Bagi Parrie Rose, dunia adalah medan pertempuran tanpa henti. Setelah kematian ibunya, gadis berusia 20 tahun itu terpaksa tinggal di kediaman keluarga Ford, menghadapi kebencian sang ibu tiri, serta perlakuan dingin keluarga barunya. Label ‘anak haram’ melekat erat di dadanya, menjadikannya sasaran hinaan yang seolah tak pernah usai.
Setitik harapan muncul saat Parrie berhasil masuk ke universitas paling bergengsi di New York melalui jalur beasiswa. Namun, takdir kembali mempermainkannya.
Hari pertamanya di universitas langsung berubah menjadi mimpi buruk saat sosok dari masa lalunya hadir kembali: Dimitriou Kaetos Ashford, putra konglomerat dengan kekuasaan besar, kembali hadir di kehidupannya.
Di antara tekanan keluarga tiri, hierarki kampus elit, dan jeratan obsesi Kaetos,
Akankah Parrie mampu melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalunya, atau justru tenggelam dalam jerat permainan Kaetos?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16
Dimitriou Kaetos Ashford terpaku mendapati carik kertas kecil yang baru saja digeser oleh Parrie ke atas mejanya.
Matanya yang tajam tertuju pada untaian kalimat rapi itu. Setiap kata seolah menjadi hantaman kecil yang meruntuhkan pertahanan dirinya:
'Terima kasih untuk bekal makan siangnya kemarin. Dan... terima kasih karena sudah menyuruh Irysh menjadi temanku.'
DEG.
Jantung Kaetos mendadak melonjak liar, berdetak tidak beraturan di dalam rongga dadanya. Sepotong warna kemerahan samar tiba-tiba merayap di sekitar leher tegap hingga ujung telinganya yang terbuka. Pria yang biasanya dipenuhi aura intimidasi, dingin, dan tak tersentuh itu seketika menjadi sangat salah tingkah.
Ia buru-buru memalingkan wajahnya ke arah jendela luar, meremas jemarinya kuat-kuat di balik meja. Rahangnya mengeras, namun napasnya menjadi agak tersendat. Kaetos berusaha keras menetralkan raut wajahnya agar tidak kentara, tetapi rona hangat di telinganya sama sekali tidak bisa berbohong.
Bagaimana bisa gadis ini tahu aku yang menyuruh Irys? Apakah mulut cerewet itu membocorkannya?! batin Kaetos panik dan merutuk di dalam hati.
Lebih dari itu, Kaetos diliputi rasa bingung yang teramat sangat. Ada apa dengan Parrie hari ini? Kenapa dia tidak takut lagi padaku? Kenapa dia menatapku seolah-olah... seolah-olah dia tahu segalanya dan tidak lagi membenciku?
Seharusnya Parrie membencinya! Seharusnya gadis itu ketakutan, menjauh, atau setidaknya memandang dirinya dengan tatapan penuh luka setelah bentakan dan rentetan caci makinya Kemarin siang. Namun, tatapan mata Parrie pagi ini justru memancarkan kehangatan yang luar biasa pekat—tatapan murni penuh penerimaan yang membuat seluruh saraf di otak Kaetos melilit hebat karena bingung sekaligus terguncang.
Di sisi lain, Parrie Rose yang duduk di sebelahnya tidak mempedulikan betapa kaku dan salah tingkahnya Kaetos di sampingnya. Parrie justru mengukir senyum tipis yang sangat manis.
Di barisan Depan, Allenatore tampak memutar tubuhnya sedikit, melemparkan tatapan mata yang sangat tajam, penuh selidik, dan sarat akan kecemburuan terselubung ke arah Parrie.
Tatapan Allen seolah ingin menguliti Parrie hidup-hidup karena mendapati betapa santainya gadis miskin itu berada di dekat Kaetos tanpa mendapat penolakan fisik. Namun Parrie sama sekali tidak gentar. Ia terang-terangan membalas tatapan Allen dengan sebuah senyuman tenang tanpa dosa, seolah menegaskan bahwa ancaman atau bayang-bayang dari Allen tak lagi mempan padanya.
