NovelToon NovelToon
Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Mendadak Jadi Ibu Tiri Tiga Anak

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Perjodohan / Duda
Popularitas:44.2k
Nilai: 5
Nama Author: Hanela cantik

Nadia tak menyangka takdir akan membawanya menjadi ibu tiri dari pria tiga anak. Ibunya memaksanya untuk menikahi laki-laki yang sudah punya anak. Menggantikan adiknya yang menolak lamaran tersebut, lantaran dia sudah memiliki pacar tentara dan sudah sarjana.

Nadia merasa seolah takdir mempermainkannya, apa salahnya jika dirinya memilih jalan hidup sendiri. menolak perjodohan ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hanela cantik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35

Keesokan paginya, matahari mulai tinggi menembus celah gorden. Sehabis mandi wajib dan shalat Subuh, Nadia melangkah kembali ke ranjang. Seluruh badannya terasa pegal dan lemas. Ia merebahkan tubuhnya perlahan, menghela napas lega seraya menarik selimut hingga sebatas dada.

Berbeda dengan Nadia yang masih lunglai, Arvin justru tampak segar bugar. Pria itu sudah rapi memakai kemeja kerja, berdiri di depan cermin sambil memasang jam tangan. Senyum tipis tak pernah luntur dari bibirnya.

Arvin membalikkan badan, menatap istrinya di atas ranjang.

"Masih pegal-pegal, Sayang?" Arvin mendekat ke tepi ranjang.

Nadia mengangguk pelan dari balik selimut, menatap suaminya dengan mata setengah tertutup. "Badan aku capek banget... ngantuk juga, Mas."

Arvin terkekeh rendah. Ia duduk di tepi tempat tidur, mengusap lembut rambut Nadia. "Maaf ya... Kamu tidur lagi saja. Nanti aku minta Bibi buatkan teh hangat. Hari ini kamu istirahat total."

"Anak-anak jangan lupa dicek ya, Mas... Khususnya Kenzo, tolong bantu pakai seragam sama cek jadwal pelajarannya."

"Siap, Sayang. Semua beres," bisik Arvin seraya mendaratkan kecupan singkat di bibir Nadia. "Kamu tidur saja, tidak usah mikir apa-apa."

Nadia tersenyum tipis, memejamkan mata saat mendengar langkah Arvin menjauh dan suara pintu kamar tertutup pelan.

Arvin melangkah keluar dari kamar utama dengan senyum yang masih mengembang. Pria itu menuju kamar anak-anak, mendapati Kenzo yang sedang sibuk di meja belajarnya dengan raut bingung.

"Kenzo, belum ganti seragam?" sapa Arvin.

Kenzo mendongak. "Papa! Kenzo bingung kancing baju susah dipasang, terus PR matematika di mana ya, Pa?"

Arvin berlutut, dengan telaten memasangkan kancing seragam Kenzo satu per satu, lalu memeriksa tas dan buku pelajarannya. "Nah, seragamnya udah rapi, bukunya juga udah lengkap."

Kenzo menatap ayahnya heran. "Makasih, Pa. Tapi... Bunda mana? Kok enggak kelihatan dari tadi?"

"Bunda lagi capek dan butuh istirahat. Jadi pagi ini Papa yang bantu Kenzo," jawab Arvin lembut seraya mengusap rambut putranya.

"Bunda enggak apa-apa kan, Pa?" tanya Kenzo memastikan dengan raut khawatir.

"Enggak apa-apa, Sayang. Bunda cuma butuh tidur sebentar," bujuk Arvin menenangkan.

Kenzo mengangguk lega. Mereka berdua lalu turun menuju meja makan. Di sana, Jovan dan Damian sudah duduk rapi berseragam. Melihat Arvin turun bersama Kenzo tanpa kehadiran sang ibu, raut wajah Jovan dan Damian seketika berubah cemas.

"Pa, Bunda mana?" tanya Jovan.

