Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35 - Playing Victim
Dari balik celah pilar beton yang dingin, Nayla buru-buru merogoh tas tangannya, mengelurkan ponsel pintar terbarunya. Dengan gerakan sigap dan teliti, wanita itu membuka fitur kamera, beralih ke mode perekaman video high definition, lalu mengarahkan lensanya tepat ke arah pasangan di seberang jalan.
Lensa kamera itu menangkap dengan sangat jernih setiap detail perbuatan Olivia dan Zay. Terlihat jelas bagaimana Olivia tertawa lepas, mengusap bahu Zay, dan membiarkan pria yang menjadi Wakil Direktur Nebula itu merangkul pinggangnya secara posesif sebelum mereka melangkah masuk ke dalam sebuah mobil sedan hitam.
Nayla menatap layar ponselnya dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Cermat sekali, Olivia," gumam Nayla lirih, suaranya hampir tak terdengar beradu dengan bising lalu lintas. "Dari dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu jadi pengkhianat dan perusak. Dulu kamu menghancurkan keluargaku, sekarang kamu mengkhianati suamimu sendiri demi pria lain."
Nayla mematikan rekaman, lalu menyimpannya di folder tersembunyi yang terkunci rapat. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman dingin yang sarat akan intrik. "Aku sangat penasaran... bagaimana rasanya jika posisi itu dibalik? Bagaimana rasanya jika kamu yang dikhianati dan kehilangan segalanya?"
Setelah mengamankan bukti berharga tersebut, Nayla membalikkan badan dan melanjutkan langkahnya menuju deretan warung kuliner pinggir jalan. Rasa lapar yang sempat tertunda kini terbayarkan saat dia menikmati sepiring makanan khas daerah tersebut dengan lahap. Tak lupa, Nayla meminta penjual untuk membungkuskan satu porsi makanan beraroma rempah gurih untuk Tristan.
Sepanjang perjalanan kembali ke hotel, otak Nayla tak berhenti berputar. Kartu AS sudah di tangan, namun ia tahu tidak boleh terburu-buru. Membuka skandal ini secara mentah-mentah hanya akan membuat Olivia bersiap memutarbalikkan fakta. Nayla merancang sebuah skenario rahasia, sebuah permainan psikologis yang dipastikan akan perlahan-lahan mengikis ketenangan hidup Olivia hingga wanita itu hancur tanpa sadar.
Sore harinya, agenda kerja luar kota telah usai. Tristan dan Nayla melangkah menyusuri lorong bandara untuk perjalanan kembali ke Jakarta. Kali ini, Tristan menggunakan otoritasnya untuk memesan dua kursi kelas bisnis yang saling berdampingan.
Di dalam kabin pesawat yang tenang, Tristan duduk rileks di samping Nayla. Saat pesawat baru saja melaju stabil di udara, pria itu merogoh saku jasnya dan melakukan panggilan video call ke rumah.
Layar ponsel menunjukkan wajah tampan seorang anak laki-laki berusia tujuh tahun dengan mata bulat yang jernih. Denis.
"Papa!" seru Denis dari seberang saluran, wajahnya langsung berbinar bahagia.
"Hai, Jagoan Papa," sapa Tristan hangat, senyumnya terkembang tulus—sebuah ekspresi lembut yang hanya muncul saat ia bicara dengan putranya. "Denis lagi apa? Sudah makan sore?"
Nayla menoleh pelan, memperhatikan interaksi ayah dan anak itu. Merasakan tatapan sekretarisnya, Tristan memiringkan layar ponselnya sedikit ke arah Nayla.
"Denis, lihat siapa yang ada di samping Papa," ujar Tristan.
Nayla menyunggingkan senyum paling ramah dan lembut yang ia miliki, melambaikan tangan kecil ke layar. "Hai, Denis..."
