Esmera, gadis yatim piatu yang dibesarkan oleh pelayan istana, tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah setelah Raja Edris Ruan memilihnya.
Mereka menikah, namun pernikahan itu serasa neraka bagi Esmera. Dan puncaknya, muncul seorang gadis bernama Lyra Arabella, dia mengaku sebagai adik kandung Esmera. Dan akan menggantikan posisi kakaknya sebagai Ratu.
Saat itulah Esmera mengetahui kebenaran yang mengerikan. Pernikahannya dengan Edris bukan sekadar kisah cinta. Dia telah dipersiapkan sejak bayi untuk menjadi pengantin keturunan raja pengkhianat, demi mematahkan kutukan keluarga Raja Edris.
Esmera dibunuh oleh Lyra, adiknya sendiri. Karena Lyra berpikir, jika kakaknya masih hidup, dia akan selalu menjadi yang kedua.
Namun keajaiban itu datang. Esme kembali ke masa lalu, disaat dia belum menjadi Ratu.
Kali ini Esmera tahu apa yang akan terjadi.
Sebelum Raja Edris menemukannya, Esmera akan melarikan diri dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyusun Rencana
Setelah mengetahui kenyataan bahwa dirinya telah kembali ke masa dua tahun lalu, Esmera mulai menyusun rencana dengan hati-hati.
Kini semuanya terasa berbeda.
Potongan-potongan kejadian di masa lalu yang dulu tidak pernah ia mengerti, perlahan mulai menemukan jawabannya. Termasuk sikap Bibi Mily yang selama ini begitu berlebihan dalam menjaganya.
Sejak kecil, dia tidak pernah diizinkan keluar rumah sendirian. Bahkan untuk sekadar berjalan-jalan di sekitar lingkungan tempat mereka tinggal pun, Bibi Mily akan melarangnya. Setiap kali Esmera mencoba bertanya alasannya, wanita itu selalu mengatakan bahwa dunia luar sangat berbahaya dan Esmera harus tetap berada di rumah.
"Sekarang aku tahu alasan yang sebenarnya."
Dia bukan sekadar anak yang dibesarkan oleh Bibi Mily. Dia adalah seorang tawanan. Pantas saja Bibi Mily begitu ketat terhadapnya.
Ketika Esmera berusia sebelas tahun, Bibi Mily pernah mengatakan bahwa dirinya adalah seorang yatim piatu yang ditemukan waktu bayi dan kemudian dibawa pulang karena Bibi Mily merasa kesepian. Esmera yang masih kecil tentu saja mempercayai semua perkataan itu.
Dia bahkan merasa sangat beruntung karena memiliki seseorang yang mau merawatnya. Namun semakin besar, semakin banyak hal yang terasa aneh.
Esmera tidak pernah diperbolehkan melakukan pekerjaan rumah. Memasak dilarang. Membersihkan rumah dilarang. Bahkan ketika dia ingin membantu Bibi Mily merapikan sesuatu, wanita itu selalu segera mengambil alih.
"Biarkan Bibi yang mengerjakannya."
Itulah kalimat yang paling sering Esmera dengar. Dulu dia tidak mengerti. Dia hanya berpikir Bibi Mily terlalu menyayanginya.
Sekarang dia baru sadar, semua itu bukan karena Bibi Mily ingin memanjakannya. Esmera memang sengaja diperlakukan seperti itu. Dia dipersiapkan untuk kehidupan yang sama sekali berbeda. Untuk menjadi seorang ratu.
Pikiran itu membuat dada Esmera terasa sesak.
Selama bertahun-tahun, dia hidup tanpa mengetahui bahwa masa depannya sudah ditentukan oleh orang lain. Bahkan pernikahannya dengan Edris bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan.
"Semuanya sudah dipersiapkan."
Dan kali ini, Esmera tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama.
Langkah pertamanya adalah keluar dari rumah. Dia ingin melihat sendiri seperti apa keadaan di luar sana.
Meskipun rasa takut masih menyelimuti dirinya. Bagaimanapun juga, selama bertahun-tahun Bibi Mily terus menanamkan ketakutan tentang dunia luar ke dalam pikirannya. Esmera tumbuh dengan keyakinan bahwa keluar rumah adalah sesuatu yang berbahaya.
Namun sekarang semuanya telah berubah.
Dulu, dia takut pada dunia luar. Sekarang ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan baginya.
Yaitu menjadi istri Edris Ruan.
Esmera menarik napas panjang."Aku harus berubah, aku harus menjadi lebih berani."
Setelah membersihkan diri, Esmera berdiri di depan cermin. Rambut panjangnya yang terurai segera dia ikat sederhana, lalu digelung asal agar tidak terlalu mencolok."Baiklah Esmera, hari ini kau bukan lagi gadis penakut, lemah, dan tidak berdaya. Ayo kita berusaha agar tidak terlibat dengan pria itu."
Dia sengaja mengenakan pakaian yang paling sederhana, agar tidak menarik perhatian.
Esmera membuka pintu kamarnya perlahan. Dia sempat berhenti dan menoleh ke arah ruang tengah, memastikan Bibi Mily tidak berada di sana. Dia pasti sedang berada di istana.
Setelah merasa aman, dia melangkah keluar. Jantungnya berdebar begitu kuat. Tangannya bahkan sempat mengepal karena gugup.
Namun semakin dekat dia dengan pintu rumah, semakin kuat pula tekadnya. Esmera akhirnya membuka pintu. Cahaya matahari langsung menyambut wajahnya.
Untuk beberapa saat, dia hanya berdiri di ambang pintu.