"Iya, Pa, Bunda sakit ya?" timpal Damian ikut khawatir. "Kok enggak turun-turun dari tadi?"

melihat kekhawatiran ketiga anaknya, Arvin tersenyum hangat seraya menghampiri meja makan.

"Bunda enggak apa-apa, Cuma lagi capek dan butuh istirahat. Jangan diganggu dulu ya. Nanti sore kalau Bunda sudah bangun, baru kalian sapa," jelas Arvin.

Ketiga anaknya saling pandang, lalu mengangguk lega dan mulai menikmati sarapan mereka.

Usai memastikan anak-anak berangkat sekolah dikawal supir, Arvin menghampiri Bibi di dapur. "Bi, tolong buatkan teh hangat sama makanan buat Nadia. Kalau dia bangun, minta istirahat saja hari ini."

"Baik, Pak Arvin," jawab Bibi.

Dengan perasaan lega dan bahagia, Arvin melangkah menuju mobilnya.

.

.

Nadia terbangun saat jarum jam sudah menunjuk ke angka sebelas siang. Setelah sempat mengisi perut dengan sarapan hangat yang disiapkan Bibi pagi tadi, rasa kantuk yang teramat sangat kembali menyerangnya hingga ia tertidur lelap.

Tubuhnya kini terasa jauh lebih segar. Nadia meraih ponsel di samping bantal. Layar ponselnya menampilkan beberapa notifikasi pesan dari Arvin.

Sayang, sudah bangun? Jangan lupa sarapan ya.

Kalau masih lemas, istirahat saja di kamar.

Nadia tersenyum membaca pesan perhatian dari suaminya, lalu mengetik balasan singkat.

Udah, Mas.

Baru saja pesan itu terkirim, ponsel di genggamannya seketika berdering menayangkan nama Arvin di layar.

Nadia menggeser tombol hijau, mendekatkan ponsel ke telinganya. "Halo, Mas?"

"Halo, Sayang," suara bass Arvin menyapa lembut dari balik telepon. "Gimana keadaannya? Masih pegal badannya?"

"Udah mendingan kok, Mas. Tadi habis makan terus ketiduran lagi..."

"Baguslah kalau begitu. Makanannya dihabiskan, kan?" tanya Arvin memastikan.

"Iya, dihabisin kok."

Arvin terkekeh rendah di seberang sana. Suaranya terdengar makin dalam. "Makan yang banyak, Sayang. Biar nanti malam ada tenaga."

Nadia mengernyit heran, dahinya berkerut polos. "Ngapain? Mau ke mana nanti malam?"

"Ya... mengulang yang tadi malam," sahut Arvin santai tanpa beban.

"Mas Arvin! Jangan aneh-aneh, ya! Badan aku masih pegal tahu!"

Tawa renyah Arvin pecah dari seberang telepon, merasa menang berhasil membuat istrinya kelabakan. "Bercanda, Sayang. Tapi kalau kamu mau, aku dengan senang hati."

"Mas Arvin!"

"Iya, iya, enggak..." Arvin tersenyum lebar walau Nadia tak bisa melihatnya. "Ya sudah, kamu istirahat lagi. Nanti sore aku pulang cepat."

"Iya, Mas..." balas Nadia.

Matahari makin meninggi. Di kantornya, Arvin baru saja meletakkan ponsel usai menelepon Nadia dengan perasaan berbunga-bunga. Namun, belum sempat ia kembali berfokus pada tumpukan berkas di mejanya, ponsel itu kembali berdering.

Nama Ibu Yasmin tertera di layar.

Arvin merapikan duduknya, menggeser tombol hijau lalu mendekatkan ponsel ke telinga. "Halo, Bu. Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam, Arvin," suara Yasmin menyapa lembut namun terdengar ada nada mendesak dari seberang sana. "Kamu lagi sibuk banget enggak di kantor?"

"Lumayan, Bu. Tapi ada apa ya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arvin sopan.

