Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Maut di Balik Pintu Baja
Jarum penunjuk waktu di dinding kamar utama penthouse menunjuk tepat pukul dua belas malam lewat empat puluh lima menit. Suasana di dalam ruangan luas berbalut kemewahan modern itu mendadak meredup ketika sistem pencahayaan otomatis beralisesensor malam menyesuaikan diri, menyisakan pendar temaram berwarna keemasan yang hangat di sudut-sudut ruangan. Di luar sana, angin malam kota Manhattan bertiup semakin beringas, menghantam kaca jendela anti-peluru berlapis ganda dengan suara deru berat yang mirip lolongan binatang buas. Namun, di dalam benteng obsidian yang dilindungi oleh teknologi keamanan lapis baja tingkat militer tersebut, tidak ada satu pun suara luar yang mampu menembus ketenangan mutlak yang tercipta.
Ceisya masih duduk bersandar nyaman di atas permadani beludru tebal di dekat perapian elektrik, sementara punggungnya bersandar erat pada dada bidang Sylus yang kokoh. Pria itu terus mendekapnya dalam lingkaran tangan yang posesif, seolah-olah ia tidak pernah berniat melepaskan wanita itu barang sedetik pun dari dunianya. Napas teratur Sylus yang bergesekan dengan tengkuk leher Ceisya menciptakan gelombang kehangatan candu yang merasuk hingga ke tulang belulang, membuat batas antara realitas dunia sindikat dan dunia fiksi web novel yang ia tulis seolah melebur menjadi satu.
Tiba-tiba, di tengah keheningan malam yang pekat itu, bunyi dengung elektronik bernada rendah bergeser dari warna hijau tenang menjadi kedipan lampu merah menyala di sudut panel kontrol dinding. Sistem keamanan perimeter luar penthouse mendeteksi adanya anomali gelombang panas dan getaran frekuensi rendah di zona terlarang lantai bawah—sebuah indikasi tak terbantahkan bahwa ada objek hidup yang mencoba merangsek masuk melewati batas terluar benteng.
Sylus sama sekali tidak bergeming. Pria itu bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari rambut panjang Ceisya yang sedang ia mainkan dengan jemari besarnya. Bibir pria itu justru terangkat sebelah, membentuk sebuah senyuman predator yang sangat dingin dan mematikan.
"Tampaknya tamu-tamu tak diundang yang dikirim oleh saudari tirimu itu sudah datang tepat waktu, Ratu kecilku," bisik Sylus parau, suaranya terdengar begitu rendah dan bergetar dalam antisipasi haus darah di dekat telinga Ceisya. "Mereka bergerak jauh lebih lambat dari perkiraanku, tetapi setidaknya mereka cukup bernyali untuk mengantar nyawa mereka sendiri langsung ke hadapan kita."
Ceisya mendongakkan sedikit dagunya, manik mata hijau terangnya memantulkan pendar merah lampu peringatan sistem keamanan dengan kilat kemenangan yang tajam. Tidak ada sedikit pun rasa terkejut atau ketakutan di dalam dirinya; yang ada hanyalah desir adrenalin yang melambung tinggi, menyambut babak akhir dari eliminasi tikus-tikus pengganggu yang selama ini berani merendahkannya.
"Biarkan mereka masuk lebih jauh, King," balas Ceisya berbisik tenang, jemari lentiknya menyentuh rahang suaminya dengan penuh wibawa. "Aku ingin melihat seberapa jauh keberanian para pembunuh bayaran bayaran sewaan itu ketika mereka menyadari bahwa mereka sedang berjalan masuk ke dalam kandang singa."
Jauh di lantai bawah, tepat di koridor perimeter luar yang terhubung langsung dengan lift privat servis, tiga sosok bayangan berpakaian serba hitam bergerak senyap bagaikan hantu di tengah kegelapan. Mereka adalah para algojo profesional asal Eropa Timur yang disewa oleh Bianca dengan harga fantastis—tiga pembunuh bayaran berdarah dingin yang terbiasa menyelesaikan misi tanpa meninggalkan jejak.
Pria berparut di pipi kiri, yang bertindak sebagai pemimpin kelompok, memberi isyarat tangan kepada dua anak buahnya untuk berhenti tepat di depan pintu lift baja tebal. Dengan menggunakan alat peretas gelombang frekuensi tinggi ukuran saku, ia mulai memindai kode enkripsi biometrik pintu tersebut, yakin bahwa pertahanan tingkat tinggi itu akan terbuka dalam hitungan detik.
Klik. Suara kecil terdengar ketika lampu panel di samping pintu berubah dari merah menjadi hijau terang.
"Pintu utama perimeternya jebol. Sistem keamanan mereka tidak sekuat rumor yang beredar di pasaran gelap," bisik salah satu anak buahnya dengan seringai lebar di balik topeng kain hitam yang menutupi separuh wajahnya.
"Jangan lengah. Target utama kita adalah wanita bernama Ceisya, dan The Crimson King dipastikan berada di lantai atas," balas sang pemimpin berparut tajam, mencabut pisau taktis bermata ganda dari sarung di pahanya sementara tangan kirinya memegang senapan serbu berperedam penuh. "Habisi siapa saja yang menghalangi jalan kita. Bergerak cepat!"