Dua tahun lalu, dia bahkan tidak pernah membayangkan akan melakukan hal seperti ini. Kini dia benar-benar berdiri di luar rumah.
Tidak ada yang menahannya.
Tidak ada yang memarahinya.
Dan untuk pertama kalinya, Esmera bisa memilih sendiri ke mana dia ingin pergi. Dia melangkahkan kakinya keluar, menuju gerbang Kerajaan.
Tujuan pertamanya adalah perpustakaan yang berada di pusat kota. Esmera membutuhkan informasi.
***
"Aku tidak menyangka bisa melewati penjaga itu dengan sangat mudah. Apa karena penampilanku?" gumam Esmera.
Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman kecil. Untuk pertama kalinya, dia bisa merasakan bagaimana rasanya berjalan keluar tanpa ada seseorang yang mengawasi setiap langkahnya. Tidak ada larangan. Tidak ada perintah untuk tetap berada di rumah. Tidak ada bibi Mily yang terus mengingatkannya agar tidak pergi ke mana-mana.
Hanya dengan berjalan beberapa langkah menjauh dari rumah itu, suasana hati Esmera sudah berubah menjadi jauh lebih ringan.
"Lamaran itu akan tiba saat usiaku genap dua puluh tahun. Jadi aku harus cepat."
Esmera terus melangkah perlahan menyusuri jalan, sesekali memperhatikan keadaan di sekitarnya. Namun, setelah beberapa saat, langkahnya terhenti.
Dia baru saja menyadari sesuatu."Apa aku langsung kabur saja?"
Esmera terdiam."Untuk apa aku kembali ke rumah itu?"
Pikiran untuk melarikan diri semakin kuat setelah dia berhasil keluar tanpa kesulitan. Bagaimanapun juga, sekarang dia sudah mengetahui kenyataan bahwa dirinya bukanlah seorang anak yatim piatu biasa.
Dia adalah seorang tawanan. Bibi Mily bukanlah malaikat penolongnya, seperti yang selama ini dia pikirkan. Wanita itu sengaja ditugaskan untuk merawatnya, sambil mengawasinya.
"Jika aku kembali, aku tidak akan tahu apa bisa keluar lagi dengan semudah ini?"
Esmera akhirnya berbalik arah. Kali ini tujuannya bukan langsung ke perpustakaan kota, melainkan ke sebuah toko yang bisa menukar barang berharga miliknya dengan uang.
"Untung saja aku membawa ini." Esmera tersenyum ketika teringat sesuatu. Tangannya segera meraba sebuah bungkusan kantong hitam yang dia simpan dengan hati-hati.
Di dalamnya terdapat beberapa perhiasan miliknya. Perhiasan yang selama ini diberikan oleh bibi Mily sebagai hadiah.
Esmera membuka sedikit bungkusan itu dan memastikan isinya masih ada. Beberapa benda berkilauan langsung terlihat di balik kain pembungkusnya.
"Padahal melihat perhiasan ini saja sudah sangat mencurigakan." Tatapannya berubah menjadi kesal pada dirinya sendiri."Bagaimana bisa seorang pelayan biasa selalu memberikan hadiah semahal ini?"
Esmera menghela napas panjang."Aku memang bodoh."
Selama ini dia terlalu percaya pada bibi Mily. Setiap kali wanita itu memberinya perhiasan, Esmera hanya menganggapnya sebagai bentuk kasih sayang dari seseorang yang telah membesarkannya.
Dia tidak pernah berpikir lebih jauh.
Sekarang setelah mengetahui kenyataannya, semua hal kecil yang dahulu terasa biasa justru terlihat begitu mencurigakan.
Tidak lama kemudian, Esmera menemukan sebuah toko yang sesuai dengan kebutuhannya. Dia masuk dengan langkah tenang, agar tidak dicurigai, lalu menunjukkan beberapa perhiasan yang dibawanya.
Setelah melalui proses pemeriksaan dan tawar-menawar, akhirnya perhiasan tersebut berhasil ditukar dengan sejumlah uang.
Esmera menerima uang itu dan menyimpannya dengan hati-hati. Setidaknya sekarang dia memiliki bekal jika benar-benar memutuskan untuk melarikan diri.
Setelah keluar dari toko, Esmera tidak langsung pulang. Dia justru berjalan menuju perpustakaan.
Namun sebelum itu, dia sempat membeli beberapa makanan ringan untuk menemani waktunya nanti.
Sesampainya di perpustakaan, Esmera berdiri sejenak di depan bangunan besar itu. Tatapannya tampak berbinar.
Tidak ada yang menyuruhnya pergi. Tidak ada yang melarangnya membaca. Tidak ada yang mengawasinya. Semua orang sibuk dengan urusannya masing-masing, berbeda ketika dia berada di istana, puluhan mata akan langsung terarah kepadanya. Itu sangat memuakkan.
Untuk pertama kalinya, Esmera bisa menentukan sendiri ke mana dia ingin pergi dan apa yang ingin dia lakukan.
Dia menggenggam erat kantong makanan di tangannya, lalu tersenyum kecil."Jadi beginilah rasanya kebebasan?"
Esmera menatap langit yang terlihat begitu luas dari tempatnya berdiri. Dadanya terasa hangat."Sangat menyenangkan."
Dengan langkah ringan, Esmera pun memasuki perpustakaan. Untuk sementara, dia ingin menikmati kebebasan yang baru saja berhasil dia dapatkan, sebelum kembali memikirkan rencana besar untuk menyelamatkan dirinya sendiri.