NovelToon NovelToon
Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Penyihir: Di Mulai Dari Korban Pinjol

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Sistem / Fantasi
Popularitas:818
Nilai: 5
Nama Author: Arya Walker

[ Fantasi Barat+ Misteri+ Sistem+ Ksatria+ Penyihir+ Abad Pertengahan ]

Agus yang terlibat pinjol akhirnya mati karena kecelakaan, jiwanya terseret ke dalam dunia lain dan menjadi Simon Blake di dunia pedang dan sihir, Simon bangkit dari budak bandit hingga menjadi penyihir terkuat, dengan sistem kemahirannya ia akan mencapai puncak!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arya Walker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menuju Pasar Gelap Lune

Simon melangkah menyusuri lorong panjang mansion milik Baron Brent yang megah.

Bau lilin lebah dan kayu cendana tercium di udara, sangat kontras dengan aroma amis besi dan gandum busuk yang ia hirup di barak militer.

Dengan baju besi ringan yang baru, ia merasakan simbol aneh di dadanya masih berdenyut tipis, sebuah pengingat bahaya akan kutukan aneh ini.

Sampai di depan pintu ek kayu yang besar terukir lambang keluarga Brent, Simon berhenti sejenak.

Tuk! Tuk! Tuk!

"Masuk," suara yang berat terdengar dari dalam pintu.

"Permisi tuan." Simon mendorong pintu dan masuk.

Ia melihat baron Brent sedang berdiri membelakangi pintu, menatap keluar melalui jendela kaca besar yang memperlihatkan pemandangan wilayah kekuasaannya yang luas.

Sinar matahari senja menyinari zirah sang Baron, memberikan kesan wibawa yang menekan.

Simon segera berlutut dengan satu kaki, menundukkan kepalanya yang berambut hitam legam.

"Simon di sini melapor, Tuan," ucapnya dengan nada dingin namun penuh hormat.

Baron Brent memutar tubuhnya perlahan. Matanya yang tajam menatap Simon, menembus wajah tenang pemuda itu.

"Aku telah mendengar laporan lengkap yang kau buat bersama Gogo. Perjalanan ke Desa Maple ternyata jauh lebih berbahaya dari yang kuperkirakan."

"Aku tidak menyangka Sekte Sunyi berani masuk sedalam ini ke wilayahku. Beraninya mereka membunuh rakyatku demi ritual bidah mereka!"

Seketika, atmosfir di ruangan itu berubah. Baron Brent melepaskan Qi Pertempuran yang sangat kuat secara tidak sadar.

Udara seolah menjadi padat dan berat, menekan pundak Simon hingga ia sulit bernapas.

'Tekanan ini... Ksatria Formal! Dan nampaknya bukan Ksatria Formal biasa! Pikir Simon sembari mengerutkan kening.

Ia merasakan tekanan ini membuat darahnya bergetar hebat menghadapi orang yang jauh lebih superior darinya.

"Hmmm?"

Baron Brent menyadari Simon yang berkeringat dan sedikit gemetar di bawah.

Ia segera menarik kembali Qi pertempurannya.

"Maaf, Simon. Aku terlalu impulsif. Pikiranku terganggu sesaat"

Simon mengambil napas dalam-dalam, mengunakan Pernafasan Ular Hitam miliknya agar kembali stabil.

[Pernafasan Ular Hitam +2 ]

"Tidak apa-apa, Tuan. Kekuatan anda yang kuat sungguh membuat saya kagum," seru Simon sambil tersenyum.

"Heh, anak muda yang menarik, memujiku seperti itu tidak memberimu apa-apa."

Baron Brent menghela napas panjang, wajahnya tampak menua untuk beberapa tahun dalam sekejap.

"Berdirilah, walaupun begtu, Simon. Karena kau dan Gogo telah memberantas sekte tersebut dan menyelamatkan martabat wilayah Brent, sudah sewajarnya kalian mendapat hadiah atas jasamu"

Simon berdiri tegak, dalam pantulan di matanya ada sosok Baron brent yang gagah dan tegas.

Simon melihat sang Baron merogoh laci mejanya dan mengeluarkan sebuah botol kristal berisi cairan berwarna merah pekat yang berkilau yang familiar di bawah cahaya lampu.

Mata Simon berkilat seketika, ini adalah ramuan ksatria!

"Ambil ini. Ini adalah Ramuan Ksatria tingkat sedang. Dengan ini, latihanmu seharusnya bisa berkembang lebih pesat. Jangan sia-siakan investasiku padamu," kata Baron Brent sembari menyerahkan botol itu.

Simon menerima botol tersebut dan menyimpannya dengan hati-hati.

Ia tahu betul bahwa ramuan ksatria sangat mahal dan sulit untuk di dapatkan bahkan jika kamu punya uang belum tentu bisa di beli.

Aku tak menyangka Baron ini ternyata orang baik yang menghargai kerja keras.

Ia membayangkan bahwa setelah mengkonsumsi ramuan ini, kekuatanya pasti akan meningkat secara drastis ketika berlatih.

