Menikah 15 tahun tanpa anak dan hidup susah dari nol ditemani Agus, Eda akhirnya lulus PPPK setelah 10 tahun jadi honorer. Bukannya bahagia, gajinya justru habis tersedot utang serta beban keluarga besar. Saat lelah mendera, Agus sang suami berubah dingin jika tak diberi uang rokok, bahkan tega mengungkit luka lama di atas ranjang. Di antara rasa kasihan dan putus asa, Eda dihadapkan pada pilihan sulit: bertahan dengan pria yang tak punya tempat pulang, atau pergi demi menyelamatkan kewarasannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amoreiza Aneta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Telepon yang di Abaikan
Teh hangat buatan Bu Maya terasa mengaliri kerongkongan Eda yang sejak pagi tadi terasa kering dan gatal. Asap tipis yang membumbung dari cangkir porselen itu seolah menjadi satu-satunya kehangatan yang Eda rasakan sepanjang hari ini.
Di luar, rintik hujan di atas atap seng SD Harapan Bangsa lambat laun mereda, menyisakan suara tetesan air dari talang yang beradu dengan tanah.
Eda menyapu sisa air mata di pipinya menggunakan tisu dapur. Hatinya yang tadi sempat hancur dan goyah akibat bentakan Ibu Ratna di telepon, perlahan-lahan mulai mengeras kembali. Kata-kata Bu Maya terus berputar di kepalanya: *Bu Eda punya hak penuh atas keringat Bu Eda sendiri.*
"Terima kasih banyak ya, Bu Maya," ucap Eda pelan, berusaha mengulas senyum tipis meski matanya masih tampak sembap dan kemerahan.
Bu Maya mengangguk, mengelus pundak Eda sekali lagi sebelum kembali ke mejanya. "Sama-sama, Bu Eda. Kalau butuh teman cerita atau butuh bantuan apa pun, jangan sungkan ngomong ke saya ya. Kita ini sudah seperti keluarga di sekolah."
Eda menatap layar laptopnya yang masih menampilkan rekapan nilai siswa kelas empat. Jemarinya yang tadi gemetar kini mulai bergerak menari di atas kibor. Eda memaksa dirinya fokus bekerja. Ia tidak boleh membiarkan drama rumah tangganya merusak profesionalitasnya sebagai guru PPPK. Sekolah ini adalah satu-satunya tempat di mana ia dihormati sebagai manusia, bukan dianggap sebagai mesin pencetak uang.
Pukul sepuluh pagi, bel istirahat pertama berbunyi nyaring. Suara riuh anak-anak yang berlarian di koridor dan lapangan sekolah mulai terdengar.
Eda baru saja hendak berdiri dari kursinya ketika HP-nya di atas meja kembali bergetar kencang. Nama **"Mas Doni"** tertera di layar.
Eda memandangi benda pipih itu selama beberapa detik. Jantungnya berdegup agak kencang, tapi kali ini bukan karena takut. Ada rasa muak yang teramat sangat yang mendadak membakar dadanya. Ia tahu persis apa yang ingin dibicarakan kakak kandungnya itu: pasti menyambung desakan Ibu Ratna soal uang empat ratus ribu rupiah untuk ganti ban mobil sewaan.
Tanpa ragu sedikit pun, Eda menggeser tombol merah di layar. *Reject.*
Tidak sampai satu menit kemudian, HP itu bergetar lagi. Kali ini dari **"Mbak Rini"**.
Eda menggelengkan kepala. Bibirnya tersenyum masam. *Luar biasa,* batinnya. Satu rumah kompak mengeroyoknya hanya karena ia menolak memberikan uang yang memang tidak pernah ada di dompetnya.
Alih-alih mengangkat panggilan tersebut, Eda menekan tombol volume di samping HP-nya hingga mode hening aktif. Ia membalikkan posisi HP sehingga layarnya menghadap ke bawah meja. Untuk pertama kalinya dalam lima belas tahun hidup dalam tekanan keluarga, Eda memilih untuk tidak peduli.
...****************...
Siang harinya, sekitar pukul dua sore, jam mengajar dan tugas administrasi sekolah telah usai. Eda merapikan berkas-berkasnya ke dalam tas. Sepatu pantofel hitamnya yang tadi basah sudah agak mengering, meski bahannya terasa makin kaku di kaki.
Ketika Eda melangkah keluar dari gerbang SD Harapan Bangsa menuju tempat angkot biasa mangkal, langkahnya melambat. Bayangan tentang apa yang menunggu di rumah kontrakan sempit di Solo itu mulai membayang di benaknya.
