Andriana Arnova harus menyaksikan pengkhianatan suaminya dengan kakak iparnya sendiri.
Namun bukan marah, minta cerai yang ia lakukan, melainkan membalasnya dengan kegilaan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Rasa sakit, kecewa dan dendam di dadanya telah merubah dunianya.
Demi membalas dendam atas pengkhianatan suaminya, ia rela mengorbankan karir yang selama ini ia bangun dengan susah payah.
Baginya setiap kerugian harus ada bayarannya dan setiap rasa sakit harus ada pembalasan yang akan lebih menyakitkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vea Vivie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Andriana dan Vania menempati rumah Diana yang sudah dibiarkan terbengkalai selama lebih dari dua puluh tahun. Mereka merenovasinya tanpa merubah gaya lama rumah tersebut.
Mereka tinggal di rumah itu dengan seorang asisten rumah tangga yang membantunya setiap hari.
Sore itu Vania dan Andriana sedang duduk di meja makan dengan hidangan di depan mereka.
"Van, gimana hari ini di kampus?"
Tanya Andriana sambil menyendokkan nasi ke mulutnya.
Tapi mendengar pertanyaan ibunya yang tidak ia duga tiba tiba saja Vania tersedak.
"Uhuk uhuk"
Andriana menatap tajam lalu memberikan segelas air mineral pada putrinya itu.
"Jujur sama mama, apa kamu berulah di kampus?" Tanya Andriana mulai geram, ia tahu bagaimana anaknya yang memang sering berantem.
Vania mengeryitkan dahinya " Enggak kok ma, hanya" Vania menghentikan kata katanya ragu ragu untuk mengatakan sejujurnya.
Andriana tahu anaknya pasti membuat masalah lagi, ia menarik nafasnya dalam dalam.
"Dengan siapa kamu berantem?Apa dia menghinamu lagi?Apa yang dia katakan padamu? Dia mengatakan kamu anak haram tidak punya ayah? Terus kamu boleh memukulnya? Kamu boleh menghajarnya? " Hiks hik
Andriana menangis sesenggukan dan tak mampu lagi berdiri di depan putrinya yang memang tidak adil baginya, ia luruh di lantai, menunduk penuh rasa penyesalan dan bersalah.
Vania terdiam, ia hanya menatap ibunya yang luruh dan tak bisa lagi memandangnya.
"Ma, sampai kapanpun Vania akan mencari papa brengsek yang membuat mama menderita, akan aku hajar dia dan kubuat berlutut di kaki mama, aku janji" Batinnya sebelum meraih pundak mamanya dan membawanya untuk duduk di sofa.
"Ma, maafkan Vania selalu mengecewakan mama, Vania sudah mencoba menahan diri tapi mereka menjambak dan memukul Vania, apa Vania harus tetap diam saja?"
"Vania, mama hanya punya kamu, jadilah anak yang patuh dan nurut sama mama, hindari berantem "
"Iya ma, tapi kali ini sungguh ma, mereka yang cari gara gara. Kalau aku tidak membalasnya mereka akan ngelunjak dan terus menghina Vania. Meskipun keluarga kita tidak sempurna, tapi kita tidak boleh terus dihina" Ucap Vania kemudian memeluk erat ibunya.
Andriana terdiam membeku, bulir bulir air matanya pun mulai menetes perlahan, dadanya pun mulai sesak, nafasnya tercekat di tenggorokan.
' Sayang, ini salah mama, seandainya dulu mama punya harga diri dan tidak mengikuti hawa nafsu, mungkin semua ini tidak akan terjadi. Mama terlalu bodoh dan tidak memikirkan akibat dari perselingkuhan. Tidak ada perselingkuhan yang berakhir dengan kebahagiaan, semua yang berdosa pasti akan kembali pahit kepada pelakunya'
Merasakan bajunya basah oleh air mata ibunya, Vania mengedarkan pelukannya dan memegangi kedua pundak ibunya, tatapannya tajam meminta penjelasan.
"Ma, kenapa mama menangis?Apa karena laki laki brengsek yang sudah menghamili mama?" Tanya Vania dengan tegas.
Andriana mendongak menatap tak kedua mata putrinya.
"Dia ayahmu Van"
"Bukan! Aku tidak pernah punya papa! Karena dia sudah membuat mama menderita, dia juga membuatku lahir sebagai gadis tak punya nasab!"
Mendengar kata kata pedas putrinya, hati Andriana semakin sakit, dadanya pun semakin sesak, tangisannya pun pecah.
Di antara kepingan hati yang hancur dan penyesalan yang tidak lagi berguna, Andriana luruh tak lagi mampu menatap mata Vania yang meminta pertanggungjawaban.
Tidak ada seorangpun anak yang mau dilahirkan dalam kondisi seperti ini.
