Pernikahan Anne Avantie Anderson dan pria yang dicintainya batal secara sepihak setelah keluarga sang kekasih menolak hubungan mereka. Di tengah keputusasaan, Anne mengikuti rencana adik sepupunya untuk membuat Davin datang menjemputnya. Ia sengaja pergi ke sebuah bar dalam keadaan mabuk, berharap pria yang masih dicintainya itu akan membawanya pulang dan kembali melanjutkan pernikahan mereka.
Namun, malam yang seharusnya menjadi jalan untuk menyelamatkan hubungannya justru berubah menjadi awal dari kehancuran hidupnya.
Anne terjebak dalam rencana adik sepupunya sendiri dan mendapati dirinya harus menghabiskan malam bersama seorang pria yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Saat itulah ia menyadari bahwa selama ini dirinya telah menjadi korban dari kejahatan dan tipu daya sang adik sepupu.
Fitnah, kesalahpahaman, dan berbagai masalah yang menimpanya perlahan berubah menjadi aib yang membuat Anne memilih meninggalkan kota dan memutus semua hal yang mengingatkannya pada malam itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julian_06, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cheers
Anne duduk bersandar di dalam mobil itu sembari terus memperhatikan kalung itu,
selain kilauannya yang memukau, kalung ini benar-benar sangat istimewa.
"Kalung itu sangat cantik bukan?" Viktor bersuara.
Dalam cahaya remang malam itu, wajah gadis itu terlihat memancar, kulit putih
mulusnya menggoda, bibir merahnya yang
melengkung sedikit terbuka seperti kelopak bunga, membuat orang ingin mencicipinya.
Viktor mengulurkan kakinya menggesek-gesek betis Anne dengan pelan, kemudian dia berbisik di depan telinganya,
"mendekatlah,"
Anne menoleh dengan refleks, ia merasakan getaran yang menyengat akibat sentuhan itu dan bisikan itu.
Anne merasakan kebimbangan dalam hati.
"Cepat," Viktor mengulang kembali menggesek-gesek kaki gadis itu.
Anne memejamkan matanya, kemudian
menghela dengan panjang nafasnya.
Ia begitu cemas, apa yang terjadi jika ia mendekat?
Dengan perlahan juga ia melepaskan kalung itu dari lehernya kemudian menyodorkannya pada Viktor.
"Ini ku kembalikan kalungnya," Viktor yang mendengar itu menyipitkan matanya, kehangatan dan perasaan bahagia yang sempat ia rasakan kini perlahan hilang, "apa maksudmu?"
"Tuan, Viktor aku hanyalah karyawan
biasa, aku merasa tidak pantas menerima
hadiah semahal ini,"' ucap Anne dengan
dengan hati-hati.
"Kenapa tidak mengatakannya sejak awal?"
"A-aku .. " Anne ragu-ragu, "tuan statusmu sangat tinggi, aku tidak pantas untukmu," akhirnya Anne mengatakan meraguan yang terpendam dalam hati, bahwa ia berpikir Viktor tengah menyukainya.
Viktor menyandar di sofa dengan lemas "maksudmu?"
Anne tertegun karena pria itu bertanya seakan ia tak paham maksud ucapannya.
Walau sebetulnya Viktor mengerti, hanya saja ia ingin Anne menjelaskan dengan kalimatnya sendiri.
"Aku tidak mengerti, kenapa tuan sangat
baik denganku, membawaku ke rumah untuk di obati, memberi kalung ini, dan membalaskan perbuatan jahat orang-orang yang menyakitiku.. aku juga tidak bisa menerima tuan karena... aku tidak pantas, aku tidak punya status, tidak punya latar belakang yang hebat, dan juga masa laluku sangat memalukan,"
"Itu semua tidak penting!" Viktor menyahutnya dengan cepat.
"Apa ada alasan lagi?"
Anne tercengang, semua alasan itu benar-benar tak menjadi masalah untuknya? Apa pria itu benar-benar menginginkannya?
"Sebutkan?" Viktor menunggu dengan perasaan tak sabar.