Kaetos yang menyadari gejolak aneh di dadanya segera melempar carik kertas itu ke dalam tasnya dengan gerakan kasar yang terburu-buru, lalu membuang muka rapat-rapat sampai jam kuliah berakhir.
••••
Siang harinya, begitu bel tanda berakhirnya perkuliahan berbunyi, para mahasiswa mulai berhamburan keluar dari ruang kelas menuju area kantin terbuka dan lapangan utama universitas.
Atmosfer di area lapangan rumput tengah kampus sangat ramai. Di salah satu sudut meja kayu panjang di bawah naungan pohon rindang, Kaetos duduk bersama dua sahabat karibnya sejak masa High School: Marvel—pria berwajah tampan yang juga mantan kekasih Irysh—dan Kendrick, pria Narsistik yang Sok bersikap tenang.
Kaetos menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi, memegang kaleng minuman dingin di tangannya. Namun, tatapan matanya sama sekali tidak fokus pada obrolan kedua sahabatnya.
Mata tajam itu terus menelusuri lorong utama, mengawasi setiap pergerakan Parrie yang sedang berjalan keluar gedung bersama Irysh.
Tidak jauh dari tangga gedung fakultas, Parrie dan Irys mendadak menghentikan langkah mereka.
Dari arah berlawanan, sosok pria tinggi berpakaian mewah dengan gaya angkuh melangkah menghampiri mereka. Pria itu adalah Glenmore Ford—saudara tiri Parrie.
Glenmore menyilangkan kedua tangannya di dada, berdiri tepat di hadapan Parrie dan Irysh dengan raut wajah menghina yang begitu kentara.
"Wah, wah... lihat siapa yang baru saja keluar kelas," cibir Glenmore dengan suara lantang yang sengaja dikeras-keraskan. Mata pria itu menatap Parrie dari atas ke bawah dengan tatapan merendahkan. "Semalam kau tidak Menemuiku, Parrie. Jadi jalang di mana kau semalam, huh?"
Mendengar kalimat kasar dan tidak sopan itu, Irysh Whitman yang berdiri di samping Parrie seketika menganga lebar! Matanya membelalak tidak percaya.
Irys mengenal betul siapa Glenmore Ford—penerus utama dari keluarga Ford. Namun Irys yang belum tahu bahwa Parrie adalah anak haram yang baru diakui di keluarga Ford, dibuat syok setengah mati melihat bagaimana Glenmore tiba-tiba mencegat Parrie dan melontarkan kata-kata sebejat itu di depan umum.
Parrie tidak bergeming. Alih-alih menangis atau ketakutan, Parrie justru mengangkat dagunya secara anggun. Matanya menatap Glenmore dengan dingin dan tajam.
Sebuah ukiran senyum tipis yang penuh dengan nada sinis mengembang di bibir Parrie.
"Kenapa, Glen?" balas Parrie dengan suara tenang namun menohok lurus ke dada Glenmore. "Kau ingin menggunakan jasaku?"
DEG!
Mulut Irysh semakin menganga lebar sampai-sampai rasanya rahangnya hendak jatuh ke tanah. Apa-apaan respon jawaban gila itu?! batin Irysh heboh, terperangah melihat keberanian Parrie yang sama sekali tidak ia duga.
Glenmore sendiri tampak tersentak hebat. Wajah tampannya mendadak memerah padam karena malu dan murka menerima balasan menohok dari saudara tirinya itu di hadapan banyak orang.
"Kau... dasar wanita tak tahu diri!"
Sementara itu, di meja kayu sudut lapangan...
