Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Deklarasi Perang di Parkiran Kampus
Dua sosok pria bertubuh jangkung berdiri canggung di sudut lorong sempit yang mengarah ke toilet wanita di belakang kantin utama. Suasana area ini relatif sepi dari laju lalu lalang mahasiswa, hanya terdengar gemericik air dari dalam bangunan toilet.
“Bran, gue gak mau lakuin ini. Tolongin gue, cari alasan lain kek,” bisik Marcel lirih, wajah tampannya menyiratkan penderitaan batin yang mendalam.
Brandon yang menyandar santai pada dinding semen membetulkan posisi kacamatanya dengan ekspresi datar. “Gue juga gak mau.”
Marcel membuang napas kasar, mengacak rambutnya frustrasi. “Aduh! Masa reputasi kita sebagai badboy papan atas kampus selama bertahun-tahun harus hancur lebur hari ini cuma demi ngerjain satu cewek kurus?”
“Mau gimana lagi?” sahut Brandon bodo amat. “Kalau lo mau komplain atau protes, noh, bilang langsung ke Varro.”
Marcel mendengus pasrah. Namun belum sempat ia membuka suara lagi, matanya menangkap siluet seorang gadis berambut pendek yang baru saja melangkah masuk ke dalam area toilet.
“Nah, itu dia masuk ke toilet,” kata Marcel.
Tanpa membuang waktu, Marcel dan Brandon segera merangsek masuk ke area depan toilet wanita, memanfaatkan kesepian tempat itu agar tak memancing kecurigaan. Mereka menunggu beberapa menit sampai aku selesai membilas tangan di depan cermin.
Saat aku membalikkan badan hendak keluar, dua tubuh tinggi besar mendadak memotong jalanku.
“Eh, Gisel cantik... ikut gue dulu yuk ke parkiran belakang kampus,” panggil Marcel seraya merentangkan tangannya menghalangi langkahku.
Di belakangnya, Brandon berdiri tegap menutup penuh akses pintu keluar. Postur tubuh mereka yang menjulang tinggi membuatku sama sekali tak memiliki celah untuk menerobos lewat.
Aku menyilangkan tangan di dada, menatap mereka bertiga dengan wajah masam dan alis bertaut. “Ngapain? Gue mau makan siang, lapar.”
“Ini mendesak,” sahut Brandon singkat namun penuh tekanan.
Aku menghela napas jengkel. “Ada apaan, sih? Ngomong aja langsung di sini!”
Marcel menatap Brandon sejenak sebelum kembali menatapku. “Mending lo datang dan lihat sendiri deh di tempat.”
Brandon akhirnya menggeser tubuhnya dari pintu, begitu pula Marcel yang menarik tangannya kembali.
Aku menunjuk wajah mereka berdua dengan tatapan tajam. “Oke. Awas aja kalian berdua kalau ternyata di sana gak ada hal yang mendesak!”
Dengan kekesalan yang membubung, aku melangkah lebar meninggalkan area toilet menuju pelataran parkir khusus di belakang kampus, area privat yang sudah di-booking penuh oleh Varro dan geng Starlit.
Begitu menginjakkan kaki di atas aspal parkiran belakang yang lengang, pemandangan konyol langsung menyambut mataku.
Varro berdiri tegap di tengah-tengah area parkir. Pria berpostur 183 sentimeter itu membalut tubuhnya dengan jaket leather mahal. Namun yang membuatnya terlihat ganjil, di kedua tangannya masing-masing menggenggam sebuah sapu ijuk dan tongkat pel basah.
“Cewek cantik akhirnya datang juga ke sini,” ucap Varro menyeringai, menatapku dari atas sampai bawah.
Aku menghentikan langkah, menatapnya dingin tanpa sudi memandang matanya. “Lo mau apa?”
“Tenang aja, gue cuma mau main sebentar sama lo,” sahutnya santai, senyum kejam terukir di wajah tampannya.
Aku mendengus geli, tak sanggup menahan tawa ejekan. “Hahaha! Lo gila, ya?”
Raut wajah Varro seketika berubah murka atas responsku. “Apa lo bilang?!”
Bukannya takut, darah di kepalaku justru makin mendidih. Aku melangkah lebar mengikis jarak di antara kami, melepaskan seluruh rasa takutku hingga berdiri tepat beberapa sentimeter di depan dadanya.
“Lo gila!” teriakku lantang, tepat di depan wajahnya.
Varro tertawa meledak, tawa dingin yang menggelegar di area parkiran. “Hahaha! Bener, gue memang gila!”
Secara mengejutkan, Varro mengayunkan sapu dan pel di tangannya lalu melempar kedua benda itu tepat ke arah wajahku! Refleks aku menangkisnya dengan lengan, namun debu dan cipratan airnya sempat mengenai jaket denimku. Tanpa penyesalan sedikit pun, Varro langsung membalikkan badan dan berlari kabur.
“Varro setan! Sini lo!” teriakku histeris, emosiku meledak hebat.
“Ayo tangkap gue kalau bisa!” seru Varro di seberang sana seraya memutar kepala dan menjulurkan lidahnya untuk meledekku.
