Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang di nanti
"Apa tidak ada cara supaya kamu bisa terbebas dari Norman ataupun nama keluarganya yang lain?" tanya Urfa
"Tidak ada, ini adalah kontrak darah dan taruhannya adalah nyawa, aku hanya bisa berhenti kalau aku mati" jawab Caringin
"Jangan ragu, aku justru sudah menunggu kebebasanku sejak lama, air yang di siramkan orang orang itu adalah untuk membuat akarku semakin kuat, aku tidak Sudi" ungkap Caringin
"Pergilah, ritual Norman akan di lakukan sejak siang sampai malam, dia akan bersemedi di sini sebentar lagi, jangan sampai dia mengetahui keberadaan kamu, atau semua rencana kita akan gagal" ucap Caringin dan Urfa segera pergi dari sana.
Urfa langsung masuk kembali ke kalung Hatta, Karta sedang menyiapkan sirih milik Kharissa supaya tidak kekurangan, karena untuk membuat Caringin kering di butuhkan banyak sirih merah gaib milik Kharissa. Hatta juga sedang bersama Dirga mencari tempat yang pas untuk menanam tunas baru Caringin, supaya tempat itu tetap berada di area perlindungan sosok yang selalu bersemedi di sana, dan juga bisa Hatta kunjungi saat dia punya waktu nanti.
"Sepertinya di sini cocok, area tanah di sini cukup lebar, tidak akan menggangu pohon yang lain kalau nanti tunas Caringin tumbuh besar" ucap Dirga menunjuk tanah yang cukup lebar di samping kolam halaman belakang rumah Karta yang begitu luas hingga mencapai dua puluh meter.
"Menurutku juga di sini tempatnya cukup bagus" jawab Hatta
"Taburkan garam juga sebelum kalian menanam pohon gaib itu, supaya energi jahat yang terbawa darinya nanti bisa langsung hilang setelah tertanam di dalam tanah itu" bisik suara yang berbisik ke telinga Hatta dan Dirga.
"Siapa itu?" tanya Dimas
"Hatta juga tidak tahu kak, apa mungkin itu adalah sosok penjaga perkebunan ini" jawab Hatta
"Lakukan" bisiknya lagi
"Baik kek" jawab keduanya
Hatta menaburkan garam yang ada di kotak milik Dimas, garam itu memang selalu si bawa Dimas kemanapun karena sekarang dia tak lagi di ikuti nenek Rukmini yang hanya fokus pada Bintang saja. Tapi Dimas dan saudara saudaranya masih bisa memanggil Rukmini untuk menolong mereka karena pada dasarnya, Rukmini sekarang adalah jin pelindung keluarga Darmawan.
"Sekarang ayo kita kembali ke rumah, sudah mulai terik mungkin sebentar lagi Dzuhur" ajak Dimas
••••••••••••
Malam yang di nanti pun tiba, Hatta sudah berada di tempat yang di pilih Dimas, di sana juga ada Norman yang sedang bersemedi di kelilingi anak buahnya. Caringin juga sudah mulai mengeluarkan cahaya hijau setelah terkena efek dari gerhana yang sedang berlangsung.
"Hahahaha... Kamu akan semakin tunduk padaku Caringin!" Ucap Norman yang sudah menyelesaikan semedinya.
Dia berdiri di depan Caringin yang sedang mengeluarkan energi terakhirnya dengan perasaan tenang, matanya menatap orang orang yang sedang bersembunyi di balik semak-semak dan Caringin menganggukkan kepalanya.
"Aku tidak sudi menjadi budak manusia serakah sepertimu, bahkan meski di hari perhitungan nanti aku akan hilang sekalipun, aku tidak mau mati dalam keadaan banyak dosa!" Jawab Caringin
"Kamu mulai membangkang rupanya, rasakan hukumanmu agar kamu tahu untuk siapa kamu berada di tanah ini, untuk keluarga Jatmiko! Kami adalah tuanmu dan kamu selamanya akan jadi jin taklukan kami!" Bentak Norman mengeluarkan keris miliknya dan menebas batang pohon Caringin hingga mengeluarkan cairan hijau dari lukanya.
"Gggrrrrr!"
