Gu Cheol mati sebagai pengemis tanpa bisa meraih 3 Bunga Jianghu.
Dia bangkit sebagai Tang Hyun dari Klan Tang, menempa tubuhnya dengan racun, untuk bertahan hidup, membalas dendam, dan akhirnya merasakan cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chandra Arbara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 20. Janji di Bawah Bunga Plum
Surat undangan dari istana tiba di Klan Tang pada hari ketujuh bulan ketiga, ketika bunga plum di halaman dalam baru saja mekar separuh dan angin masih membawa sisa dingin dari pegunungan utara, dan di atas kertas emas dengan segel naga itu tertulis bahwa Putri Mahkota Li Xinyue mengundang "Wakil Kepala Klan Tang, Tang Hyun" untuk menghadiri Jamuan Musim Semi Kekaisaran, sebuah jamuan yang biasanya hanya dihadiri oleh bangsawan, menteri, dan kepala sekte besar, sehingga ketika para Tetua membacanya mereka langsung tahu bahwa ini bukan sekadar pesta minum teh dan mendengarkan musik, melainkan ujian politik pertama bagi Klan Tang sejak mereka diakui secara resmi oleh istana, ujian yang jika gagal akan membuat seluruh kerja keras setahun terakhir hancur dalam satu malam.
Tang Hyun membaca surat itu dua kali, lalu melipatnya dan memasukkannya ke dalam lengan bajunya tanpa ekspresi, karena dia tahu betul bahwa di balik kata "jamuan" ada pisau, ada racun, ada bisikan, dan ada mata-mata yang akan mengamati setiap gerakan, setiap kata, dan setiap tatapan yang dia berikan kepada Putri Mahkota, apalagi setelah rumor tentang kedekatan mereka di perkemahan utara sudah menyebar seperti api ke seluruh Chang'an meskipun tidak ada bukti yang jelas.
"Kau akan pergi?" tanya Tang So-yeon yang berdiri di sampingnya sambil memetik satu kelopak bunga plum.
"Aku harus," jawab Tang Hyun, "karena jika aku tidak pergi, maka orang lain akan mengisi tempat itu dan mengatakan bahwa Klan Tang tidak menghormati istana."
"Lalu bagaimana dengan... itu?" tanya Tang So-yeon pelan, menunjuk ke arah surat.
Tang Hyun terdiam lama, "Aku tidak tahu. Tapi aku akan tetap menjadi diriku sendiri."
Tiga hari kemudian dia berangkat ke ibu kota bersama rombongan kecil, hanya Tang So-yeon dan dua belas pengawal terbaik, karena membawa terlalu banyak orang ke istana akan dianggap sebagai ancaman, dan sepanjang perjalanan dia tidak banyak bicara, hanya sesekali menatap ke arah utara seolah bisa melihat tembok istana dari kejauhan, karena jauh di dalam hatinya ada kegelisahan yang tidak pernah dia rasakan bahkan ketika menghadapi "Jari Besi" Han Luo atau "Jenderal Es".
Setibanya di Chang'an, gerbang istana dibuka khusus untuk mereka, dan para pejabat yang biasanya memandang Klan Tang dengan jijik kali ini menunduk dan menyapa dengan sopan, bukan karena mereka menghormati, melainkan karena mereka takut, karena semua orang tahu bahwa Putri Mahkota secara pribadi yang meminta Tang Hyun datang.
Jamuan diadakan di Taman Bunga Plum Kekaisaran, tempat yang luasnya bisa menampung seribu orang, dengan danau di tengah, paviliun di sekeliling, dan pohon bunga plum yang sudah mekar penuh sehingga kelopaknya jatuh seperti salju merah muda setiap kali angin bertiup, menciptakan pemandangan yang indah sekaligus menyedihkan karena semua orang tahu bahwa keindahan seperti ini tidak akan bertahan lama di tempat penuh politik seperti istana.
Tang Hyun masuk dengan langkah tenang, mengenakan jubah ungu gelap dengan sulaman bunga plum perak di ujung lengan, tanpa senjata terlihat tetapi semua orang tahu bahwa di balik jubah itu ada jarum, ada racun, dan ada niat membunuh yang sudah diasah selama bertahun-tahun, sehingga begitu dia duduk di kursi tamu yang disediakan di sisi kanan, seluruh aula menjadi lebih sunyi dari biasanya.