"Aku juga pernah .. tidur dengan gigolo," pada akhirnya ia mengatakan semua itu,
selepas itu ia pun memejamkan matanya, tak sanggup melihat responnya takut jika dia akan menendangnya.
Viktor tak langsung bicara membuat Anne menatapnya lagi, "kamu pasti tidak bisa
menerima itu kan?"
Alis Viktor tertaut, "berapa kali?"
"Satu kali, ya hanya satu kali .. itu pun karena di jebak, tapi ku rasa semua orang
sudah tah..."
Viktor tak mau mengulur-ulur, "tidak ada masalah lagi kan?"
Anne tercengang, apakah begitu besar rasa cinta pria itu padanya?
Anne panik saat berpikir bahwa Morgan
telah terjatuh dalam perasaan yang begitu dalam.
Viktor benar-benar sudah kehilangan kesabarannya saat Anne berbicara tak jelas seperti ini, ia langsung mendorong tubuh gadis itu terbaring di atas kursi, tubuhnya yang tinggi tegap mengurungnya seperti hewan buas.
"Aku tidak menerima alasan apapun darimu, mengerti!"
Anne tercengang, ia benar-benar khawatir, tubuh nya gemetar dalam kukungan itu.
Apa maksud pria itu, ia tak menyatakan perasaannya tapi ia ingin memilikinya, dia
benar-benar egois, sepertinya yang di katakan Davin benar, bahwa Viktor akan melepaskannya kala ia sudah bosan maka
dengan itu Viktor tak menyatakan terus terang ikatan mereka.
Pria itu menunduk, Anne semakin cemas, dia memejamkan matanya berusaha memalingkan wajahnya, hingga kecupan pria itu akhirnya jatuh di telinganya, Anne lega karena ia mampu menghindarinya.
"Jangan berusaha untuk menghindar, kau
hanya akan lelah mengerti!" suara lembut pria itu berbisik, namun kemudian ia menjilati telinga Anne, membuat gadis itu melenguh dan Viktor terkekeh iblis.
Baru kini Anne benar-benar melihat iblis dalam wujud manusia.
***
Setelah libur berhari-hari akhirnya hari ini Anne mulai berangkat kembali, dia mengisi bangkunya tepat setelah itu, Max menghampirinya, "Anne!" sapanya.
Gadis itu mendongak dan tersenyum.
"Ku dengar kamu terluka karena Imelda apa itu benar?" Max sangat kahwatir.
"Sudah, tidak apa-apa," balasnya tak mau membuatnya khawatir.
"Tapi kamu tidak berangkat kerja selama
berhari-hari bagaimana aku bisa percaya
kamu tidak apa-apa," Max tetap mendekat.
Anne berusaha meyakinkan, "awalnya luka itu sedikit parah, tapi perusahaan sudah
mengobatiku," ucapnya meski sebetulnya Viktor lah yang berpengaruh.
Max lega, karena Anne tak harus mengeluarkan uangnya sendiri.
Sekelibat bayangan kemudian berhenti di
pintu, saat itu Viktor menoleh dan tersenyum kecut saat menyadari ada Max
yang datang di ruangan Anne begitu pagi.
Jadi ini alasan lain yang kamu sembunyikan? Diam-diam kamu juga memiliki hubungan istimewa dengan Max?'
batinnya.
Anne menolehkan kepalanya ke pintu setelah itu ia menatap panik, dan di saat yang sama Viktor pun langsung pergi.
"Max, kalau begitu kamu pergi ke ruanganmu saja aku tak mau manager akan mengeceknya,"
"Ah, iya baiklah, sampai bertemu istirahat nanti," balas Max.
Pria itu pun pergi.
Saat Anne berjalan melewati lorong sore
ini, Alista berteriak memanggilnya.
"Anne!"
"Hei," ia menoleh ke belakang dan berhenti saat melihat Alista.
"Anne, Felin mengundang kita makan malam untuk merayakan kenaikan jabatannya," ucap Alista.
"Ah, baiklah." Anne mengangguk seketika ia juga berpikir ingin segera naik jabatan hingga semangatnya pun muncul lagi.