Ia membayangkan wajah masam Agus yang siap melakukan *silent treatment* seharian, omelan Ibu Ratna yang akan menuduhnya durhaka, serta sindiran-sindiran pedas dari Rini dan Doni. Dulu, Eda selalu mempercepat langkahnya pulang karena merasa bertanggung jawab menyiapkan makan malam dan mengurus rumah. Tapi hari ini, rasanya kakinya begitu berat untuk melangkah ke sana.
"Lho, Bu Eda kok belum pulang?" suara Pak Burhan, Kepala Sekolah SD Harapan Bangsa, memecah lamunannya dari arah belakang. Pak Burhan baru saja hendak menaiki sepeda motor matiknya di halaman sekolah.
Eda membalikkan badan dan mengangguk sopan. "Eh, Pak Burhan. Ini baru mau nunggu angkot di depan, Pak."
Pak Burhan menghentikan langkahnya sejenak, memandangi Eda dengan raut wajah teringat sesuatu. "Oh iya, Bu Eda! Mumpung ketemu di sini. Saya mau menyampaikan edaran dari Dinas Pendidikan Kabupaten tadi siang."
"Ada edaran apa ya, Pak?" tanya Eda penasaran.
"Ini terkait pendaftaran Seleksi Calon Guru Penggerak angkatan baru," terang Pak Burhan dengan nada semangat. "Syarat administrasi dan portofolio sudah mulai bisa diunggah minggu ini di portal resmi. Saya sangat berharap Bu Eda mau mendaftar. Dari rekam jejak dan dedikasi Ibu selama ini di SD Harapan Bangsa, Ibu punya potensi besar untuk lolos."
Mendengar ucapan Kepala Sekolahnya, dada Eda mendadak berdesir hangat. Rasa dihargai yang begitu tulus mengalir menyerap ke seluruh tubuhnya.
"Terima kasih banyak atas kepercayaannya, Pak Burhan," jawab Eda dengan suara tegas. "Pasti, Pak. Nanti malam berkas-berkasnya akan mulai saya pelajari dan saya persiapkan."
"Bagus itu, Bu! Kalau ada kendala surat rekomendasi dari sekolah atau koneksi internet buat mengunggah berkas, pakai saja fasilitas laboratorium komputer di sekolah ya," pesan Pak Burhan sebelum mengenakan helmnya dan berlalu meninggalkan halaman sekolah.
Eda berdiri di tepi jalan raya Solo yang mulai ramai oleh kendaraan sore. Ucapan Pak Burhan tadi seperti memberi percikan api semangat baru di dalam jiwanya. Seleksi Guru Penggerak bukan cuma soal peningkatan karier, tapi bisa jadi jalan pembuka baginya untuk mandiri secara penuh dan lepas dari ketergantungan keluarga.
...****************...
Angkot oranye yang ditunggu Eda akhirnya tiba. Eda naik dan duduk tenang di dalam. Sepanjang perjalanan pulang, HP-nya di dalam tas terus-menerus bergetar. Eda sempat melirik layarnya saat angkot berhenti di lampu merah: ada lima panggilan tak terjawab dari Doni, tiga dari Rini, dan dua pesan WhatsApp dari ibunya yang berisi omelan kaku.
Eda tidak membalas satu pun dari pesan-pesan itu. Ia menyandarkan kepalanya ke bingkai kaca angkot, menatap deretan pertokoan Kota Solo yang dilewati.
Ia sadar betul bahwa keputusan menutup akses dan menolak memberikan uang hari ini akan memicu ledakan konflik yang jauh lebih besar begitu ia sampai di rumah nanti. Agus pasti akan makin membenci dan mendiamkannya, Ibu Ratna pasti akan menangis histeris menuduhnya anak tidak tahu berbalas budi, dan Doni mungkin akan mengamuk.
Namun, saat Eda meraba dompetnya yang kini benar-benar kosong, rasa takut di dalam dirinya mendadak lenyap. Yang tersisa hanyalah tekad bulat.
*Kalau mereka mau membenci aku hanya karena aku tidak punya uang lagi buat diperas,* batin Eda sambil mengepalkan jemarinya di atas paha, *berarti selama ini mereka memang tidak pernah menyayangiku sebagai manusia. Mereka cuma sayang pada gaji PPPK-ku.*
Angkot berbelok memasuki kawasan permukiman tempat kontrakannya berada. Eda menghembuskan napas panjang, bersiap melangkahkan kaki memasuki pintu rumah yang kini terasa lebih mirip medan perang. Hari ini, garis batas itu sudah ditarik secara tegas, dan Eda tidak akan pernah mundur lagi.