"Hahaha kamu tersiksa kan! Kamu tersiksa tapi kamu tidak akan mati Caringin, aku tidak akan membuat ladang uangku menghilang begitu saja!" Ucap Norman
Caringin membuka batang pohonnya, energinya yang tersisa dia pakai untuk menarik Norman agar masuk kedalam batang itu, tapi dia kesulitan karena Norman punya ilmu yang cukup kuat, jadi Caringin harus menghabiskan energi miliknya.
"Kamu tidak akan bisa membunuhku Caringin!" Bentak Norman kembali mengeluarkan keris miliknya untuk menghukum Caringin.
Bugh.
"Jika dia tidak bisa, maka aku akan membantunya!" Bentak Hatta yang sudah geram melihat kelakuan Norman sampai menendang Norman masuk ke dalam batang pohon Caringin.
"Aakhhhh! Keluarkan aku dari sini!" Teriak Norman
"Mbah, kami akan menolong Mbah"
"Serang mereka, Hatta lakukan tugasmu" ucap Dimas memukuli orang orang Norman yang berusaha membebaskan Norman, di bantu oleh Dirga dan Karta. Sedangkan Sahara dan Urfa mencari keberadaan tunas baru Caringin.
"Bismillahirrahmanirrahim"
Karta melempar sirih merah milik Kharissa ke semua titik batang Caringin, akarnya yang paling banyak dan sela sela tempat Norman di tarik Caringin ke dalam batang, Dimas juga memasukkan energinya dengan air mata yang terus mengalir karena merasa tidak tega, apalagi saat melihat batang Caringin berubah menjadi kering dan akarnya juga terus mengecil.
"Hiks.... Maafkan kami Caringin" ungkap semuanya
"Aku bahagia, akhirnya aku bebas dan Norman lenyap bersamaku!" Teriak Caringin tertawa terbahak-bahak.
"Hhkkkkkk"
Terdengar suara Norman dari dalam batang pohon yang sudah mulai berubah jadi pohon biasa, darah juga terlihat keluar dari sela-sela batang Caringin yang mereka yakini adalah darah dari Norman yang sudah meninggal.
"Mereka mau di apakan kak?" Tanya Dirga menunjuk para anak buah Norman.
"Nanti kakak berikan berry hitam untuk mereka supaya mereka bisa melupakan kita dan tidak ingat pada Norman juga" jawab Dimas mengusap batang Caringin dan mengambil getah yang tersisa di batang itu, lalu menempelkannya pada tunas baru yang sudah di pegang Hatta setelah tadi di berikan Sahara.
"Pergi tanam sekarang juga, jangan sampai gerhana habis pohon ini belum tertanam di tempat baru" ucap Dimas
Hatta segera berlari dengan Dirga ke tempat di mana Caringin baru akan di taman, mereka harus berlari tanpa menggunakan kendaraan supaya ketulusan mereka bisa di rasakan tunas baru Caringin dan tunas itu bisa betah berada di tempat barunya.
"Semoga mereka berhasil" ucap Karta
"Ya, semoga saja Om, tapi lihat dukun itu, dia masih berusaha melawan" ucap Dimas menatap Norman yang masih terus berusaha bebas dari dalam batang pohon Caringin yang sudah lemah.
"Dia harus mati karena sekarang Om ingat siapa dia, dia adalah keturunan dukun langganan Patricia, dan keturunan orang yang mengutuk Patricia adalah Tama, Om yakin karena wajahnya mirip sekali dengan Tama saat dia di bakar" ungkap Karta terlihat kesal menatap Norman.
"Satu persatu mulai terungkap Om, semoga saja kita juga akan memiliki cara untuk membebaskan nenek Ratri" ucap Dimas dan Karta mengangguk.
"Jessica, Jessica juga mengatakan kalau dia merasa bisa merasakan sesuatu dan ada cahaya putih remang saat dia membuka matanya, Om memintanya untuk memakai kacamata hitam saja supaya dia tidak silau" ucap Karta yang kemarin saat menyuapi Jessica, Jessica mengatakan kalau dia bisa makan sendiri, tapi Karta tidak tahu kenapa dia selalu ingin memanjakan Jessica.