Tanpa berpikir panjang, aku menarik napas dalam-dalam dan berlari sekuat tenaga mengejar pria arogan itu menyeberangi pelataran parkir.
Dari tepi area parkir, Brandon dan Marcel hanya berdiri menonton adegan kejar-kejaran absurd tersebut.
“Kelihatannya mereka berdua harus dikirim balik lagi ke TK deh, Bro,” kata Brandon sambil menggeleng-gelengkan kepalanya prihatin melihat tingkah ketua geng mereka yang mendadak berubah seperti anak kecil.
Marcel tersenyum tipis, mengamati dengan geli. “Biarin ajalah. Seru juga nontonin dua bocil lari-larian di halaman kampus begini.”
Di tengah pelarian, Varro yang mulai kehabisan napas dan kelelahan mendadak menghentikan fisiknya. Ia merogoh saku jaketnya cepat. “Lo mau uang?! Nih! Tapi jangan kejar gue lagi!” teriaknya seraya melempar sebuah dompet kulit bermerek Louis Vuitton tepat ke dadaku.
Aku menangkap dompet itu refleks, lalu menatapnya dengan rasa tidak percaya yang membuncah. “Buat apaan dompet lo ini dikasih ke gue?! Gue gak butuh uang lo!” teriakku seraya kembali berlari mengejarnya.
“Yakin gak mau?!” seru Varro sambil terus menghindar. “Dompetnya harganya 5 juta! Isinya ada 5 kartu kredit sama debit yang limitnya sampai miliaran, terus ada uang cash 10 juta di dalam!”
Aku melompat cepat dan berhasil meraih kerah jaketnya. “Lo udah gila ya sampai ngasih tahu isi dompet lo ada apa aja?! Ejek gue sekalian!”
Bisa-bisanya orang kaya ini mencoba membeliku dengan pamer harta. Aku memang miskin, tapi harga diriku tidak bisa dibeli dengan lembaran uang tunai milik pria egois sepertinya!
“Aduh! Ampun!” teriak Varro histeris saat jemari tanganku berhasil mencengkeram dan menjewer telinga kanannya kuat-kuat.
“Sakit gak lo?!” bentakku seraya memelintir tangannya ke belakang punggungnya.
“Ya sakitlah! Udah tahu masih nanya!” bentak Varro meringis kesakitan. “Lepasin gue, please!”
“Dasar gak tahu diri!” sahutku gemas. Sebelum melepaskannya, aku mengangkat kaki kananku dan melayangkan satu tendangan keras tepat ke punggungnya dengan sepatu kets bututku.
Brak!
Varro terdorong maju beberapa langkah, lalu membalikkan badan dengan wajah bengis memerah. “Hei! Lo gila ya nendang jaket gue yang harganya 3 juta pakai sepatu lo yang jelek itu?!”
Aku memiringkan kepala seraya menjulurkan lidah lebar-lebar untuk membalas ledekannya. “Kenapa memangnya kalau harganya 3 juta? Mau protes?!”
Di sudut parkiran, Marcel meringis memegangi dadanya sendiri. “Haish... image Varro beneran bakal hancur lebur kali ini di tangan cewek itu.”
“Untung Bokap-Nyokapnya lagi di Amerika,” sahut Brandon menghela napas berat. “Kalau orang tuanya ada di rumah, pasti dia udah ditabok langsung sama Papanya gara-gara bikin malu begini.”
“Tapi tuh cewek berani banget, ya,” imbau Marcel mengulas senyum kagum. “Gue gak pernah lihat ada orang se-berani itu menjewer sama nendang Varro di depan umum.”
Brandon ikut tersenyum tipis. “Mungkin Varro memang harus bertobat sekarang.”
Aku menatap Varro tajam seraya melempar dompet Louis Vuitton milik pria itu tepat ke arah wajahnya. BUK! Varro refleks menangkap dompetnya dengan canggung.
“Lo dengar baik-baik, ya!” teriakku lantang. “Gue gak peduli lo itu anak siapa atau punya kekuasaan apa! Gue bakal tetap buat perhitungan sama lo kalau lo berani ganggu gue lagi!”
“Galak amat sih jadi cewek! Gue kan cuma bercanda!” seru Varro membela diri.
“Kayak gini maksud lo bercanda?! Hah?!” tanyaku meledak-ledak. Mataku kemudian melirik ke arah Brandon dan Marcel yang sedang menyeringai menyaksikan pertengkaran kami. “Lo berdua juga! Kalian ngebantuin dia buat jebak gue di sini, kan?!”
Marcel mengangkat kedua tangannya cepat ke udara. “Eh, selow dong, Gi! Ini semua gak kayak yang lo pikir kok—”
Tanpa mendengarkan penjelasan Marcel, aku langsung berbalik dan berlari kencang menuju ke arah mereka berdua. “Sini kalian berdua!”
Sejak kecil aku terbiasa bermain kejar-kejaran di lorong-lorong gang rumahku, jadi mengejar dua pria berpostur tinggi ini bukanlah hal sulit. Dalam hitungan detik, aku berhasil menyusul langkah mereka dan melayangkan pukulan keras ke punggung Brandon dan Marcel.