Mata anak kecil itu makin berbinar terang saat mengenali sosok di layar. "Tante Nayla! Waah, Tante ikut sama Papa?" tanya Denis penuh antusias. Anak itu memang sudah beberapa kali bertemu Nayla saat diajak Tristan ke kantor, dan kepolosan Denis membuatnya begitu mudah menyukai kepribadian Nayla yang hangat.
"Iya, Denis. Tante bantu Papa kerja di luar kota," sahut Nayla manis. "Denis jangan lupa belajar dan makan yang rajin, ya."
"Siap, Tante cantik! Nanti kalau pulang bawakan Denis mainan, ya!"
"Pasti, Jagoan," potong Tristan tertawa renyah sebelum akhirnya menutup panggilan tersebut setelah beberapa menit bercengkerama.
Kabin kembali hening. Tristan mematikan layar ponselnya, lalu mengalihkan pandangannya sepenuhnya pada Nayla. Tatapan matanya yang tadi lembut pada Denis kini berubah menjadi begitu dalam, sarat akan intensitas emosi yang membakar.
Tanpa memedulikan sekat tipis di kelas bisnis penerbangan itu, Tristan miringkan tubuhnya. Pria itu mendaratkan sebuah kecupan hangat dan lama di kening Nayla, merengkuh jemari wanita itu di atas pangkuannya.
"Kamu tahu, Nayla..." bisik Tristan serak, menatap lurus ke dalam iris mata Nayla. "Menciummu, melihatmu tersenyum pada Denis... sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu."
Nayla memutar matanya pelan, menyunggingkan senyum miring yang menggoda meski dadanya berdesir hangat. "Gombal sekali. Bos ini lebay ah."
Tristan terkekeh renyah, meletakkan dagunya di bahu Nayla tanpa peduli batasan lagi, menikmati kehangatan yang tak pernah ia dapatkan selama bertahun-tahun.
...***...
Dua hari berlalu. Dinamika kehidupan kembali bergulir di Jakarta.
Olivia akhirnya pulang ke rumah megah mereka setelah mengklaim menyelesaikan "urusan mendadak" di luar kota. Namun, kepulangannya tidak disambut oleh kehangatan. Di ruang tamu yang luas, Tristan sudah duduk menunggu dengan wajah yang dilipat kaku dan aura dingin yang menusuk.
Begitu Olivia melangkah masuk sambil menenteng tas belanjaan barunya, Tristan melempar foto hasil potretan ponselnya, saat Olivia berdiri di pelataran hotel luar kota, ke atas meja kaca.
"Bisa jelaskan ini, Olivia?" tanya Tristan dingin, suaranya bergetar menahan amarah. "Kamu bilang kamu pergi ke Paris bersama teman-teman sosialitamu. Tapi kenapa foto ini menunjukkan kamu berada di luar kota, keluar dari hotel mewah sendirian?"
Olivia sempat tersentak. Wajah cantiknya pucat selama setengah detik. Namun, sebagai wanita yang lihai memanipulasi keadaan, Olivia menetralkan raut wajahnya dengan sangat cepat. Ia mengembuskan napas kencang, memasang raut kecewa dan terluka.
"Kamu melempar tuduhan seperti ini padaku, Tristan?!" seru Olivia dengan nada playing victim yang sempurna. Matanya berkaca-kaca secara dramatis. "Aku membatalkan penerbangan ke Paris karena salah satu sahabat terbaikku sedang berduka! Ibunya meninggal di luar kota dan aku harus mendampinginya di sana! Aku tidak memberitahumu karena kamu selalu sibuk dengan pekerjaanmu dan tidak pernah peduli padaku! Dan sekarang kamu malah mencurigaiku seperti penjahat?!"
Tristan terdiam di tempatnya. Kata-kata Olivia meluncur begitu lancar, dipadukan dengan nada menyudutkan yang membuat Tristan mendadak merasa bersalah. Pria itu memijat pelipisnya yang berdenyut hebat. Ia hanya bisa mendengus kasar.