"Ini... Ibu mau minta tolong banget sama kamu. Rachel baru saja landing di bandara setelah pulang dari luar negeri," tutur Yasmin penuh harap. "Ibu lagi ada urusan mendadak di luar kota, supir rumah juga lagi libur. Enggak ada siapapun yang bisa jemput Rachel sekarang. Kamu bisa tolong jemput dia sebentar ke bandara?"

Arvin sempat tertegun sejenak. Ia menyandarkan punggungnya di kursi kerja, mengingat janjinya pada Nadia untuk pulang lebih cepat sore nanti.

"Harus sekarang ya, Bu?" tanya Arvin memastikan.

"Iya. Kasihan Rachel sendirian di bandara bawa barang banyak. Ibu cuma bisa minta tolong sama kamu," sahut Yasmin memohon.

Arvin menghela napas pelan. Tak enak hati untuk menolak permintaan itu, ia akhirnya mengangguk. "Ya sudah, Bu. Saya ke bandara sekarang jemput Rachel."

"Terima kasih banyak ya. Ibu benar-benar terbantu."

"Sama-sama, Bu."

Sambungan telepon terputus. Arvin menatap layar ponselnya sejenak, lalu meraih kunci mobil dan jasnya, bersiap menuju bandara.

Arvin melangkah cepat keluar dari ruang kerjanya sambil menyampirkan jas di lengan. Tepat di depan pintu, Bagas yang hendak melintas menghentikan langkahnya, menatap Arvin dengan dahi berkerut.

"Mau ke mana, Vin? Buru-buru amat," tanya Bagas heran.

"Ke bandara, mau jemput Rachel," sahut Arvin singkat tanpa menghentikan langkah.

Bagas menyamai langkah Arvin. "Rachel? Rachel adiknya Inaya?"

"Iya, siapa lagi," balas Arvin santai.

Bagas menahan lengan Arvin sejenak, memasang raut wajah serius. "Vin, saran aku, mending kamu mulai kurang-kurangi terlalu dekat sama keluarga almarhumah. Mereka pasti punya rencana lain untuk kamu, apalagi posisi kamu sekarang sudah punya Nadia."

Raut wajah Arvin seketika berubah kaku. Ia menepis pelan tangan Bagas dari lengannya, tak terima dengan tuduhan sahabatnya itu.

"Maksud kamu apa, Gas?" suara Arvin meninggi, menatap Bagas tajam. "Ibu Yasmin itu sudah seperti ibu aku sendiri. Beliau cuma minta tolong karena lagi di luar kota dan tidak ada yang bisa jemput Rachel. Kamu jangan asal tuduh yang tidak-tidak!"

"Aku cuma mengingatkan, Vin. Kamu sekarang sudah punya istri..."

"Aku tahu batasan aku!" potong Arvin tegas. "Aku cuma bantu jemput, tidak lebih. Jangan bawa-bawa hal aneh yang bikin keruh suasana!"

Tanpa menunggu balasan Bagas lagi, Arvin berbalik dan melangkah lebar menuju lift, meninggalkan sahabatnya yang hanya bisa menghela napas panjang melihat sikap keras Arvin.

Arvin melajukan mobilnya membelah kemacetan jalanan menuju bandara. Pikiran pria itu sedikit terganggu oleh ucapan Bagas tadi. Namun, Arvin cepat-cepat menepis rasa gusarnya.

Setibanya di area kedatangan internasional, Arvin langsung mengedarkan pandangan. Tak butuh waktu lama bagi Arvin untuk menemukan sosok wanita muda berdiri anggun tak jauh darinya.

"Mas Arvin!" panggil Rachel seraya melambaikan tangan, wajahnya seketika berbinar terang.

Arvin menghampiri, membalas sapaan itu dengan anggukan sopan. "Sudah lama nunggu, Chel?"