"Aku akan menjemputmu, nanti malam,"
"Baiklah." Anne juga tak menolaknya.
***
Malam hari Alista sudah menjemputnya, kini mereka sudah berada di perjalanan.
Menuju ke sebuah cafe yang berada di rooftop hotel.
Setibanya di sana keduanya masuk dan
bertemu dengan rekan-rekan yang lain.
"Hai, Anne!"
Anne menoleh dan tercengang di antara
mereka ada Selina, apa tidak salah? Wanita itu berada di tengah teman-teman kerjanya? Sedikit ragu, tapi kemudian Felin bersuara, "Anne, Selina ini teman satu angkatan aku, dia sangat baik karena dia yang mendanai kita malam ini,"
"Kenapa kamu melakukan ini?" Anne menatap Selina dengan serius.
Wanita itu kemudian berbicara, "Anne, aku ingin minta maaf denganmu soal tempo
lalu, saat ibuku pernah menamparmu, karena setelah semalam tuan Viktor membalasnya ibuku benar-benar menyesal,"
Anne tercengang, ia tak mengerti kenapa Selina malah berbicara seperti ini di depan
teman-temannya apakah ia ingin mencari
simpati mereka?
"Anne kamu bertemu tuan Viktor?" Felin bertanya dengan penasaran.
"Ya, dia datang berdua dengan tuan Viktor, apa kalian tidak tahu?" Selina sangat antusias.
Rekan kerja Anne pun langsung tercengang, sebab semalam Anne tak melihat satupun karyawan Montesano Corporation di sana.
Tapi ia melihat manager dan direktur dari perusahaan lain.
Mungkin ini tujuan Viktor tak mengundang karyawan lain agar tak terjadi kegemparan saat tahu ia menggandengnya.
"Anne sungguh aku tak menyangka, kau
sangat beruntung." puji Felin.
Wanita itu langsung mendekat, "Anne kau
harus merayakannya malam ini," ucap wanita itu.
Sementara Anne hanya tersenyum.
"Kamu memaafkanku kan, Anne?" ucap Selina, dan Anne tak bisa mengelaknya, jika ia tak memaafkannya maka reputasi di depan rekan-rekannya akan buruk, ia tahu bahwa Selina sangat licik.
"Tentu saja," balas Anne tak ragu.
Selina tersenyum sumringah, "baiklah kalau begitu mari kita cheers,"
"Cheers!" Felin mengangkat gelas bir nya me udara.
Anne dan Alista menoleh ke bawah sudah ada gelas bir mereka masing-masing, Anne terhenyak, dan ingat bahwa ia tak bisa minum alkohol.
"Anne ayolah terima maafku dengan ikut
Cheers dengan kita," rayu Selina berlagak baik di depan teman-temannya.
Ketika Alista dan teman-teman nya yang
lain mengangkat gelasnya maka ia tidak dapat menolak lagi, hingga Anne pun ikut
mengangkat gelasnya.
"Kalian harus menerima tantangan untuk
menghabiskan minuman ini, jika aku melihat ada yang tersisa di gelas maka harus push up," seru Felin, Anne membelalakan matanya, apa-apaan ini?
Hingga Anne tidak bisa mengelak lagi, ah ia pikir jika hanya satu sloki tak akan berpengaruh, mungkin ia harus mencoba nya malam ini.
Anne mengatukan gelasnya ke milik rekan-rekannya lalu meneguk nya hingga habis, ia merasakan kehangatan menjalar di tenggorokannya.
Beberapa saat setelah itu, barulah mepalanya merasa sangat pusing, dia juga merasakan panas di sekujur tubuhnya.
Ia ingin sekali melepas bajunya. "Aku permisi ingin ke toilet," Anne pun bangkit.
Alista yang melihatnya pun cemas, "Anne kamu tidak apa?" ia ingin mengejarnya,
namun Felin menahan.
"Lista, dia tidak apa."
Alista pun duduk kembali, dia menghela nafas berharap tidak ada sesuatu yang terjadi pada gadis itu.