"Terima kasih banyak, Tuan! Selama aku berada di ada aku disini, saya berjanji akan selalu menjaga kedamaian wilayah Brent," ucap Simon dengan percaya diri.

Walaupun cuma ucapan semata tanpa kontrak yang mengikat, baront brent tetap merasa senang mendengarnya.

Ia tersenyum tipis, sebuah ekspresi yang jarang terlihat.

"Bagus. Dengan ramuan itu, kuharap kau segera menembus ke tingkat 3."

" Ah?!" Simon terkejut bahwa Baron tau bahwa dirinya telah menerobos ke tingkat 2 magang ksatria.

"Terkejut? Semua ksatria formal pasti tau bahwa kamu telah menerobos, karena ada Qi pertempuran tipis disekitar tubuhmu, hal ini hanya dapat di lihat oleh seorang ksatria formal." Kata Baron brent sambil terkekeh.

"Seperti yang di harapkan dari tuan, aku tidak bisa menyembunyikannya, aku hanya cukup beruntung dapat menerobos!" Kata Simon.

"Hehehe, keberuntungan juga bagian kekuatan, baiklah kamu boleh pergi sekarang" kata Baron brent.

"Saya permisi dulu tuan."

Baron brent mengangguk.

Melihat ini Simon membungkuk dalam-dalam, lalu berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan langkah yang mantap.

Begitu pintu tertutup, Baron Brent kembali menatap jendela. Senyumnya menghilang, digantikan oleh kerutan dan kecemasan saat melihat awan gelap di utara.

"Kuharap kerajaan ini tidak akan hancur secepat mungkin," gumam Baron Brent sembari menggelengkan kepalanya.

Di tengah konflik yang merobek Kerajaan Emerald, ia tahu bahwa ksatria muda seperti Simon adalah pion yang berharga yang harus ia jaga.

........

Setelah mendapatkan izin dari Kapten Jon, Simon tidak membuang waktu.

Ia segera mengemasi perlengkapan tempurnya dan meninggalkan wilayah Baron Brent untuk mengambil cuti selama beberapa hari.

Simon melangkah menyusuri jalan setapak di perbatasan, satu-satunya alat transportasi yang ia miliki adalah sepasang kakinya sendiri.

'Sialan, harga kuda di dunia ini benar-benar tidak masuk akal,' keluh Simon sembari mengusap keringat di lehernya.

Di kehidupan sebelumnya, kuda hanyalah hewan yang bisa dikembangbiakkan secara massal dan murah berkat modernisasi.

Namun, di dunia ini, seekor kuda perang yang baik bisa berharga puluhan koin emas yang setara dengan harga rumah kecil bagi rakyat jelata.

Selama perjalanan menembus hutan, Simon secara rutin mengonsumsi Ramuan Ksatria tingkat sedang yang diberikan oleh Baron.

Efek ramuan itu benar-benar luar biasa. Setiap kali ia mempraktikkan pernapasan di bawah pengaruh ramuan, panel transparannya akan bergetar hebat memberikan Simon notifikasi yang memuaskan.

[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]

[ Pernafasan Ular Hitam +3 ]

Simon berhenti sejenak di bawah pohon rindang dan memanggil panel pribadinya untuk memeriksa kemajuan selama seminggu terakhir.

Nama: Simon Blake

Pekerjaan: Ksatria Magang Tingkat 2

Keterampilan:

Pernafasan Ular Hitam (Menengah): 114/300

Teknik Pedang Silang (Dasar): 127/200.

Simon tersenyum tipis.

Peningkatan poin kemahirannya terasa sangat masif, seolah-olah ia telah berlatih siang dan malam tanpa henti.

Ketergantungan pada ramuan ini mulai terasa, ia menyadari bahwa di dunia yang dikuasai oleh yang kuat, kecepatan pertumbuhan adalah satu-satunya jaminan keselamatannya.

Sembari mengunyah sepotong daging panggang yang ia tusuk dengan ranting, Simon akhirnya melihat siluet sebuah kota. Itulah Kota Lune, atau yang lebih dikenal sebagai Pasar Gelap Lune.

......

Ia melihat Kota Lune tampak seperti sarang raksasa yang tidak teratur.

Dibangun di antara celah-celah tebing batu dan sebagian masuk ke dalam gua-gua bawah tanah, kota ini memancarkan aura kebebasan yang mencekam.

Tidak ada tembok kota yang megah, tidak ada penjaga berseragam resmi Baron di gerbangnya, dan tidak ada hukum Gereja Suci yang mengikat di sini.

Simon melangkah perlahan memasuki gerbang kota yang terbengkalai.

Sesuai rumor, kota kebebasan ini benar-benar tidak dijaga oleh siapa pun.

Banyak orang berlalu-lalang mengenakan jubah merak yang mencolok atau jubah gelap dengan topeng yang menutupi wajah mereka.

Begitu Simon masuk, ia merasakan puluhan pasang mata dari balik bayangan bangunan mulai memperhatikannya dengan intens, mencoba meluhat dirinya lebih dalam.