Kaetos yang sejak tadi mengawasi pergerakan Parrie dari kejauhan mendadak membeku. Mata kelamnya menangkap dengan sangat jelas bagaimana Glenmore Ford berdiri begitu dekat di depan Parrie, mengajak gadis itu berbicara dengan raut wajah yang intim dan tegang.
KREK!
Kaleng minuman bersoda berbahan seng di tangan kanan Kaetos seketika remuk tak berbentuk! Cairan soda dingin meluber membasahi jemarinya, namun Kaetos sama sekali tidak peduli. Matanya yang membara oleh kilatan api cemburu membakar lurus ke arah Glenmore Ford.
Aura di sekitar meja mereka mendadak merosot drastis hingga terasa membekukan tulang.
Marvel yang sedang mengunyah sandwich-nya mendadak tersedak. Ia menoleh kaget menatap Kaetos yang rahangnya mengeras hebat, urat-urat di leher tegap pria itu menonjol keluar akibat menahan amarah yang meledak-ledak.
"Woi, Kaetos! Kau kenapa?!" seru Marvel panik seraya menunjuk kaleng soda yang hancur di tangan Kaetos. "Kaleng itu salah apa padamu sampai kau remas seperti mau membunuh orang?!"
Kendrick yang duduk di sebelah Marvel menyipitkan matanya, lalu mengikuti arah pandangan mata Kaetos yang tertuju lurus pada lapangan tengah. Kendrick lalu tertawa kecil secara konyol.
"Ah... pantas saja," gumam Kendrick dengan nada menggoda yang sangat santai. "Pangeran kegelapan kita sedang membakar kaleng karena gadis di sebelahnya sedang didekati oleh Glenmore Ford."
"Tutup mulutmu, Kendrick!" geram Kaetos dengan suara rendah yang sangat berbahaya, matanya masih menancap tajam pada Glenmore dari kejauhan.
Marvel membelalakkan matanya, lalu ikut melihat ke arah lapangan. Begitu matanya melihat Irys sedang berdiri di samping Parrie, ekspresi Marvel berubah menjadi konyol dan penuh drama.
"Tunggu, tunggu!" pangkas Marvel heboh seraya menepuk-nepuk bahu Kendrick. "Kenapa Irys ada di sana juga bersama gadis bangku, Kaetos? Dan kenapa si brengsek Ford itu berada di dekat mereka berdua?!"
Kaetos berdiri mendadak dari kursinya hingga meja kayu terdorong kasar. Aura membunuh memancar pekat dari tubuhnya. "Aku akan mematahkan leher Ford itu jika dia berani menyentuhnya satu senti saja."
"Hei, hei! Tahan gila!" Marvel cepat-cepat menarik lengan kemeja Kaetos sebelum pria itu benar-benar melangkah maju dan membuat kegaduhan berdarah di tengah kampus. "Kau mau membuat gempar seluruh universitas hanya karena cemburu blind-spot begitu? Duduk dulu, sialan!"
"Lepas, Marvel!" desis Kaetos tajam.
"Kau ini lucu sekali, Kaetos," kekeh Kendrick sambil bersedekap dada, menikmati pemandangan langka di depannya.
"Kemarin di kelas kau membentaknya dan berpura-pura tidak peduli, tapi sekarang hanya karena dia mengobrol dengan pria lain, kau siap melakukan pembunuhan berencana di siang bolong. Kau ini mau jadi calon kekasihnya atau mau jadi algojo pribadinya?"
"Dia milikku!" pangkas Kaetos cepat tanpa sadar, suara kencangnya membuat Marvel dan Kendrick seketika bungkam dan saling pandang dengan senyum jahil.
Kaetos menyadari ucapannya yang kelepasan, lalu makin mengeras salah tingkah. Ia membuang napas kasar, menghempaskan kembali tubuhnya ke kursi dengan wajah berlipat-lipat murka.
Kembali ke lapangan tengah tempat Parrie, Irys, dan Glenmore berdiri...
