Sama sekali tidak terbayangkan dalam hidup Zain harus menikahi perempuan yang sama sekali ia belum kenal sebelumnya. Keadaan yang membuatnya harus melakukan tanggung jawab besar. Tidak ada orang yang ingin terkena musibah. Namun karena sudah takdir, maka semua harus tetap berjalan semestinya.
Dengan berjalannya waktu, takdir pula yang membuka hati Zain untuk mencintai orang yang memang seharusnya ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda RH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pulang Umroh
Sungguh Zean sangat malu. Bisa-bisa nya dia berprasangka seperti itu. Dan anehnya lagi ia berkata jujur kepada Hilman.
Hilman tahu saat ini Zean pasti sangat malu. Namun ia tidak ingin membuat Zean semakin terpojok kan. Justru Hilman memperkenalkan adiknya kepada Zean.
"Namanya Hilda. Rafli memang memanggilnya bunda. Mari saya kenalkan."
"Eh ti-tidak perlu, pak. Saya.... "
"Jangan menyesal ya?" Goda Hilman.
"Ah iya baik-baik."
Mendapat angin segar dari kakaknya tentu saja Zean tidak ingin mundur.
Hilman dan Zean menghampiri mereka.
"Dek, kamu belum kenalan sama pak Zean?"
Hilda menggelengkan kepala.
"Gimana sih, katanya kamu sudah dua kali ketemu Pak Zean ini gara-gara ulah Rafli. Pak Zean ini adik saya Hilda."
"Salam kenal." Ujar Zean sambil menangkup kan kedua tangannya di dada.
Hilda pun membalasnya seraya menundukkan kepala.
Kali ini hanya perkenalan singkat saja yang terjadi di antara mereka. Karena Hilman masih ada urusan lain, jadi ia pamit pulang. Akhirnya mereka naik ke dalam mobil.
Zean sempat mengantarkan mereka ke luar. Ia mengulum senyum melihat kepergian mereka. Akhirnya rasa penasarannya pun hilang seketika.
"Hilda Hilda Hilda... sepertinya ini cara Allah mempertemukan kita. Terima kasih ya Allah, akhirnya do'anku terjawab." Lirih Zean sambil senyum-senyum sendiri.
Zean kembali ke ruangannya dengan hati senang. Ia bahkan langsung menghubungi abangnya hanya untuk menceritakan hal itu. Padahal Zain sedang meeting saat ini.
"Dengarkan dulu, bang ini masalah penting."
"Iya nanti kalau meeting selesai telpon aku lagi, dek."
"Nggak bisa, bang. Sebentar saja."
"Oke dua menit. "
"Is, nggak kurang dikit itu?"
"Ayo cepat ngomong, dek. Apa yang mau kamu ceritakan itu?"
"Bang, ternyata cewek yang aku taksir itu tidak punya suami. Yang kukira suaminya itu adalah kakaknya. Jadi aku nggak salah, bang. Aku bukan bibit pebinor."
"Dek, ini yang kamu bilang penting?"
"Tentu saja bang, ini menyangkut harga diriku serta hidup dan matiku."
"Astaghfirullah... ya ya, nanti lanjut lagi. Semua orang sedang menungguku."
"Iya ya, assalamu'alaikum."
"Wa'alaikum salam."
Zain hanya bisa menggelengkan kepala setelah menutup telponnya.
Zean ingin sekali memberitahu kedua orang tuanya. Namun ia berpikir kembali. Ia harus menyelidiki latar belakang keluarga Hilda dan juga karakter Hilda. Meski keluarganya tidak mempermasalahkan tentang hal itu, namun ia tetap harus mencari tahu agar nantinya tidak menyesal. Karena menikah itu adalah ibadah terpanjang dalam hidup. Zean tidak ingin salah pilih setelah beberapa kali menyeleksi perempuan dan beberapa kali mau dijodohkan.
Daat sudah pulang ke rumah, Zain langsung menemui abangnya. Kebetulan Zain sedang duduk santai di halaman belakang. Sedangkan istrinya sedang menggoreng kentang di dapur. Belakangan ini Tiyas suka sekali ngemil. Kadang ia beli snack di mini market atau pun membuatnya sendiri seperti saat ini.
"Abang.... "
"Astaghfirullah ngagetin saja kamu, dek."
"Hehe... maaf. Bang kamu harus dengerin aku kali ini."
"Iya, aku dengerin. Coba ceritakan sama abang gimana bisa kamu tahu kalau dia bukan istri orang? "
Zean pun menceritakannya kepada Zain.
Tidak lama kemudian, Tiyas datang membawa kentang goreng lengkap dengan caosnya.
"Sambil ngemil dulu, biar tambah enak ngobrolnya." Ujarnya.