Setiap kali mereka berdebat, Tristan selalu berakhir kalah. Olivia selalu punya cara memutarbalikkan kenyataan hingga membuat Tristan merasa dirinya lah suami yang buruk. Pria itu merasa seperti ada mantra gaib yang ditiupkan istrinya hingga dia tak berdaya menembus benteng kebohongan wanita itu.
Dengan perasaan kalut dan dada yang sesak akibat frustrasi, Tristan menyambar kunci mobilnya dan memacu kendaraannya keluar dari rumah.
Di dalam mobil, dalam keadaan kepala yang hampir pecah, Tristan menelepon satu-satunya orang yang kini menjadi tempat peraduannya: Nayla.
Tristan menceritakan seluruh kekesalannya di telepon, termasuk fakta bahwa ia sebenarnya sempat melihat Olivia di luar kota hari itu.
Dari seberang saluran, Nayla mendengarkan setiap keluhan Tristan dengan tenang. Ada rasa kasihan yang menyelusup di hatinya melihat bagaimana pria sekelas Tristan ditipu mentah-mentah oleh wanita licik seperti Olivia.
"Ketemu malam ini, Bos," bisik Nayla lembut di telepon. "Aku tunggu di tempat biasa."
Tristan menyetujuinya tanpa ragu.
Satu jam kemudian, mereka sudah berada di dalam kamar executive suite sebuah hotel langganan. Emosi, rasa frustrasi, dan kerinduan liar menyatu seketika. Pertemuan itu diawali dengan hubungan intim yang panas dan menuntut di atas ranjang. Tristan melampiaskan seluruh rasa lelah dan amarahnya pada tubuh Nayla, sementara Nayla membalasnya dengan kelembutan yang membius hingga pria itu benar-benar pasrah di bawah kendalinya.
Setelah badai gairah itu mereda, mereka berbaring berdampingan. Tristan tertidur lelap karena kelelahan emosional dan fisik, napasnya terdengar teratur di atas dada bidangnya yang polos.
Nayla menyandarkan punggungnya di kepala ranjang, memperhatikan Tristan yang terlelap. Teringat ucapan Tristan di telepon tadi, Nayla bergumam pelan mengenai Denis.
Ia teringat pertanyaan yang sempat ia tanyakan pada Tristan sebelum pria itu tertidur: "Bagaimana hubungan Olivia dan Denis sehari-hari, Bos?"
Dan jawaban Tristan masih terngiang di otaknya: "Olivia sudah tidak pernah menemani Denis bermain atau belajar. Dia cuma rutin mengantar dan menjemput Denis ke sekolah pakai mobil pribadi, itu pun cuma formalitas supaya tidak dicap ibu yang buruk oleh media."
Sebuah senyuman dingin berkerlip di mata Nayla. 'Mengantar dan menjemput sekolah... jam-jam yang sangat spesifik.'
Nayla perlahan menyingkap selimut, berdiri dari ranjang tanpa menimbulkan suara sedikit pun. Matanya mengedar di sekitar ruangan, hingga hinggap pada jaket kulit impor mahal milik Tristan yang tergeletak di atas kursi. Jaket itu adalah jaket edisi khusus dari lini Nebula yang sangat sering dipakai Tristan dan memiliki aroma parfum maskulin khas sang CEO yang amat kuat.
Nayla mendekati kursi tersebut, mengambil jaket kulit mahal milik Tristan dengan hati-hati. Tanpa keraguan, wanita itu melipatnya secara rapi, lalu memasukkannya diam-diam ke dalam tas bahu miliknya yang berukuran besar.
"Permainan pertama untukmu dimulai besok pagi, Olivia," bisik Nayla pelan seraya merapatkan resleting tasnya.
makasih Thor cerita nya bagus dan menghibur
klo diselingkuhin?????masih enak????
jgn senang dulu,zay mungkin saat ini masih sama kmu krn masih bituh,klo dia sdh mandiri apa ga dibuang kmu oliv????