Musik dimulai, tarian dimulai, dan para menteri mulai bersulang, semuanya memuji perdamaian, kemakmuran, dan kebijaksanaan Kaisar, kata-kata kosong yang sudah diulang selama ratusan tahun, sampai akhirnya Putri Mahkota Li Xinyue muncul dari balik tirai, mengenakan jubah emas pucat dengan mahkota phoenix di kepala, dan kecantikannya membuat seluruh aula menahan napas karena memang benar bahwa kecantikannya melebihi tiga bunga Jianghu, bukan hanya wajah, tetapi juga caranya berjalan, caranya menunduk, dan caranya menatap semua orang seolah dia bisa melihat ke dalam hati mereka.
"Selamat datang di Jamuan Musim Semi," kata Putri Mahkota dengan suara yang lembut tetapi terdengar sampai ke sudut terjauh, "hari ini kita merayakan kehidupan baru, dan juga persahabatan baru antara istana dan Klan Tang."
Semua orang mengangkat cangkir, termasuk Tang Hyun, dan ketika mata mereka bertemu di atas bibir cangkir, hanya sepersekian detik, tetapi cukup lama untuk membuat jantung Tang Hyun berdegup lebih cepat dan cukup lama untuk membuat beberapa pejabat yang jeli langsung mencatat di dalam hati.
Setelah jamuan resmi, ada sesi bebas di taman, di mana para bangsawan bisa berjalan, mengobrol, dan bermain catur, dan di sanalah ujian yang sebenarnya dimulai, karena satu per satu menteri datang menghampiri Tang Hyun dengan berbagai alasan, ada yang menawarkan kerja sama perdagangan, ada yang menanyakan tentang racun, ada yang sengaja menyinggung tentang "hubungan Klan Tang dengan Sekte Iblis", semua dengan senyum, tetapi semua dengan pisau di belakang punggung.
Tang Hyun menjawab semuanya dengan tenang, tidak berbohong, tidak menyombongkan diri, hanya berbicara secukupnya, dan setiap kali dia menjawab, dia bisa merasakan mata Putri Mahkota mengawasinya dari paviliun seberang, tidak terang-terangan, tetapi cukup untuk memberinya kekuatan untuk tidak kehilangan kendali.
Menjelang senja, ketika sebagian besar tamu sudah mabuk dan musik menjadi lebih pelan, seorang pelayan datang dan berbisik di telinga Tang Hyun, "Yang Mulia meminta Anda ke Paviliun Bunga Plum di tepi danau."
Tang Hyun mengangguk dan mengikuti pelayan itu, meninggalkan Tang So-yeon yang hanya mengangkat alis dan tidak mengatakan apa-apa.
Paviliun Bunga Plum kecil, hanya cukup untuk dua orang, dan di dalamnya sudah ada meja kayu dengan dua cangkir teh dan satu piring kue beras ketan, makanan yang Tang Hyun sebutkan secara tidak sengaja saat di utara.
"Yang Mulia," kata Tang Hyun sambil berlutut.
"Berhenti," kata Putri Mahkota sambil menutup pintu, "tidak ada orang di sini. Panggil aku Xinyue."
Tang Hyun mengangkat kepala, "Xinyue."
Putri Mahkota tersenyum, senyum yang tulus dan tidak dipaksakan, "Duduklah. Aku sudah lelah melihatmu berdiri sepanjang hari."
Mereka duduk berhadapan, dan untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara, hanya suara angin yang menggoyangkan kelopak bunga plum dan suara air danau yang tenang.
"Kau baik-baik saja?" tanya Putri Mahkota akhirnya.
"Aku baik," jawab Tang Hyun, "bagaimana dengan Yang Mulia?"
"Aku juga baik," jawab Putri, "meskipun para menteri terus bertanya kapan aku akan menikah dan dengan siapa."
Tang Hyun menggenggam cangkirnya lebih erat, "Lalu... apa jawaban Yang Mulia?"
Putri Mahkota menatapnya, "Aku bilang, aku belum menemukan orang yang membuatku ingin berhenti berpura-pura."