Pintu lift terbuka perlahan tanpa suara, memperlihatkan lorong marmer putih yang diterangi lampu sensor redup. Ketiga pembunuh bayaran itu melangkah masuk dengan langkah ringan, senjata siaga di depan dada, menyusuri koridor panjang menuju lift utama yang langsung naik ke lantai penthouse privat.
Namun, mereka tidak tahu bahwa setiap langkah kaki yang mereka ayunkan di atas lantai marmer itu terekam sempurna oleh puluhan mata kamera tersembunyi yang terpasang di balik dinding. Di ruang pemantauan pusat, Logan berdiri tegak di depan layar monitor utama, mengawasi setiap gerak-gerik ketiga penyusup itu dengan ekspresi datar tanpa emosi, bagaikan seorang dewa kematian yang sedang mengamati serangga kecil terjebak di dalam jaring laba-laba.
"Mereka sudah melewati koridor sektor B, King," lapor Logan melalui alat komunikasi internal yang tersambung langsung ke ruang kerja utama penthouse. "Apakah kita izinkan mereka naik sampai ke lantai sepuluh, atau kita bersihkan sekarang di zona transisi?"
Suara bariton Sylus terdengar dingin dan mutlak dari ujung sambungan. "Biarkan mereka naik sampai ke ruang utama, Logan. Jangan matikan alarm jebakannya. Beri mereka ilusi kemenangan palsu sebelum pintu itu tertutup rapat untuk selama-lamanya."
"Baik, King. Perintah dilaksanakan," jawab Logan tenang.
Di lantai atas, di dalam kamar utama yang megah, Sylus berdiri perlahan dari permadani, menarik tangan Ceisya untuk ikut berdiri bersamanya. Pria itu merapikan kemeja hitamnya sebentar, lalu berjalan menuju lemari senjata rahasia yang tersembunyi di balik panel dinding kayu jati antik. Dengan memasukkan kode sandi khusus, pintu panel itu terbuka, memperlihatkan deretan senjata api berlapis emas hitam, pistol semi-otomatis berukir khusus, dan belati taktis bermata baja obsidian.
Sylus mengambil sebuah pistol semi-otomatis berlapis ukiran perak khas dinasti sindikat, memeriksa pelurunya dengan gerakan tangan yang sangat terbiasa, lalu menyerahkannya langsung kepada Ceisya.
Ceisya menerima pistol tersebut dengan mantap. Berat senjata itu terasa pas di telapak tangannya—sebuah simbol nyata bahwa di dunia baru ini, ia bukan lagi figuran lemah yang bisa dipermainkan oleh nasib, melainkan Ratu yang memegang kendali penuh atas hidup dan matinya sendiri.
"Kau ingin menggunakan senjata ini sendiri untuk menyambut tamu kita, Ratu kecilku?" tanya Sylus lembut, manik mata merah menyalanya menatap penuh pemujaan ke arah mata hijau terang istrinya.
Ceisya mengangkat dagunya dengan senyuman maut yang terukir di bibirnya. "Tentu saja, King. Ada beberapa hal di dunia ini yang jauh lebih memuaskan jika diselesaikan dengan tangan sendiri, terutama ketika tikus-tikus itu datang membawa sampah ke istana kita."
Langkah kaki berat terdengar samar-samar dari arah lift privat lantai atas. Pintu baja utama penthouse berderit perlahan, terbuka secara otomatis karena sistem sengaja dibuka oleh Logan untuk memancing mereka masuk. Ketiga bayangan hitam bersenjata lengkap menyusup masuk ke dalam ruang tamu utama yang luas, bergerak cepat menyebar ke setiap sudut ruangan dengan mata awas mencari target.
Namun, begitu mereka mencapai tengah ruangan, lampu-lampu utama tiba-tiba menyala terang benderang dalam satu detik, menyilaukan mata mereka seketika.
Dari ambang pintu kamar utama yang terbuka lebar, Sylus dan Ceisya melangkah keluar berdampingan dengan langkah anggun namun mematikan. Sylus merangkul pinggang Ceisya dengan satu tangan, sementara tangan kanannya menggenggam senjata dengan santai. Di hadapan para pembunuh bayaran elit yang terkejut itu, pasangan penguasa sindikat tersebut berdiri bagaikan malaikat maut yang turun langsung dari singgasana kegelapan.
Pimpinan pembunuh bayaran berparut itu melotot kaget, menyadari dalam sepersekian detik bahwa mereka sama sekali tidak menyusup, melainkan dengan sengaja digiring masuk ke dalam perangkap maut yang sudah disiapkan sejak awal.
"Kalian...!" geram sang pemimpin panik, mengangkat senapannya dengan terburu-buru.
Sebelum moncong senapan itu sempat mengarah sempurna, suara letupan peluru bersenyap memecah keheningan penthouse dengan kecepatan kilat. Ceisya telah menarik pelatuknya terlebih dahulu.