Glenmore yang masih emosi akibat balasan menohok Parrie, tiba-tiba memalingkan pandangannya saat tak sengaja melihat Marvel yang sedang duduk di meja kayu sudut lapangan bersama Kaetos.
Sebuah seringai licik dan provokatif mengukir di bibir Glenmore. Ia ingin mengalihkan rasa malunya dengan menyerang orang lain.
"Oho... lihat siapa yang ada di sana," ujar Glenmore dengan suara cukup keras seraya menunjuk ke arah Marvel dari kejauhan. Pria itu menatap Marvel dengan pandangan mengejek yang tajam. "Hey, pecundang! Lihatlah... mantan kekasihmu semakin seksi dan liar sekarang!"
Ucapan Glenmore yang merujuk pada Irys itu bergaung cukup nyaring di area lapangan.
Marvel yang mendengarnya dari meja kayu sudut langsung berdiri tegak dari kursinya. Wajah tampan Marvel memerah padam oleh amarah yang mendadak membakar dadanya.
"Sialan kau, Ford!" teriak Marvel membalas dengan tatapan membunuh dari kejauhan. Marvel sudah bersiap melepas jaketnya untuk menghampiri Glenmore, namun Kendrick menahannya sambil menggelengkan kepala.
Sementara itu, Irys Whitman yang menjadi bahan lelucon murahan Glenmore justru terkekeh sinis. Irys melangkah maju satu langkah, berdiri pas di depan Glenmore seraya menepuk bahu Parrie dengan santai.
"Kau tahu, Glenmore?" pangkas Irys dengan nada suara yang sangat tenang namun menyengat. "Mantan kekasihku memang pecundang, tapi kau... kau bahkan lebih rendah dari sampah di selokan kompleks rumahku. Membicarakan fisik wanita di depan umum hanya untuk menutupi rasa memar di harga dirimu yang baru saja dihancurkan oleh Parrie? Sungguh sangat menyedihkan."
Wajah Glenmore makin memerah padam. "Irys Whitman, jaga mulutmu!"
"Atau apa?" tantang Irys berani, tidak ada sedikit pun rasa takut pada nama besar keluarga Ford. "Kau mau memukulku? Coba saja kalau kau berani berurusan dengan keluarga Whitman dan Ashford sekaligus sore ini."
Glenmore mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia melirik ke arah meja sudut, di mana Kaetos Ashford kini sudah berdiri tegak dengan mata merah menyala yang siap menerkamnya kapan saja. Menyadari bahwa ia berada di posisi yang sangat tidak menguntungkan, Glenmore mendengus kasar.
"Cih! Berengsek!" umpat Glenmore, lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi terburu-buru meninggalkan area lapangan rumput dengan rasa malu yang luar biasa.
Setelah Glenmore pergi, Irys membuang napas lega lalu menoleh pada Parrie seraya mengacungkan dua jempolnya. "Jawabanmu tadi benar-benar mahakarya, Parrie! Kau sukses membuat si sombong itu Menciut!"
Parrie tersenyum tipis, lalu matanya bergulir perlahan menatap ke arah meja kayu di sudut lapangan.
Di sana, Kaetos masih berdiri kaku, menatap lurus ke arah Parrie dengan pandangan mata yang sangat intens, dan dipenuhi kecemasan yang mendalam.
Parrie menatap mata tajam itu, lalu dengan sangat lembut... Parrie memberikan sebuah anggukan kecil dan senyuman hangat khusus untuk pria itu—seolah ingin menyampaikan pesan rahasia: 'Aku baik-baik saja, Kaetos. Jangan cemas.'
Melihat senyuman hangat yang ditujukan khusus padanya itu, dada Kaetos bergetar hebat kembali. Pria tegap itu dengan kaku mengalihkan pandangannya ke samping, berpura-pura tidak melihat, meski di dalam dadanya... rasa hangat yang begitu indah perlahan-lahan mengikis seluruh kegelapan yang selama ini mengurung jiwanya.