Bosan dengan kisah cinta biasa? Siap-siap dibuat gemas, terharu, dan ketagihan lewat kisah Hazelia!
Gadis muda yang super ceria, tengil, dan penyayang ini terpaksa menunda mimpinya demi menjadi office girl di perusahaan raksasa demi membiayai pengobatan sang ibu dan sekolah adiknya. Siapa sangka, ketidaksengajaannya menabrak sang CEO dingin, Tuan Mahrup, justru memercikkan benih cinta tak terduga!
Dari ruang pantry penuh gosip hingga diangkat menjadi asisten pribadi, Hazel harus menghadapi cemburu rekan kerja, tuduhan miring, hingga kembalinya masa lalu Sang Tuan yang penuh rahasia. Bisakah ketulusan gadis sederhana ini meluluhkan hati pria sekaku es dan melewati badai ujian cinta mereka?
Penasaran bagaimana kelanjutan hubungan beda kasta yang penuh drama dan kejutan ini? Yuk, baca selengkapnya dan ikuti liku-liku cinta Tuan Mahrup dan Hazel sekarang juga!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragan Fian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
OGMTM-24
...Mahrup kemudian mendongakkan kepalanya, menyapu seluruh penjuru lobi dengan pandangan mata yang menghujam tajam, sebelum akhirnya berbisik dingin pada asistennya untuk mengunci seluruh akses sistem perusahaan detik itu juga.
Jas hitam yang bertengger di bahu Hazel terasa amat hangat, seolah menjadi benteng tebal yang melindunginya dari gempuran ribuan tatapan beracun.
Tanpa membiarkan Hazel membalas sepatah kata pun pada Akbar atau kerumunan yang ketakutan, Mahrup meraih jemari mungil Hazel dan membimbingnya masuk kembali ke dalam lift eksekutif.
Pintu lift tertutup rapat. Keheningan yang menekan mendadak menguasai ruangan sempit itu saat mereka meluncur ke lantai atas
Begitu melangkah masuk ke dalam ruang CEO, udara berubah menjadi sangat dingin dan mencekam. Mahrup tak lagi mampu membendung amarah yang membakar jiwanya.
Rasa murka akan fitnah keji yang menyerang kehormatan Hazel serta pelecehan terhadap integritas pimpinan Mahardika Group membuat rahang pria itu mengeras tajam.
BAM!
Kepalan tangan Mahrup menghantam permukaan meja-nya dengan keras, menimbulkan dentuman berdengung yang membuat Hazel terperanjat kaget di dekat pintu.
"T-Tuan CEO..." bisik Hazel parau, kedua tangannya meremas erat ujung jas milik Mahrup yang menyelimuti tubuhnya.
"Hazel enggak apa-apa, Tuan... Hazel mohon jangan sampai Tuan menyakiti diri sendiri karena masalah ini..."
Mahrup membalikkan badan dengan cepat. Tatapan matanya yang membara oleh amarah mendadak melunak sesaat begitu menangkap binar air mata di wajah Hazel.
Pria itu melangkah mendekat, mencengkeram lembut kedua bahu Hazel dengan jemarinya yang hangat.
"Jangan pernah katakan kamu tidak apa-apa, Hazelia," ujar Mahrup dengan suara rendah yang sarat akan getaran emosi terpendam.
"Mereka telah menginjak harga diri dan kehormatanmu di depan umum. Dan saya tidak akan pernah membiarkan satu orang pun di gedung ini lolos setelah melakukan hal menjijikkan ini padamu!"
Sebelum Hazel sempat membalas, ketukan kencang terdengar di pintu kaca.
Pintu bergeser memperlihatkan Manager HRD, Pak Seto, bersama Kepala Divisi IT yang melangkah masuk dengan raut wajah pucat pasi dan pelipis berkerat keringat dingin.
"T-Tuan Mahrup..." panggil Pak Seto terbata-bata, menundukkan kepala dalam-dalam. "Sesuai perintah Tuan, seluruh forum internal telah dibekukan sementara."
"Saya tidak butuh sekadar pembekuan, Seto!" bentak Mahrup dengan nada menggelegar, membuat kedua pejabat eksekutif itu makin mengkerut ketakutan.
"Saya berikan waktu tiga puluh menit! Lacak alamat IP pengunggah, periksa setiap log aktivitas cyber dan tarik data CCTV dari seluruh sudut yang merekam area parkir serta lobi sejak semalam!"
Kepala Divisi IT menelan ludah kasar. "Siap, Tuan Mahrup! Tim cyber security kami sedang melakukan trace-back pada akun anonim tersebut. Mengingat sistem internal kita terintegrasi dengan ID komputer karyawan, peretasan ini pasti meninggalkan jejak digital yang tidak bisa dihapus."
"Lakukan sekarang di hadapan saya!" perintah Mahrup tajam, menunjuk layar monitor interaktif raksasa di dinding ruangannya.
"Siapa pun pelaku di balik akun anonim ini... serahkan surat pemecatan Secara tidak hormat detik ini juga!"
Hazel mengamati kemurkaan Mahrup dengan dada bergemuruh hebat. Di balik ketegasan dan amarah yang menakutkan itu, Hazel bisa merasakan betapa Mahrup sangat mempedulikannya dan berjuang mati-matian untuk melindungi kehormatannya.
Ada kehangatan dan rasa haru yang membuncah di dalam hatinya.
Layar monitor utama mendadak berkedip nyaring. Garis-garis kode enkripsi di layar IT terurai satu per satu, menampilkan peta navigasi internal gedung.
Sistem trace-back berhenti mengedip dan mengunci satu lokasi spesifik. Sebuah pesan konfirmasi berwarna merah menyala muncul di tengah layar:
IP ADDRESS MATCHED: TERMINAL 04-B (PANTRY & RUANG STAF KEBERSIHAN LANTAI DASAR
USER ID: LUNA MAYASARI
Suasana di ruang CEO mendadak membeku. Mata Pak Seto membelalak kaget, sementara Hazel menutup mulutnya tak percaya.
Mahrup menyunggingkan senyum dingin yang mematikan. "Rupanya ular itu ada di bawah meja kita sendiri."
Mahrup langsung berbalik melangkah menuju pintu. "Seto,seret wanita bernama Luna itu ke ruang HRD sekarang juga!"