Jantung Tang Hyun terasa seperti dipukul, karena dia tahu apa maksudnya, dan dia juga tahu betapa berbahayanya kata-kata itu jika ada orang yang mendengar.
"Xinyue," kata Tang Hyun pelan, "kita berada di tempat yang salah."
"Aku tahu," jawab Putri, "tapi aku lelah berada di tempat yang benar sepanjang waktu."
Dia menuangkan teh untuk Tang Hyun, "Kau ingat malam di utara, ketika kau bilang kau tidak ingin melihatku terluka?"
"Aku ingat."
"Aku juga tidak ingin melihatmu terluka," lanjut Putri, "dan aku benci kenyataan bahwa satu-satunya cara agar kau aman adalah jika kau jauh dariku."
Tang Hyun menghela napas, "Maka kita harus pintar. Kita tidak bisa melawan seluruh dunia sekaligus."
Putri Mahkota mengangguk, "Aku tahu. Itulah kenapa aku memintamu datang hari ini. Bukan hanya untuk jamuan. Tapi untuk membuat janji."
"Janji apa?"
"Janji bahwa apa pun yang terjadi, kita akan melindungi satu sama lain," kata Putri Mahkota, "kau melindungi rakyat dan Klan dari bayangan, dan aku akan melindungi nama baik Klan dari istana."
Tang Hyun menatap mata Putri Mahkota, mata yang jernih dan tidak ada kebohongan di dalamnya, "Aku berjanji."
"Dan satu lagi," lanjut Putri sambil tersenyum malu, "janji bahwa ketika semua ini selesai, ketika perang selesai, ketika tidak ada lagi orang yang ingin membunuh kita... kita akan minum teh di bawah pohon bunga plum, hanya kita berdua, tanpa mahkota, tanpa lambang Klan."
Tang Hyun tersenyum kecil, senyum pertama yang benar-benar tulus di depan orang lain selain Tang So-yeon, "Aku berjanji."
Mereka bersulang dengan teh, bukan anggur, karena keduanya tahu bahwa di istana, anggur bisa diracuni, tetapi janji yang diucapkan di bawah pohon bunga plum tidak akan pernah bisa diracuni.
Tidak lama setelah itu, suara langkah kaki terdengar dari luar, dan Putri Mahkota langsung kembali ke sikap formalnya, "Wakil Kepala Tang, terima kasih atas laporan Anda tentang situasi di utara. Istana akan menindaklanjutinya."
Tang Hyun mengerti maksudnya, "Siap, Yang Mulia. Klan Tang akan selalu setia kepada kekaisaran."
Mereka keluar dari paviliun bersamaan, dan meskipun tidak ada yang memegang tangan, tidak ada yang berbisik, para pejabat yang melihat tetap bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda di antara mereka, sesuatu yang membuat beberapa orang menjadi cemas dan beberapa orang menjadi berharap.
Malam itu, setelah jamuan selesai, Tang Hyun kembali ke penginapan, dan Tang So-yeon sudah menunggu.
"Bagaimana?" tanya Tang So-yeon.
"Kita membuat janji," jawab Tang Hyun.
"Janji seperti apa?"
"Janji untuk hidup," jawab Tang Hyun, "dan janji untuk tidak menyerah."
Tang So-yeon mengangguk, "Bagus. Karena mulai besok, kita akan punya lebih banyak musuh."
Dia benar, karena keesokan harinya, desas-desus mulai menyebar, bahwa Putri Mahkota terlalu dekat dengan orang Klan Tang, bahwa Klan Tang ingin mengendalikan istana melalui Putri, dan bahwa Tang Hyun adalah mata-mata yang menyamar.
Tiga menteri mengajukan petisi untuk mengusir Tang Hyun dari ibu kota, dan dua kepala sekte mengirim surat protes, tetapi Putri Mahkota memblokir semuanya dengan alasan "Klan Tang berjasa dalam menangani ancaman di utara", sebuah alasan yang tidak bisa dibantah oleh siapa pun.