Perasaan tidak enak ini, membuat Simon sedikit khawatir karena penampilannya yang terlalu normal, Simon menghampiri sebuah toko topeng kayu yang terletak di dekat gerbang.

Di sana, ia melihat berderet berbagai topeng, tapi perhatiannya tertuju pada topeng gagak dengan paruh panjang yang menyeramkan.

"Bos, berapa harga topeng ini?" tanya Simon.

Seorang pria tua dengan punggung bungkuk yang sedang menunduk perlahan mengangkat kepalanya.

Ia menatap Simon dari bawah ke atas, tatapannya berhenti sejenak pada sepasang mata merah milik Simon.

"Pendatang baru, ya?" tanya pria tua itu dengan suara serak.

Simon tetap diam, tidak berniat mengatakan apapun.

"Terserah," pria tua itu mendengus. "Harganya 1 koin emas"

Simon membelalak, ia tidak bisa tenang lagi.

"Astaga, mahal sekali hanya untuk sebuah topeng kayu?" cemoohnya.

"Mau beli atau tidak? Jika tidak, pergilah dari sini!" usir pria tua itu tanpa kompromi.

Simon menggeritkan giginya.

Dia membutuh topeng untuk menutupi wajahnya dan Simon tidak punya pilihan, di kota ini ia harus menyembunyikan wajahnya.

Ia merogoh kantongnya dan meletakkan sekeping koin emas di atas meja kayu yang apak.

"Baiklah, 1 koin emas. Berikan topeng itu padaku."

Pria tua itu tersenyum licik sembari mengambil koin tersebut.

"Ini milikmu sekarang. Aku peringatkan kau, Nak... berhati-hatilah di kota ini."

"Ada apa?" Tanya Simon dengan penasaran.

"Jangan pernah memperlihatkan kekayaanmu dengan ceroboh di depan orang lain, atau kau akan berakhir menjadi mayat yang dibuang di gang besok pagi. Di sini, penjahat bertebaran di mana-mana," ujar pria tua itu sembari memberikan topeng gagaknya.

"Aku mengerti. Terima kasih pengingatnya," seru Simon sembari mengenakan topeng tersebut.

Kini, hanya sepasang mata merahnya yang menyeramkan yang terlihat dari balik lubang mata topeng gagak tersebut.

"Nampaknya itu sangat cocok untukmu, Nak," pria tua itu mengelus janggutnya yang kusam.

Simon juga merasa begitu.

"Oh benar! Bos, apakah kau tahu di mana tempat yang menjual Ramuan Ksatria di sini?" tanya Simon teringat tujuan utamanya.

"Hoo, ramuan ksatria?" Pria tua itu berpikir sejenak.

"Karena kau sudah membeli topengku, aku akan memberimu informasi tentang tempat yang terpercaya. Harganya jauh lebih mahal dari yang lain, tapi kualitasnya terjamin. Kau mau?"

"Memangnya kenapa dengan penjual lainnya?" tanya Simon yang penasaran.

"Bodoh! Banyak yang menjual ramuan bodongan atau campuran di sini. Jika kau sembarangan mengonsumsinya, kau bisa mati karena pembuluh darahmu pecah! Para penjual itu tidak peduli kau hidup atau mati, mereka hanya peduli pada koin di kantongmu!" bentak pria tua itu.

'Brengsek, ternyata di sini mereka tidak bermain dengan jujur, banyak penipu juga,' pikir Simon dengan geram, teringat akan trauma masa lalunya dengan penipuan pinjol di bumi.

"Baiklah, aku mengerti. Bisa kau beritahu lokasinya?"

Pria tua itu kemudian membisikkan lokasi toko ramuan tersebut dengan detail. Simon mengangguk paham.

"Terima kasih, Bos!" seru Simon hendak pergi.

"10 koin perak!" pria tua itu tiba-tiba mengulurkan tangannya yang keriput.

"Ha?" Simon terkejut.

"Bukannya informasinya gratis, bukan? Tadi kau tidak bilang ada biayanya..."

"Kau kan tidak bertanya," jawab pria tua itu dengan entengnya sembari menyeringai.

Mata Simon berkedut di balik topengnya.

Ia merasa dipermainkan oleh pak tua licik ini. Namun, ia tidak ingin membuat keributan di hari pertamanya di sini.

"Baik, baik... 10 koin perak." Simon mengeluarkan koin-koin perak itu dan menaruhnya di meja dengan kasar.

Melihat koin perak itu bergelinding, pria tua itu tertawa senang.

"Heheh... datanglah lagi jika kau butuh informasi lain, Nak. Mungkin aku akan memberimu diskon nanti, hehehe!"

Simon hanya mendengus dingin dan segera meninggalkan toko tersebut.

'Sialan, hidupmu tidak akan tenang jika terus berbisnis seperti ini, pak tua,' kutuk Simon dalam hati sembari mempererat jubah hitamnya dan melangkah menuju tempat penjualan ramuan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!