Vania mengerti kesedihan ibunya, ia memeluk erat tubuh kurus yang kurang terawat itu.
"Ma, maafkan Vania! Bukan maksud Vania menghakimi mama, tapi Vania terkadang iri dengan mereka yang memiliki keluarga lengkap, sempurna tanpa dihina di sana sini. Vania lelah jika harus menjawab pertanyaan pertanyaan mereka yang runcing bagai pedang".
"Vania sayang, maafkan mama"
"Ma, sampai kapan mama minta maaf terus pada Vania. Mama tidak salah, tapi sudah takdir".
"Van, jangan salahkan takdir! Takdir sudah memberikan pilihan pada mama, dan mama memilih jalan yang salah".
"Baik, sekarang seandainya mama dipertemukan kembali dengan laki laki itu apa yang akan mama lakukan?"
Andriana menarik nafas panjang, berjalan ke sisi jendela, pandangannya jauh menembus gelapnya malam yang tak berujung.
"Entahlah, mungkin mama akan meminta maaf karena sudah pergi meninggalkannya tanpa pamit".
Mendengar jawaban Andriana, Vania melotot tajam" What! Serius ma! Mama mau minta maaf sama laki laki brengsek yang sudah merusak hidup mama! Ma, sadarlah dia tidak pantas, pokoknya kalau aku yang ketemu sama dia, aku akan tonjok mukanya, patahkan kakinya, hajar dia pokoknya dia harus merasakan hidup seperti di neraka!".
Andriana menatap tajam Vania.
"Vania"
" Oke oke oke ....mama Vania lelah, ngantuk mau tidur" Ucap Vania kemudian melangkah pergi meninggalkan mamanya yang terus menatapnya tajam.
Memang selalu itu yang dikatakan oleh putrinya setelah ia tahu dari cerita mamanya, siapa ayah kandungnya, bagaimana hubungan mereka dimulai dan berakhir, tapi di mata Vania tetap ayahnya yang salah dan harus bertanggungjawab atas semua hinaan dan penderitaan yang selama ini diterimanya.
***
"Tuan Arvan, kamu sudah makan? Hari ini bibi masak makanan kesukaan tuan muda" Ucap bibi yang khawatir dengan kesehatan Arvan karena belum makan apapun sejak pulang dari kuliah.
Arvan masih fokus pada laptopnya tanpa mendengarkan apa yang bibi katakan.
"Tuan muda!"
"Eh, bibi, ada apa bi?" Tanya Arvan tanpa menoleh pada bibi yang dari tadi berdiri di sampingnya.
"Tuan muda tidak boleh sakit, bibi ambilkan makan ya, atau tuan muda mau bibi suapin?"
Arvan menoleh sebentar pada bibi, tersenyum tipis lalu menutup layar monitornya dan beranjak dari duduknya, tangannya merangkul pundak bibi mengajaknya keluar dari kamarnya menuju meja makan.
"Bibi kenapa sih cerewet banget?"
''Tuan muda harus makan biar tidak sakit, kasihan tuan besar kalau sampai tuan muda jatuh sakit".
"Papa tidak pernah peduli dengan Arvan"
Bibi melotot tajam"Eh, jangan bilang seperti itu, tidak boleh ya? Tuan besar sudah bekerja siang dan malam demi tuan muda hidup enak dan memiliki masa depan cerah".
"Tapi bi, kadang Arvan iri sama mereka yang memiliki ibu, pasti diperhatikan, disayang, diomelin, kalau Arvan pulang ke rumah kemalaman ada yang menghadang di depan pintu sambil mengangkat sandalnya, pasti asik ya bi?"
Bibi menatap wajah Arvan dengan mata berkaca-kaca" Tuan muda, kasih sayang tuan besar sama besarnya dengan kasih ibu, hanya saja ia tidak suka menunjukkan perhatiannya.Ingat saat itu tuan muda sakit hingga beberapa minggu di rumah sakit, tuan besar tidak perduli dengan perusahaannya, badannya pun semakin kurus karena kurang tidur".
Arvan mengangguk perlahan, tersenyum tipis lalu duduk di kursi.
"Iya bi, Arvan mengerti, kasih sayang papa sangat besar pada Arvan... oiya bi, bibi sudah makan?" Tanya Arvan.
Bibi pun menarik nafas dalam-dalam lalu mengusap wajahnya yang basah oleh genangan air mata. Ia mengambilkan nasi dan lauk kesukaan Arvan.
"Pokoknya tuan muda makan yang banyak, tidak perlu pikirkan bibi".
"Lo bi, tidak bisa begitu, pokoknya kita makan sama sama, ayo bi"
Bibi pun tersenyum kemudian duduk di sebelah Arvan, mulai mengambil makanan yang disajikan.