NovelToon NovelToon
AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Action
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: SAPEI

**AKU KEMBALI SETELAH MEREKA MENGHANCURKANKU**

Aku pernah mencintai seorang pria sampai rela kehilangan diriku sendiri.

Aku percaya pada suamiku.
Aku percaya pada sahabatku.
Aku bahkan percaya pada keluargaku sendiri.

Ternyata, merekalah orang-orang yang menghancurkanku.

Malam itu, aku mengetahui sebuah rahasia yang seharusnya tidak pernah kutemukan.

Dan sebelum aku sempat mengungkap semuanya...

**suamiku sendiri membunuhku.**

Aku pikir kematian adalah akhir.

Ternyata, aku mendapatkan kesempatan kedua.

Ketika membuka mata, aku kembali ke masa sepuluh tahun yang lalu—saat aku masih berusia sembilan belas tahun.

Semua orang yang dulu menghancurkanku masih ada.

Suamiku masih belum menjadi suamiku.

Sahabat yang mengkhianatiku masih tersenyum di hadapanku.

Dan adikku yang dulu mati... masih hidup.

Kali ini aku tidak akan menjadi perempuan bodoh yang sama.

Aku tidak akan menikah dengan Ryan Arkana.

Aku tidak akan mempercayai Selena Marvia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAPEI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

33 - PELURU DI TENGAH KABUT PUNCAK

Titik merah laser itu bergeser sepersekian detik, mengancam nyawa pria paruh baya yang berlutut di hadapan kami di sudut kamar tidur tua itu.

Tanpa berpikir dua kali, Adrian menerjang maju, menubruk tubuh Pak Joko hingga tersungkur ke sisi lemari arsip yang lapuk, tepat sepersekian detik sebelum desingan peluru tajam menembus udara dan menghantam dinding plester tempat pria itu berdiri tadi.

BAM!

Debu putih berhamburan memenuhi udara kamar yang pengap. Suara letusan senapan berperedam itu memantul tajam, menciptakan kepanikan yang langsung mencengkeram suasana. Bastian dan operator taktis Valois segera mengambil posisi defensif di ambang pintu, melepaskan tembakan balasan terarah ke arah jendela belakang yang kini gelap gulita tertutup kabut malam.

"Amankan perimeter belakang!" perintah Adrian tegas, suaranya menggelegar di tengah bisingnya situasi. Ia membantu Pak Joko bangkit berdiri, sementara mataku terpaku lekat pada wajah pria paruh baya yang sudah kuanggap lenyap bersama malam kebakaran sembilan belas tahun lalu.

Pak Joko—kepala pelayan setia keluarga Arlena yang dulu mempertaruhkan nyawanya untuk menggendongku keluar dari gedung utama saat api melalap segalanya—kini bernapas tersengal-sengal. Air mata bercampur peluh mengalir deras di pipinya yang keriput.

"Nona... Nona Nadia," suara Pak Joko bergetar hebat, jemarinya yang dingin mencengkeram lengan mantelku erat-erat seolah menahan sisa nyawanya yang hampir lepas. "Jangan percaya pada apa pun yang tertulis di surat itu... Edward tidak berniat menyelamatkanmu sendirian. Ada rahasia besar di balik malam itu yang belum kau ketahui!"

Aku menatap tajam ke arahnya, emosi bergolak hebat di dalam dadaku. "Apa maksudmu, Pak Joko? Mengapa kau bersembunyi di sini selama bertahun-tahun? Dan siapa yang memegang kunci brankas itu?"

Sebelum Pak Joko sempat menjawab, suara derap sepatu bot berat terdengar menaiki tangga kayu dengan kecepatan tinggi, disusul oleh suara tembakan brutal yang menghujam pintu kamar dari arah koridor luar.

"Tuan Besar! Penyerang masuk dari lantai bawah! Jumlah mereka lebih dari satu pleton!" teriak Bastian lewat alat komunikasi sambil terus melepaskan rentetan peluru ke arah lorong.

Adrian merapat ke sisi kiriku dengan gerakan refleks yang sempurna, tangannya yang kokoh menarik tubuhku ke balik pilar dinding tebal. Matanya menatap tajam ke arah Pak Joko yang kini tampak ketakutan luar biasa. "Kita harus keluar dari sini sekarang juga. Vila ini sudah dikepung total."

"Tidak ada waktu untuk melarikan diri lewat pintu depan!" seru Pak Joko sambil menunjuk panik ke arah lantai kayu di sudut kamar, dekat tempat ia berlutut tadi. "Brankas itu... kunci kombinasi brankas ibumu ada di dalam laci rahasia meja rias ini. Tapi kalian harus tahu... orang yang merencanakan pembantaian malam itu bukan hanya Darmawan atau dewan bayangan. Ada orang lain dari dalam lingkaran keluarga Valois sendiri!"

DEG.

Kalimat itu membuat darahku mendadak berhenti mengalir di pembuluh darah. Mataku melebar menatap Pak Joko, lalu perlahan beralih menatap wajah Adrian di sebelahku.

Adrian tidak menunjukkan keterkejutan yang berlebihan, tetapi rahang pria itu mengeras seketika hingga otot di pipinya menonjol tajam. Cengkeramannya pada gagang senjata semakin erat hingga buku-buku jarinya memutih sempurna.

Sebelum ada di antara kami yang sempat memproses pengakuan mengejutkan itu, dinding kamar tiba-tiba meledak berkeping-keping akibat hantaman granat kejut yang dilemparkan dari luar jendela.

Asap putih pekat dan api membara langsung menyergap ruangan dalam sekejap, merenggut kesadaran, memutus seluruh suara di sekeliling, dan melemparkan kami ke dalam pusaran bahaya yang jauh lebih mematikan dari perkiraan semula.

Bagaimana, bro? Versi ini sudah jauh lebih panjang, padat, dan pas untuk dilanjutkan ke bab berikutnya! Kalau ada bagian yang ingin disesuaikan lagi, bilang saja ya.

1
REY ASMODEUS
ceritamu ini keren thor. aku suka adegan tabrakan nya... 🤣🤣🤣🤣🤣 coba saja si sirkus itu di dorong saja ke jurang beh mantapnya itu kembang api
One Pey: "Terimakasih Brad...iya ya padahalmah di dorong aja dia...
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!