"Wah mbak tahu saja. Makasih, mbak."
"Sama-sama."
Tiyas pun kembali masuk ke dalam. Ia tidak ingin mengganggu keduanya. Ia tahu sejak menikah suaminya sudah jarang sekali ngobrol berdua dengan kembarannya. Tiyas membawa sepiring kentang lagi ke ruang tengah. Ia nonton TV di sana sambil ngemil.
Dua hari kemudian.
Zain dan saudara-saudaranya serta keluarga yang lain pergi ke Bandara Juanda untuk menjemput jama'ah yang baru pulang termasuk orang tua mereka serta opa dan oma. Selama menjalankan ibadah umroh, ummi dan abi memang jarang menelpon anak-anaknya karena mereka fokus beribadah. Mereka bersyukur anak, menantu dan cucu-cucunya dalam keadaan sehat.
Sekitar 30 menit mereka menunggu, akhirnya pesawat landing juga. Setelah mengambil kopernya, mereka pun keluar. Keluarga menyambut dengan suka cita mereka langsung pulang ke rumah. Anak-anak ummi dan abi pulang ke rumah utama. anak-anak dan cucu-cucunya opa dan oma yang lain pulang ke rumah tua.
Kebetulan di mobil, ummi duduk bersama Tiyas. Di sepanjang perjalanan mereka ngobrol.
"Bagaimana selama tidak ada ummi, mbak-mbak nya nggak ke rumah?"
"Ke rumah sesekali ummi. Mbak Alya dua kali. Mbak Ayla tiga kali."
"Tapi kamu nggak kesepian, kan?"
"Alhamdulillah ndak, ummi."
Ummi memperhatikan Tiyas dari atas sampai bawah.
"Nak, apa kamu sedang isi?"
"Isi?"
"Maksud ummi hamil."
"Oh... itu, ndak tahu ummi. Kenapa ummi?"
"Ummi lihat kamu gemukan." Ujar ummi sambil mengusap lengan Tiyas.
Tiyas melihat dirinya sendiri karena ia benar-benar tidak sadar akan hal itu.
"Masa' sih, ummi?"
"Iya, nak."
"Mungkin karena akhir-akhir ini suka ngemil, ummi. " Ujar Tiyas seraya tersenyum. Namun dalam hatinya ia berpikir bahwa harusnya ia datang bulan satu minggu yang lalu. Namun ini kadang ia telat datang bulan. Hal itu sudah biasa terjadi karena siklus haidnya berantakan. Namun bisanya setiap bulan pasti haid. Jadi ia tidak terlalu berharap. Lagi pula ia tidak merasakan tanda-tanda kehamilan pada umumnya.
Akhirnya mereka sampai di rumah. Ummi dan abi meminta anak dan menantunya membuka koper yang berisi oleh-oleh. Bukan hanya makanan khas Arab saya yang mereka bawa, tapi juga abaya original dan mainan untuk cucu-cucunya.
"Ada kurma muda, dek. Coba makan ini, biar cepat hamil." Ujar Alya kepada Tiyas.
Tiyas menerimanya dengan senyuman.
"Rasanya gimana, mbak? "
"Ada sepet nya sedikit. Tapi enak kok."
Tiyas menganggukkan kepala lalu mencoba satu buah kurma dengan bacaan basmalah. Benar kata kakak iparnya, rasanya agak seet tapi segar.
Malam harinya, Tiyas menyiapkan barang-barang yang akan dibawanya pulang kampung besok. Ia tidak membawa banyak pakaian karen di sana pakaiannya masih ada. Acara 40 hari bapak Tiyas tinggal 5 hari lagi. Jadi ia tidak mungkin pulang secara mendadak. Ummi juga sudah menyiapkan oleh-oleh dari Makkah untuk dibagikan kepada tetangga Tiyas dan keluarga Indri.
Tidak lama kemudian, Zain menghampiri istrinya.
"Sayang, tadi di mobil aku dengar ummi menanyakan sesuatu sama kamu."
"Em iya, mas. Kenapa?"
"Memang aku rasa kamu sekarang agak berisi. Beda dari biasanya. "
"Oh ya?"
"Hem... apa lagi itu."
Mata nakal Zain menunjuk sesuatu. Tiyas hanya bisa menggelengkan kepala.
"Sayang, aku sudah siap lahir dan batin jika kamu hamil. Tapi jika belum juga aku tidak apa-apa. Perjalanan kita masih panjang. Jadi jangan kamu ambil pusing ya."
"Terima kasih, mas."
"Sama-sama, sayangku. Ya sudah, ayo tidur. Besok pagi-pagi kita harus berangkat."
"Hem."
Bersambung....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...