Seminggu di Chang'an berlalu dengan cepat, penuh dengan rapat, makan malam politik, dan percakapan setengah hati, dan di setiap kesempatan, Tang Hyun dan Putri Mahkota hanya bisa bertukar beberapa kata, beberapa tatapan, dan satu kali, ketika tidak ada orang, Putri Mahkota menyelipkan secarik kertas ke tangan Tang Hyun yang isinya hanya: "Hati-hati. Ada yang ingin membunuhmu malam ini."
Malam itu Tang Hyun memang diserang, tiga pembunuh bertopeng masuk ke kamarnya, tetapi dia sudah siap, dan dalam waktu kurang dari satu menit, tiga mayat tergeletak di lantai, dan dia meninggalkan satu orang hidup untuk diinterogasi, yang akhirnya mengaku bahwa dia disewa oleh seorang pejabat yang iri karena Klan Tang mendapat dukungan istana.
Kejadian itu dilaporkan, dan pejabat itu ditangkap, yang membuat posisi Klan Tang semakin kuat, tetapi juga membuat musuh semakin banyak.
Di hari terakhir, sebelum Tang Hyun pergi, Putri Mahkota memanggilnya sekali lagi, kali ini di taman belakang istana yang sepi, tempat hanya ada pohon bunga plum dan satu bangku batu.
"Aku tidak bisa mengantarmu ke gerbang," kata Putri, "karena itu akan terlalu mencolok."
"Aku mengerti," jawab Tang Hyun.
Putri Mahkota mengeluarkan sebuah kantong kecil berisi kue beras ketan, "Ini untuk perjalanan. Aku yang membuatnya sendiri."
Tang Hyun menerima kantong itu dengan kedua tangan, "Terima kasih."
"Kau akan kembali?" tanya Putri.
"Jika Yang Mulia memanggil, aku akan datang," jawab Tang Hyun.
"Bukan sebagai Wakil Kepala Klan," kata Putri pelan, "tapi sebagai... Tang Hyun."
Tang Hyun mengangguk, "Sebagai Tang Hyun."
Mereka berdiri diam selama beberapa detik, lalu Putri Mahkota berbalik dan pergi tanpa menoleh, karena jika dia menoleh, dia takut dia tidak akan bisa pergi.
Tang Hyun berdiri di sana sampai bayangan Putri menghilang, lalu dia menggenggam kantong kue itu erat dan berjalan keluar istana.
Perjalanan pulang ke Klan Tang memakan waktu sepuluh hari, dan di sepanjang jalan dia tidak makan kue itu, dia menyimpannya, karena itu adalah bukti bahwa di dunia yang penuh racun ini, masih ada seseorang yang memberinya sesuatu dengan tulus.
Setibanya di Klan, dia langsung dipanggil ke rapat Tetua, dan dia menceritakan semua yang terjadi, tentang janji, tentang ancaman, dan tentang masa depan Klan Tang yang sekarang terikat dengan istana.
"Kau bermain dengan api," kata Tetua Ketiga.
"Aku tahu," jawab Tang Hyun, "tapi api itu juga yang akan menghangatkan kita di musim dingin."
Tetua Ketiga terdiam, lalu dia mengangguk, "Lakukan yang terbaik."
Malam itu, Tang Hyun duduk di atap lagi, dan Tang So-yeon datang dengan dua cangkir teh.
"Jadi, bagaimana rasanya jatuh cinta pada Putri Mahkota?" tanya Tang So-yeon sambil menyerahkan teh.
"Sulit," jawab Tang Hyun jujur, "tapi juga... indah."
"Indah seperti bunga plum?" tanya Tang So-yeon.
"Indah seperti janji," jawab Tang Hyun, "janji bahwa suatu hari nanti, kita tidak perlu lagi bertarung untuk bisa duduk bersama."
Mereka minum teh dalam diam, dan di kejauhan, kelopak bunga plum terus jatuh, menutupi tanah seperti janji yang menunggu untuk ditepati.
Tang Hyun menatap ke arah ibu kota, dan di dalam hatinya dia berbisik, "Tunggu aku, Xinyue. Aku akan kembali."
Dan angin membawa bisikannya jauh, melewati gunung, melewati sungai, sampai ke tembok istana, tempat seorang Putri Mahkota juga sedang menatap ke arah selatan, dengan secangkir teh di tangan dan nama Tang Hyun di dalam hatinya.