Belum sempat Arvin bersiap, Rachel yang tampak sangat antusias langsung menghambur dan memeluk erat tubuh Arvin tanpa memedulikan sikap canggung pria itu. Ia bergelayut manja di pundak Arvin, mengabaikan fakta bahwa mereka berada di tempat umum dan Arvin berusaha menjaga jarak dengan menepuk pundaknya sekilas agar segera melepas pelukan.

"Aku Kangen banget, Mas! Makasih ya udah mau jemput aku, padahal aku tahu Mas pasti sibuk banget," ujar Rachel.

Arvin berdeham, segera mengambil alih gagang koper besar milik Rachel untuk mengalihkan situasi. "Yuk, langsung ke mobil. Takut makin sore makin macet," ajak Arvin datar, berusaha bersikap sewajarnya.

Sepanjang perjalanan di dalam mobil, Rachel sama sekali tidak bisa diam. Ia duduk agak menyerong, terus menatap Arvin dengan gaya bicaranya yang manja dan ekspresif. Rachel menceritakan banyak hal tentang kegiatannya di luar negeri, sesekali tertawa renyah sambil tanpa ragu menyentuh lengan Arvin untuk menarik perhatian, tidak memedulikan respons Arvin yang hanya menanggapi seadanya.

"Kangen banget sama rumah... Kangen Mbak Inaya juga," gumam Rachel dengan nada sedih yang dibuat-buat, sambil melirik Arvin dari samping.

"Tapi kata Ibu, Mas Arvin sekarang sudah nikah lagi ya?"

Arvin mengangguk, fokus pada jalanan di depannya. "Iya. Mas sudah menikah sama Nadia."

"Oh.... Namanya Nadia," gumam Rachel.

"Semoga pilihan Mas Arvin tidak salah ya. Soalnya tidak ada yang bisa menggantikan posisi Mbak Inaya di keluarga kita... termasuk untuk anak-anak."

Arvin mengernyitkan dahi tipis, merasa tidak nyaman dengan arah pembicaraan tersebut, namun memilih untuk tidak membalas.

1
English Lesson
next kk😍😍😍
Fitri Yah
oh .. ferdunan beda agama toh
Fitri Yah
lanjutt lagi kaaa ... terima kasih sdh up banyak
utama
yang sabar Kenzo, bentar lagi adek kamu mau otw🤭
lanjut up kak
utama
lanjut up kak
vita
makasih kak buat ceritanya d tunggu kelanjutannya 💪💪💪
Fitri Yah
iya ajaklah nadya honeymoon, jg anak2mu mas arvin sekalian libur keluarga , pasti anak2 senang .. liburan bareng bunda sama ayahnya 😍
utama
terimakasih sudah up kak🥰
English Lesson
😍😍😍
English Lesson
next kk😍😍😍
Sri Supriatin
Nadia balik n Hana dapat baba😍😍😍🙏🙏🙏
vita
penasaran sm sikap damian nantinya sm nadia, pasti ada rasa takut ya
utama
Alhamdulillah akhirnya Nadia balik lagi kerumah,
sudahlah Ajeng mengalah saja demi si princess Hanna🤭
lanjut up kak
Iffanaya 😽
jgn² Ajeng jodoh nya Ferdinand 🤭
Fitri Yah
dah plg nad ... kasian anak2 di rumah sm suamai kamu. kan dr rumah hanya 1 jam ke rumah ajeng. next main2 lg ke rumah ajeng ajan kenzo jg kl bosen dirumah ya nad hehe .. pasti suamimu ngizinin ko hehe
utama
lanjut up kak
English Lesson
next KK 😍😍😍
vita
semoga nadia luluh kasian kenzo
Fitri Yah
terhuraa huraa aku bacanya thor. buat arvin jnj pelajaran ya ... kl ga mau kehilangan nadya lg. saling terbuka dan jgn sakiti nadya lg kl ga mau lihat nadya kabur2an lg ya. ..
utama
serindu itu meraka sama bunda yaa
lucu adek hana tahu saja cowok ganteng lagi vc🤣
lanjut up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!