“Ampun, Bu!” seru Marcel mengaduh seraya memegangi punggungnya.
Setelah mendaratkan pukulan manis pada dua sahabat Varro, aku memutar badan dan berlari kembali memburu Varro yang masih berdiri syok.
“Varro!” teriakku seraya menerjang maju dan jemariku langsung menyerang perutnya, menggelitik bagian pinggang dan perut pria itu tanpa ampun.
Varro refleks meloncat mundur, wajah tampannya menyiratkan rasa geli yang teramat sangat bercampur panik. Kebanyakan orang tangguh sekalipun tidak akan pernah tahan jika area perutnya dikelitiki secara mendadak.
“Gisel! Cukup!” seru Varro bersusah payah menahan kedua pergelangan tanganku dengan wajah memerah.
“Kenapa? Lo gak berani dikelitikin, ya?! Katanya ketua geng motor paling takuti se-kampus!” tawa ejekanku pecah seraya terus mencoba menyerang perutnya.
“Gue bilang cukup!” bentak Varro keras, menyentakkan tanganku hingga genggamannya terlepas.
Napas Varro memburu rapat. Ia berdiri menatapku dengan mata berkilat marah bercampur rasa malu yang memuncak di dada.
“Gisel! Mulai hari ini, lo resmi bakal jadi musuh cewek pertama gue!” teriak Varro lantang, mendeklarasikan permusuhan di tengah pelataran parkir.
Aku menepi selangkah, menyunggingkan senyum sinis yang tak kalah tajam. “Oh... lo ngajakin musuhan? Oke! Gue juga udah malas dan muak banget lihat muka arogan lo lagi. Mulai hari ini, kita gak perlu ketemu lagi!”
Tanpa menunggu balasan dari mulutnya, aku membalikkan badan dan melangkah lebar meninggalkan area parkiran belakang dengan kepala tegak.
“Oke! Gue juga gak mau ketemu sama lo lagi!” teriak Varro melepas kekesalannya dari belakang. Brandon dan Marcel segera berlari mendekati Varro, mengamati kepergianku dengan tatapan tak percaya.
Di balik semak-semak dekat gedung utama, beberapa mahasiswi yang menyaksikan adegan tersebut saling berbisik cibiran. “Dia pikir dia siapa, sih? Bisa-bisanya dia bertingkah kurang ajar dan dekat-dekat sama Kak Varro!”
Sore harinya di rumah sederhana kami.
Hari ini aku mendapat dispensasi untuk tidak masuk shift kerja di kafe karena Bos menyuruhku beristirahat penuh memulihkan stamina. Aku membuka pintu pagar kayu rumah kami yang berdecit pelan, melangkah masuk ke ruang tamu yang terasa begitu hangat.
“Ma, Pa... Gisel pulang!” panggilku seraya melepas sepatu kets bututku di ambang pintu.
Mama keluar dari area dapur seraya mengusap tangannya pada celemek kain, diikuti Papa yang baru saja menyeduh kopi. Raut wajah Mama menyiratkan kekhawatiran yang mendalam saat memegang kedua bahuku.
“Gisel... Mama denger dari adikmu Gwen, kamu baru balik kemarin malam. Kamu ke mana aja dari kemarin-kemarin, Nak?” tanya Mama menatap mataku cemas.
Aku tersenyum tipis, mencoba memberikan ketenangan. “Dua hari yang lalu aku sempat pingsan di kampus, Ma. Jadi Sasa langsung antar aku ke rumah sakit buat diperiksa.”
“Hah?! Rumah sakit?” tanya Mama kaget, begitu pula Papa yang langsung mendekat.
“Iya, Ma. Tapi tenang aja, biayanya udah ditanggung penuh sama Papanya Stefanie,” sahutku pelan.
Papa menggeleng tegas, menatapku serius. “Gisel, walaupun mereka orang kaya, keluarga kita gak boleh punya utang budi atau utang materi sama orang lain.”
“Gisel tahu, Pa,” potongku mantap. “Makanya aku udah bilang ke Sasa kalau uang rumah sakit itu bakal aku cicil dan balikin pelan-pelan pakai gaji kafe. Aku gak mau menyusahkan siapa pun.”
Mama menghela napas lega seraya mengusap pipiku lembut. “Terus besok sorenya kamu langsung paksain kerja di kafe? Makanya baru pulang kemarin malam?”
“Iya, Ma... tapi sekarang badan Gisel udah sehat kok, beneran,” jawabku tersenyum manis. “Mama sama Papa gimana kabarnya? Sehat kan?”
“Kami sehat-sehat aja, Nak. Kamu gak usah cemas,” jawab Papa mengumbar senyum hangat. “Sekarang kamu masuk kamar, istirahat yang cukup ya.”
“Siap, Pa!” sahutku riang. Aku mencium pipi Mama dan Papa bergantian, lalu berlari kecil menuju kamarku di lantai atas untuk merebahkan tubuh yang lelah.
Bersambung......