebih lirih namun penuh dengan penyesalan yang terlambat. Ia mengusap wajahnya yang kusam dengan ujung daster yang sudah tampak lusuh.
"Dulu, saat Laras masih ada di rumah, kita tidak pernah memikirkan soal makanan atau tempat tinggal," gumam Ibu Melati dengan mata yang berkaca-kaca. "Semuanya terasa mudah dan berlimpah. Kenapa dia berubah menjadi sekejam ini sekarang?"
Bagas mengepalkan tangannya hingga urat-urat di lengannya menonjol. Mendengar nama Laras disebut, kemarahannya kembali tersulut meskipun ia tahu bahwa amarahnya tidak akan mengubah apa pun.
"Dia tidak berubah, Bu," potong Bagas dengan suara penuh penekanan. "Dia hanya menunjukkan siapa dirinya sebenarnya setelah selama ini kita bodohi. Selama ini dia menunggu momen yang tepat untuk menghancurkan kita semua."
Siska merangkak mendekati Bagas, wajahnya tampak sangat ketakutan memikirkan masa depan yang tidak pasti. Ia tidak terbiasa hidup susah, bahkan untuk sehari saja.
"Kak, bagaimana jika kita minta maaf padanya?" tanya Siska dengan nada yang sedikit gemetar. "Siapa tahu kalau kita memohon dengan sangat, dia mau memberikan sedikit saja untuk modal kita hidup di luar kota."
Bagas bangkit berdiri dengan gerakan kasar, meninggalkan debu-debu yang menempel di celana panjangnya yang sudah tidak necis lagi. Ia berjalan menuju pintu kayu kontrakan yang sedikit miring, menatap jalanan gang yang sepi di depan.
"Meminta maaf tidak akan mengembalikan harga diriku yang sudah diinjak-injak di depan umum," tegas Bagas. "Aku lebih baik mati kelaparan daripada harus mengemis di kaki wanita itu."
Ibu Melati berdiri dengan tertatih-tatih, ia merasa kepalanya pening karena belum makan sejak pagi. Perutnya berbunyi nyaring, sebuah suara yang sangat asing bagi wanita yang biasanya terbiasa hidup mewah dengan makanan restoran setiap hari.
"Lalu kita harus bagaimana, Bagas?" tanya Ibu Melati sambil memegang bahu anaknya. "Kita tidak punya makanan, tidak punya uang, dan besok pagi pemilik kontrakan ini pasti akan menagih sewa bulan depan. Apa kita mau tidur di kolong jembatan?"
Bagas terdiam cukup lama. Ia menatap langit-langit yang kotor, memikirkan setiap kesalahan yang ia buat dalam tiga tahun terakhir. Ia merasa seperti seorang pecundang yang sedang dikelilingi oleh dinding yang semakin menyempit.
"Aku akan mencari pekerjaan besok," jawab Bagas akhirnya dengan suara yang sangat rendah. "Apa pun itu. Kuli, buruh pabrik, atau apa pun yang bisa menghasilkan uang agar kita bisa bertahan hidup."
Siska mendengus sinis mendengar ucapan kakaknya. Ia masih merasa bahwa derajat mereka jauh lebih tinggi daripada harus bekerja kasar seperti orang-orang di sekitarnya.
"Pekerjaan kotor? Kakak mau merusak tangan Kakak dengan bekerja seperti itu?" ejek Siska sambil menatap kuku-kukunya yang sudah tidak terawat. "Aku tidak mau punya kakak seorang kuli. Itu sangat memalukan!"
Bagas berbalik badan dengan cepat, wajahnya tampak sangat marah menatap adiknya. Ia tidak bisa lagi menahan emosinya terhadap Siska yang masih saja sombong dalam keadaan seperti ini.
"Diam, Siska!" bentak Bagas dengan suara menggelegar. "Kalau kamu tidak mau bekerja, jangan menambah beban pikiran di sini! Kamu pikir kita masih punya uang untuk membiayai gaya hidupmu?"
Siska terdiam, matanya mulai memerah karena menahan tangis. Ia tidak menyangka Bagas akan membentaknya sekeras itu.
"Kamu selalu menyalahkan orang lain," lanjut Bagas dengan nada yang lebih tenang namun penuh penekanan. "Ingat, kitalah yang membawa keluarga ini ke titik terendah. Kita yang menghina Laras, kita yang membuang kesetiaan yang dia berikan, dan sekarang kita harus menanggung akibatnya."
Ibu Melati hanya bisa meratapi nasibnya sendiri di pojok ruangan. Ia merasa bahwa dunia sudah benar-benar berpaling dari mereka. Tidak ada lagi telepon dari teman-temannya untuk diajak arisan, tidak ada lagi kiriman paket barang belanjaan mewah ke depan pintu rumah.
Di luar kontrakan, suara langkah kaki warga terdengar sesekali lewat. Mereka tidak ada yang berani berhenti untuk sekadar bertanya, apalagi memberikan bantuan. Bagi warga Gang Melati, keluarga Bagas adalah orang asing yang sombong yang kini telah menerima karma dari perbuatan mereka sendiri.
Bagas perlahan duduk kembali di lantai, kali ini ia tidak lagi memeluk lututnya. Ia bersandar pada dinding kayu, memejamkan matanya, dan mencoba memutar kembali memori masa lalu. Saat-saat di mana Laras selalu menyambutnya dengan senyum hangat setelah ia pulang kerja, menyediakan hidangan hangat di meja makan, dan memijat pundaknya yang lelah tanpa pernah mengeluh.
"Laras, andai saja aku tidak pernah menyia-nyiakanmu," bisik Bagas dalam hati. Namun, penyesalan itu hanyalah bisikan kosong yang tertelan oleh dinginnya udara malam yang mulai turun.
Malam itu, mereka bertiga tidur di atas lantai semen yang dingin tanpa alas apa pun. Tidak ada selimut, tidak ada bantal, hanya debu dan udara pengap yang menemani tidur mereka. Di sudut ruangan, Ibu Melati masih terisak pelan dalam tidurnya, sementara Bagas tetap terjaga, menatap langit-langit dengan mata yang terbuka lebar, menanti datangnya pagi yang akan membawa tantangan hidup yang lebih berat dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya. Keangkuhan yang selama ini ia pelihara telah runtuh, dan yang tersisa hanyalah kehampaan yang tak berujung. Mereka benar-benar telah kehilangan segalanya, termasuk sisa-sisa martabat yang selama ini mereka banggakan di hadapan orang lain.